
Malam merayap datang. Baik Rafa maupun Hyun Ae sudah siap dengan suit resmi mereka. Menunggu Lana yang masih mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar. Yang berarti dia harus naik lagi ke lantai 3.
"Dia jadi datang?" tanya Rafa.
Hyun Ae hanya mengedikkan bahunya.
"Kau ini bagaimana sih Hyung" gerutu Rafa.
"Aku hanya memberinya undangan. Itupun via e-mail. Aku tidak bisa menemuinya. Aku tidak mau memaksanya" jawab Hyun Ae.
"Beuuuhhh manisnya" puji Rafa.
"Siapa yang manis?" tanya Lana tiba-tiba.
Rafa dan Hyun Ae sedikit tertegun dengan gaun yang Lana pakai.
Kredit Instagram @chessman_smiling.14k
"Hyung jangan protes. Kan ada kalian yang ngawal aku" ucap Lana sebelum Hyun Ae buka suara.
"Aku yang jelas mengawalmu. Dia tidak tahu" timpal Rafa ambigu.
"Hyung ada bisnis di sana?" tanya Lana menatap tajam pada hyung-nya.
"Aaa itu..kau lihatlah sendiri nanti"
Kredit Instagram @ v_bisholic
Ketiganya berangkat ke acara pameran berlian terbesar yang dihelat oleh sebuah brand perhiasan ternama. Dengan dukungan dari berbagai pihak. Termasuk Liu Corp. Hingga tidak heran jika mereka sampai disana. Pas VIP langsung mereka dapat.
Membuat mereka mendapat prioritas untuk masuk ke gedung pameran yang pastinya dengan pengamanan ekstra ketat. Apalagi Rafa yang datang ke acara itu.
Kredit Instagram @xuzhibin94
Rafa tinggal memakai kemeja putihnya karena jasnya sudah ia pakaikan ke tubuh Lana. Menutupi pundak Lana yang sedikit terekspose.
"Pakai!" desis Rafa ketika melihat Lana menolak memakai jasnya.
Membuat Lana langsung cemberut dibuatnya. Mereka baru saja akan masuk, ketika satu suara memanggil Lana.
"Lana!" teriak suara itu.
Membuat Lana langsung berbalik. Seketika senyum terkembang di bibir Lana dan...Hyun Ae.
"Jiejie (kakak perempuan)" panggil Lana.
Menghambur ke arah seorang wanita berwajah cantik dengan rambut panjang terurai. Dan wanita itu langsung menyambut Lana dengan sebuah pelukan hangat.
"Kupikir, kamu tidak mau datang" ucap Rafa.
Sementara Hyun Ae hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun satu yang pasti. Dia senang bisa melihat wanita cantik itu berdiri di hadapannya. Karena wanita inilah dia rela datang jauh-jauh ke Shanghai untuk menemuinya. Karen Liu.
Kredit Instagram @ratih_20740
Sementara Karen hanya tersenyum. Mendengar ucapan adik sepupunya itu.
"Tadinya nya sih malas. Tapi itung-itung cuci matalah. Lihat sahabat terbaik wanita. Diamond" cengir Karen.
"Ya, cuci mata, siapa tahu ada yang bening beneran terus kamu kecantol" seloroh Rafa. Membuat yang lain saling pandang.
"Ayo masuk" ajak Lana yang memang sudah tidak sabar dari tadi.
"Iya-iya juragan berlian sudah tidak sabar mau hunting barang dagangan" oceh Rafa.
Yang mendapat senyuman di bibir semua orang. Termasuk Karen, yang membuat Hyun Ae terpana.
"Manis sekali senyumnya" batin Hyun Ae.
Mengikuti langkah kedua gadis itu.Masuk ke ruang pameran. Setelah Karen mendapat pas masuk yang tentunya VIP dong.
"Jiejie sibuk ngapain? Kok tidak tinggal di rumah utama?" cerocos Lana. Membuat Karen tersenyum.
"Aku ingin mandiri Lana" jawab Karen lembut.
"Bagaimana? Suka?" goda Rafa.
Sementara Hyun Ae tidak menanggapi godaan Rafa. Membuat Rafa malah semakin ingin menggoda Hyung-nya itu.
"Beneran nih tidak cinta dengan Karen. Kalau tidak, aku bisa menjodohkan dengan pria lain" kembali Rafa menggoda Hyun Ae.
"Oohh, shut up Bro!" kesal Hyun Ae.
Membuat Rafa cekikikan melihat wajah kesal Hyun Ae.
Ketika mereka masuk acara pameran sudah dimulai. Namun lelangnya belum. Mereka melihat-lihat berlian yang dipamerkan di sana. Beberapa saat kemudian.Karen sudah berjalan di samping Hyun Ae. Karena dua gadis itu sering digoda oleh pengunjung lain. Hingga Rafa dan Hyun Ae memutuskan menunjukkan dengan siapa Lana dan Karen di sana. Padahal modus, agar Karen bisa berduaan dengan Hyun Ae.
"Apa kabarmu?" tanya Hyun Ae memulai percakapan.
"Aku? Aaah aku baik-baik saja" jawab Karen cukup terkejut melihat sikap Hyun Ae yang ia tahu sangat dingin.
"Ingin istirahat dulu?" tanya Hyun Ae setelah hampir satu jam keduanya mengikuti Lana yang memang lebih tahu soal berlian. Beberapa berlian bahkan sudah ada di tangannya.
