
Meski Lana sudah bangun sejak dua hari yang lalu. Namun nyatane dia belum bangun sepenuhnya. Riko dan tim dokter masih sering memberinya obat tidur. Agar dia lebih banyak beristirahat. Supaya kondisinya cepat pulih.
Hingga waktu bertemu dengan orang-orang pun sangat sedikit. Termasuk Papa, Mama, bahkan Vi sekalipun. Kecuali Rahma kemarin yang beruntung karena datang pas Lana baru saja bangun.
Vi memang tidak pernah meninggalkan sisi Lana sejak istrinya itu bangun. Semua kebutuhannya diantarkan oleh Mang Ujang. Juga pekerjaannya dia handle dari rumah sakit.
Tapi setelah dua hari dan kondisi Lana semakin stabil dan baik. Obat tidurpun mulai dikurangi. Hingga Lana mulai bisa berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya.
"Kenapa kamu bisa kekurangan darah. Bukankah kamu selalu kontrol ke dokter kandungan. Pasti dapat pil penambah darah kan?" tanya Marina yang masih bisa memeriksa Lana meski perutnya sudah besar.
"He he aku tidak meminumnya" jawab Lana sambil nyengir.
"Jangan diulangi lagi" kesal Marina.
"Baik bu Dokter" jawab Lana bercanda.
"Kau dengar Vi, pastikan istrimu meminum semua vitaminnya. Jangan sampai lupa" ulang Marina lagi.
"Siap bu dokter" jawab Vi.
"Jangan diulangi lagi. Atau kau mau lihat suamimu menangis darah lagi"
"Alah sekarang aja menangis darah. Dua bulan kemarin ke mana Pak?" ledek Lana.
"Astaga Baby, itu kecelakaan dan aku benar-benar hilang ingatan" rengek Vi.
"Bodo! Besok kalau pulang giliran kamu yang tidur di sofabed dua bulan! Gantian!" ucap Lana pedas.
Sadar dia yang salah. Vi hanya mengangguk lesu. Dia ingat semua yang dia lakukan pada Lana dua bulan ini. Dan itu membuat Vi merasa sangat bersalah. Bisa-bisanya otaknya menghilangkan ingatan soal Lana, sang istri.
"Sudah-sudah. Malah jadi saling balas sih. Nggak lihat tu si Boy nanti julid sama bapaknya" Marina mengingatkan.
"Biarin dia julid sama bapaknya. Siapa suruh masukin wanita ular jadi sekretarisnya" ketus Lana.
"Aku sudah memecatnya By" jawab Vi. Marina sudah keluar dari ruangan Lana. Membiarkan pasutri itu menyelesaikan masalah mereka.
"Lalu foto itu. Oke aku percaya kau dijebak lagi. Tapi bagaimana bisa dia mendapatkan fotomu"
Lana berusaha mempercayai Vi kali ini. Dia teringat, terakhir kali Vi terlihat begitu kecewa karena dia tidak mempercayai dirinya soal video waktu itu. Hingga hal itu memicu kecelakaan Vi dan membuatnya hilang ingatan.
"Kamu percaya padaku, By?" tanya Vi sumringah.
"Percaya...30 persen saja. Lainnya mboh" balas Lana ketus.
"Yaelah 30 persen dapat apaan?" seloroh Vi.
"Buktinya bernilai 70 persen kepercayaanku" jawab Lana.
"Kamu akan percaya padaku jika aku bisa membuktikan kalau itu editan?" tanya Vi.
Bukannya menjawab Lana malah menengadahkan tangannya. Seolah bertanya di mana buktinya.
Dengan cepat Vi berlari ke sofa. Tempat dimana dia mengerjakan seluruh pekerjaannya. Meraih laptopnya. Lantas membukanya. Menyerahkannya pada sang istri.
"Jangan terkejut. Boy tutup mata dulu ya..belum cukup umur" seloroh Vi sambil mencuri kesempatan mengusap lembut perut Lana.
"Iiisshh jangan sentuh. Dia anakku" ucap Lana. Sengaja membuat Vi kesal.
"Tapi kan kecebongku ikut andil juga By" jawab Vi lesu.
"Tapi kan aku yang nampung. Dia ada di dalam rahimku" ujar Lana semakin getol mengerjai sang suami.
"Yeee kalau pria dianugerahi rahim. Aku juga mau menampungnya" jawab Vi semakin ngelantur.
"Emang bisa melahirkannya. Betah sama sakitnya?" tantang Lana.
"Yang itu nggak tahu. La kamu emang betah sakitnya?" tanya Vi.
"Setidaknya aku akan bersiap untuk menghadapi sakitnya. Soalnya orang hamil pasti melahirkan. Baik normal maupun caesar semua sakit. Masak mau enaknya, sakitnya nggak" jawab Lana tak kalah ngawur. Entah benar, entah salah.
Sesaat Vi terdiam. Matanya berkaca-kaca. Mendengar Lana sudah siap tidak peduli seberapa sakitnya.
"Terima kasih By, mau menampung anakku" ucap Vi memeluk Lana.
"Eehhh lepasin. Bengep tahu. Kamu kira toren apa? Penampungan?" protes Lana.
"Hamil By, maaf...maaf..." ucap Vi memperbaiki ucapannya.
