The Story Of "A"

The Story Of "A"
Habislah Aku



Vi sedang berada di ruang kerjanya. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai dan mendesak untuk segera dikerjakan. Meninggalkan Lana yang terlelap di ranjangnya. Di kamarnya.


Lana yang tertidur cukup lama. Akibat pengaruh alkohol yang tidak seberapa dia minum. Pada akhirnya terbangun. Pusing, rasa pertama yang Lana dapat saat membuka mata. Selanjutnya disorientasi tempat.


Heran, dia ada di mana. Ini bukanlah apartement Arch maupun Riko. Perlahan memukul kepalanya.


"Aku dimana?" gumannya pelan.


Menatap sekelilingnya. Kamarnya mewah. Dan sangat maskulin.


"Kamar siapa sih ini?" tanya Lana lirih.


Sesaat kemudian, mata Lana mulai berembun. Teringat video yang dikirim ke ponselnya, dari nomor yang entah tidak tahu milik siapa. Video yang memperlihatkan adegan Vi dan seorang wanita seksi. Dimana Vi yang hanya memakai handuk di pinggangnya, tengah menindih wanita itu.


"Vi brengsek!"maki Lana.


Tahu seperti itu, untuk apa dia mati-matian mengejar Vi kembali. Menuruti semua saran Young Jae. Bahkan Lana rela masuk klub malam untuk menarik perhatian Vi. Gadis manis itu mendengus kesal. Jika tahu, Vi sama saja dengan banyak pria di luar sana. Suka main perempuan.


Lana menghapus kasar air mata yang turun di pipinya. Dia pikir akan sia-sia menangisi pria brengsek seperti Vi. Lana menatap berkeliling. Kamar itu sangat mewah. Pasti ada bathup di kamar mandinya. Lana ingin berendam untuk menghilangkan rasa lengket dibadannya.


Gara-gara video itu. Untuk pertama kalinya. Lana menenggak minuman bernama alkohol. Meski baru beberapa teguk saja. Gadis itu sudah kehilangan kesadarannya. Dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Dia hanya sedikit mengingat, Vi ada di klub malam itu.


"Ahh tidak mungkin pria brengsek itu ada di sana. Jelas-jelas dia sedang bercinta dengan wanita malam itu" gerutu Lana.


Berjalan mengitari kamar itu. Setelah melempar mantel panjang yang membalut tubuhnya. Tidak peduli siapa yang memakaikan di tubuhnya. Dia membuka pintu yang ia kira kamar mandi. Dan benar saja itu kamar mandi.


Berjalan menuju bathup yang sangat besar. Mengisinya menggunakan air hingga dia rasa cukup. Lalu mengambil aroma terapi yang juga tersedia di sana.


Dengan cepat gadis itu melucuti pakaiannya sendiri. Melemparnya sembarangan. Lantas masuk ke dalam bath up itu. Masa bodoh dengan pemiliknya mengizinkan atau tidak.


Tubuh Lana terasa nyaman ketika air hangat bercampur aroma terapi itu merendam tubuh nakednya. Lana benar-benar membiarkan tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Pelan, Lana menyandarkan kepalanya di pinggiran bath up itu.


"Aku akan benar-benar move on darimu Vi, setelah ini" tekad Lana.


Tidak ingin lagi kecewa dengan sikap Vi. Yang Lana anggap benar-benar sudah menyakiti dirinya.


***


"Hah"


Vi menghembuskan nafasnya kasar. Akhirnya pekerjaannya selesai. Melirik jamnya. Sudah lewat tengah malam. Dia pikir Lana pasti sudah bangun.


Dengan cepat Vi keluar dari ruang kerjanya. Langsung masuk ke kamarnya yang rupanya hanya berbeda pintu. Dahinya mengerut. Melihat mantel panjang, yang Vi sematkan di tubuh Lana sudah teronggok di lantai.


Vi berlari keluar kamar. Berpikir kalau Lana sudah pergi. Tapi dia menemukan pintu unitnya masih terkunci. Belum ada tanda-tanda kalau pintu itu dibuka dari dalam. Lalu kemana Lana pergi?


Hingga kemudian. Kamar mandi terlintas di pikirannya.


"Lana..Lana....apa kamu di dalam?" tanya Vi cukup panik. Mengetuk pintu kamar dengan tidak sabaran


Karena tidak ada jawaban. Juga tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi.


"Lana...apa kamu di dalam? Jawab aku Lana!" teriak Vi.


Hening,


"Kamu tidak menjawab. Aku akan masuk kalau begitu" lagi Vi berucap keras.


Ceklek, Vi membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci. Sesaat Vi membeku, melihat pakaian Lana yang berserakan di lantai kamar mandi. Termasuk sepasang pakaian dalam berwarna merah yang membuat Vi menelan ludahnya susah payah.


Tunggu, pakaian Lana ada. Tapi tidak terdengar bunyi air yang mengalir dari bilik kaca tempat shower berada.


"Oh my God!" pekik Vi.


Menyadari sesuatu. Berlari ke arah bath up. Dengan cepat Vi mengangkat tubuh Lana yang tenggelam dalam bath up super besar itu. Panik langsung melanda hati Vi.


"Lana...Lana..bangun. Lana!" teriak Vi. Menepuk-nepuk pelan pipi Lana.


