The Story Of "A"

The Story Of "A"
Rencana Bryan 2



Brak!!


Suara pintu yang didobrak. Mengalihkan pandangan Bryan dari Tania. Mendapat celah, Tania mendorong tubuh Bryan hingga terjatuh. Wanita itu bermaksud menjauh dari Bryan. Namun sialnya, tangan Bryan masih bisa mencekal pergelangan kaki Tania.


Membuat Tania ikut terjatuh bersama Bryan. Jayden merangsek masuk ke rumah itu. Kemarahan langsung memenuhi kepala Jayden. Melihat Tania yang kini berada dalam cekalan Bryan dengan sepucuk pistol jenis Glock yang menempel di pelipis Tania.


"Sial! Aku tidak membawa PPK-ku" batin Jayden bersamaan dengan Reyhan yang juga saling pandang.


"Lepaskan dia, brengsek!"seru Jayden.


"Kalian ini kenapa sama sekali tidak berubah" tanya Bryan sendu.


"Berubah untuk orang sepertimu? Cih...aku rasa semua tidak akan ada gunanya" jawab Jayden bergerak maju.


"Berhenti di sana, Jayden. Atau kau ingin tubuh seksi istrimu aku ubah menjadi mayat dalam sekejap" ancam Bryan.


Jayden dan Rey kompak berhenti. Takut? Sama sekali tidak. Hanya ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh orang gila macam Bryan.


"Pintar sekali. Aku suka jika kalian menurut seperti ini. Betul tidak Tania?" ucap Bryan santai.


"So apa yang kau inginkan sampai membawa istriku ke rumah ayahmu? Tidak mungkin kan kalau kau menginginkan istriku?" tanya Jayden.


Mata keempat orang selalu fokus antara satu dengan yang lainnya. Waspada dengan gerakan sekecil apapun.


"Well sebenarnya aku masih tertarik dengan tubuh Tania. Kau tahu kan, aku belum sempat mencicipi tubuhnya dulu. Boleh dibilang aku masih penasaran. Jadi ketika "dia" mengajak bertemu. Why not? Siapa tahu aku bisa merealisasikan mimpiku yang dulu" ejek Bryan.


"Kau benar-benar kurang ajar Bry!"


"Aku rasa tidak Jayden"


"Lepaskan Tania Bry!" Rey buka suara akhirnya.


"Oh kau masih betah menjadi pesuruhnya?" ucap Bryan meremehkan.


Jayden mengeratkan rahangnya. Dia sama sekali tidak pernah menganggap Rey sebagai pesuruhnya. Rey adalah teman sekaligus guru yang selalu mengajarkan hal baru padanya.


"Yeah kalau begitu aku pesuruh dengan gaji selevel CEO" balas Rey santai.


Rey sendiri berhutang banyak pada keluarga Jayden. Semua kesulitan Rey. Semua dibantu oleh keluaraga Lee.


"Sebenarnya apa sih maumu?" tanya Jayden.


"Mauku? Batalkan pernikahan Vi dan Lana" jawab Bryan.


"Gila!" umpat Rey.


"Aku memang gila. Baru tahu ya" ledek Bryan.


"Jangan dengarkan dia, By" kali ini Tania yang bersuara.


"Jangan ikut campur. Diam saja kau" desis Bryan.


"Jangan kasar Bry!" bentak Jayden.


"Kalian membuatku marah!" teriak Bryan.


Semakin menempelkan Glocknya di kening Tania. Membuat Tania memejamkan matanya.


"Kenapa? Apa kau takut?" bisik Bryan di telinga Tania.


"Jangan macam-macam kau Bry. Pernikahan Lana dan Vi akan tetep dilaksanakan. Persetan dengan dirimu, terima atau tidak" teriak Jayden.


"Kalau begitu aku buat kalian akan menyesalinya" seringai Bryan mengerikan.


"Tunggu dulu. Kenapa kau ingin sekali melihat Vi tidak jadi menikah dengan Lana. Apa masalahmu sebenarnya?" tanya Rey yang benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir Bryan.


"Kau ingin tahu?" tanya Bryan santai.


Hening, tidak ada yang berani berbicara.


"Aku benci melihat kalian bahagia. Aku benci kalian tertawa. Aku tidak suka. Terutama kau!" ucap Bryan berubah marah. Menunjuk pada Tania.


"Kau menjatuhkan harga diriku dengan menolakku berkali-kali. Kau membuatku seperti orang yang tidak punya nilai. Sampah. Kau membuatku seperti orang yang tidak berguna" ucap Bryan sambil menggeram marah.


"Astaga dia benar-benar gila! Tidak waras!" maki Jayden dengan suara tertahan. Hingga hanya Rey yang bisa mendengarnya.


"Dan kau dengan mudahnya mendapatkan dia" Bryan menunjuk Jayden marah.


"Hei, kau pikir aku mendapatkannya dalam semalam. Dia ribuan kali menolakku. Asal kau tahu itu. Brengsek!" jawab Jayden tidak kalah emosi.


Rey langsung menahan lengan Jayden. Menggelengkan kepala mengingatkan agar pria itu tidak bertindak gegabah. Melihat emosi Bryan. Rey takut sewaktu-waktu pria itu bisa kehilangan akal sehatnya. Yang bisa membuat nyawa Tania dalam bahaya.


Bryan menatap Jayden tajam. Seolah tidak terima dengan jawaban Jayden.


