The Story Of "A"

The Story Of "A"
Liwetan Antimainstream



Lana tidak percaya melihat Rafa mencuci gelas. Sedang Vi yang masak. Lana sudah biasa melihatnya.


"Nemu jalan keluarnya, By" tanya Vi.


"Yah, meski harus muter-muter dulu" jawab Lana.


"Rumah sendiri kok bingung" ledek Rafa yang sudah selesai mencuci gelasnya.


"Semoga kulit gue nggak alergi sama sabun cuci piringnya" guman Rafa.


Vi yang mendengar hal itu langsung memutar matanya jengah.


"Orang kaya mah beda" ledek Vi.


"Kayak elu nggak aja" balas Rafa yang sudah kembali duduk.


"Bisa jalan nggak?" bisik Rafa di telinga Lana.


"Iihh mas Rafa kok nanyanya gitu sih" jawab Lana dengan wajah bersemu merah.


"Biasanya kan gitu. Apalagi kalau Vi nggempur elu semalaman" goda Rafa.


Lana langsung mengeplak lengan sepupu tampannya itu.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Vi yang penasaran karena obrolan bisik-bisik ala Rafa dan Lana.


"Enggak. Gue cuma nanya. Bisa jalan nggak habis elu unboxing semalaman" jawab Rafa tanpa dosa.


"Tadi pagi doang nggak bisa jalan. Tapi sekarang sudah biasa. Sudah kena banyak" ucap Vi enteng.


"Vi...." teriak Lana protes.


Bisa-bisanya dengan enteng keduanya membahas urusan ranjang. Okelah, dua orang ini sudah menikah. Tapi masa iya ngomongin hal begituan blak-blakan. Tanpa embel-embel. Apa nggak bikin malu.


"Kenapa? Kan enak?" ucap Vi sambil menaikkan satu alisnya.


"Haisshhh jangan bahas itu lagi napa?" jawab Lana dengan bibir manyun lima senti.


"Eiittt kondisikan tu bibir" Vi memperingatkan.


Lana langsung melipat bibirnya.


"Sama saja By"


Lana lantas mencebikkan bibirnya. Sebal dengan sikap Vi.


Debat itu terhenti ketika Dika datang memberitahu. Kalau Jayden dan Tania sudah datang.


"What?! Mama dan Papa datang ke sini!" teriak Vi.


"Mampus elu!" kata Rafa.


Vi jelas kelabakan ketika tahu sang Mama dan Papa datang ke rumahnya. Sebab rumahnya jelas belum bisa ditunjukkan pada Papa dan Mamanya.


Lana dan Rafa justru senang dengan kedatangan kedua orang itu. Dan benar saja tidak lama. Dua orang itu sudah terlihat berjalan ke arah Vi. Dan tanpa basa basi. Tania langsung memukuli lengan Vi gemas.


"Hebat ya sekarang! Main bawa kabur anak gadis orang! Mau bikin Mama darah tinggi ya!" pekik Tania sambil terus memukuli lengan Vi.


"Aduh Ma...ampuun...awww...awww...sakit Ma..sakit...ampuuunnnn" pekik Vi sambik berusaha menghindari pukulan sang Mama.


"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya pulang nggak ngasih kabar! Main kabur! Coba kalau Rafa nggak cepat nemuin kamu! Kamu pasti nggak bakalan ngasih kabar ke Mama kan!" teriak Tania.


"Aduh....Ma...udah...sakit...sakit...nanti lecet...." keluh Vi.


"Alah sudah sold out juga. Siapa juga yang peduli. Mana sudah tidak perjaka lagi!" ucap Tania tanpa filter.


Dengan santai menyebut Vi sudah tidak perjaka lagi. Yang secara tidak langsung menyebutkan kalau mereka sudah bercinta semalam.


"Issh kenapa dibawa-bawa sih sudah tidak perjakanya" lagi Vi mengeluh.


"Habisnya kamu cuma mau unboxing aja pakai acara kabur aja. Kan Mama jadi khawatir kamu diculik atau gimana-gimana" cemas Tania.


"Siapa juga yang mau nyulik dia. Orang ke mana-mana sangu (bawa) Glock" seloroh Rafa. Membuat Vi nyengir.


"Buat jaga-jaga" guman Vi lirih.


Tania jelas marah melihat Vi pulang ke rumah tanpa memberitahunya. Begitu khawatir kalau terjadi apa-apa pada Lana dan Vi.


"Maaf Ma, Vi pulang tidak memberi kabar ke Mama" ucap Vi sambil memeluk sang Mama yang masih dalam marah mode on.


Sejenak Tania hanya diam. Masih kesal dengan ulah Vi yang nyaris membuatnya kena serangan jantung saking paniknya.


"Maaf Ma...sungguh Vi tidak bermaksud membuat Mama cemas...cuma tidak ingin diganggu waktu berduaan sama Lana" cengir Vi.


Yang langsung dikeplak lagi oleh Tania.


"Tu kan orang cuma mau belah duren aja bikin Mama pusing tujuh keliling" gerutu Tania.


"Alah sudah deh dramanya By" ucap Jayden yang baru saja kembali setelah berkeliling di antar Dika.


Vi tersenyum mendengar sang Papa membelanya. Sedang Tania langsung memasang tampang juteknya.


"Ada dome di kamar kalian?" tanya Jayden.


"Istri Vi yang minta kamar seperti Papa dan Mama punya" jawab Vi melirik ke arah Lana yang sibuk ngobrol dengan Rafa tanpa peduli dia yang dimarahi oleh mamanya.


