
Vi sudah rapi dengan setelan jasnya. Keluar dari walk in closetnya. Dilihatnya sang istri, Lana yang masih tidur diatas ranjang mereka. Seulas senyum terukir di bibir Vi. Bagaimana semalaman mereka benar-benar bercinta habis-habisan.
Seolah membayar utang dua bulan ini. Baik Vi maupun Lana, sama-sama enggan mengalah. Hingga keduanya bergantian memimpin permainan. Hampir pukul dua dini hari, keduanya ambruk setelah sama-sama merasa puas mereguk nikmat dunia.
"Halo Rahma, ini aku Vi. Hari ini tolong kamu handle semua kerjaan Lana. Dia tidak masuk hari ini. Dia agak tidak enak badan" ucap Vi melalui ponselnya.
Mendengar ucapan pak bosnya, Rahma diujung sana jelas langsung panik. Setahunya pak bosnya belum tahu kalau bu bosnya hamil. Lalu kalau pak bosnya bilang sang istri tidak enak badan. Apa mungkin terjadi sesuatu yang buruk pada bu bosnya.
Panik. Panik, panik. Itu yang dirasakan Rahma. Lain Rahma, lain Vi yang berjalan menuruni tangga dengan wajah berseri-seri. Seperti orang menang lotre. Menang tender. Ahh apa sajalah, yang jelas dia menang banyak semalam.
"Pagi Den. Sendiri? Ibu nggak turun?" tanya Bi Ijah.
"Dia masih tidur. Biarkan saja. Hari ini dia libur" jawab Vi sambil menyesap kopinya.
"Efek kecapekan kali Den dari kemarin" seloroh Bi Ijah membuat Vi hampir tersedak.
"Ah dia memang sedikit kecapekan. Nanti masuk saja pukul 9" perintah Vi.
"Siap Den" ucap Bi Ijah. Undur diri. Paham dengan perintah tuannya.
Membiarkan Vi menikmati sarapannya sendiri. Tak lama pria itu bangkit lalu keluar dari rumahnya. Disana sudah menunggu Mang Ujang yang sejak kecelakaan itu menjadi supir Vi. Jika tidak dijemput Dika.
Sementara di kamar atas. Lana mulai bergerak gelisah. Sesekali menutup mulutnya. Hingga detik berikutnya dia berlari ke kamar mandi. Melupakan tubuh polosnya. Wanita itu memuntahkan seluruh isi perutnya. Yang sebenarnya tidak ada.
Perutnya terasa mual. Rasanya tidak karuan. Plus rasa pusing juga mendera kepalanya. Beberapa kali dia memuntahkan cairan bening dari perutnya.
"Oh boy.. ada apa denganmu? Kamu marah dijenguk Papa semalam?" ucap Lana lirih.
Mengusap pelan perutnya. Sejenak wanita itu mendudukkan dirinya di closet. Mencoba menunggu siapa tahu mual dan pusingnya reda.
Perlahan Lana masuk ke bilik shower. Membersihkan tubuhnya. Lantas meraih bathrope miliknya. Berjalan sedikit tertatih keluar dari kamar mandi. Tubuh terasa sakit juga lemas.
"Aahh, rasanya tulangku remuk semua" keluh Lana.
Perlahan mulai merebahkan kembali tubuhnya di ranjang. Masa bodoh jika Vi akan marah. Lana tidak tahu bahwasana Vi sudah pergi ke kantornya. Siap membuat kejutan untuk si sekretarisnya.
"Kamu mulai hari ini dipindahkan ke cabang Jakarta" ucap Vi pada Stella yang pagi itu malah memakai dandanan yang membuat mata Vi eneg seketika. Bukan hanya Vi sebenarnya. Tapi semua karyawan Aditama Group pagi itu mendapat bahan gosip untuk disebarkan.
"Salah saya apa Tuan?" tanya Stella manja.
"Tidak ada. Hanya saja, istri saya sepertinya tidak suka padamu" jawab Vi menatap tajam pada Stella.
Yang ditatap malah merasa diatas awan. Merasa Vi ada rasa dengannya. Padahal Vi jijik setengah mati melihat dandanan Stella yang malah mirip wanita malam. Daripada seorang sekretaris di kantor sekelas Aditama Group.
"Tapi Tuan menyukai saya kan?" ucap Stella malu-malu.
"Saya akan lebih suka jika kamu...."Vi menggantung ucapannya.
Stella yang sudah yakin kalau Vi benar-benar menyukainya. Semakin mengembangkan senyumnya.
