
"Hei, what's up Bro" ucap Archie kala melihat Riko.
Lama mereka tidak bertemu. Kesibukan mulai mendera dua pria tampan itu. Archie dengan Huang Enterprise-nya.Sedang Riko dengan AR Medical Centre-nya.
"Yeah, lama sekali tidak nongki bareng" timpal Riko.
"Free-kah hari ini?" tanya Archie.
"Semoga saja. Kamu tahu kan pekerjaaanku seperti tukang service panggilan. Ada pasien, berangkat" ucap Riko.Membuat Archie terpingkal.
"Tukang service panggilan dengan bayaran ratusan juta. Ngaco kamu" seloroh Archie.
Membuat Riko menggaruk kepalanya.
"Mereka sibuk?" tanya Archie.
"Sepertinya" jawab Riko ambigu.
Archie menarik nafasnya pelan.
"Oh ya Arch, pernah bertemu pewaris Aditama Group?" tanya Riko.
"Belum. Kenapa?" tanya Archie.
"Dia orang yang diminta ayahku untuk kita waspadai" Riko mengingatkan.
"Oh yang itu. Memang kenapa?" Arch kepo.
"Aku sudah bertemu dengannya" jawab Riko.
"Benarkah?" tanya Arch tidak percaya.
"Aku bahkan punya kerjasama dengan dia"
"Bagaimana menurutmu orangnya"
"Dingin, kaku tapi dia bagus saat bekerja. Dia arsitek sebenarnya" tambah Riko.
"Wah keren tu. Lagi kerjaan dengan duit selangit" seloroh Archie.
Keduanya tergelak.
"Lalu apa Lana pernah bertemu?"
"Sudah"
"Lalu apa Lana bersikap seperti biasa"
Riko mengangguk.
"Mereka benar-benar seperti Tom and Jerry. Tapi ada yang aneh"
"Apa?" tanya Arch.
"Vi sepertinya bisa menghandle Lana" ucap Riko.
"Vi?" tanya Archie menaikkan satu alisnya.
"Namanya Alvian Andrew Aditama. Tapi aku dengar om Dika di luar urusan kantor memanggilnya Vi, dia seumuran kita" info Riko.
"Wah hebat dong kalau Vi bisa handle Lana. Kamu tahu kan jarang ada yang bisa mengatasi kejudesan Lana"
"Kau benar. Dan satu lagi. Meski Vi lebih banyak diam timbang melawan tapi justru itu yang buat Lana keki"
Archie terbahak mendengar ucapan Riko. Membayangkan wajah keki Lana membuatnya tertawa.
Riko baru saja menyesap kopinya ketika ekor matanya melihat seseorang yang dia kenal.
"Tuan Aditama" panggil Riko membuat Archie ikut menoleh ke arah Vi yang tengah berjalan masuk ke dalam restoran.Perlahan Vi mendekat ke arah Riko.
"Selamat siang tuan Armando" sapa Vi.
"Sedang makan siang atau urusan bisnis?" tanya Riko.
"Habis bertemu klien" jawab Vi dingin.
"Anda bisa bergabung jika tidak keberatan. Oh ya ini Archie Nevadha dari Huang Enterprise" Riko mengenalkan Archie pada Vi.
"Satu lagi bodyguardnya Lana. Sepertinya tidak buruk juga jika aku bergabung" batin Vi.
"Senang bertemu Anda, tuan Huang. Tidak keberatan jika saya bergabung" ucap Vi.
"Tentu saja" jawab Riko sesaat memandang Archie.
Ketiganya duduk di satu meja.
"Tuan Aditama..
"Vi, kalian bisa memanggilku Vi di luar kantor" potong Vi cepat.
"Wah auranya benar-benar dingin" batin Arch menatap Riko.
"Kau merasakannya juga" batin Riko menatap balik Arch seolah berkomunikasi lewat telepati.
"Ah kalau begitu Anda bisa memanggil saya Riko dan dia...Arch. Sama seperti Lana memanggil kami" ucap Riko.
Vi mengangguk.
"Apaan..Lana jelas-jelas memanggilmu pak kyai" gerutu Vi dalam hati.
"Sekalian pesan saja. Kami juga belum memesan makanan" tawar Arch.
"Tentu" jawab Vi singkat.
Tak berapa lama, makan siang mereka datang. Karena sudah sama-sama lapar. Tanpa banyak kata mereka langsung menyantap makan siang mereka.
Riko dan Archie melongo melihat Vi yang dengan santainya langsung naik ke motor sportnya. Setelah ketiganya menyelesaikan makan siang mereka.
"Kamu serius naik ini?" tanya Arch.
"Aku tidak punya mobil" jawab Vi singkat.
"Tidak punya mobil tidak masalah. La wong ini kalau dibeliin mobil bisa dapat dua" batin Arch sambil melirik Riko yang juga melongo melihat motor sport Vi.
Pasalnya mereka dari dulu menginginkan motor seperti milik Vi. Tapi tidak juga kesampaian karena motor milik Vi sudah tidak diproduksi lagi. Tentu saja Arch dan Riko heran darimana Vi bisa membelinya.
"Aku pergi dulu" pamit Vi. Memakai helm-nya.
"Terima kasih untuk makan siangnya. Lain kali kita nongki lagi, aku akan ajak Young Jae, adiknya Lana" ucap Archie.
