
"Bisa Mama bicara sebentar, Vi" pinta Tania.
Vi menatap ke arah Tania. Lantas mengangguk. Young Jae masih bergelut seru dengan sang kakak.
"Ada apa Ma?" tanya Vi kepo.
"Duduk dulu" ucap Lana menepuk sofa di sisinya. Vi menurut. Duduk di sebelah Mamanya. Diam. Menunggu apa yang ingin disampaikan mama angkatnya.
"Mama bertemu Mamamu" ucap Tania memulai pembicaraan mereka.
Vi cukup terkejut mendengar hal itu.
"Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Vi polos.
Tania tertawa.
"Kamu pikir kami anak kecil. Kami sudah jadi ibu dengan putra dan putri yang sudah dewasa" ucap Tania mengusap lembut kepala Vi.
"Jadi kami tidak mungkin bertengkar lagi seperti 24 tahun yang lalu" ucap Tania santai.
Vi kembali terkejut. Karena untuk pertama kalinya mama angkatnya menyebut kejadian 24 tahun yang lalu.
"Dia minta maaf pada Mama" lanjut Tania.
"Dan Mama memaafkannya?" tanya Vi.
"Tentu saja. Mamamu teman terbaik Mama. Dulu jika tidak ada Mamamu, Mama tidak tahu akan jadi apa hidup Mama" kenang Tania.
Vi terdiam.
"Vi...Mama tidak pernah menyangka jika kalian. Lana dan kamu akan jatuh cinta satu sama lain...
"Apa Mama keberatan?" tanya Vi cemas.
Satu kata dari Tania, jika mama angkatnya tidak setuju dengan hubungannya dengan Lana. Jelas dia akan mundur. Vi tidak mungkin melawan Lana.
Tania tersenyum melihat kecemasan Vi.
"Mama tidak keberatan dengan hubungan kalian. Sama sekali tidak. Justru Mama senang. Lana bisa jatuh cinta pada pria sebaik kamu. Meski Papamu adalah dia. Tapi kamu sungguh berbeda dengannya" jawab Tania lembut.
"Mama kenal Papa?" tanya Vi.
Tania tersenyum.
"Mama beritahu satu rahasia. Papa kamu adalah pacar Mama sebelum menikah dengan Mamamu"
"What?!! Jadi Mamaku menikung Mama?" tanya Vi terkejut.
"Tidak ada acara tikung menikung dalam hubungan kami. Mama putus dengan Papamu karena Mama melihat Papamu jalan dengan wanita lain" jelas Tania.
"Cihh dasar casanova. Sudah tua juga tidak sadar-sadar" maki Vi.
"Eh dulu Papamu masih muda lo. Mungkin seumuran Rafa atau Hyun Ae"
"Jangan membelanya Ma"
"Tidak, Mama tidak membela Papamu. Setelah Mama putus..lalu pelan-pelan Papamu mendekati Mamamu. Karena sebenarnya Mamamulah yang menyukai Papamu. Jadi di sini Mamalah yang menikung mamamu. Lucu tidak?" ucap Tania sambil tersenyum.
"Ma, apa benar Papaku memang brengsek?" tanya Vi.
"Emm boleh dibilang seperti itu. Om-Om mu dulu memanggil papamu si brengsek, si gila" kenang Tania.
"Apa Om Jayden membenciku karena aku anak Papaku?" tanya Vi sambil menunduk.
"Om Jayden tidak pernah membencimu. Dia tahu benar kalian berbeda. Dia hanya tidak ingin kejadian masa lalu terulang"
"Kan sudah" ucap Vi sendu.
"Tapi Lana tidak terpengaruh kan. Beda dengan Mamamu yang langsung percaya pada omongan Papamu" ucap Tania.
"Apa Mama membenci kedua orang tuàku" tanya Vi.
"Papamu mungkin sedikit. Tapi Mamamu tidak. Sudah Mama bilang. Mamamu adalah teman terbaik Mama. Jadi Mama anggap kemarin-kemarin kami sedang bertengkar rebutan pacar" canda Tania.
"Bertengkar kok dari Vi masih orok sampai Vi segedhe gini" gerutu Vi.
"Eh kirain mau ngomong, sampai Vi bisa bikin bayi sendiri" ucap Tania sambil tertawa terbahak-bahak.
"Memang boleh?" tanya Vi penuh harap.
"Boleh, tapi nikah dulu"
"Mama tidak ingin sejarah kamu terulang lagi. Kamu harus hidup di track yang benar" batin Tania mengusap lembut rambut Vi.
Vi pada awalnya senang bukang kepalang. Restu Tania melebihi apapun di dunia ini. Namun detik berikutnya wajah pria itu terlihat sendu.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Tania melihat perubahan wajah Vi.
"Bagaimana dengan hutang Vi" tanya Vi.
"Hutang? Hutang apa?" tanya Tania tidak paham.
"Kata Om Jayden. Aku berhutang dua nyawa pada Mama" jawab Vi sendu.
Tania mengerutkan dahinya. Sedikit mengingat-ingat.
"Ohh yang itu. Apa kamu ragu menikahi Lana karena hal itu?" tanya Tania.
Vi mengangguk.
"Takut Om-mu akan mengungkit-ungkitnya?" lagi Tania bertanya.
Vi lagi-lagi mengangguk.
"Dasar Om mu tu kurang kerjaan. Kemarin pakai drama uji nyali. Sekarang pakai acara tagih-tagihan utang" gerutu Tania.
"Maksud Mama apa ya?" tanya Vi tidak paham.