"...kamu enyah dari hadapanku!" lanjut Vi.
Membuat Stella sejenak terkejut. Namun detik berikutnya dia tersenyum. Merasa jika ancaman Vi bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan.
"Tuan apa lupa dengan kontrak kerja yang saya tanda tangani kemarin. Bahwa tuan tidak bisa memecat saya selama kinerja saya bagus" ucap Stella.
"Oohh bagus kau pandai bernegosiasi rupanya" balas Vi.
"Saya anggap itu pujian bagi saya" kata Stella.
Perlahan wanita itu mendekati Vi. Mencondongkan tubuhnya hingga kembali, belahan dada itu mengusik pemandangan mata Vi.
"Ciih dasar wanita penggoda. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau!" batin Vi.
"Bagaimana kalau kita bermain sebentar. Akan saya buktikan kalau saya tidak kalah dengan istri Tuan" goda Stella.
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan barang bekas. Aku penyuka first hand bukan second hand apalagi third hand dan seterusnya" tolak Vi sambil menyalakan laptopnya.
Mata Stella membola seketika.
"Kau! Bagaimana bisa kau mendapatkannya?" ucap Stella reflek memundurkan langkahnya.
"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting. Mau lagi yang lain?" tanya Vi.
Lagi-lagi laptop Vi menampilkan video Stella yang tengah mende*** saat seorang pria menghentaknya dari arah belakang.
"Aku masih punya banyak lagi. Termasuk saat kau bermain liar di kamar mandi pria "itu" ucap Vi dengan seringai yang begitu mengerikan.
Stella jelas terkejut bukan kepalang. Tidak-tidak yang di kamar mandi itu tidak boleh bocor ke publik. Reputasi pria itu bisa hancur. Dan dia sudah mengancam dirinya. Kalau sampai publik tahu. Stellalah orang pertama yang akan di buru.
"Jangan sebarkan video itu" ucap Stella mode memelas.
"Aku tidak akan menyebarkannya. Hanya ingin menunjukkan padamu kalau aku bisa menjadi kejam jika kau tidak menuruti perintahku" jawab Vi tegas.
"Aku akan pergi. Aku akan pergi. Tapi jangan sebarkan video itu aku mohon" ucap Stella setengah menghiba.
"Pergilah dan jangan muncul dihadapanku dan istriku!" usir Vi. Menatap tajam ke arah Stella.
Pelan wanita itu melangkah keluar dari ruangan Vi.
Sial! Baru juga kerja seminggu sudah dipecat. Mana duit sudah habis untuk beli baju baru. Sepertinya malam ini aku harus cari pelanggan baru!" gerutu Stella sepanjang jalan menuju jalan keluar gedung Aditama Group.
"Dia ...mau bersaing dengan nyonya Aditama. Ya jelas bukan levellah" satu cemoohan terdengar dari salah satu karyawan kantor itu. Memicu yang lain ikut bereaksi.
"Iya, tidak sadar diri betul"
"Model begituan mana mau Tuan Aditama"
"La wong yang dirumah saja bening kaya berlian"
"Ya iyalah kan nyonya Aditama memang juragan berlian. Lah dia ni apa? Cuma wanita bookingan saja sok kecantikan mau sama tuan Aditama"
"Diammm!!!" raung Stella yang disambut suara tawa berjamaah dari para karyawan itu.
"Kau akhirnya berbuat hal yang benar Vi" puji Dika.
"Aku dapat pencerahan semalam" jawab Vi enteng.
"Kau ingat Lana?" tanya Dika antusias.
"Baru bayangan samar. Hanya saja jika aku memang belum mengingat Lana sepenuhnya. Aku akan berusaha mencintainya lagi" putus Vi yang disambut senyum bahagia Dika.
"Akhirnya..." ucap Dika yang disambut senyum Vi yang tidak kalah lebarnya.
Hingga satu panggilan menghentikan tawa keduanya.
"Ya Rahma" jawab Vi.
"....."
"Apa?" ucap Vi dan secepat kilat Vi melesat keluar dari kantornya. Diikuti Dika yang ikut terlihat panik melihat kepanikan di wajah keponakannya.
"Oh ya Tuhan aku mohon. Jangan lagi"
Doa Dika dalam hatinya. Berlari masuk ke dalam mobil yang Vi kendarai sendiri.
"Hati-hati Vi" Dika memperingatkan dan Vi mengangguk.
"Aku mohon jangan terjadi hal buruk padamu" batin Vi.
Panik jelas melanda dirinya. Mulai melandaskan mobilnya ke jalanan menuju kantor Lana.
****