The Story Of "A"

The Story Of "A"
Aku Pernah Merasakannya



"Kak, bisa antarkan makanan ini ke Vi" pinta sang Mama.


Lana baru saja turun dari kamarnya. Masih memakai piyama tidurnya.


"Tapi Ma..."


Lana enggan menemui Vi dengan pakaian yang tidak aman. Dan piyama Lana boleh dikatakan kategori tidak aman.


Meski tertutup. Tapi bahannya menempel ditubuhnya.


"Dia belum makan sejak semalam. Young Jae entah apa memanggil mama tadi" lagi Tania meminta Lana.


Pada akhirnya dengan hati dongkol. Lana membawa juga sarapan untuk Vi yang tidur di kamar tamu.


"Vi...." panggil Lana melalui monitor penghubung.


Tidak ada jawaban.


"Vi...."


"Masuk saja"


Lana masuk. Tidak melihat pria itu diranjangnya. Lana menatap berkeliling.


"Arrgghhh"


Terdengar ringisan dari kamar mandi. Membuat Lana bergegas masuk ke sana. Dilihatnya Vi sudah topless. Menghadap ke cermin, sepertinya sedang berusaha memakai kemejanya.


"Kamu ngapain? Lukamu berdarah lagi Vi" Lana bergerak cepat ke arah Vi.


Membantu pria itu mengganti perbannya. Sejenak Vi tertegun menatap Lana. Yang sibuk mengganti perbannya. Tanpa Lana sadari senyum terukir di wajah dingin Vi.


"Kenapa kau tidak hati-hati? Kenapa kau tidak memanggil pelayan atau kami untuk membantumu?" cerocos Lana tanpa henti.


Membuat Vi pada akhirnya benar-benar tersenyum.


"Kau mencemaskanku?" tanya Vi.


"Tentu saja. Kenapa kau begitu ceroboh" lagi Lana mengoceh.


Gadis itu masih sibuk dengan perban di pinggang Vi. Sedikit menunduk. Hingga rambut panjang Lana. Berjatuhan menutupi wajahnya. Perlahan Vi meraih helaian surai Lana. Memeganginya agar tidak menganggu pandangan Lana.


"Sudah selesai" ucap Lana riang.


"Apa masih sakit" tanya Lana lagi.


Vi tidak menjawab. Hanya menatap dalam wajah Lana yang masih memperhatikan perban Vi.


"Sakitlah" jawab Vi.


"Sudah minum obat tahan sakitnya" tanya Lana. Mendongak menatap Vi.


Sesaat kemudian, Lana langsung membuang pandangannya. Dia baru sadar dengan tubuh Vi yang topless. Hingga membuat dada bidang Vi terlihat jelas. Sangat menggoda. Ditambah deretan abs yang menghiasi perut ratanya.


"Oh my God"


Pikiran Lana langsung travelling ke mana-mana. Membayangkan tubuh hot Vi.


"Aku tidak tahu Riko memberiku pain killer atau tidak" jawab Vi.


"Aku akan melihatnya" ucap Lana.


Langsung berbalik tanpa menatap tubuh Vi. Tapi Vi langsung mencegahnya. Melihat wajah Lana yang memerah. Dipastikan gadis itu malu telah melihat tubuhnya.


"Apa sih?" salak Lana ketika Vi menahan tangannya.


"Aku tidak butuh pain killer dari Riko. Karena aku bisa mendapatkannya sekarang" bisik Vi di telinga Lana.


"Apa maksudmu?" tanya Lana.


Detik berikutnya. Dua tangan besar Vi sudah menangkup wajah Lana. Langsung mencium bibir Lana. Lembut dan intens. Membuat Lana langsung membalasnya.


Didepan cermin itu keduanya berciuman. Berbagi saliva satu dengan lainnya. Hingga beberapa waktu, baru keduanya saling mengurai pagutan itu. Masih dengan bibir yang menempel.Kedua mata mereka saling menatap dalam.


Mencari sesuatu dalam bola mata lawannya. Rasa apakah yang sedang mereka rasakan. Rasa apakah yang tengah membuncah di hati keduanya. Hingga tiap kali bersentuhan, keduanya seolah enggan untuk dipisahkan.


Seperti saat ini. Keduanya seolah enggan untuk mengakhiri ciuman itu. Seperti merasakan hal yang sama. Sejurus kemudian mata keduanya kembali terpejam.Dan ciuman itu kembali terulang. Lebih intens, lebih lembut.


***


"Apa yang ingin kau bicarakan" tanya Jayden.


Dua hari sejak insiden penusukan itu terjadi. Vi memberanikan diri untuk menemui Jayden Lee. Dia harus menceritakan semuanya. Juga mengakui kesalahannya.


"Soal hari itu. Saya minta maaf. Telah lancang menemui Lana. Dan membawanya keluar. Hingga dia terluka. Saya minta maaf" ucap Vi sambil menundukkan kepala.


Jayden menatap Vi.


"Lalu kau mau menerima hukumannya?" pancing Jayden.


"Tentu" jawab Vi yakin.


"Jangan temui Lana lagi" ucap Jayden.


Mendengar hal itu, Vi langsung mengangkat wajahnya. Menatap tajam wajah Jayden.


"Tapi jangan hal itu" pinta Vi.


"Tentu saja kau tidak akan bertemu Lana karena Lana akan ke Shanghai minggu depan" batin Jayden.


"Dengar Vi, aku tidak masalah kau bertemu dengan Mama Taniamu. Tapi tidak dengan Lana" tegas Jayden.


Membuat Vi langsung patah semangat. Dua hari tinggal di rumah Lana. Benar-benar berkesan untuk Vi. Kehangatan keluarga Lana, benar-benar membuat Vi iri. Meskipun Jayden terkesan dingin. Namun pria itu sangat peduli juga perhatian pada Lana dan Young Jae.


