
"Brengsek!!" maki Lana langsung tanpa basa basi.
Memukuli sang suami tanpa ampun.
"Lana...." Tania berteriak mencegah sang putri bertindak gegabah.
"Lana benci dia Ma!" ucap Lana penuh amarah.
"Biarkan saja, Ma. Memang Vi yang salah.Vi tidak bisa menjaga diri sendiri" Vi akui.
"Kan Mama dengar sendiri dia mengakuinya. Brengsek!!!" maki Lana lagi.
"Kamu juga Vi. Main ngalah aja di pukuli Lana" marah Tania.
"Tidak apa-apa Ma.Vi rela kok. Mending Vi dipukuli Lana. Daripada didiamin sama dia" ucap Vi.
Ucapan Vi membuat Lana mendengus kesal.
"Oke...aku nggak akan mukulin kamu lagi. Tapi aku bakal minta cerai" ucap Lana.
"Jangan harap!" kali ini Vi berucap tegas.
"Aku akan mengajukan tuntutan ke pengadilan"
"Lana.....!" suara Jayden menggelegar.
Membuat Lana kicep seketika.
"Kenapa kamu sama sekali tidak bertambah dewasa" protes Jayden.
"Pa..." rengek Lana.
"Lihat! Kau sama sekali tidak berubah. Masih seperti anak kecil. Tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Tidak mau memberikan kesempatan orang lain untuk membuktikan dirinya bersalah atau tidak. Kamu egois Lana!" teriak Jayden.
"Pa..."ucap Jayden.
"Karena kamu terlalu mencintai Lana. Jadi kamu kurang tegas pada istrimu" ucap Jayden pada Vi.
"Maaf Pa, Vi belum bisa jadi suami yang baik bagi Lana" jawab Vi sambil menundukkan kepalanya.
Jayden menghela nafasnya. Lana yang masih kekanakan dan Vi yang terlalu mengalah pada Lana. Kombinasi yang bagus sebenarnya. Tapi lama-lama tetap akan kalah salah satu jika keduanya tidak segera menyeimbangkan diri.
"Lana, apa kamu akan tetap meminta berpisah jika Vi bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah" tanya Jayden.
"Entahlah Pa. Lana tidak tahu. Lana bingung. Lana pusing" jawab Lana sama sekali tidak memberi kejelasan.
Kembali semua orang hanya bisa menarik nafasnya.
"Masuk, kita selesaikan di dalam" ajak Jayden.
Meski malas. Akhirnya Lana mengikuti ajakan Papanya masuk ke ruang kerjanya.
"Apa dia sudah menghubungimu?" tanya Jayden pada Vi.
Melihat ke arah jam tangannya.
"5 menit lagi dari waktu yang dia janjikan" ucap Vi.
Ikut duduk di sofa di sebelah Lana. Wanita itu masih memasang wajah kesalnya. Hingga satu notifikasi masuk ke ponsel Vi.
"Aku mengirimnya ke surelmu. Semoga semua baik-baik saja"
Sebuah pesan dari Rafa. Membuat Vi mengulas senyumnya. Sesaat matanya bersirobok dengan mata sang mertua. Yang mengangguk ke arahnya.
***
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Jayden pada Lana sang putri.
Lana hanya bisa diam. Meremas tangannya sendiri. Sambil menggigit bibir bawahnya. Kebiasannya jika sudah sangat bingung.
"Pa, jangan menekannya terus" ucap Vi.
Bagi Vi cukup untuk mengetahui kalau dirinya tidak bersalah. Lain bisa diurus belakangan.
"Kau harus tegas padanya Vi. Jangan terlalu memanjakannya. Lama-lama dia ngelunjak. Tahu ngelunjak?" tanya Jayden.
Vi mengangguk paham.
"Baiklah selesaikan masalah kalian berdua. Sudah jelas sekarang, siapa yang salah dan siapa yang benar" sindir Jayden.
Pria itu lantas berlalu dari hadapan Vi dan Lana. Meninggalkan pasutri itu dalam diam.
"Mau pulang atau menginap di sini?" tanya Vi seolah tidak ada masalah diantara mereka.
Lana hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Hingga perlahan Vi bangkit. Keluar dari ruang kerja Jayden. Vi sebenarnya cukup kecewa dengan sikap Lana. Lana sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Bahkan Lana seolah langsung menyalahkan dirinya ketika dia mendapat kiriman video itu.
Lana yang serba salah. Akhirnya hanya bisa diam. Tanpa berkata apapun. Tanpa melakukan apapun. Dan lagi, sikap itu membuat Vi kecewa.
"Ma..aku pulang saja" pamit Vi.
"Lho nggak nginap?" tanya Tania.
Vi menarik nafasnya dalam. Seolah menunjukkan rasa lelah yang dirasakannya.
"Sabar ya Vi. Maafkan putri Mama" ucap Tania.
"It's okay Ma. Biarkan dia disini dulu. Mungkin Lana perlu waktu untuk berpikir" ucap Vi.
Pun dengan Vi yang kedua matanya enggan diajak merem. Dua insan itu hanya saling diam di tempat tidur masing-masing dengan memegang ponsel masing-masing. Ingin menghubungi lebih dulu tapi gengsi melanda.
