
Vi ingin kembali ke apartemennya. Kala lukanya sudah sembuh. Namun keinginannnya itu di cegah oleh Tania.Meski pada akhirnya, Vi tetap memilih kembali ke apartemennya.
Vi cukup tahu untuk menempatkan dirinya. Tania memang menganggap dirinya seperti anak sendiri. Tapi sejatinya dia tetaplah orang lain. Dia juga tidak mau merusak kehangatan keluarga itu karena dirinya. Meski dia sangat menikmati kehangatan keluarga Lana.
Tania memang membiarkan Vi kembali ke apartementnya. Tapi wanita itu kerap menghubungi Vi menanyakan bagaimana keadaan Vi. Satu tindakan kecil yang membuat Vi merasa di perhatikan dan disayangi. Satu hal juga yang tidak dia dapat dari mamanya, Vera.
"Vi, bisakah kamu datang ke rumah sΓ at makan siang nanti?" tanya Tania melalui sambungan teleponnya pagi itu.
Vi, masih memejamkan matanya. Ketika Tania menghubunginya. Pria itu masih bergelung malas di bawah selimutnya. Topless dan hanya memakai boksernya. Karena itulah, Vi lebih suka tinggal di apartemennya. Meski suka dengan keluarga Lana. Ya, karena kebiasaannya itu.
"Ma, Vi masih ngantuk. Masih mau tidur" rengek Vi.
Vi sekarang benar-benar manja dengan Tania. Bisa dibayangkan kemanjaan pria dewasa berumur 24 tahun. Terdengar aneh kan? Tapi begitulah Vi sekarang.
Mendengar jawaban Vi, Tania mengulum senyumnya.
"Nanti siang Vi, tidak sekarang" jawab Tania lembut.
"Tapi Ma, nanti Vi ketemu anak Mama yang galak itu. Kan Vi dihukum gak boleh ketemu dia" lagi Vi menolak.
Hanya alasan Vi saja, padahal dia sedang mencari dukungan dari mama angkatnya itu.
"Nanti Mama yang bilang ke Om. Lagipula ini acara keluarga. Datang ya Vi" pinta Tania.
Vi terdiam. Dia rindu dengan mamanya itu sebenarnya.
"Kamu tidak rindu dengan anak Mama yang judes itu" pancing Tania.
"Rindulah....uupppss" Vi keceplosan.
Terdengar kekehan diujung sana.
"Salah ngomong Ma" ucap Vi buru-buru.
"Bener juga nggak apa-apa. Sudah nanti datang. Awas kalau tidak. Tak tambah hukumanmu" ancam Tania.
Tuuut,
Sambungan telepon dimatikan. Meninggalkan senyum terkembang di wajah Vi.
"Apakah Mama Tania-nya tidak keberatan soal hubungannya dengan Lana" batin Vi.
Pria itu tersenyum. Lantas bangun dari tidurnya. Melangkah ke kamar mandi. Hanya dengan bokser yang menutupi area pribadinya. Beeuuh pemandangan yang auto bikin melek mata kaum hawa plus pikiran yang langsung travelling ke mana-mana.
Namun Vi hanya membasuh wajahnya. Masuk ke ruang gymnya. Bermaksud untuk ngegym. Sudah hampir seminggu dia tidak ngegym membuat badannya pegal semua. Namun baru satu gerakan dia meringis. Lukanya berdarah kembali.
***
Vi masuk ke rumah Lana, setelah gerbang memberinya kode bisa masuk. Vi tersenyum kecil. Jayden memasukkan dirinya dalam list yang boleh masuk ke rumahnya. Plus motornya. Yang waktu itu langsung diantar ke apartemennya oleh orang suruhan Arch.
Di area parkir. Ada beberapa mobil yang nmpak terparkir. Ada tamukah? Pikir Vi, hingga kemudian dia teringat, kalau ada acara keluarga dirumah Lana. Mau dijadikan barang pameranlah dia. Biasa kan begitu kalau ada acara keluarga. Saling pamer ini. Pamer itu.
Vi nampak santai memakai setelan kaos oblong putih dipadu kemeja berwarna kuning. Dengan jeans sebagai pelengkapnya. Tampilannya membuat dirinya terlihat segar dan santai.
Kredit Instagram @minnietan98
Begitu masuk dia disambut suara riuh dari ruang tengah. Membuatnya penasaran.
"Ma..." panggil Vi berjalan ke arah dapur. Sejenak matanya bersirobok dengan Lana yang berada di dapur. Rambutnya digulung tinggi membuat leher jenjang Lana terekspose sempurna.
"Apa?!" judes Lana seperti biasa.
Bukannya menjawab. Vi langsung mendekat. Gadis itu sepertinya sedang memasak.
"Turunkan rambutmu" titah Vi.
"Panas!" keluh Lana. Sambil masih sibuk dengan grill pan-nya.
"Mau aku buat lebih panas lagi" goda Vi.
"Jangan dekat-dekat Vi" cegah Lana.
Lana sekarang cukup tahu apa yang akan Vi lakukan jika dekat dengannya. Meski tidak Lana pungkiri. Di juga merindukan sentuhan, juga ciuman dari Vi.
"Aishhh mikir apa sih aku" batin Lana.
Menggelengkan kepalanya. Mengusir bayangan ciuman terakhir mereka yang cukup panas di kamar mandi, kamar tamu rumah Lana. Beberapa hari tidak bertemu. Nyata membuat Lana ingin bertemuVi. Rindukah dia dengan pria balok es dari kutub utara itu. Pria yang selalu membuatnya panas membara saat bibir seksi itu mulai melu*** bibir Lana.
