The Story Of "A"

The Story Of "A"
Sederhana Tapi Mematikan



Tubuh Lana lemas seketika. Menerima tatapan dingin dan datar dari Vi, suaminya. Terlebih, satu pertanyaan yang keluar dari bibir Vi.


"Siapa kamu?"


Satu pertanyaan yang membuat dunia Lana runtuh seketika.


"Vi, ini aku. Lana, istrimu" jawab Lana dengan mata berkaca-kaca.


"Istri? Aku jelas belum menikah" sangkal Vi.


Deg,


Hati Lana sakit sekali mendengar sang suami mengingkari pernikahan mereka.


"Sabar Lana" bisik Kanaya.


Keduanya sudah berada di luar ruang ICU. Lana sudah menangis sejak tadi. Tidak bisa menerima Vi yang lupa dengan dirinya.


"Apa tadi itu benar? Vi tidak bisa ingat padaku. Tapi mengingat kalian semua" ucap Lana dengan bibir bergetar.


Yang Vi lupa adalah semua hal yang berhubungan dengan Lana. Selain itu Vi mengingat semuanya dengan baik.


"Lana adalah hal yang paling penting dalam hidup Vi. Karena itu dia sangat takut kehilangan Lana. Namun justru itu yang menjadi bumerang untuk Vi. Dimana ketika benturan itu terjadi. Otaknya justru kehilangan kemampuan untuk menyimpan hal yang paling penting itu. Hingga Vi melupakan Lana"


Satu penjelasan singkat dari Riko. Membuat Lana semakin nelangsa. Baru semalam dia bermaksud untuk meminta maaf pada Vi atas semua kesalahan dan sikapnya. Namun pagi ini dia dibuat shock dengan kenyataan yang ada. Vi mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan soal dirinya.


"Apa benar dia istriku?" tanya Vi ketika Riko sedang membereskan peralatan medis yang ada ditubuh Vi.


"Ya, dia istrimu. Dan kau sangat mencintainya" jelas Riko.


"Ha? Aku cinta padanya. Yang benar saja" ucap Vi tidak percaya.


"Kau kehilangan ingatanmu soal dirinya. Semua hal yang berhubungan dengan dirinya hilang dari sini" jawab Riko sambil menyentuh kepala Vi pelan.


"Sakit tahu" ringis Vi.


"Berapa lama kami menikah?" tanya Vi.


"Ennn sekitar enam bulan. Jangan kasar padanya. Bagaimanapun dia istrimu. Kepalamu saja yang sedang korslet jadi tidak ingat padanya"


Vi terdiam. Enam bulan. Cukup lama.


"Apa hubungan kami harmonis? Apa benar aku cinta padanya" tanya Vi lagi.


"Kalian pasangan teruwu yang pernah aku lihat. Dan kau bucin berat padanya"


"Tapi aku tidak merasakan apapun saat melihatnya. Sama sekali tidak ada rasa untuknya yang tersisa" jawab Vi pelan.


Riko menghela nafasnya.


"Kau baru saja kehilangan ingatanmu. Wajar saja jika semua rasa soal dirinya menghilang"


"Ap kami benar-benar baik dulunya. Maksudnya pernikahanku. Aku sama sekali tidak bisa menemukan ia dimanapun di sudut otakku" keluh Vi.


"Bagaimana ingatanmu soal kami?" tanya Riko.


Vi terdiam. Dia menatap Riko. Yah, dia bisa mengingat semua hal dengan baik. Tapi untuk Lana. Dia sama sekali tidak mengingat.


"Aku mengingat kalian semua dengan baik" jawab Vi lagi.


"Karena sebaik itulah kau menyimpan kenangan Lana dalam memorimu" ucap Riko.


Vi seketika menatap Riko.


***


Dua hari berlalu sejak kecelakaan itu terjadi. Dan selama itu Lana selalu berada di samping Vi. Sang suami. Melayani semua keperluan Vi. Meski sikap Vi sangat dingin. Namun Vi tidak menolak semua perlakuan Lana padanya.


Lana jelas begitu sedih. Seringkali air matanya berlinang tanpa sadar. Saat menatap Vi yang tengah tertidur.


Lana rindu pada kehangatan Vi. Lana rindu kebucinan Vi padanya. Rasa putus asa mulai mendera Lana. Bagaimana jika selamanya Vi tidak ingat padanya. Bagaimana jika Vi benar-benar melupakannya. Semua pikiran itu menjadi satu dalam otak Lana. Membuat rasa putus asa itu semakin besar Lana rasa.


Meski kemungkinan amnesia Vi hanya bersifat sementara. Tapi itu membuat Lana sedih juga tertekan.


"Makan dulu, Lana" ucap sang Mama, Tania yang selalu menemani putrinya itu dirumah sakit.


"Lana tidak lapar, Ma" tolak Lana.


Dia baru saja menyuapi Vi dan pria itu sekarang tertidur setelah meminum obatnya.


"Ayo makan. Jika tidak kamu bisa sakit nanti" bujuk Tania.