"Mana ini buktinya?" tagih Lana.
"Oh ini dia tapi jangan terkejut ya..." lagi Vi memperingatkan.
"Terkejut soal apa sih?" kepo Lana.
"Soal ini...fotonya kan ini. Aslinya ini" ucap Vi menunjukkan foto dan gambar aslinya.
"Haa? Dia kan artis itu" ucap Lana sambil menutup mulutnya.
"Ini sebenarnya bukan foto. Tapi video" dan Vi langsung menekan icon play. Dan terputarlah sebuah video yang langsung membuat Lana menutup matanya. Juga menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Vi yang ikut naik ke ranjang pasiennya.
"Hiiii, dia ternyata tukang begituan" ucap Lana bergidik ngeri.
"Mau lihat yang lain?" goda Vi.
"Ogah ah. Nggak mau, nggak mau" tolak Lana.
"Padahal dulu kita tiap hari melakukannya" goda Vi.
"Itu beda. Lagipula kamu kan suami aku. Wajar dong kita ngelakuin itu" jawab Lana.
"Ngaku ni punya suami?" goda Vi lagi.
"Ngakulah. Emang kamu..meleng dikit aja lupa sama istri" balas Lana.
"Dibahas lagi" keluh Vi sendu.
"Ya makanya jangan diulangi lagi"
"Yaelah By, aku nggak mau kehilangan kamu. Meski hanya ingatan. Hilang ingatan dua bulan. Puasa dua bulan juga" ucap Vi drama.
Lana terkekeh mendengar ucapan Vi. Nggak nyambung.
"Yang aku maksud jangan diulangi itu, bukan hilang ingatannya. Tapi dekat sama perempuan lain. Ogah juga lagi aku harus berhadapan dengan orang kutub"
Vi melongo. Mendengar Lana tidak suka dirinya dekat dengan perempuan lain. Karena baru kali ini Vi mendengarnya.
"Kamu cemburu ya By" tanya Vi.
"Soal?" tanya Lana. Mulai mengulik laptop sang suami.
"Aku nggak boleh dekat sama perempuan lain" goda Vi.
"Haaaa, aku memang ngomong seperti itu?" tanya Lana.
Vi mengangguk.
"Anggap saja iya" jawab Lana.
Memang dia cemburupun kalau melihat Vi dekat-dekat dengan perempuan lain. Kecuali teman ataupun wanita yang sudah Lana kenal.
Mendengar hal itu. Vi langsung menghujani wajah Lana dengan ciuman.
"Stop Vi....stop...geli" teriak Lana.
"Tapi enak kan?" goda Vi
"Geli ya geli" kilah Lana.
"Kalau mau yang enak ini...
Sejurus kemudian pria itu sudah melabuhkan bibirnya di bibir Lana. Menciumnya lembut penuh kerinduan. Melu***nya penuh cinta. Lana yang memang juga rindu sentuhan sang suami. Langsung membalas pagutan Vi.
Sesaat mereka bergelut dengan indera pengecap mereka. Seolah enggan berhenti. Namun jelas Vi tidak bisa melewati batasnya. Mengingat Lana juga baru melewati masa kritisnya.
Hingga akhirnya dengan rasa tidak rela. Vi mengurai ciumannya. Menatap dalam wajah Lana, sang istri.
"I love you my baby girl" ucap Vi dalam.
"But I still hate you" jawab Lana cepat.
"No problem. Asal kamu tidak pergi dariku. Dan tidak meninggalkanku. Tidak masalah kamu membenciku" jawab Lana.
Jawaban Vi membuat Lana tersenyum. Inilah yang dia suka dari suaminya. Blak-blakan, apa adanya. Tidak takut menderita.
"Tidak marah aku membencimu?" tanya Lana.
"Kenapa harus marah? La wong kamu jelas bohongnya. Orang benci mana mau susah-susah mengandung anak hasil kecebong orang yang dibencinya" jawab Vi skak mat.
"Iihh menyebalkan" marah Lana karena ketahuan bohongnya.
Vi terkekeh mendengar kemarahan sang istri. Bukannya meredam kemarahan sang istri. Pria itu malah menyingkap baju pasien rumah sakit milik Lana. Memperlihatkan perut Lana yang sudah tidak rata seperti dulu.
"Baik-baik saja disana ya Boy. Jangan merepotkan Mama lagi. Papa sudah ada disini. Tidak akan meninggalkan kalian lagi" ucap Vi sambil mencium lembut perut Lana. Yang membuat Lana menegang seketiķa.
"Honey..." rengek Lana tanpa sadar.
"Sabar By...kita tidak bisa melakukannya sekarang. Kamu baru saja melewati masa kritismu" ucap Vi masih dengan wajah berada di perut Lana.
"Astaga!! Apa yang kalian lakukan?" tanya Tania sambil membulatkan dua bola matanya. Sementara Jayden langsung memasang tampang garangnya.
"Terciduk ya kalian?!" ucap Jayden menggelegar di ruangan itu.
"Terciduk apanya wong kita pasangan sah. Bukan pasangan selingkuh" batin Lana dan Vi bersamaan. Menatap horor pada kedua orang tuanya.
***
Kredit Instagram @ cottonpink
Kredit Instagram @ chengxiao_hk
Pasutri yang terciduk lagi ngobrol sama babynya...
****