"Woo, malah sudah nyelonong ke dapur anaknya" seloroh Tania yang ternyata sudah ada di pintu dapur dengan design sedikit terbuka itu.
Vi langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tertangkap basah menemui Lana.
"Nyari Mama tapi ketemunya dia" cengir Vi membuat Lana melongo.
Sejak kapan Vi bisa bersikap hangat.
"Alah modus kamu. Tak aduin ke Om-mu. Baru tahu kamu" ancam Tania.
"Jangan dong Ma. Nanti Vi bisa mokat kalau lama-lama nggak ketemu sama anak mama yang judes ini" lagi Vi bertingkah manja di depan Tania.
"Astaga Vi, kamu waras kan?" Lana spontan berkata seperti itu.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Vi jika sudah bertemu mamanya.
"Jangan judes-judes to Kak" Tania memperingatkan Lana.
Lana baru akan menjawab. Ketika Vi sudah lebih dulu memotong ucapan Lana.
"Tapi aku rela kok Ma jadi korban kejudesan putri Mama ini"
"What?!!!" Lana langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Vi.
"Beneran kamu bisa tahan dengan kejudesan Lana" tanya Tania.
"Gampang Ma, kalau judes-judes amat nanti aku cium. Pasti ilang judesnya" ucap Vi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lana.
"Ha?"
Lana benar-benar kehilangan kata kali ini. Vi benar-benar jadi sosok yang berbeda jika berada didekat mamanya. Sedang Tania langsung terkekeh mendengar ucapan Vi.
"Ha...ha..Kakak mati kutu nggak bisa jawab. Padahal belum juga dicium Vi" gelak Tania.
Membuat Lana dan Vi saling pandang.
"Belum Ma. Belum sepuluh kali" batin Lana kembali terbayang ciuman panasnya dan Vi.
"Kenapa? Kau ingin aku cium sekarang?" goda Vi sambil berlalu melewati Lana. Mengikuti Tania yang sudah mengkode untuk mengikutinya.
"Alvian....." pekik Lana kala pria itu kembali mengedipkan mata. Menggoda dirinya.
"Turunkan rambutmu!" ucap Vi sebelum keluar dari pintu dapur.
Membuat Lana menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Kesal. Mematikan kompornya. Meninggalkan grill pan-nya begitu saja.
"Bi Inah, tolong dagingnya ya"ucap Lana pada ART-nya.
"Siap Non" sahut Bi Inah.
Sementara itu,
"Siapa sih Ma rame banget" tanya Vi menuju ruang tengah.
"Teman Mama" jawab Tania.
"Halo semua" sapa Tania.
Membuat Nita dan Maura menoleh.
"Astaga, ini anaknya dia?" tanya Nita.
"He e bagaimana?" tanya Tania minta pendapat.
"Gila, ganteng bener" seloroh Maura.
Tania tersenyum bangga.
"Mereka siapa Ma?" tanya Vi dingin.
Membuat Nita dan Maura melongo.
"Kamu tu mbok yo yang ramah sedikit to. Jangan dingin-dingin kayak balok es gitu. Nanti tak kasih pemanas. Cair kamu" ancam Vi.
Vi manyun dikatai balok es.
"Padahal dulu waktu kita gendong. Besarnya cuma segini. Sekarang lihat dia" kenang Nita.
"Iya" timpal Maura.
Membuat Vi kepo dengan masa kecilnya. Pasalnya Mamanya tidak pernah bercerita soal mas kecilnya.
"Tante ini siapa?" tanya Vi.
"Dia Mamaku" jawab satu suara dari belakang Vi.
"Arch"
"Juga Mamaku"
"Riko"
"Jadi mereka benar Mama Riko dan Arch" batin Vi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Riko.
"Ini..." Vi menunjukkan bekas lukanya.
"Astaga Vi, kau berdarah lagi" ucap Rikk khawatir.
Menggiring Vi untuk duduk di sofa.
"Buka!" perintah Riko.
Vi sedikit ragu memperlihatkan bekas lukanya di hadapan mereka.
"Buka saja. Mereka sama seperti mamamu sendiri" ucap Arch santai.
Vi perlahan membuka kemejanya. Lantas menyingkap kaosnya.
"Vi, kau melakukan apa sampai terbuka lagi begini?" tanya Riko.
Mulai membersihkan darah di pinggang Vi.
"Aku ngegym tadi pagi" jawab Vi santai.
"Astaga Vi, itu tidak boleh" pekik Riko.
Vi buat tidak tahu saja.
"Pengen abs oke boleh, tapi lihat juga kondisimu" gerutu Riko.
Vi memutar matanya jengah. Mendengar omelan dokter ganteng itu.
"Kaosnya ganti saja. Pinjam punya Young Jae" titah Arch.
"Dia punya baju di kamar tamu. Astaga Vi" pekik Lana yang melihat Vi sudah topless. Menampilkan kembali body hot milik Vi.
"Kalau begini terus caranya. Bisa-bisa aku duluan yang nyosor dia" batin Lana kesal merasa dikerjai.
"Kena kau!" batin Vi tersenyum penuh kemenangan, ke arah Lana.
Yang wajahnya memerah saking malunya.
"Apa yang kau lakukan Vi?" tanya satu suara tajam dari arah belakang Lana.
"Mati aku!" batin Vi.
"Kena kau!" maki Lana.
Mereka melihat Jayden berdiri di bekakang Lana, menatap keempat orang itu tajam.
***
Papa Jayden yang lagi ketus mode on,
Kredit Instagram @mizukiroha
Met lebaran semua, maaf lahir batin ya πππ
***