The Story Of "A"

The Story Of "A"
Rezeki Anak Sholeh



Riko sedang mengerjakan pekerjaannya. Pria itu tampak sibuk. Padahal nyatanya hari ini dia mengambil libur. Eh bukan libur. Hanya semua shcedule operasinya dia pending. Untuk esok hari, kecuali jika ada yang urgent.


Sejak pagi hati Riko sudah berbunga-bunga. Karena hari ini adalah hari kencan pertamanya bersama Kanaya. Dia menyebutnya begitu. Karena dia akan menhabiskan waktu bersama Kanaya tiap kali, schedule pemeriksaan kesehatan bulanannya tiba.


Riko sudah menlihat schedule Kanaya. Dimana bulan ini, Kanaya nyaris tidak mengambil cuti atau libur. Riko melihat gadis itu hanya mengambil libur satu hari. Itupun karena tubuhnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Hampir tumbang hingga Kanaya memutuskan untuk libur.


Dan hari ini, schedule Kanaya adalah shift pagi. Tapi nyatanya gadis itu tidak pulang sejak semalam. Mengambil lembur karena ada korban kecelakaan beruntun yang masuk ke IGD mereka. Lagi gadis itu baru saja memejamkan mata kala dini hari menjelang. Meminjam kamar di mess karyawan rumah sakit itu.


"Semangat! Hwaiting!"


Begitulah ucapan Marina, ketika keduanya akan berpisah setelah menikmati sarapan di ruang kerja Kanaya. Sarapan yang Marina bawa. Karena tahu Kanaya lagi-lagi tidak pulang.


Kanaya nampak menarik nafasnya. Sebelum mengetuk pintu. Meski Satya sudah memintanya langsung masuk saja.


Tok, tok, tok,


Kanaya mengetuk pintu.


"Masuk" terdengar suara Riko mempersilahkannya masuk.


"Selamat pagi, tuan Armando" ucap Kanaya.


"Pagi, oh kamu sudah datang. Tunggulah sebentar ada sedikit hal yang harus aku kerjakan" jawab Riko.


Kanaya mengangguk paham. Mendudukkan diri di kursi sofa. Setelah meletakkan tas perlengkapan medisnya. Berpikir kalau Riko memanglah sibuk.


Kanaya perlahan membuka berkas medical check up milik Riko. Mencoba kembali menelitinya kembali sembari menunggu Riko.


Namun hingga beberapa waktu, tidak ada tanda-tanda kalau pria itu akan mengakhiri pekerjaannya. Dan memulai medical check up-nya.


Kanaya mulai bosan. Ingin protes tapi tidak punya nyali.


"Tunggulah sebentar lagi. Ini tinggal sedikit" ucap Riko seolah tahu apa yang Kanaya pikirkan.


"Ah baik, tuan" jawab Kanaya.


Mulai meraih ponselnya. Memainkannya untuk sekedar menghilangkan rasa bosan menunggu. Kembali waktu bergulir. Rasa bosan Kanaya berubah jadi rasa kantuk yang mulai menyerang. Perlahan gadis itu mulai menyandarkan tubuhnya ke sofa. Hingga pada akhirnya, rasa kantuk memaksa Kanaya untuk memejamkan matanya.


Kanaya yang dini hari baru bisa memejamkan mata. Jelas merasakan kantuk yang luar biasa di jam-jam seperti itu. Riko yang melihat hal itu, hanya tersenyum.


"Istirahatlah sebentar" guman Riko lirih. Detik berikutnya Riko kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Beberapa saat berlalu. Riko menutup laptopnya. Lantas berjalan menuju ke arah Kanaya. Duduk di samping gadis itu. Sejenak Riko menatap Kanaya. Gadis itu tertidur.


Cukup manis. Batin Riko.


Seulas senyum terukir di bibir Riko.


"Kamu tahu berapa lama aku menunggu hari ini datang? Kamu tahu berapa lama aku mencarimu?" ucap Riko.


Perlahan tangan Riko membelai lembut pipi Kanaya. Menyingkirkan beberapa anak rambut panjang Kanaya yang terlihat berantakan.


Hingga tangannya berhenti di bibir peach milik Kanaya. Satu hal yang sejak tadi menggoda Riko. Hingga perlahan Riko pun mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya. Mencium lembut bibir Kanaya.


Hati Riko berdesir hebat. Ketika merasakan rasa manis bibir Kanaya. Benda kenyal nan lembut itu terus membuat Riko tidak ingin menyudahi ciumannya.


Semakin lama ciuman Riko semakin intens. Bahkan Riko perlahan mulai melu*** bibir Kanaya. Tangan besar Riko menakup wajah Kanaya sedang mata Riko terpejam begitu menikmati sesi ciuman curiannya itu.


"Hah!!"


Terdengar suara nafas yang dihembuskan secara kasar. Kanaya terbangun dengan debaran dada yang tidak karuan.


"Tidak mungkin kan aku mimpi berciuman dengan dokter Armando" guman Kanaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mengusir bayangan dirinya yang berciuman dengan Riko.


"Ah, aku pasti sudah gila" Kanaya mengacak rambutnya kasar.


"Tapi kalau itu mimpi. Kenapa rasanya begitu nyata. Bahkan dia seperti masih bisa merasakan bibir Riko menari di atas bibirnya. Begitu lembut dan juga....


