The Story Of "A"

The Story Of "A"
Insiden



Lana menunggu di lobi Pakuwon Mall. Menunggu Vi yang sedang mengambil motornya.


"Kau naik motor?" tanya Lana.


"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Vi.


"Bukan. Sudah lama aku ingin naik motor. Tapi semua tidak mengizinkan. Apalagi Papa" keluh Lana.


"Kalau begitu tunggulah di lobi" pesan Vi.


Lana tersenyum sendiri. Melihat celana jeans yang Vi belikan.


"Bagaimana kau tahu ukuranku?" tanya Lana.


"Pinggang 28 meski bagian belakangmu begitu padat" bisik Vi.


Membuat Lana memekik malu.


"Mesuum!" makinya.


"Mesum dari mananya? Aku memberitahu ukuranmu. Bukan berbuat mesum padamu. Aneh..." ucap Vi dingin.


Lana mendengus kesal. Entah kenapa dia tidak pernah menang berdebat melawan Vi. Ada saja kata-kata Vi yang membuat Lana kicep seketika.


Jeans itu begitu nyaman dia pakai. Tidak lama Vi sampai didepan lobi mall. Lana cukup terkejut dengan motor yang Vi pakai.


"Kenapa lama sekali?" tanya Lana manyun.


"Cari ini. Pakailah" pinta Vi menyerahkan helm berwarna baby blue.


"Kau tahu kesukaanku?" tanya Lana sumringah.


Vi hanya diam. Membantu Lana memakai helm itu.


"Pakai ini" ucap Vi melepas jaketnya. Menyisakan setelan resminya yang dasinya sudah dibuang entah kemana.


"Tidak mau" tolak Lana.


"Dingin. Nanti kalau kamu sakit. Papamu pasti akan menghajarku. Kau tidak kasihan padaku?" tanya Vi.


"Meski setelah ini, aku tahu papamu pasti akan menghajarku" batin Vi.


Setelah memastikan semua terpakai. Vi naik ke motornya. Disusul Lana. Awalnya Lana ragu harus bagaimana. Tapi akhirnya mengikuti nalurinya. Gadis itu tanpa ragu melingkarkan tangannya dipinggang Vi.


"Kau berani ya?" tanya Vi.


"Bukankah seperti ini caranya. Seperti yang di drama-drama itu" kilah Lana.


"Ini dunia nyata bukan di drama" ketus Vi.


"Aahh, cepat jalan" rengek Lana.


Detik berikutnya motor sport itu mulai melaju meninggalkan Pakuwon Mall. Awalnya Lana masih memasang jarak dengan tubuh Vi. Namun lama kelamaan jarak itu semakin terkikis. Hingga tubuh bagian depan Lana menempel pada punggung lebar Vi.


"Kau benar-benar cari masalah Lana" batin Vi ketika dia merasakan benda padat dan kenyal itu menggesek punggungnya yang hanya berlapis jas dan kemeja.


"Kuantar pulang?" tanya Vi.


"Tidak mau. Muter-muter dulu"


"Sudah mulai gelap Lana"


"Muter dulu. Kalau tidak aku turun disini" ancam Lana.


"Haisshh kenapa kau jadi menyebalkan sekali" maki Vi.


"Kau baru tahu ya" ledek Lana.


"Bagaimana bisa aku menyukai gadis menyebalkan ini" heran Vi pada dirinya sendiri.


Motor mulai melaju lagi. Melintasi beberapa jalanan kota Surabaya. Hingga Lana minta berhenti di sebuah minimarket. Ingin beli minum katanya. Vi mengiyakan saja. Menghentikan motornya di sebuah minimarket. Yang celakanya cukup sepi. Satu hal yang lepas dari perhatian Vi.


Vi menunggu di luar. Memperhatikan Lana dari luar.


"Sudah?" tanya Vi.


Lana mengangguk. Menenggak air mineral itu.


"Mau?" tawar Lana.


Vi menggeleng. Lana sudah bersiap naik ke motor Vi ketika segerombolan preman muncul dari arah belakang minimarket.


"Hei lihat sobat, siapa itu?" ucap satu diantara preman itu.


"Wah lihatlah sepertinya mereka orang kaya" timpal yang lain.


Gerombolan berjumlah lima orang itu mulai mengelilingi Vi dan Lana. Vi dengan cepat menyambunyikan Lana di balik punggungnya.


"Wah bro dia bawa cewek nih. Kayaknya cantik" lagi seorang berucap. Membuat Lana mengeratkan pegangannya pada jas Vi.


"Kami mau uang tentu saja" jawab laki-laki yang sepertinya pemimpin dari preman itu.


"Tapi ceweknya cantik juga bos. Bisa buat nememin kita bobok" ucap seorang dari mereka dengan seringai menjijikkan terukir di wajahnya yang seram.


Rahang Vi mengeras menahan amarah. Mendengar ucapan yang begitu melecehkan Lana.


"Jaga ucapan kalian. Kalian bisa mengambil semua uang kami. Tapi tidak dengannya" Vi coba bernegosiasi.


Sementara Lana sudah sangat ketakutan di balik punggung Vi.


"Vi..aku takut" desis Lana.