Bagaimana bisa Lana berpikir untuk menenggelamkan diri dalam bath up. Kepanikan Vi semakin menjadi ketika Vi dapati Lana tidak lagi bernafas. Wajahnya juga mulai memucat. Dengan cepat Vi mengangkat tubuh polos Lana. Membaringkannya di lantai kamar mandi miliknya.


Satu hal terlintas di pikirannya. CPR, pelan Vi menekan dada Lana. Berusaha mengeluarkan air yang masuk ke paru-paru Lana. Beberapa kali mencoba. Tidak berhasil. Hingga kemudian dengan cepat pria itu menekan hidung Lana. Lantas memberikan nafas buatan pada Lana.


Satu kali, dua kali, tiga kali, tidak berhasil juga. Vi benar-benar frustrasi di buatnya. Bisa Vi bayangkan, kalau banyak orang yang akan langsung membunuhnya jika sampai ia gagal menyelamatkan Lana.


"Oh come on, Lana. Jangan bercanda denganku. Bangun dan buka matamu!" teriak Vi kembali memberikan nafas buatan untuk Lana.


"Bangun aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji akan kembali padamu. Buka matamu, By!" doa Vi seiring air mata yang mengalir di pipinya.


Sembari dia tidak berhenti memberikan nafas buatan untuk Lana. Hingga..... "uhuk" suara Lana yang terbatuk. Membuat Vi lega seketika. Pelan, bisa Vi lihat. Mata Lana yang terbuka.


Vi dengan cepat membantu gadis itu untuk duduk. Agar air yang tertelan bisa keluar semua.


"Are you okay?" tanya Vi panik.


Menatap dalam wajah Lana. Yang detik berikutnya langsung mendorong jauh tubuh Vi.


"Ngapain kamu disini, brengsek!" maki Lana meski suaranya terdengar lemah.


Namun bisa Vi dengar nada marah dalam suara Lana.


"Lana...ini kan kamarku" jawab Vi lirih mengalihkan pandangannya dari tubuh polos Lana.


"Kau membawaku ke kamarmu, setelah kau menggunakannya untuk bercinta dengan wanita malam itu. Kau benar-benar brengsek Vi" maki Lana lagi.


Ucapan Lana membuat Vi mengerutkan dahinya. Sejurus kemudian dia teringat video yang dikirim Arch padanya.


"Kau percaya aku bercinta dengan wanita itu?" tanya Vi.


"Apalagi?" jawab Lana sengit.


"Percaya tidak kalau aku tidak berna*** pada wanita itu" ucap Vi santai.


Pria itu kini dengan konyolnya duduk bersila di kamar mandi miliknya. Dengan Lana yang bersandar di sisi lain dari kamar mandi itu. Naked ya alias telan..jang...ingat itu...


"Bohong!" potong Lana cepat.


Vi mengulum senyumnya sesaat.


"Mau aku beritahu sesuatu?" tanya Vi sambil menaikkan satu alisnya.


Lana memberikan tatapan nyalangnya pada Vi, yang terlihat begitu santai menghadapi kemarahan Lana.


"Wanita itu tidak cantik. Dia tidak seksi sama sekali. Masih cantik dan seksian kamu kemana-mana" ucap Vi sambil tersenyum.


"Jangan menipuku!" jawab Lana judes.


"Tidak percaya? Aku tidak melihat wanita itu membuka bajunya karena aku keburu mengusirnya. Tapi kamu.....kamu sendiri yang menunjukkan sendiri tubuhmu padaku" jawab Vi enteng sambil tersenyum jahil pada Lana.


"Maksudmu apa?" tanya Lana tidak paham.


"Kamu naked Lana! Apa kamu tidak sadar?" ucap Vi gemas.


Mata Lana langsung membulat sempurna. Melihat ke arah tubuhnya sendiri. Detik berikutnya teriakan melengking langsung keluar dari bibir Lana.


"Aargghhh!"


Lana berbalik memunggungi Vi yang tertawa terbahak-bahak.


"Kamu keterlaluan Vi, kau membuatku malu...kau..kau..." Lana kehabisan kata untuk mengumpat Vi karena rasa malu sebesar gunung seluas lautan yang kini ia rasa.


"Ini bagaimana ceritanya agar aku bisa keluar dari sini" batin Lana malu bukan kepalang sampai ke ubun-ubun.


"Keluar Vi!" pekik Lana.


"Tidak mau!" jawab Vi perlahan mengambil bathrope di sudut kamar mandi.


"Kau benar-benar ingin membunuhku dengan rasa malu ini" ucap Lana setengah memohon.


"Duh bagaimana jadi begini sih" batin Lana semakin frustrasi.


"Kenapa harus malu. Tubuhmu mulus, seksi dan wangi....sangat menggoda" ucap Vi tiba-tiba dengan bibir yang sudah menyusuri bahu polos Lana.


Membuat tubuh Lana menegang seketika.


"Vi jangan lakukan itu" ucap Lana sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa? Sudah aku bilang kalau aku hanya berna*** padamu. Aku juga hanya akan bercinta denganmu" bisik Vi di belakang telinga Lana. Pelan Vi mulai menjilati telinga Lana. Membuat tubuh Lana semakin tidak karuan rasanya.


"Habislah aku kali ini" batin Lana putus asa.


***


Kira-kira Vi beneran ngapa-ngapain Lana gak ya 🤔🤔🤔


***