
Lana sedang termenung di ruangannya. Dia baru saja selesai meeting dengan bagian produksi. Mengenai trend pasar yang sedang hype saat ini.
Pikirannya melayang ke kejadian beberapa waktu lalu. Dimana Vi mengatakan ingin menikahinya.
Flashback on,
"Lana, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Benar-benar ingin memilimu. Jadi menikahlah denganku" ucap Vi waktu itu.
"Tapi Vi, aku tidak tahu apa yang aku rasakan padamu" Lana berusaha menjelaskan.
Menikah? Sama sekali belum terlintas dalam kepala Lana. Gadis itu masih ingin menikmati waktunya. Karier dan juga banyak keinginan lain yang masih ingin dia capai.
"Apa kamu ragu padaku?" tanya Vi.
"Aku tidak tahu" jawab Lana frustrasi.
Sungguh Lana tidak tahu apa yang dia rasakan pada Vi. Selain rasa nyaman dan juga aman saat bersama pria itu. Meski Vi cenderung agresif saat bersama Lana. Tapi pria itu benar-benar memprioritaskan dirinya saat mereka berdua.
Mendengar jawaban Lana. Vi terdiam, ada raut kecewa di wajahnya.
"Vi...jangan begini padaku.Aku tahu kamu baik padaku. Kamu perhatian padaku. Tapi bukankah itu tidak cukup untuk jadi dasar kita menikah. Kamu mungkin mencintaiku. Tapi aku..aku tidak tahu" ucap Lana sambil menunduk.
Dia tahu ucapannya akan menyakiti Vi. Tapi bukankah mengatakan yang sebenarnya daripada hanya memberi harapan palsu. Lana tidak ingin melakukan itu.
"Maafkan aku" ucap Vi lirih.
Emosi Vi membuat dirinya sesaat lupa pada perasaan Lana. Membuat Lana tertekan. Perlahan Vi merengkuh tubuh Lana dalam pelukannya. Membuat Lana terkesiap. Bukankah Vi seharusnya marah dengan penolakannya.
"Kamu tidak marah?" tanya Lana.
"Marah? Soal apa?" tanya Vi tidak paham.
"Aku menolak lamaranmu" jawab Lana.
Vi terkekeh.
"Aku belum melamarmu. Aku hanya memintamu menikah denganku" jawab Vi santai.
"What?!!" pekik Lana.
"Jangan teriak. Lagipula kamu tidak menolakku. Kamu hanya mengatakan tidak tahu perasaan apa yang kamu rasakan padaku. Betul tidak?" ucap Vi.
Lana langsung merengut mendengar jawaban Vi. Lana selalu kalah jika Vi mulai bicara serius.
"Kamu menjebakku?" tanya Lana.
"Tidak, aku serius soal mengajakmu menikah. Tapi melamarmu? Kamu ingin aku lamar?" goda Vi.
Wajah Lana memerah menahan malu. Membuat Vi tersenyum.
"Aku tidak bicara seperti itu" ucap Lana malu.
"Bicara seperti itu juga tidak apa-apa" goda Vi lagi.
"Vi....." teriak Lana.
"Sudah kubilang jangan berteriak" ucap Vi.
Lana diam seketika. Gadis itu masih berada dalam pelukan Vi.
"Aku akan menunggu..."
"Ya?"
"Aku akan menunggu sampai kamu paham apa yang kamu rasakan padaku. Setelah itu aku akan melamarmu. Dan aku jamin lamaranku akan istimewa. Aku berani jamin kalau kamu tidak akan menolak lamaranku" ucap Vi percaya diri.
"Ciiih pede sekali dia" kesal Lana.
"Tidak percaya? Coba saja. Katakan kamu cinta padaku" tantang Vi.
"Tidak mau!" tolak Lana.
"Kamu itu hanya gengsi. Tidak mau mengakui kalau kamu juga cinta padaku"
"Mana ada" kilah Lana.
"Kalau begitu aku tunggu jawabannya" ucap Vi mencium kening Lana hangat.
Membuat Lana melongo.
"Jangan ngambek lagi. Aku bisa belikan yang lebih mahal dari berlian incaranmu itu" kekeh Vi. Membuka pintu lantas menghilang di baliknya..
Meninggalkan Lana yang hanya bisa diam mematung.
Flashback off
***
"Apa yang kamu laporkan benar?" tanya Vera.
"Benar, Nyonya" jawab pria itu.
Vera terdiam.
"Tuan Alvian bahkan sangat akrab dengan keluarga tuan Jayden Lee. Juga keluarga Huang dan Armando" lanjut pria itu.
Sambil menunjukkan banyak gambar di laptopnya. Mata Vera berkaca-kaca. Menatap satu persatu gambar di layar laptop itu. Bisa dia lihat bagaimana bahagianya Vi saat bersama Jayden, Tania, Nita, Sean, Rey juga Maura.
"Kalian bahkan bisa menerima Vi setelah apa yang aku lakukan pada kalian" batin Vera.
Vera terus menggeser layar laptop itu. Hingga berhenti di satu gambar. Dimana Vi menatap seorang gadis cantik dengan penuh cinta.
"Benar, itu nona Lana. Putri Jayden Lee dan Tania Lee"
"Cantik sekali putrimu, Tania" batin Vera.
"Yang saya dengar tuan Alvian menyukai nona Lana. Tapi nona Lana sampai sekarang masih belum memberikan jawaban" info pria itu.