"Begini Vi. Soal hutang itu Vi tidak usah pikirkan. Itu cuma akal-akalan Om-mu saja buat ngerjain kamu. Lagipula Mama tidak masalah dengan hal itu. Kamu sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri. Sejak kamu ada dalam kandungan Mamamu. Jauh sebelum Lana dan Young Jae. Arch dan Riko lahir. Jadi sudah jadi kewajiban bagi Mama untuk menyelamatkanmu. Apalagi Mama bisa dan sanggup waktu itu. Mama sama sekali tidak masalah dengan hal itu" jelas Tania.
"Tapi..." Vi menggantung ucapannya.
"Ssttt pernah dengar hutang emas bisa dibayar. Hutang budi dibawa mati. Bawa mati saja hutang budi kamu" canda Tania.
"Hutang sama Budi bisa dibayar, Ma" Vi balik mencandai Mamanya.
"Hutang budi, Vi bukan hutang sama budi" cebik Tania kesal.
"Terima kasih ya Ma" ucap Vi sambil memeluk Tania hangat.
Tania tersenyum sambil mengusap lengan Vi. Perlahan tangan Tania turun ke pergelangan tangan Vi. Menyentuh gelang pemberian darinya saat Vi baru lahir.
"Kamu tidak pernah melepas ini?" tanya Tania.
Vi menggeleng pelan. Membuat Tania tersenyum.
"Dulu Mama bingung ingin memberi hadiah apa saat kamu lahir. Waktu itu Mama lewat di depan toko perhiasan terus kepikiran kalau dibuatkan gelang bayi pasti lucu"
"Jadi ini pemberian Mama?" tanya Vi.
Tania mengangguk.
"Mama sendiri yang mendesainnya. Mama yang memilih sendiri rubi milikmu dan safir milik Lana" lanjut Tania.
"Gelang kami kembar?" tanya Vi antusias.
"Bukan bermaksud apa-apa. Bukan juga ingin menjodohkan. Memang sejak pertama Om Sean sudah memprediksi kalau anak Vera laki-laki dan anak Mama perempuan. Mama hanya berpikir untuk sekalian membuatnya untuk anak Mama kelak. Dan benar anak Mama, perempuan. Dan kebetulan juga Om-mu memberi nama Alana Aira Lee. Sesuai dengan inisial di gelang kamu ....juga milik Lana" pelan Tania membuka gelang Vi.
Menunjukkan inisial "LV" di sana. Hal yang membuat Vi terkejut. Senang juga bahagia.
"Padahal Mama membuat inisial ini karena namamu Alvian" ucap Tania sambil mengusap gelang milik Vi.
"Terima kasih ya Ma. Secara tidak langsung Mama memberikan putri Mama pada Vi sejak dulu" ucap Vi terharu.
"Eeiit siapa bilang. Enak saja main ambil. Gedein Lana tu susah. Biayanya banyak. Belum ini itu...banyak sekali"
"Mama minta ganti rugi berapa? Nanti Vi kasih" jawab Vi enteng.
"Ganti rugi pakai umur kamu" ucap Tania berubah serius.
"Maksud Mama?" tanya Vi tidak paham.
"Gunakan umurmu untuk menjaga putri judes Mama. Mama dulu selalu khawatir. Dengan galaknya Lana, judesnya dia. Cerianya yang kadang overload. Apa ada pria yang tahan dengan itu semua. Tidak disangka ada pria balok es yang sudi jadi korban kejudesan dan kegalakan Lana" ucap Tania dengan mata berkaca-kaca.
Vi langsung memeluk Mama angkatnya. Ikut merasa terharu.
"Tapi kalau dekat Lana. Balok esnya Vi hilang Ma" keluh Vi.
"Iyalah wong Lana cerewetnya minta ampun. Kalau sudah ngomong nggak bisa berhenti. Kalau nggak dijawab nguber terus" Tania membenarkan.
"Tapi Vi punya cara buat Lana diam kok Ma" ucap Vi.
"Bagaimana caranya?" tanya Tania kepo.
"Gampang, Vi cium saja Lana. Pasti diam" seloroh Vi.
"Mesum juga kamu diam-diam" Tania berucap.
"Mama nggak marah. Vi suka cium Lana. Habisnya bibir Lana nggemesin" ucap Vi tanpa filter.
"Plak!"
Satu keplakan mendarat di lengan berotot Vi.
"Nggak ada sensor ya tu mulut!" maki Tania.
Vi hanya diam. Semakin mempererat pelukannya pada Tania. Tidak marah sama sekali dengan ucapan Tania.
"Kenyataan Ma. Bibir nggemesin. Body seksi...beuuhhh anak mama juaranya"
Plak,
Kali ini keplakannya cukup keras. Membuat Vi meringis.
"Aarghhh, sakit Ma" keluh Vi.
"Habisnya ngomong kok kayak Young Jae. Kamu ketularan dia ya" marah Tania.
"Nggak Ma. Enggak" kilah Vi.
Padahal memang iya. Dia menirukan ucapan Young Jae. Meski kenyataannya memang seperti itu.
"Jangan ditiru kelakuan Young Jae. Cukup tu anak yang rusak omongannya. Kamu jangan ikut-ikutan"
"Siap Bos" jawab Vi segera.
"Kalian lagi ngapain di sini?"
Tania dan Vi menoleh ke sumber suara. Sedikit terkejut.
***
Kredit Instagram @ sosoalive_07
Bonus abang Vi sama neng Lana lagi photoshoot bareng.
***