Ditambah Young Jae yang begitu welcome padanya. Dia benar-benar menyukai Vi karena dia ingin seorang kakak laki-laki sebenarnya. Sedang Tania, jangan ditanya bagaimana perhatiannya pada Vi.


Sikapnya hangat, penuh kasih sayang. Membuat Vi selalu berkaca-kaca kala menatap Tania.


"Kenapa?" tanya Tania kala menangkap basah mata Vi saat hampir menangis.


"Mama Vera tidak pernah seperhatian ini padaku" jawab Vi terbata seiring rasa sesak yang menyeruak didalam dadanya.


Seketika rasa sesak yang sama menyerang Tania. Menghimpit dadanya, membuatnya seolah kesusahan kala bernafas. Rasa bersalah kembali mendera Tania.


"Maafkan Mama, Vi" lagi Tania berucap untuk ke sekian kalinya.


Melihat keadaan Vi membuat Tania berpikir, kenapa Vera begitu tega mengabaikan Vi.


"Vi apakah kamu pernah mengerti kalau Mamamu bekerja untukmu juga" Tania mencoba menjelaskan dari sisi Vera.


"Mama Tania juga bekerja. Tapi aku lihat Lana dan Young Jae tidak kekurangan kasih sayang sama sekali. Lagi pula Ma, tanpa bekerja pun kami tidak akan pernah kekurangan" protes Vi.


Dia benar-benar seperti anak kecik yang tengah merajuk. Mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Tapi Vi..


"Dia memang tidak sayang padaku. Buktinya dia tidak pernah memperhatikanku. Tidak pernah menunjukkan kalau dia menyayangiku. Aku benci..


"Sssstt jangan berkata begitu. Dia itu mama kandungmu. Kamu tidak bìsa mengubah itu"


"Aku akan mengubahnya jika aku bisa" ucap Vi tegas.


"Vi..."


"Ma....."


Pada akhirnya Tania terdiam. Menyadari betapa dalamnya luka hati yang Vi alami karena kedua orang tuanya mengabaikan. Perlahan Tania merengkuh tubuh kekar Vi yang ternyata sangat rapuh di dalamnya. Membiarkan pria dewasa itu menangis dalam pelukamnya.


Sementara itu,


"Apa kau bilang? Vi terluka?" tanya Bryan pada seorang anak buahnya.


"Betul Tuan. Terluka karena menyelamatkan putri tuan Lee" tambah pria itu.


"Lalu bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bryan cemas. Bagaimanapun Vi adalah putranya sendiri. Ada kekhawatiran Bryan rasakan ketika mendengar Vi terluka.


"Untuk sekarang keadaannya baik-baik saja. Dia tinggal di rumah tuan Lee sekarang" jawab orang dengsn pakaian hitam itu.


Sesaat Bryan terdiam. Berpikir.


"Biarkan saja dulu. Yang penting dia baik-baik saja" ucap Bryan pada akhirnya.


"Sepertinya rencanaku berhasil. Kau semakin dekat dengan mereka. Dengan begitu aku akan semakin mudah untuk menyerang keluargamu" batin Bryan dengan seringai evil di bibirnya.


***


"Tidakkah yang terjadi pada Vi, mengingatkanmu pada waktu kamu menyelamatkannya saat masih berada dalam kandungan Vera?" tanya Jayden.


Keduanya sudah berada di kamar mereka di lantai tiga. Kamar dengan design transparan diatasnya. Hingga pemandangan langit malam langsung bisa mereka nikmati dari kamar mereka.


Dulu semasa Lana kecil, dia sering sekali minta tidur dengan papa mamanya. Hanya untuk melihat bintang berkelap-kelip dari kamar orang tuanya.


Hingga Jayden merasa kesal. Karena tentu saja. Kehadiran Lana kecil akan mengganggu sesi bercinta mereka. Lalu pada akhirnya, Jayden membuatkan satu spot di kamar Lana yang luas. Dengan pemandangan langit malam sebagai lanģit-langit kamarnya.


"Yah, persis sama. Bahkan tempat lukanya juga sama" jawab Tania menyentuh bekas luka di pinggangnya.


"Apa kau berpikir kalau Vi sedang menebus apa yang orang tuanya telah lakukan padamu" tanya Jayden.


"Entahlah Mas, aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Yang kupikirkan saat ini. Bagaimana bisa Vera mengabaikan Vi. Membuat Vi tumbuh tanpa kasih sayang" ucap Tania. Memeluk tubuh kekar sang suami yang masih saja hot di usianya yang memasuki kepala lima.


Jayden tampak termenung. Tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada Tania.


"Kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, By. Tapi biarkanlah itu cukup menjadi pembelajaran pada kita dan anak-anak kita. Jangan pernah mengabaikan mereka. Membiarkan mereka tumbuh tanpa kasih sayang. Lihatlah Vi, betapa dia begitu terluka karena hal itu" ucap Jayden.


"Apa kau menyayangi Vi?" tanya Tania.


"Tentu saja tidak. Dia anak si brengsek itu" kilah Jayden.


"Tetapi kenapa kau begitu paham soal apa yang Vi rasakan?" tanya Tania.


"Hei apa kau tidak ingat. Aku pernah merasakannya" jawab Jayden.


***


Up di hari lebaran ya guys..


Selamat Hari Raya Idul Fitri ya guys bagi yang merayakan. Author mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin 🙏🙏


Minta maaf kalau ada salah-salah kata dalam cerita yang author tulis. Percayalah itu tidak disengaja 🤭🤭


Selamat bermudik ria bagi yang mudik. Author masih lebaran ke empat mudiknya...


***