Pagi menjelang,
Lana langsung terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa begitu pusing. Bagaimana dia tidak pusing? Baru tadi pagi dia bisa memejamkan mata. Dan sekarang matanya sudah dipaksa untuk dibuka. Gara-gara teriakan yang berasal dari luar pintu kamarnya.
"Kenapa sih Ma?" tanya Lana.
"Lana cepat bangun. Vi kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit" ucap sang Mama singkat.
Deg,
Vi kecelakaan? Bagaimana bisa? Dua pertanyaan itu seketika muncul di benaknya.
"Bagaimana bisa?" tanya Lana.
"Mama juga kurang paham. Sekarang bersiaplah. Kita ke sana sekarang. Papamu sudah ada di sana" ucap Tania. Membuat Lana langsung melesat masuk ke kamar mandinya.
Rasa cemas seketika menghantam kepala Lana. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Vi. Aku bahkan belum minta maaf padanya. Kami belum berbaikan. Seketika air mata mengalir begitu saja di pipi Lana. Dia begitu menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, honey. Maafkan aku" batin Lana berkali-kali.
***
"Bagaimana keadaannya, Pa?" tanya Tania begitu melihat sang suami terlihat begitu cemas berdiri di depan ruang operasi.
"Benturan di kepalanya cukup keras. Hingga menimbulkan gumpalan darah di otaknya. Riko dan Kanaya sedang mengoperasinya" jelas Jayden singkat.
Lana langsung terduduk lemas di lantai. Pikirannya langsung berkelana ke hal-hal yang paling buruk yang bisa dia pikirkan.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir" hibur sang Mama.
Lana hanya bisa terdiam. Otaknya kosong. Dia tidak mampu berpikir apa-apa. Rasa takut kehilangan segera memenuhi relung hatinya.
"Jangan ambil dia dariku ya Tuhan. Aku bahkan belum bisa menjadi istri yang baik untuknya. Berikan aku kesempatan untuk bisa menjadi istri yang baik untuknya" doa Lana dalam hati. Lana begitu takut kehilangan Vi.
Hampir 6 jam operasi itu berlangsung. Vi langsung masuk ke ruang ICU sementara untuk memantau keadaannya yang cukup mengkhawatirkan.
"Bagaimana?" tanya Jayden.
"Kami berhasil mengangkat gumpalan darah di otaknya. Selanjutnya kita akan melihat keadaannya setelah dia bangun nanti. Untuk sekarang keadaannya cukup stabil" jelas Riko.
Membuat semua orang menarik nafasnya lega.
"Makanlah dulu" ucap Jayden.
Dia tahu sang putri sama sekali tidak mau makan sejak tadi pagi.
"Lana tidak lapar Pa. Lana mau disini nungguin Vi" ucap Lana.
"Tapi Lana. Vi masih agak lamaan bangunnya. Ayo kita makan dulu. Vi nanti khawatir kalau tahu kamu tidak mau makan" bujuk Tania.
Sejenak, Lana terdiam. Lana sadar jika Vi sangat peduli padanya.
"Pergilah. Isi perutmu. Jangan membuat suamimu cemas" ucap Jayden membuat Lana mau tidak mau menurut. Mengikuti langkah Tania menuju kantin rumah sakit.
Lana berusaha menelan makanannya. Meski rasanya susah sekali. Sejak bangun tadi. Perutnya terasa tidak nyaman. Ada rasa mual dan enek yang Lana rasa.
"Ma...Lana nggak bisa makan" keluh Lana.
"Coba sedikit saja. Kamu harus kuat untuk merawat Vi. Dia butuh kamu sekarang" nasehat Tania.
Membuat Lana pada akhirnya bersusah payah menelan makanannya. Walau rasanya seperti menelan karet. Susah sekali menelannya.
"Ya, By" ucap Tania ketika ponselnya berdering.
"...."
"Benarkah? Kami kesana sekarang" ucap Tania.
"Ada apa?" tanya Lana.
"Vi sudah sadar" ucap Tania singkat.
Ucapan Tania membuat Lana langsung berlari kembali ke ICU. Tania yang terkejut, langsung berlari mengejar Lana.
Sampai di ICU, banyak orang sudah berkumpul. Namun tidak boleh diizinkan masuk. Hanya Jayden saja yang terlihat baru saja keluar dari dalam.
"Bagaimana keadaannya?" ucap Tania bertanya pada Jayden yang malah berwajah sendu.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja...Papa pikir dia kehilangan ingatannya karena benturan itu" ucap Jayden menatap lurus pada Lana.
Jantung Lana seolah berhenti berdetak.
"Hilang ingatan? Vi tidak ingat padanya?"
Banyak pertanyaan berputar di kepala Lana.
"Riko dan Kanaya sedang memeriksanya. Berkonsultasi dengan beberapa dokter lainnya"
Tubuh Lana lemas seketika. Tidak! Tidak mungkin jika Vi tidak ingat padanya. Wanita itu terduduk lemas di depan ICU.
**