
Vera menarik nafasnya pelan. Dia berada di depan kantor Tania and Co. Kemarin dia sudah tiba di Surabaya. Setelah mengistirahatkan diri di hotel. Vera memutuskan untuk menemui Tania. Dia tidak memberitahukan soal kedatangannya pada Bryan maupun Vi.
Vera ingin meminta maaf soal kejadian di masa lalu. Soal dia yang begitu egois. Namun sekarang nyata, hati kecilnya mulai mengingkari ucapannya sendiri di masa lalu.
Ada rasa ragu dalam diri untuk melangkah masuk ke kantor yang dulu menjadi saksi perjuangan Tania dan dirinya ketika pertama kali pindah ke Surabaya. Memulai hidup baru tanpa bayang-bayang nama besar Hadiwinata kala itu.
Rasa ragu itu semakin besar, perlahan mulai melahap keberanian yang sejak kemarin ia kumpulkan. Berulang kali, Vera menarik nafas dan mengeluarkannya. Berusaha untuk mengembalikan keberaniannya. Hingga pada akhirnya. tekadnya kalah oleh rasa ragu yang kini menang, menguasai hati dan pikirannya.
Perlahan, Vera berbalik. Merasa tidak sanggup dan tidak pantas untuk mendapat maaf dari Tania. Jangankan maaf. Menatap wajah Tania saja sepertinya Vera tidak mampu.
Namun ketika dia sudah bersiap untuk melangkahkan kakinya, meninggalkan kantor itu. Bersiap untuk sekali lagi kalah pada egonya. Sebuah suara memanggilnya. Suara yang begitu dia kenal.
"Vera....apa itu kamu?" tanya suara itu.
Deg,
Hati Vera seolah berhenti berdetak. Tubuhnya membeku di tempat. Suara itu kembali memanggilanya.
"Vera...."
Tapi kali ini bukan hanya suara saja yang memanggilanya. Tapi Vera bisa mendengar langkah sepatu mendekat. Detik berikutnya, pelukan hangat Vera rasakan. Setetes air mata langsung pecah keluar dari bola mata yang sejak tadi sudah berkaca-kaca.
Hatinya yang beku selama bertahun-tahun. Seolah menghangat karena sebuah pelukan. Pelukan sahabat yang begitu dia rindukan.
"Kenapa baru datang sekarang? Aku sangat merindukanmu" ucap suara itu. Sambil berurai air mata.
Doanya akhirnya terkabul. Wanita itu selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan Vera. Setelah dia bertemu dengan Vi, putra Vera.
"Maafkan aku....maafkan aku"
Tidak ada kata lain selain meminta maaf yang bisa Vera ucapkan. Hanya kata itu yang selalu terlintas di kepalanya.
***
"Apa yang kau inginkan?" tanya Jayden dingin.
Vera hanya diam. Dia sebenarnya tidak punya nyali untuk menghadapi Jayden. Terlebih sikap pria itu sangat tidak bersahabat sejak dia masuk ke ruangan suami Tania itu.
Apalagi Jayden. Jangan ditanya bagaimana marahnya pria itu ketika tahu. Vera kembali ke Surabaya. Bahkan kemarin baru saja bertemu Tania.
"Apa yang kau inginkan Altania Vera?" tanya Jayden lagi.
"Aku ingin minta maaf!" jawab Vera cepat.
Jayden menaikkan sebelah alisnya. Merasa tidak percaya pada pendengarannya.
"Minta maaf? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Jayden seolah menyindir ucapan Vera.
"Tidak..Jayden dengarkan aku. Aku minta maaf atas semua yang kulakukan di masa lalu. Aku sungguh tidak berpikir jernih waktu itu" ucap Vera tulus.
"Lalu setelah dua puluh tahun lebih. Kamu baru bisa berpikir jernih? Omong kosong!" jawab Jayden ketus.
Jayden tidak habis pikir dengan Vera. Bagaimana baru sekarang dia meminta maaf. Setelah sekian lama. Baru datang meminta maaf.
"Jayden aku mohon maafkan aku. Aku tahu, aku sudah menyakiti kalian. Aku benar-benar buta waktu itu" mohon Vera.
"Kau seharusnya meminta maaf pada istriku. Tania. Kau menyakiti hatinya dengan menyebut istriku menggoda suamimu!" suara Jayden menggelegar di ruang itu.
Vera menangis mendengar ucapan Jayden. Dulu hal yang sama terjadi pada Tania, kala Tania berusaha menjelaskan situasinya waktu itu.
"Apa kau masih berpikir kalau Tania benar-benar menggoda Bryan saat itu?" tanya Jayden dingin.
Vera terdiam.
"Kalau kau masih berpikir seperti itu. Maka lihatlah ini!" ucap Jayden membalik layar laptopnya.
Dimana disana diputar rekaman CCTV dari ruang kerja Tania. Rekaman hampir dua puluh lima tahun lalu.
Sesaat mata Vera menatap layar laptop itu. Dengan Jayden yang menatapnya sengit. Tak berapa lama, tangis Vera pecah seketika. Dia benar-benar salah dengan tuduhannya waktu itu. Vera menangis penuh penyesalan.
"Sekarang kau tahu betapa brengseknya suami yang begitu kau cintai itu" ucap Jayden pedas. Membuat tangis Vera semakin terdengar pilu.
