
Tanpa tahu kehebohan yang sudah mereka buat. Sang pengantin baru justru sedang asyik mandi bersama di sebuah jacuźzi besar yang langsung menghadap ke pemandangan laut di sekitar tempat tinggal mereka. Perlahan Lana membersihkan tubuh sang suami juga dirinya.
Kredit Googlè.com
Sumpah, Lana akui kalau dirinya sangat malu sekali ketika harus mandi bersama Vi. Entah kenapa rasanya jadi begitu aneh. Ketika kini mereka sering menghabiskan waktu dengan tubuh dalam keadaan polos.
"Yang masak siapa?" tanya Lana ketika menyabuni punggung kekar Vi. Lana menelan ludahnya. Mengingat berapa kali punggung kekar ini sudah mengungkung dirinya sejak semalam. Bisa Lana lihat, ada bekas cakaran juga gigitan di punggung juga pundak sang suami.
"Apa ini sakit?" tanya Lana lagi. Meraba bekas cakarannya sendiri.
Mengabaikan pertanyaannya yang pertama yang bahkan belum dijawab oleh Vi. Pria itu mengulum senyumnya.
"Kamu mau tanya yang mana dulu?" Vi balik tanya.
"Ya dua-duanyalah" jawab Lana sambil mencebikkan bibirnya kesal.
Perlahan Vi membalikkan badannya. Menghadap Lana.
"Eh kenapa hadap sini. Balik badan sana" suruh Lana.
"Kan mau jawab pertanyaan kamu" jawab Vi enteng.
Has*** Vi kembali naik. Melihat tubuh basah Lana yang terlihat seksi. Tubuh yang kini tidak lagi mulus, karena di beberapa tempat tampak bertebaran tanda cinta yang Vi buat. Vi cukup menahan diri. Untuk tidak mengubah Lana menjadi macan tutul. Sadar itu akan membuat Lana malu kala bertemu banyak orang.
"Jadi jawabannya apa?" tanya Lana sambil terus membersihkan tubuh Vi.
"Aku yang masak. Dan ini, memang perih sih. Tapi aku rela kok kamu cakar. Perihnya tidak sebanding dengan nikmat yang kamu beri"
Blush,
Wajah Lana memerah mendengar ucapan Vi yang terdengar seperti pujian di telinganya.
"Membuatku pengen lagi dan lagi" bisik Vi sensual. Vi tidak tahan lagi. Yang dibawah sana sudah protes ingin masuk ke rumahnya sejak tadi.
"Vi...dia bangun lagi" ucap Lana ketika tidak sengaja menyentuh milik Vi ketika dia bergerak tiba-tiba.
"Ya tidurin lagi saja" jawab Vi enteng sambil menaikkan satu alisnya.
"Iihh mesyumm. Vi aku masih...empt"
Lana memutar matanya jengah ketika Vi langsung membungkam bibirnya dengan ciuman penuh has*** yang membara. Meski tidak Lana pungkiri di detik berikutnya wanita itu langsung membalas ciuman panas suaminya.
Suara sesapan itu memenuhi ruang kamar mandi yang luas dan mewah itu. Seakan sudah menjadi candu. Mereka berciuman tanpa jeda. Semakin pandai dalam mengatur nafas. Baik Vi maupun Lana tahu cara mengambil nafas yang tepat. Tanpa melepas pagutan mereka.
Perlahan Vi menarik tubuh Lana untuk berada diatas tubuhnya. Hanya menggunakan instingnya. Pria itu mulai membimbing miliknya untuk mencari rumahnya.
Lana yang begitu terbuai dengan permainan Vi. Bahkan tidak sadar ketika Vi mulai memasuki dirinya. Hingga ketika milik Vi sudah berada dalam rumahnya. Baru Lana menyadarinya.
"Curang..." pekik Lana.
Namun Vi hanya diam dengan wajah yang terlihat menikmati miliknya yang terasa hangat berada di rumahnya. Niat hati ingin marah. Tapi begitu Vi menyerang dadanya dan mulai bergerak memompa. Kemarahan itu menguap tak bersisa. Berubah menjadi sebuah ******* yang kembali lolos dari bibir Lana.
Lana semakin merapatkan tubuhnya. Menikmati sensasi baru. Bercinta di jacuzzi dengan tubuh basah. Rasanya sungguh berbeda. Vi terus menggerakkan tubuhnya. Membuat air dalam bak besar itu muncrat kemana-mana.
Meremas pelan rambut Vi. Lana begitu menikmati setiap hentakan yang Vi buat. Sensasi baru yang Vi dan Lana rasa membuat keduanya dengan cepat mencapai puncaknya kali ini.
Nafas keduanya tersengal saat pelepasan itu berhasil mereka gapai. Vi tersenyum sambil menyentuh pelan wajah Lana. Keduanya saling pandang dengan senyum terukir di bibir masing-masing.
"Women on top" bisik Vi membuat wajah Lana semakin merah.
"Vi...sudah" rengek Lana.