Membuat Vera menatap pria itu.
"Apa ini karena aku. Bahkan putrimu juga membenci putraku" batin Vera.
"Apa kamu tahu alasannya?" tanya Vera.
"Tidak tahu, Nyonya" jawab pria itu.
Vera mengangguk paham. Tak berapa lama pria itu berlalu pergi. Meninggalkan Vera yang masih asyik melihat foto di layar laptopnya.
Air matanya berlinang ketika melihat foto Vi yang tersenyum bahagia saat bersama Arch, Riko dan Young Jae.
"Bahkan putra kalian pun bisa berteman baik dengan Vi, putraku" bisik Vera.
Sesak itu kembali menghantam dada Vera. Rasa bersalah semakin menghimpit dadanya. Apalagi ketika dia menatap foto Vi saat bersama Tania. Bisa Vera lihat kalau baik Vi maupun Lana saling menyayangi.
"Tenang saja jika pria brengsek itu tidak mau mengakui bayimu. Masih ada kami yang akan menganggapnya seperti putra kami sendiri. Putramu adalah putraku juga" ucap Tania ketika Vera begitu putus asa dengan kehamilannya.
"Maafkan aku Tania. Maafkan aku" ucap Vera penuh rasa bersalah.
Perlahan hatinya melunak. Setelah kepergian Vi, Vera begitu kesepian. Apalagi ketika Vi bahkan tidak menghubungi dirinya sama sekali. Seolah Vi benar-benar membencinya. Hingga Vera perlahan mulai menyadari.
Dirinya melakukan kesalahan. Telah mengabaikan Vi selama ini. Vi membutuhkan kehadiran dirinya disisinya. Tapi Vera tidak pernah melakukannya.
Tapi melihat betapa bahagianya Vi saat bersama teman-temannya. Membuat Vera perlahan membuka matanya. Vi memerlukan kasih sayang dan perhatian bukan harta semata. Dan baik Vera maupun Bryan tidak mampu memberikannya.
Dulu Vera berpikir, kalau materi akan membuat Vi bahagia. Dia lupa kalau keluarga Aditama punya aset yang bejibun. Vera hanya mengikuti egonya yang ingin menunjukkan kalau dirinya juga bisa menghasilkan.
Vera menghela nafasnya.
"Kali ini akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaan Vi. Bahkan jika dia harus melawan suaminya sendiri, Bryan" batin Vera.
Sebab Vera mendengar kalau sang suami ingin melakukan sesuatu untuk menggagalkan kebersamaan Vi dan Lana.
Vera masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Tapi jika Bryan ingin merusak kebahagiaan Vi. Vera tidak akan membiarkannya.
***
Lana memasuki kawasan kantor Aditama Group. Lana sudah memantapkan hatinya. Akan memberi kesempatan pria itu. Setelah melalui sesi curhat kepada sang mama, Tania.
Membuat Tania tertawa terbahak-bahak.
"La wong tinggal bilang cinta kok susah" ledek Tania.
"Ma, Lana mau curhat. Malah diketawain" sungut Lana.
"Iya-iya. So mau curhat apa putri judes" ucap Tania.
"Lana tidak tahu perasaan Lana ke Vi. Vi ngajakin Lana nikah" ucap Lana sambil menunduk.
Tania tersenyum.
"Kamu tahu berarti Vi pria baik. Dia lebih suka mengajakmu menikah. Daripada sekedar berpacaran. Yang pastinya hanya akan menghabiskan waktu. Juga bisa membawa kalian pada hal yang tidak baik. Misal jika kalian tidak bisa menahan diri. Kamu mungkin bisa saja hamil" Tania menjeda ucapannya.
Lana terdiam.
"Mama tanya, apa Vi pernah melakukan hal yang melebihi batasannya?"
Lana menggeleng.
"Kamu tahu kenapa? Karena dia tidak ingin merusakmu. Dia ingin menjagamu. Pernah kamu ketemu pria seperti dia?" tanya Lana.
Kembali Lana menggeleng.
"Vi pria baik. Bukan karena Mama menyukai Vi. Tapi karena dia memang baik. Soal perasaanmu, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan mencintai Vi. Mama jamin" ucap Tania mantap.
Dan ucapan sang mama membuat Lana ingin memberi Vi kesempatan. Setidaknya dirinya pernah mencoba.
Lana berjalan masuk ke kantor Vi. Menuju resepsionis. Yang menyambutnya dengan senyum termanis mereka.
"Selamat pagi Mbak. Ada yang bisa saya bantu" sapa resepsionis itu.
"Bisa saya bertemu dengan Tuan Alvian Aditama" tanya Lana.
"Sudah membuat janji?"
"Maaf, belum"
Resepsionis itu saling pandang.
"Maaf Mbak, jika tidak punya janji kami tidak bisa membiarkan Mbak masuk" jawab resepsionis itu.
"Sebentar kalau begitu" ucap Lana setelah berpikir beberapa saat. Terpaksa Lana harus menghubungi pria balok es itu.
"Halo Vi, aku ada di bawah. Aku ingin bicara. Kau yang turun atau yang akan memaksa naik" ancam Lana.
Membuat dua resepsionis di depan Lana membulatkan matanya. Saling pandang.
"Siapa dia? Berania sekali dengan tuan Aditama" batin kedua resepsionis itu bersamaan.
****