"Bagaimana Lana bisa makan Ma. Kalau suami Lana tidak bisa mengingat Lana. Oke, Lana akui. Lana salah karena kemarin tidak mempercayai Vi soal video itu. Lana langsung marah pada Vi. Tapi itu karena Lana tidak mau milik Lana disentuh orang lain. Lana tidak rela" ucap Lana sambil menangis.


"Kalau begitu kenapa tidak langsung minta maaf. Kamu tahu, masalahmu sampai ke Shanghai dan Rafa yang turun tangan mengatasinya" jelas Tania.


"Mas Rafa?"


Tangis Lana semakin deras.


"Ini salahku! Ini salahku!" ucap Lana sambil memukuli dirinya sendiri.


"Hentikan itu. Kamu menyakiti dirimu sendiri" cegah Tania.


"Biarkan saja Ma. Jika Lana tidak egois. Kekanak-kanakkan. Mau menang sendiri. Vi tidak mungkin seperti ini" ucap Lana.


Di atas tempat tidur. Vi yang belum benar-benar tertidur. Mendengar semua perkataan Lana. Namun entahlah. Tidak ada rasa yang ia rasakan di hatinya untuk Lana. Yang mereka bilang istrinya itu.


**


Seminggu berlalu. Vi diizinkan pulang oleh Riko. Meski dengan rentetan pesan yang panjangnya melebihi Bengawan Solo. Ini dan itu. Yang boleh dan yang tidak boleh.


"Cukup Riko. Kenapa kau jadi bawel begini" Vi berteriak.


"Astaga. Dia kembali ke asal, Lana. Dingin bin datar. Pria balok esmu kembali" bisik Kanaya.


Lana tersenyum kecut mendengar ucapan Kanaya. Pria balok esnya dulu dengan mudah bisa dia cairkan. Tapi sekarang Vi bukan hanya pria balok es. Tapi pria kutub utara. Dingin dan datar tanpa ekspresi saat bicara padanya.


"Hati-hati" ucap Riko pada Lana yang mengemudikan Pajero Sport milik Vi.


Lana mengangguk. Dia hanya pulang berdua dengan Vi. Karena semua orang sedang sibuk.


"Kita pulang ke rumah kita" ucap Vi dingin.


"Ya?" tanya Lana.


"Kau tidak dengar. Kita pulang ke rumah kita. Kita pasti punya rumah sendiri kan" ulang Vi.


"Oh, iya" jawab Lana.


Awalnya, Tania meminta keduanya untuk sementara tinggal di rumah utama. Agar lebih banyak orang bisa membantu merawat Vi.


Tapi sepertinya Vi tidak mau. Karena meminta Lana untuk pulang ke rumah mereka di Green Hill. Begitu sampai di Green Hill. Vi langsung masuk ke dalam rumahnya. Bahkan pria itu dengan jelas ingat password rumah mereka yang merupakan tanggal pernikahan mereka.


"Dia ini amnesia beneran apa pura-pura sih?" guman Lana heran. Lupa pada dirinya tapi tanggal pernikahan mereka tidak lupa.


"Ah, aku harus telepon Riko" lagi Lana berguman.


"Ya, Lana ada apa?" sapa Riko diujung sana.


"Pemeriksaanmu valid tidak. Vi itu amnesia beneran atau pura-pura?" todong Lana.


"Ha? Maksudmu apa?" tanya Riko tidak paham.


"Dia lupa padaku. Tapi jelas-jelas dia ingat tanggal pernikahan kami. Aneh kan" ucap Lana.


"Lana hal itu wajar terjadi dalam kasus amnesia. Mungkin tanggal pernikahan kalian adalah sesuatu yang sudah merasuk ke alam bawah sadarnya. Jadi tanpa sadar Vi langsung mengingatnya" jelaa Riko.


"Apa aku juga perlu jadi hantu. Agar bisa masuk ke alam bawah sadarnya. Biar Vi ingat padaku" ucap Lana sembarangan.


"Jangan ngaco kamu. Sudah baik-baik sana. Kalian pulang ke Green Hill?" tanya Riko.


"Iya, dia mau pulang ke rumah sendiri" jawab Lana.


"Baguslah. Dia masih ingat pulang. Selamat berjuang, Nyonya Aditama" seloroh Riko.


Membuat Lana kesal bukan kepalang. Perlahan dia naik ke lantai tiga. Ke kamar mereka berada.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Vi dingin.


Dilihat Lana, suaminya itu sudah berkutat dengan laptopnya.


"Kamu bekerja?" tanya Lana.


"Aku bosan" jawab Vi.


"Tapi Riko bilang..."


"Berisik!" bentak Vi.


Deg,


Jantung Lana seolah berhenti berdetak. Belum pernah selama bersama, Vi membentak dirinya. Tanpa sadar lelehan kristal bening mulai mengalir di pipi Lana. Bukan karena bentakan yang ia dengar.


Tapi rasa diabaikan yang Lana rasa.


"Sesakit inikah rasanya diabaikan?" batin Lana pilu.


"Jangan menangis. Tidak cukup apa. Menangis dari kemarin" kembali kata-kata Vi seperti merejam hati Lana.


Sederhana tapi mematikan bagi Lana.


***