"Aku salah...aku salah tolong maafkan aku" pinta Vera penuh penyesalan.
"Apa kau tahu semua itu karangan suami brengsekmu itu? Apa kau tahu bagaimana kejamnya dia merusak pertemanan kalian? Dan kau dengan bodohnya percaya pada omongan si brengsek itu!" teriak Jayden.
Suara Jayden menggelegar di ruang kerjanya sendiri.Bersamaan dengan tangis Vera yang semakin kencang. Vera seperti di tenggelamkan paksa ke dasar bumi. Mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dia tidak menyangka sang suami tega melakukan itu padanya.
"Maafkan aku. Jayden, aku minta maaf" ucap Vera berkali-kali.
"Kau seharusnya minta maaf pada Tania. Bukan aku!" lagi suara Jayden melengking tinggi di telinga Vera.
Vera seketika jatuh terduduk di lantai kantorJayden. Kakinya tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.
"Kau tahu hal kejam lain yang Bryan Aditama buat? Dia mengancam Tania, akan membuat kalian menderita jika dia berani menemui kalian!"
Ingin sekali Jayden membongkar semua keburukan Bryan di depan Vera. Hingga suara Vera menghentikan perkataan Jayden.
"Cukup Jayden! Cukup! Aku tahu betapa brengsek dan jahatnya suamiku. Aku mengakui, aku melakukan kesalahan besar dengan mempercayai semua kebohongan yang dia buat di masa lalu. Semua karmanya akan aku terima. Semua kebencian kalian akan aku terima. Tapi aku mohon, jangan hancurkan kebahagian putraku, Vi. Akan aku terima semua balasan atas kesalahanku di masa lalu. Tapi aku mohon, berikanlah kesempatan pada Vi untuk bersama Lana. Aku tahu putraku sangat mencintai putrimu" ucap Vera sambil terisak.
Masih dengan posisi duduk bersimpuh. Persis seorang pidana yang memohon pengampunan.
"Dan inilah karma nyata atas kebodohanku di masa lalu. Putraku jatuh cinta pada putrimu" batin Vera di tengah isak tangisnya.
Jayden membulatkan matanya mendengar ucapan Vera.
"Enak sekali ucapanmu. Kau tahu gara-gara kau, kami perlu waktu lama untuk memiliki Lana. Dan sekarang kau dengan mudahnya, memintaku merestui hubungan Vi dengan Lana...Ooo tidak semudah itu" jawab Jayden enteng.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau membiarkan Vi dan Lana bersama? Katakan!" ucap Vera frustrasi.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Jayden terbuka. Vi langsung menghambur masuk memelum sang mama.
"Ma...apa yang Mama lakukan?" tanya Vi.
"Vi....putra Mama. Maafkan kesalahan Mama. Maafkan Mama.. karena Mama, kamu dan Lana tidak bisa bersama..." ucap Vera memeluk Vi.
"Tidak Ma...ini bukan kesalahan Mama. Karena Vi akan terus berusaha untuk mendapatkan restu dari Om Jayden. Tidak peduli bagaimana beratnya. Vi tidak akan menyerah" ucap Vi menenangkan Vera.
"Tidak semudah itu Vi. Mamamu berutang banyak pada Mama Taniamu" balas Jayden.
"Aku tahu Om. Karena itu aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan terus memperjuangkan cintaku pada Lana. Berapapun banyaknya hutang mamaku pada kalian" jawab Vi tegas. Menatap lurus pada Jayden.
Jayden tersenyum smirk.
"Lalu bagaimana kau akan membayar dua hutang nyawa yang Mama Taniamu lakukan untuk menyelamatkanmu?" tanya Jayden.
"Maksud Om?" tanya Vi tidak paham.
"Tania hanya menyelamatkan Vi satu kali saat masih dalam kandunganku" kekeuh Vera.
Jayden tertawa sumbang mendengar ucapan Vera.
"Dua kali Altania Vera. Benar, Tania menyelamatkan Vi saat masih berada dalam kandunganmu. Meski pada akhirnya, Vi sendiri yang membayarnya saat menyelamatkan Lana. Aku berterima kasih untuk itu. Kau tahu, luka di perutmu sama persis dengan luka yang dimiliki oleh Tania saat berusaha menyelamatkanmu dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh nenekmu sendiri. Ironis bukan?" sindir Jayden.
"Apa? Bahkan nenekku sendiri pun berniat melenyapkanku?" tanya Vi.
"Ya, nenek tirimu yang sama brengseknya dengan Papamu!" jawab Jayden dingin.
Vi menatap Vera yang masih duduk bersimpuh di lantai. Wajah Vera menunduk, seolah membenarkan ucapan Jayden.
"Kau mau tahu satu kebenaran lagi yang ditutupi oleh suami tercintamu itu?" tanya Jayden kembali.
Membuat Vera mengangkat wajahnya. Menatap Jayden penuh rasa penasaran.
"Aplagi yang disembunyikan oleh Bryan? Berapa banyak lagi kebohongan yang kamu buat Bry" bisik Vera dalam hati.
Berusaha menyiapkan hatinya untuk mendengar fakta baru soal kejadian di masa lalu. Vera benar-benar dibuat tidak percaya. Setelah semua kebenaran terungkap. Dia benar-benar shock sekali.
***
Slow up ya readersku tercinta..anak eike masuk rs, hb anjlok seanjlok2nya...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
***