"Omong kosong. Kau sengaja menolakku agar bisa menikah dengannya. Iya kan?" bentak Bryan tepat di telinga Tania. Tania langsung memejamkan matanya karena telinganya berdengung akibat ulah Bryan.


"Hei, kau bisa membuatnya budeg!" ucap Jayden.


Tania langsung mendelik. Mendengar ucapan absurd sang suami. Bisa-bisanya memikirkan hal seperti itu ketika di pelilisnya ada Glock yang kapan saja siap diledakkan.


"Diam kau!" raung Bryan.


Nafasnya memburu menahan emosi yang semakin meroket naik.


"Sekarang pilih. Dia atau pernikahan Vi dan Lana" tanya Bryan dengan tatapan penuh intimidasi.


Mata Bryan selalu menatap Jayden. Bryan ingin Jayden yang membuat pilihan.


Hening kembali,


Pandangan mata Tania dan Jayden beradu. Seolah paham dengan apa yang ingin mereka sampaikan. Perlahan keduanya mengangguk samar. Diikuti oleh Rey.


Bryan semakin emosi karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Jadi apa jawabanmu, Lee?" tanya Bryan.


"Pilihan kami..."


Sekilas menatap Rey dan juga Tania. Lalu bersiap..


"....pernikahan Vi dan Lana"


Kedua pria itu merangsek maju. Bersamaan dengan Tania yang berusaha menjatuhkan Bryan .


Bruuukk,


Dor,


Suara tembakan nyaring terdengar. Tania langsung menjatuhkan diri di lantai. Berharap dia baik-baik saja. Juga yang lainnya.


Setelah hening beberapa waktu. Tania pikir dirinya sudah aman. Berusaha bangkit. Namun ternyata salah. Ketika dia bangun. Ujung Glock itu kembali menempel di pelipisnya. Sedang dari depan sana terlihat Rey yang meringis. Menahan darah yang keluar dari lengannya.


"Rey....!" pekik Tania.


Sedetik kemudian tawa terdengar di ruangan itu. Bryan benar-benar puas melihat Rey yang meringis menahan sakit di lengannya. Disampingnya, Jayden berusaha menekan luka Rey agar darah tidak semakin banyak keluar.


Jayden bergerak dulu. Disaat yang bersamaan, Tania berusaha menjatuhkan Bryan. Pria itu berhasil bertahan. Alhasil malah Tania yang terbanting. Emosi membuat Bryan mengarahkan Glock-nya ke arah Jayden yang tidak menyadarinya.


Melihat hal itu, Rey panik dengan cepat berlari menyusul Jayden. Lantas mendorong tubuh Jayden ke samping. Bersamaan dengan sebutir peluru yang dilesatkan Bryan dari Glock-nya. Beruntung peluru itu hanya menyerempet lengan Rey. Meski tak dipungkiri, rasanya lumayan sakit dengan darah yang tak kunjung berhenti.


"Haish kenapa pakai acara meleset sih!" kesal Bryan.


Semua orang menatap Bryan tidak percaya.


"Fix, orang ini benar-benar sudah gila" batin Jayden sambil menatap Rey yang bersandar di tembok.


"Bertahanlah" ucap Jayden.


"Ini luka kecil Bro. Tidak masalah" balas Rey.


"Bagaimana sekarang? Kenapa jadi genting begini keadaannya" cemas Jayden menatap pada Tania yang kini terduduk di lantai dengan Glock Bryan bersiap di pelipis Tania.


Pandangan Tania kosong. Dia cukup shock melihat Rey terluka.


"Sekarang putuskan!" ancam Bryan.


Memantapkan pegangannya pada Glock-nya. Bersiap menarik pelatuknya. Kapanpun dia mau. Tania sudah putus asa dengan keadaannya. Pasrah pada nasib.


"Bunuh saja aku. Asal pernikahan Lana dan Vi tetap bisa dilaksanakan" bisik Tania.


"Jangan By. Dia bohong. Dia tidak akan pernah menepati ucapannya" teriak Jayden.


"Aiih! Kenapa kau pintar sekali, dasar brengsek!" maki Bryan.


"Hei kau yang brengsek! Aku tidak!" sangkal Jayden.


Sempat-sempatnya bercanda padahal nyawa Tania berada diujung Glock-nya Bryan.


"Baiklah karena kita sama-sama brengsek. Kita buktikan siapa yang paling brengsek di antara kita" tantang Bryan.


Mata Jayden dan Tania membulat seketika. Karena Bryan dengan cepat, mengubah targetnya. Kali ini ujung Glock itu diarahkan ke Rey. Meski jaraknya lumayan jauh. Tapi jika Bryan menembak tepat di sasarannya, bisa dipastikan Rey tidak akan selamat.


"Kau jangan gila, Bry!" pekik Tania.


Berusaha merebut Glock itu dari tangan Bryan. Hingga adegan tarik menarik pun terjadi.


"Argghhh"


Tania meringis ketika Bryan mendorongnya hingga kepalanya membentur tembok.Rasa pusing langsung menghantam kepalanya.


"Sialan kau Bry!" marah Jayden. Bermaksud mendekat. Tapi tembakan peringatan dari Bryan memundurkan langkahnya lagi.


Dor!


Bryan tersenyum puas melihat wajah-wajah frustrasi di hadapannya. Pria itu menyeringai penuh arti.


Kembali mengarahkan Glock-nya pada Tania.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Baby!" ucap Bryan.


Dan suara tembakan terdengar beberapa kali.


Dor!


"Tidak!"


Dor!


Dor!


"Tania......!"


****