"Tapi...mereka" jawab Karen ragu.
Sejenak Karen terdiam. Sejurus kemudian mengangguk. Membuat Hyun Ae mengembangkan senyumnya. Pria itu meraih ponselnya. Mengirim pesan pada Rafa.
"Aku bawa Karen istirahat"
^^^"Boleh. Asal jangan dibawa ke hotel"^^^
"Sembarangan! Aku bukan Alex"
^^^"🤣🤣🤣"^^^
"Apa maksudmu?"
^^^"Tidak ada. Nanti aku kirimkan mobil untuk menjemputmu"^^^
"Oke"
"Ayo" ajak Hyun Ae.
Membawa Karen keluar dari area pameran itu.
"Hyung kemana?" tanya Lana.
"Pacaran?" bisik Rafa.
"Ha?"
Lana melongo.
"Hyung pacaran sama Karen jiejie" kepo Lana.
"Baru pedekate. Hyungmu yang ada rasa. Tidak tahu dengan Karen" jelas Rafa.
Lana hanya ber-oo ria. Lana jelas senang jika Hyungnya atau saudaranya menemukan pasangan.
"Lalu mas Rafa? Sudah ketemu dengan gadis itu?" tanya Lana.
"Belum. Tapi Mas pernah bertemu dengannya. Sekarang mas tahu namanya" jawab Rafa.
"Benarkah?" tanya Lana tidak percaya.
"Bahkan aku sudah bercinta dengannya Lana. Semua itu gara-gara Alex" batin Rafa.
Rafa mengangguk.
"Wah aku tidak sabar untuk bertemu dengannya" ucap Lana antusias.
Rafa tersenyum. Mengusap lembut kepala Lana. Sedang ingatan Rafa kembali melayang ke sebulan yang lalu. Dia kala itu terpaksa pergi ke klub malam. Di pusat kota Shanghai. Apalagi kalau bukan mencari Alex. Uncle Luisnya yang meminta.
Karena sang mama, Alena mendadak pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit setelah mendengar kelakuan putra bungsunya. Selama ini, Alena memang tidak tahu kelakuan Alex yang playboy dan hobi ONS.
Singkat kata, Rafa berhasil menemukan Alex di salah satu kamar VIP di klub malam itu. Sedang menunggu seorang wanita yang akan menjadi parternya malam itu. Yang kata maminya masih pw atau virgin.
Alex jelas penasaran dengan wanita yang masih virgin. Secara dia tidak pernah mendapatkannya. Tapi hal itu urung Alex dapat. Karena Rafa sudah lebih dulu menyuruh anak buahnya untuk menyeret Alex ke rumah sakit di mana Alena di rawat.
Rafa baru saja akan keluar dari sana. Ketika dia mencium aroma parfum yang selama ini cari.
"Dia? Di sini?" guman Rafa.
Lantas berbalik. Dan benar saja dia melihat wanita yang hampir dua bulan memenuhi kepalanya. Mata Rafa jelas membulat melihat bagaimana penampilan gadis itu. Tubuhnya benar-benar seksi dengan balutan mini dress yang mengekspose paha dan dadanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rafa dengan suara paraunya. Hasratnya mulai naik melihat penampilan gadis yang sudah ia cium tanpa sengaja itu.
"Maaf tuan. Saya yang akan melayani tuan malam ini" jawab gadis itu lirih.
"Sial! Alex yang memesan gadis inikah?" batin Rafa mulai emosi.
Bisa Rafa dengar nada gemetar dalam suara gadis itu. Menandakan kalau gadis itu tertekan.
"Apa ini yang pertama untukmu?" tanya Rafa.
Sebagai seorang yang pandai membaca situasi. Rafa jelas tahu. Gadis itu sama sekali tidak berpengalaman menjadi seorang wanita malam. Wanita malam yang sudah pro akan langsung menerkam mangsanya. Apalagi itu adalah dirinya, Rafael Deandra Liu.
Pelan gadis itu mengangguk.
"Ada alasannya?" selidik Rafa.
Merasa jika gadis itu terpaksa melakukannya.
"Saya butuh uang untuk operasi papa saya. Dan harus malam ini juga. Jika tidak..." gadis itu tidak meneruskan kata-katanya. Bisa Rafa lihat air mata mengalir di balik mata gadis itu.
"Berapa yang kau perlukan?" tanya Rafa. Dia hanya ingin membantu. Mendengar ucapan Rafa. Gadis mengangkat wajahnya. Hingga bisa Rafa lihat, kecantikan yang selama ini Rafa cari.
"Apa Tuan akan memberikan sebanyak yang saya perlukan?" tanya gadis itu tidak percaya.
"Tentu saja" jawab Rafa.
"Saya perlu lima ratus juta yuan untuk operasi jantung papa saya" ucap gadis itu.
"Baik, aku harus kirim ke mana?" tanya Rafa membuat mata gadis itu membola tidak percaya.
"Apa tuan yakin akan memberi saya uang sebanyak itu?" tanya gadis itu lagi.
"Tentu saja. Katakan kemana aku harus mengirimnya. Kau bilang kau perlu uangnya malam ini" tanya Rafa cepat.
"Emmm kirimkan saja ke rekening dokter David Tan, dia bekerja di rumah sakit XX. Dia yang akan menangani operasi papa saya" jawab gadis itu setelah sejenak berpikir.
"I Got You!" batin Rafa dengan seringai penuh kemenangan.
***