Vi hanya mengkode ok menggunakan jarinya. Lantas melesat meninggalkan dua orang itu. Yang masih melongo melihat Vi dengan motornya.
"Gila, dia bisa dapat dari mana tu motor" guman Arch.
"Aku saja yang minta dicariin papa, tidak dapat-dapat" Riko ikut menimpali.
Entah apa yang akan Riko lakukan jika tahu. Sang papalah yang mencarikan motor itu untuk Vi. Ngamuk kali ya Riko-nya.
Sementara itu Vi yang sudah diberitahu Dika. Kalau hari ini dia free. Mulai memacu motornya. Mengelilingi jalanan kota Surabaya. Membiarkan udara kebebasan itu memenuhi rongga dadanya.
Hingga akhirnya setelah beberapa lama berputar-putar. Motor Vi berhenti di Pakuwon Mall. Entah kenapa Vi membawa motornya ke sana. Ada rindu tiba-tiba terbit di hatinya. Dia terakhir kali melihat wajah cantik berbalut judes itu kala dia mengantarkannya ke rumah. Setelah sesi makan siang mereka dengan Riko.
Vi memarkirkan motornya di basement. Merasa cukup aman untuk meletakkan motornya disana. Vi langsung naik ke lantai 5 pusat perbelanjaan itu. Meski dia sesekali berhenti untuk sekedar melihat-lihat barang di beberapa outlet brand ternama.
Vi berhenti di depan outlet perhiasan milik Lana. Sejenak dia melihat-lihat. Sekedar menanggapi beberapa ucapan dari staf yang berjaga di sana.
"Design-nya bagus juga. Tidak menyangka jika bibirnya judes abis tapi tangan dan otaknya kreatif juga" puji Vi dalam hati.
Tak berapa lama dia melihat Rahma, asisten Lana yang keluar dari ruangan di belakang outlet itu.
Jangan tanya Vi tahu dari mana. Itu urusannya author ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
"Mbak Rahma" panggil Vi dingin.
Membuat Rahma langsung mencari sumber suara.
"Maaf, siapa ya?" tanya Rahma bingung. Merasa tidak mengenal Vi sama sekali.
"Saya temannya Lana" jawab Vi singkat.
"Temannya mbak Lana?" Rahma mengerutkan dahinya mendengar ucapan Vi.
Rahma fikir, teman bosnya hanyalah trio bodyguard itu. Apa tuan Lee menambahkan anggota baru lagi. Rahma sejenak menatap Vi dengan tatapan menyelidiknya.
"Maaf teman yang mana ya? Setahu saya teman mbak Lana hanya Riko, Arch dan Young Jae, adiknya mbak Lana"
"Saya teman baru bosmu" lagi Vi berucap.
"Duh susah banget cuma mau ketemu Lana si cewek judes itu. Nggak dirumah. Di apartement, di sini. Semua ada bodyguardnya" gerutu Vi dalam hati.
Rahma masih belum percaya dengan Vi. Dia masih ragu untuk membiarkan Vi masuk. Bertemu bosnya.
"Apa saya perlu menghubungi Om Lee atau Riko atau Arch. Supaya kamu percaya kalau saya teman Lana" ucap Vi lagi.
Astaga, sejak kapan mulut Vi jadi begitu luwes membujuk. Hanya karena ingin bertemu Lana. Vi mati-matian membujuk Rahma. Si bodyguard cantik.
Rahma jelas sedang bertarung dengan sisi lain dari dirinya. Menatap makhluk tampan yang berdiri didepannya. Menunggu Rahma yang sedang berusaha mencari keputusan yang paling aman untuk bosnya.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa atau menyakiti bosmu. Bukankah ada CCTV di dalam sana. CCTV yang tersambung langsung ke ruang kerja Om Lee" bisik Vi.
Rahma langsung membulatkan matanya. Tidak sembarangan orang tahu tentang hal itu.Bahkan staf disana tidak ada yang tahu kecuali Rahma. Tanpa Rahma tahu, Vi sudah mengutak atik CCTV itu. Menyamarkan kedatangannya. Hingga CCTV itu tidak bisa menangkap gambar dirinya.
"Kira-kira bahaya tidak ya membiarkan orang ini masuk" batin Rahma masih menatap tajam pada Vi.
Rahma menarik nafas pelan. Seolah berdoa bahwa apa yang dia lakukan tidak akan membahayakan bosnya.
"Oke Anda bisa masuk. Tapi mbak Lana masih mèeting dengan bagian produksi. Mungkin sebentar lagi baru selesai" ucap Rahma pada akhirnya.
Toh ada CCTV rahasia juga tombol SOS di bawah meja Lana.
Vi langsung mengembangkan senyumnya. Mengikuti langkah Rahma masuk ke ruang kerja Lana.
"Kejutan manis untukmu" batin Vi. Membayangkan wajah judes Lana, tiap kali bertemu dirinya.
***
Duh panas banget sih, cari yang adem-adem yuk tapi bukan minum. Nanti batal puasa. Kira-kira kalau dikasih yang beginian bikin adem nggak ya...
Kredit Instagram @ ratih_20740
Visualnya Taufiq Riko Armando
Kredit Instagram@ zhaixiaowen_0528
Visualnya Archie Nevadha Huang.
Moga-moga bisa ngademin pikiran asal ngeliatinnya tanpa dibawa kemana-mana 😅😅😅
***