"Sudah apanya? Baru juga mulai" jawab Vi mendekat erat tubuh Lana mulai bergerak lagi. Lana langsung menggigit bibir bawahnya, sensual. Sementara Vi kembali menyerang leher Lana. Dan ******* itu kembali lolos dari bibir Lana.
Pelan tapi pasti Vi kembali membawa Lana ke puncak rasa nikmat tiada tara. Rasa paling hakiki yang pernah mereka sambangi seumur hidup mereka.
Seolah memiliki stamina unlimited. Vi terus memompa tubuh Lana dalam berbagai gaya. Membuat Lana selalu menyebutkan nama Vi dalam setiap desahannya.
Seperti sekarang ini. Saat Vi menyerangnya dari belakang. Lana hanya bisa memejamkan mata. Sambil terus mendesah tanpa henti. Berpegangan pada wastafel yang ada di kamar mandi itu.
Tubuh Lana bergetar hebat. Seiring hentakan yang Vi lesakkan ke dalam intinya. Belum lagi tangan Vi yang meremat aset kembarnya. Juga bibir pria itu yang sejak tadi berlarian di punggung polosnya.
Mandi? Persetan dengan mandi karena peluh kini kembali membasahi tubuh mereka.
Tanpa mereka tahu. Di luar sana. Di gerbang masuk rumah mereka. Dua mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Vi.
"Gila! Ini anak benar-benar tidak bisa ditebak!" pekik Arch melihat bagaimana megahnya rumah Vi.
"Ini benar rumahnya kan?" tanya Riko pada Dika.
"Kata Fajar sih begitu. Seperti yang Rafa bilang. Kalau Vi merancang rumah ini dengan firewall-nya sendiri" jawab Dika.
"Bagaimana? Bisa membobolnya?" tanya Young Jae sedikit berkeliling. Mengagumi rumah sang kakak.
"Sebentar" jawab Rafa yang masih duduk dalam mobil.
"Mereka lagi ngapain sih? Dihubungi dari tadi tidak bisa" gerutu Arch. Rasanya ingin membanting ponselnya.
"Enak-enaklah. Mau apa lagi. Kan pengantin baru" jawab Rafa enteng.
Arch mendelik mendengar jawaban Rafa.
"Mentang-mentang sudah kewong. Jawaban gitu mulu" cebik Arch kesal.
"Gotcha"
Ucap Rafa. Perlahan gerbang otomatis didepan mereka terbuka. Segera saja dua mobil itu melesat masuk. Sedang di sisi lain. Mobil Tania dan Jayden mulai bergerak.
Vi yang baru saja mendapat pelepasannya kembali. Sedikit mengerutkan dahinya. Dirinya masih memeluk Lana yang nafasnya masih tersengal. Dengan posisi Lana yang berada di atas wastafel
Alarm peringatan berbunyi. Menandakan kalau ada yang berhasil masuk ke kawasan rumahnya.
"Mandilah dulu"
Menurunkan Lana dari atas wastafel. Lantas membimbing istrinya untuk masuk ke dalam bilik kaca.
"Jangan lagi Vi. Aku lapar" rengek Lana. Ketika Vi menyalakan shower air hangatnya. Lantas mencium bibir Lana.
"Sekarang tidak. Tapi nanti tidak tahu" jawab Vi sambil tersenyum.
"Kenapa jawabannya seperti itu" keluh Lana mulai membersihkan diri. Karena Vi sudah keluar dari sana.
Ikutkan hati. Vi masih ingin menyerang Lana. Penasaran karena banyak yang bilang bercinta dibawah guyuran shower. Sensasinya juga tidak kalah dengan gaya yang lain.
Tapi karena alarm peringatan berbunyi, Vi terpaksa menundanya dulu. Memakai bathrope. Vi langsung meraih laptop di meja lantas mendudukkan diri di sofa. Vi tahu yang menerobos masuk bukan orang sembarangan. Karena orang itu bisa menembus firewall yang dia buat di sistem keamanan rumah miliknya.
"Hemm pantas saja bisa masuk. Kau yang mengacaukan sistemku" gerutu Vi.
Karena setelah ini. Dia harus membuat firewaĺl yang baru. Sebab yang lama sudah bisa Rafa tembus.
"Dia tahu kita datang" ucap Rafa ketika keluar dari mobil. Mulai berjalan ke pintu utama rumah Vi.
"Beneran?" tanya Riko.
Rafa mengangguk.
"Jadi tidak ada acara dobrak pintu ni" seloroh Arch.
Rafa menggelengkan kepalanya.
"Dia akan membuka pintunya" ucap Rafa yakin. Mereka sudah berdiri di depan pintu. Dan benar saja, pintu itu terbuka.
Menampilkan seorang pria yang tersenyum sinis menyambut mereka.
"Gangguin orang bercinta saja" gerutu Vi.
Begitu pintu terbuka. Kata itu yang mereka dengar dari sang pemilik rumah. Tak ayal lima orang itu langsung mendelik kesal, mendengar ucapan Vi.
"Astaga, dasar mulut balok es. Kalau ngomong waton njeplak" maki Arch balik.
***