
Semua orang menatap ke arah Vi yang menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap ke semua orang. Arch dan Riko mengulum senyum masing-masing. Melihat Vi seperti seorang pencuri yang kena sidang.
"Jadi dia Tholeku?" tanya Sean.
Membuat Vi mengangkat wajahnya. Menatap pada pria yang dia duga ayah Arch.
"Thole? Apalagi itu" batin Vi heran.
"Iya dia Tholemu" sahut Nita sang istri.
"Aku tidak menyangka kalau Tholeku bisa tumbuh setampan ini" tambah Sean. Membuat Jayden berdecih kesal.
"Kenapa? Apa kau tidak mau mengakui ketampanannya?" tanya Sean pada Jayden.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya.
"Dan kau Rey, kau jahat sekali tidak memberitahuku soal dia yang kembali ke sini" protes Sean.
"Oh Sean, come on. Kita sudah membahasnya di dalam tadi" Rey mengingatkan.
"Aku tidak puas hati dengan hati dengan kalian" lagi Sean protes.
"Maaf yang kalian panggil Thole itu siapa?" tanya Vi menyela.
Bisa dipastikan mereka akan berdebat tidak ada habisnya. Dilihat dari watak masing-masing.
"Kamulah siapa lagi?" jawab Maura.
"Ha? Memang Thole itu apa?" tanya Vi kepo.
"Anak kecil laki-laki dalam bahasa Jawa" jelas Tania.
"Oo" Vi ber-oo ria.
"Pa, Om, Tante sudahlah kembalikan dia. Aku ingin mengajaknya main game" ucap Young Jae tiba-tiba.
"Young Jae kami sedang bicara" Jayden menatap putra bungsunya.
"Alah bicaranya nanti saja" ucap Young Jae menarik tangan Vi menuju TV besar yang masih ada di ruang keluarga itu.
Dimana yang lain sudah menunggu. Bahkan Lana juga ada disana. Masing-masing sudah memegang joystick.
"Kau duduk diatas. Nanti lukamu terbuka lagi kalau kau duduk dibawah" ucap Young Jae.
Bergabung dengan Arch dan Riko yang sudah lebih dulu ada disana. Seperti Vi, Arch dan Riko hanya memakai kaos oblong saja.
"Aku tidak bisa main game" ucap Vi.
"Bohong!" jawab Arch.
Vi merengut mendengar ucapan Arch. Game adalah mainannya selama dia di Sidney. Macam-macam game sudah pernah dia mainkan. Semua hanya iseng saja. Dia ogah bermain game karena ingin mengganggu Lana yang duduk didepannya.
"Apa?" galak Lana saat melihat Vi mencuri pandang ke arahnya.
"Kau yakin dia anak si brengsek itu" tanya Sean pada Jayden sambil meminum kopinya.
Melihat putra dan putri mereka sedang asyik bermain game. Bukankah itu membuatmu bahagia. Melihat mereka begitu akrab.
"Yeah, dia banar-benar anak si brengsek itu" ada nada kesal dalam jawaban Jayden.
"Bukankah mereka terlihat akrab?" tanya Sean.
"Oh come on Sean. Aku sudah cukup pusing dengan Lana dan Vi yang sepertinya saling menyukai. Sekarang kau bilang seperti itu? Semakin membuatku puyeng" keluh Jayden.
"Kau takut dia akan menyakiti Lana seperti bapaknya menyakiti Tania?" tanya Rey.
Jayden mengangguk.
"Tapi kalau keduanya benar-benar saling menyukai bagaimana?" tanya Sean.
"Entahlah. Kau tahu hanya Vi yang tahan dengan kejudesan Lana. Dan sejauh ini hanya Vi yang bisa menghandle Lana" jelas Jayden.
Membuat dua orang teman Jayden itu paham dengan perasaan Jayden.
"Hanya saja, Vi tidak seperti bapaknya yang brengsek itu. Kata Dika, Vi tidak temperamental seperti bapaknya. Dan lagi sebenarnya dia selalu menuruti kemauanku. Aku minta dia menjauhi Lana, dia menurut. Meski ya tidak bisa lama, karena dia nyolong untuk bisa bertemu Lan" lagi Jayden menjelaskan.
"Yey aku menang!"teriak si bungsu.
"Kau curang Young Jae!" protes Arch.
"Mana ada? Sudah kalah mengaku sajalah" Young Jae menolak keras protes Arch.
"Ayo transfer sekarang! Sejuta!" tagih Young Jae.
Membuat Arch dan Riko mendengus kesal.
"Kalian juga cepetan transfer!" pinta Young Jae pada Vi dan Lana.
"Young Jae aku kakakmu" tolak Lana.
"So...what gitu loh" Young Jae tetap meminta sang kakak untuk memberikan hadiahnya.
Hingga satu notifikasi masuk ke ponsel Young Jae.
"Kenapa kau memberiku dua juta" tanya Young Jae pada Vi.
"Sekalian punya dia" jawab Vi sambil menunjuk Lana dengan dagunya.
"Beuuuhh manisnya. Begitu Ko, kalau ngadepin cewek judes tu. Diam-diam tapi langsung kena di hati" seloroh Arch.
Membuat Riko bertambah manyun. Sudah kalah, masih dapat ledekan lagi dari Arch.
"Aku tidak butuh terima kasihmu" jawab Vi dingin.
"Tapi aku mungkin membutuhkan bibirmu" batin Vi menatap Lana yang tanpa sadar, sejak tadi menggigit bibirnya saking gemasnya bermain game.