"Tenang saja. Aku akan melindungimu" ucap Vi menggenggam erat tangan Lana yang mulai dingin saking takutnya.


"Tapi kami menginginkan perempuàn itu" tegas mereka.


"Tidak akan aku biarkan kalian menyentuhnya" ucap Vi tegas.


"Kalau begitu jangan salahkan kami jika kami bertindak kasar. Hajar dia" perintah pemimpin preman itu.


Dan perkelahian tidak seimbang pun terjadi. Satu lawan empat. Saling tendang, saling pukul silih berganti. Lana menatap ngeri perkelahian didepan matanya. Tubuhnya mulai gemetaran. Melihat Vi bertarung seorang diri.


Vi sudah hampir menang. Karena bisa melumpuhkan keempat lawannya. Mereka tersungkur di tanah dengan wajah babak belur di sana sini. Juga darah yang keluar dari mulut mereka.


Vi tetap waspada. Hingga satu teriakan membuyarkan segalanya. Vi berbalik dan melihat Lana sedang dicekal oleh pemimpin kelompok itù.


"Kau hebat juga. Bisa mengalahkan anak buahku. Tapi kali ini kau akan kalah. Karena jika kau melawan, dia akan mati" ucap laki-laki itu dengan pisau yang sudah berada di leher Lana.


Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Vi saat itu.


"Lepaskan dia!" teriak Vi.


Heran sekali. Ada keributan seperti itu. Tapi tidak ada seorangpun yang datang menolong. Padahal sepertinya daerah itu adalah pemukiman padat penduduk.


"Melepaskannya? Enak saja. Aku akan melepaskannya setelah kau membayar semua yang kau lakukan pada anak buahku" ucap laki-laki bertato itu.


"Lukai aku, tapi jangan lukai dia" ucap Vi menatap dalam wajah Lana. Seolah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.


Dan tiba-tiba saja. Seseorang menusuk pinggang Vi dari arah belakang. Membuat Vi meringis. Darah mengalir deras membasahi kemeja putihnya.


"Vi..." teriak Lana.


Reflek menggigit tangan laki-laki yang menahannya. Saking terkejutnya karena ulah Lana. Pria itu sontak melempar tubuh Lana. Membuat tubuh Lana terjatuh. Membentur aspal jalanan. Tubuh Lana ambruk seketika.


Vi langsung menghambur ke arah Lana. Panik luar biasa ia rasa. Tidak ia pedulikan luka di pinggangnya yang terus mengeluarkan darah.


"Lana...Lana..." panggil Vi panik. Meraih tubuh Lana yang sudah tidak berdaya. Ada luka di kepala Lana. Membuat kepanikan Vi semakin menjadi.


"Lana...Lana...please wake up. Lana...bangun..jangan menakutiku" teriak Vi sambil menepuk-nepuk lembut pipi Lana. Namun gadis bergeming tanpa ingin membuka matanya.


"Arrgggghhhh"


Vi menggeram. Menahan rasa perih sekaligus sakit di pinggannya. Sementara para preman itu sudah kabur. Melihat Vi yang terluka dan Lana yang sudah tidak sadarkan diri.


"Halo....Arch ..ini aku" Vi berusaha menghubungi Arch. Satu nama yang terlintas di kepalanya.


"Siapa?" tanya Arch diujung sana.


"Ini aku Vi" jawab Vi sambil meringis juga menahan tubuh Lana.


"Oh Vi ada apa?" jawab Arch heran darimana Vi tahu nomor kontak pribadinya.


Yang hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Seingat Arch mereka baru bertemu tadi siang. Dan dia tidak memberikan nomor ponselnya pada Vi.


"Tolong kirim bantuan. Lana terluka dan pingsan. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit sendiri" ucap Vi cepat dengan nafas tersengal. Sebisa mungkin Vi tidak meringis. Agar Arch hanya fokus pada Lana.


"Apa maksudmu terluka? Kau di mana?" tanya Arch mulai ikut panik.


Melirik jam tangannya. Jam delapan, masih sore.


"Lacak saja ponselku. Cepatlah Arch!" Vi setengah berteriak.


Arch jelas semakin panik mendengar suar a Vi. Hingga tanpa ba bi bu, langsung melesat keluar ruangannnya. Menghubungi Riko agar bersiap. Sejenak melihat lokasi ponsel Vi. Lantas melajukan mobilnya menuju ke tempat Vi berada.


"Aku harap kau baik-baik saja Lana. Maafkan aku. Tidak bisa melindungimu" bisik Vi lirih. Perlahan mulai tumbang ke atas aspal jalanan itu. Dengan tubuh Lana terbaring di atasnya.


***


Maaf lagi ya guys, baru bisa up lagi. Dua bab diatas soalnya baru lolos review tadi sore. Padahal sudah up dari siang. Kakak editor lagi pada mudik atau lagi sibuk nyiapin kue lebaran. Atau lagi pada hunting baju lebaran,author gak paham 😁😁


So nikmati aja ayang Vi ama ayang Lana yang muter-muter naik motor, biar tambah pusing dah mereka 🤭🤭🤭



Kredit Instagram @itsme_sweetjeany


**