"Hem cuekin aku. Lihat saja aku hukum kamu nanti malam" batin Vi geram.


Jayden ber-ooo ria.


"Tunggu Nyonya rumah belanja. Biar milih sendiri isinya" ucap Vi menatap sang istri.


"Ma, nanti temani belanja furniture ya" pinta Lana.


Tania langsung mengembangkan senyumnya. Menghampiri sang putri.


"Tentu saja. Wah kamu masak Vi" ucap Tania melihat deretan makanan yang ada di atas meja.


"Iya Ma..." jawab Vi.


"Lah kamu bantuin nggak?" todong Tania ke sang putri.


"Bantuin Ma. Bantuin makan ma berdoa" jawab Lana enteng.


"Ini juga. Besok-besok kamu yang masak. Jangan suruh suamimu masak!" marah Tania.


"Nggak apa-apa Ma. Vi yang mau kok" bela Vi.


"Iyalah jelas mau. La wong kamu yang kuras tenaganya Lana" seloroh Jayden.


"Idiiih Papa kok tahu sih" cengir Vi.


Kali satu keplakan benar-benar sakit. Vi rasakan di lengannya. Sebab sang Papa sendiri yang mengeplaknya.


"Astaga sakit Pa...baru juga semalam nguras tenaga...


"Eiit tu mulut!" potong Jayden cepat.


Vi kembali nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bener-benar ya kamu sudah ketularan mesumnya Young Jae" ucap Jayden pura-pura marah.


"Kenapa Papa bawa-bawa nama Young Jae?" ucap yang punya nama dari arah kolam renang.


Ketiganya masih memakai bathrope masing-masing.


"Astaga, dimana kalian nemu tu bathrope?" tanya Vi karena memang tidak tahu ada bathrope di area kolam renang.


"Ada kok di sana" jawab Arch.


"Sudah? Acara opening kolam renang gue" gerutu Lana.


"Busyet kolam renang elu beneran asyik. Bikin betah aja berenang" timpal Riko.


"Yang punya aja belum pernah pakai. Malah kalian yang nyebur duluan" tambah Lana masih dengan kesal mode on-nya.


"Nggak apa-apa. Habis ini kita berenang berdua" ucap Vi sambil menaikkan satu alisnya.


"Jangan mau Na. Modus itu" seloroh Arch.


"Modusin istri kan nggak dosa. Dapat pahala malahan. Iya nggak Ko?" tanya Vi pada Riko si pak Kyai.


"Iya pahalanya lipat-lipat. Apalagi kalau ditambah memberi makan orang yang kelaparan" jawab Riko enteng. Menatap ke arah makanan yang ada di atas meja.


"Wooo, pak kyai aja suka modusin orang" kesal Vi.


Membuat mereka semua tergelak. Merasa bahagia dengan keadaan mereka kini. Pada akhirnya apa yang Rafa katakan terbukti juga. Keluarga itu benar-benar mengadakan lesehan di ruang makan yang memang masih kosong blong.


Meminta Jayden dan yang lainnya untuk mengambil beberapa daun pisang hias yang ada di samping kolam renang. Tania dan lainnya. Menyusun nasi di atas daun pisang beserta lauknya.


"Coba kalau para cewek ada. Makin seru nih" ucap Arch.


Tanpa tahu dari pintu para wanita itu bermunculan.


"Ya sallam. Pesta pindah ke rumahmu Vi" ucap Riko.


"Tidak masalah. Anggap saja syukuran rumah baru" jawab Vi sambil tersenyum.


Melirik Rafa yang ikut tersenyum menatapnya. Tahu, jika Vi berterima kasih banyak padanya. Karena Rafa meminta Vi memasak banyak. Hingga meski kedatangan laskar Srikandi. Mereka tidak kekurangan makanan.


"Hai, semua" sapa para wanita itu bersamaan.


"Haissh, kenapa mereka jadi kompak begini" ucap Young Jae tidak percaya.


"Biasa cewek kalau sudah satu server ya begitu. Bisa gue tebak. Habis ini mereka pasti kabur ke mall. Shopping" seloroh Arch.


Melirik ke arah para wanita itu yang ikut membantu Tania menata liwetan mereka yang antimainstrem. Kalau biasanya liwetan identik dengan lauk tradisional mengarah ke makanan kampung.


Tapi liwetan mereka kali ini berstandar internasionla. Coba dicari, mana ada liwetan lauknya cap cay, tumis brokoli asam manis. Ditambah tumis daging sapi lada hitam.


"Bener kan yang Rafa bilang tadi. Kita kawinin barat sama timur" seloroh Rafa mulai memakan makanannya. Sejenak mengajari Valerie sang istri makan menggunakan tangan.


Ucapan Rafa membuat semua tergelak. Duduk lesehan sambil makan makanan yang Vi masak. Membuat si empunya rumah terhura eh terharu.


"Terharu?" tanya Lana.


Yang mulai paham dengan sisi melow sang suami. Vi mengangguk berusaha menahan laju air mata yang menyeruak ingin terjun dari matanya.


"Jangan mewek dong. Pengantin baru kok mewek" ledek Young Jae.


Vi buru-buru menghapus air mata yang beneran sudah keluar dari matanya. Lana menggenggam tangan Vi. Seolah berkata "semua baik-baik saja". Genggaman tangan Lana membuat Vi mengembangkan senyumnya.


"Ayo kita nikmati liwetan antimainstream kita" teriak Arch yang disambut teriakan antusias dari yang lainnya.


Menandai dimulainya acara liwetan alias mukbang ndeso di rumah baru Vi.


***