"Aahhhhh" Kanaya berteriak saking frustrasinya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Riko yang keluar dari arah kamar mandinya, sepertinya.


"Aahhh maaf Tuan Armando saya ketiduran" ucap Kanaya tidak enak.


"Tidak masalah. Aku lihat kamu begitu lelah. Pukul berapa kamu pulang?" tanya Riko.


"Ahh itu. Saya rasa dini hari tadi. Ada banyak pasien kecelakaan di IGD" jawab Kanaya.


Riko mengangguk.


"Tentu saja" jawab Riko.


Kanaya berlalu cepat dari hadapan Riko. Membasuh wajah. Coba menghilangkan bayangan mimpi yang malah semakin nyata saat Kanaya berhadapan dengan Riko.


"Oh my God, itu jelas tidak mungkin terjadi. Itu hanya mimpi. Tapi kenapa mimpiku mesum sekali. Baru juga pertama kali sesi konseling kesehatan. Bagaimana jika aku tiap bulan bertemu dengannya. Bisa-bisa aku mimpi begituan dengannya"


Kanaya bermonolog sendiri dalam hati. Yang berakhir dengan dia yang bergidik ngeri membayangkan dirinya bercinta dengan Riko.


"Aduh kenapa aku jadi mesuum begini sih. Efek kelamaan jomblo nih" rutuk Kanaya dalam hati.


Kanaya keluar dari kamar mandi setelah dia yakin bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Kamu bisa melanjutkan istirahatmu jika masih merasa lelah" ucap Riko.


Pria itu sudah melepas jasnya. Meninggalkan kaos hitam yang menjadi innernya. Kaos yang cukup menonjolkan sisi atletis dari tubuh Riko.


"Beuuhhh tu bodi bikin ngeces aja" batin Kanaya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ehh tidak perlu tuan Armando. Saya sudah bisa melek kok" cengir Kanaya.


"Jelas sekali aku bisa melek. La wong buka mata langsung dapat vitamin hot begini" batin Kanaya.


Kanaya yang biasanya judes seolah kehabisan bisa kala berhadapan dengan Riko. Riko sendiri langsung tersenyum mendengar jawaban Kanaya. Baru kali ini dia mendengar jawaban yang terdengar aneh di telinganya.


"Jadi bisa kita mulai basic medical check up-nya" ucap Kanaya.


Riko mengangguk. Dia tidak ingin terlalu menahan Kanaya karena ini sesi pertama kaunseling mereka.


Perlahan Kanaya mulai memeriksa kesehatan Riko. Mulai dari tensi dan pemeriksaan darah sederhana. Tangan Kanaya bergetar cukup hebat kala dirinya tidak sengaja menyentuh kulit lengan Riko yang kekar. Ketika memeriksa tekanan darah Riko dengan tensimeter digital.


Apalagi posisi mereka kala itu begitu dekat. Hingga aroma maskulin Riko langsung menyeruak masuk di hidung mancung Kanaya.


Pun dengan Riko yang langsung memejamkan mata kala mencium harum lembut rambut panjang Kanaya.


"Oh my God, ini sangat menggoda" batin Riko sekuat tenaga menahan gejolak dalam dirinya.


Tidak mungkin juga, Riko langsung menerkam Kanaya di hari pertama konseling mereka.


"Oke semuanya bagus. Tekanan darah bagus. Lab darah juga oke" guman Kanaya.


Mencatat semua hasil pemeriksaan di berkas Riko.


"Tuan Armando apa Anda mempunyai keluhan?" tanya Kanaya.


Riko sejenak berpikir.


"Aku rasa aku mulai mengalami stres ringan akhir-akhir ini" jawab Riko.


"Jangan terlalu terforsir dengan pekerjaan. Saya tahu pekerjaan Anda banyak. Tapi luangkanlah waktu untuk sekedar me time. Hal sederhana yang bisa Anda lakukan untuk menjauhkan pikiran Anda dari masalah pekerjaan" saran Kanaya.


"Aku suka main game dengan temanku jika luang" jawab Riko. Memperhatikan Kanaya yang masih sibuk dengan berkas kesehatan Riko.


"Itu bagus. Kalian bisa menghilangkan stres bersama-sama. Saya yakin teman Anda tidak jauh beda dengan Anda. Sama-sama sibuk" lanjut Kanaya.


"Yeahh, mereka sama. Tapi kami punya kebiasaan untuk berkumpul di rumah teman kami jika waktu luang" jawab Riko lagi.


"Itu bagus" ucap Kanaya.


Riko mengangguk.


"Juga soal makanan Anda. Mohon diperhatikan lagi. Kolesterol Anda sedikit naik. Belum membahayakan, namun jika Anda tidak memperhatikannya. Lambat laun bisa meledak" tambah Kanaya.


"Oke, akan aku beritahu Mama untuk menguranginya" ucap Riko.


"Mama? Jadi dia lumayan dekat dengan Mamanya" batin Kanaya.


"Mari Tuan, saya pernah belajar pijat refleksi untuk sekedar menghilangkan stres" ucap Kanaya.


Riko langsung membulatkan matanya. Tidak percaya. Jika gadis cantik didepannya itu akan memijatnya.


"Wah rezeki anak sholeh beneran ini" batin Riko sambil tersenyum.


Mulai memposisikan dirinya. Bersandar nyaman di sofa. Karena pertama kali yang dipijat adalah bahunya.


****