"Kau tidak asyiikk!" gerutu Young Jae yang sebenarnya ingin mengerjai kakaknya. Namun ada saja yang selalu membela. Dulu hanya Arch dan Riko. Sekarang bertambah lagi Vi yang turut membela kakak perempuannya. Mood pemenangnya langsung ambyar. Meski empat juta sudah bertambah ke rekeningnya.
"Aku lihat Lana memakai gelang yang sama dengan Vi? Dengan inisial nama mereka. Apa kau memang ingin menjodohkan mereka" tanya Nita pada Tania.
Ibu-ibu mulai menggibah sambil menata makan siang mereka.
"Memang aku pesan gelang yang sama. Dan dua-duanya memang inisialnya "LV". Tapi aku tidak pernah berpikir untuk menjodohkan mereka. Aku sendiri cukup terkejut ketika Mas Jayden memberi nama Lana pada putrinya" jelas Tania.
"Ketidaksengajaan yang berbuah manis" timpal Maura.
"Tapi apa mereka tahu kalau mereka memakai gelang yang sama dengan inisial nama mereka" lagi Nita bertanya.
"Entah. Kau tahu sendiri kan keduanya lebih banyak berantemnya timbang akurnya" jawab Tania.
Melihat ke arah Lana dan Vi hanya saling diam.
***
"Hah? Ngapain kamu disini?" tanya Lana.
Melihat Vi didepan toilet tamu. Vi memang ingin ke toilet. Tapi rupanya dia malah bertemu Lana di sana.
"Kau mau apa?" tanya Lana ketika Vi malah menarik tangannya menuju sudut rumah Lana. Jauh dari jangkauan orang-orang.
"Meminta ucapan terima kasih" jawab Vi singkat. Sejurus kemudian, Vi mendorong Lana bersandar di dinding kaca di belakang Lana. Mencium bibir Lana penuh kerinduan.
Ciuman itu hanya singkat. Sebab Vi sadar, jika dia kadang suka lepas kendali saat menikmati bibir Lana. Hingga membuat bibir Lana bengkak. Namun kali ini dia tidak ingin membuat Lana malu. Jadi sebentar saja, meski Vi akui itu tidak cukup.
Lana hanya mengedipkan matanya lucu. Merasakan Vi mencium bibirnya. Namun detik berikutnya sudah melerainya. Meski singkat namun Vi sempat ******* bibir Lana. Seperti mimpi.
"Kenapa? Masih kurang?" goda Vi.
"Kau!" ucap Lana marah.
"Apa kau menginginkannya lagi?" tanya Vi mengurung tubuh Lana dengan tangan kekarnya.
"Iiisshh siapa bilang....Vi" ucap Lana terbata. Karena bibir Vi mulai berlarian di leher jenjang Lana.
Cup,
Vi mencium lembut leher Lana. Membuat tubuh Lana merinding seketika.
"Jangan menunjukkannya pada orang lain. Biarkan hanya aku yang menikmatinya" bisik Vi tepat di telinga Lana.
Lantas berlalu meninggalkan Lana yang masih spot jantung. Membeku di sana. Sementara pelakunya sudah melenggang pergi tanpa rasa bersalah. Sudah membuat tubuh Lana panas dingin dibuatnya.
"Sialan kau Vi!" maki Tania. Setelah dia berhasil menetralisir degub jantungnya.
Dan makan siang kali itu berlangsung meriah. Semua tampak gembira menyambut kehadiran Vi. Kecuali Jayden. Yang memang sejak awal selalu bersikap dingin.
Vi yang tidak pernah merasakan hal seperti ini benar-benar terharu. Apalagi ditambah teman-teman baru yang nampak begitu welcome padanya.
"Menginap saja disini" usul Tania pada anak-anaknya.
"He e gue udah lama nggak pada elu kelonin" seloroh Young Jae.
"Busyet deh gaya bicara elu. Ogah gue" cerocos Arch.
"Sayang Hana dan Anis tidak ada" keluh Lana.
"Mereka masih magang di Jakarta" jelas Nita.
Adik Arch dan Riko, seumuran, sekampus, sekelas. Jadi bisa dibayangkan jika keduanya selalu kemana-mana berdua. Seperti sekarang. Magang pun minta berdua. Hingga akhirnya dengan bantuan Natasya. Kedua anak itu magang di kantor pusat Atmaja Group di Jakarta. Sebuah bank besar karena dua anak itu mengambil keuangan sebagai spesialisasinya.
"Kudengar Andra sibuk pedekate dengan Hana?" ucap Tania.
"Hana bilang seperti itu" timpal Nita.
"Wah kita bisa jadi saudara nih" ucap Tania.
"Aku sih tergantung anaknya" jawab Sean diplomatis.
"Bisa mewek tu Anis kalau ditinggal Hana nikah duluan. Secara mereka seperti kembar beda orang tua" seloroh Lana.
"He e" timpal Arch dan Riko bersamaan.
Sementara Vi hanya tersenyum. Melihat semua kehangatan dan keakraban yang tersaji di hadapannya.
"Vi, jangan diam saja. Makan dong" tiba-tiba suara Maura terdengar.
"Iya, Tante" jawab Vi cepat. Seiring gerakan cepat matanya menghilangkan embun di matanya yang sudah bersiap untuk jatuh.
Semua orang tampak tidak menyadarinya.Tapi tidak dengan Jayden.
"A simple thing that makes you happy"
Seusai makan siang, mereka masih mengobrol. Menghabiskan waktu yang sudah jarang mereka lewati.
Hingga satu teriakan keluar bersamaan dari bibir Riko dan Lana.
"Gawat!"
Membuat semua orang menatap ke arah keduanya.
***