The Story Of "A"

The Story Of "A"
Bonyok? Mantu Otewe?



Young Jae masuk dengan santai ke ruang tengah. Mengambil duduk di dekat Tania. Membuat posisi Tania menjadi di antara Vi dan Young Jae.


"Wah sepertinya ada yang baikan nih" ledek Young Jae.


"Balikan, ralat. Nggak cuma baikan" celetuk Lana. Vi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar candaan Young Jae juga jawaban tegas dari Lana.


"Iya deh iya. Ba-li-kan. Nggak sia-sia kan elu nurutin ide gue" ucap Young Jae sambil mencomot cake dari piring Mamanya.


"Young Jae" Tania protes.


Lantas bangkit berdiri. Menuju dapur. Mengambilkannya untuk Young Jae.


"Jadi semua ini ide gila elu. Elu tahu nggak kalau kakak elu hampir di raba-raba cowok gila di sana. Mabuk disana. Bahaya" marah Vi.


"Kan hampir. Lagian pada akhirnya elu kan yang dapat enaknya" tanya Young Jae sambil menaik turunkan alisnya.


"Eh?"


"Enak apanya? Tersiksa iya" seloroh Vi tanpa basa basi.


"Tersiksa? Ha...ha...." Young Jae tertawa puas melihat wajah manyun Vi.


Sedang Vi bertambah cemberut saja. Dan Lana seolah ikut menambah kekesalan Vi saja.


"Kenapa? Elu nggak berani nubruk kakak gue?" tebak Young Jae.


"Ya jelaslah. Elu mau bokap elu gantung gue di pohon beringin milik pak RT sebelah" jawab Vi.


Mendengar hal itu. Young Jae semakin keras tertawa.


"Yaelah gitu aja kok ribut. Elu tinggal nikahin kakak gue. Habis itu elu bebas deh mau tubruk dia anytime, anywhere" oceh Young Jae.


Membuat baik Vi maupun Lana tersedak bersamaan. Tawa Young Jae semakin keras.


"Lihat, kompak banget kalian. Tersedak aja berjamaah" lagi Young Jae mengoceh tanpa jeda.


Sedang dua orang itu saling pandang.


"Nikah?" batin keduanya bersamaan.


Vi bukannya tidak pernah mengajak Lana menikah. Sejak awal Vi memang mengajak Lana untuk menjalin hubungan dengan arah yang jelas. Pernikahan..adalah akhir yang Vi inginkan dalam hubungannya dengan Lana.


Namun kala itu, Lana yang masih belum mengakui perasaannya pada Vi. Menolak mentah-mentah ajakan menikah Vi. Tapi sekarang, setelah Lana juga mencintai dirinya. Vi belum pernah lagi melamar gadis itu.


Alih-alih menanggapi serius ucapan Young Jae. Lana malah lebih memilih mengganggu Young Jae.


"Elu tu kalo ngomong main mangap aja. Gue jadi heran apa sih yang elu lakuin kalau lagi sama Caca" celetuk Lana.


Membuat Young Jae diam seketika. Ingatannya melayang kepada kejadian kemarin malam. Saat dia dan Caca hampir saja kebablasan. Hampir sama dengan yang terjadi pada Lana, mabuk. Young Jae dan Caca yang sedang menghadiri acara ulang tahun temannya.


Tidak sengaja minum double shoot. Meski Young Jae punya toleransi tinggi pada alkohol namun pria 21 tahun itu, nyaris kehilangan kendalinya. Saat Caca yang juga mabuk. Memancing Young Jae di mobil mereka.


Awalnya Young Jae masih bisa tahan ketika Caca tanpa basa basi menyerangnya di basement apartemen Caca. Tapi ketika Caca naik ke pangkuan Young Jae. Seketika milik Young Jae merespon. Membuat Young Jae kelabakan. Hingga Young Jae pun membalas serangan Caca.


Ciuman dan pagutan itu semakin panas saat keduanya mulai melucuti pakaian masing-masing. Young Jae jelas lebih berpengalaman daripada Vi dan yang lainnya soal berhubungan dengan wanita. Namun baru dengan Caca. Young Jae berani berbuat lebih.


Young Jae kalap saat melihat tubuh polos Caca terpampang nyata di hadapannya. Tanpa ragu pria itu langsung melahap apa saja yang ada di tubuh Caca. Menikmati kemolekan juga keseksian tubuh Caca. Hingga dengan cepat, Young Jae membalik posisinya. Menindih tubuh Caca yang semakin menggila oleh sentuhan Young Jae.


Apalagi Caca juga tidak tinggal diam. Saat Young Jae asyik menikmati buah dada Caca. Tangan gadis itu meluncur ke bawah. Masuk ke dalam celana jeans Young Jae. Membuat Young Jae menggeram nikmat,kala tangan lembut Caca meraih miliknya. Memainkannya dengan begitu luar biasa.


"Ah Baby" des** Young Jae di tengah aksinya menyesap pucuk dada Caca yang telah menegang sempurna.


"Young Jae, I want more" ucap Caca sambil menggigit bibir bawahnya. Membuat wajah itu terlihat semakin sensual. Begitu menggoda Young Jae untuk segera memasuki gadis yang kini berada di bawah tubuhnya itu. Menahan sesuatu yang terasa begitu menyiksa.


Saat itulah Young Jae sadar. Kalau dirinya hampir melewati batas.


"Ca...ini salah. Kita tidak bisa melakukan ini" ucap Young Jae. Masih di posisi sama. Jangan lupakan tangan Caca yang masih berada di bawah sana. Memainkan milik Young Jae. Yang bisa Young Jae pastikan sebentar lagi akan meledak.


"Tapi Young Jae. Aku benar-benar tidak tahan" mohon Caca.


Caca tahu pergaulan Young Jae memang liar. Tapi dia juga tahu, Young Jae pria baik yang selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa merusak citra dirinya. Juga masa depannya.


"Baby..." rengek Caca.


"Kita mukbang saja kalau begitu. Kamu duluan" putus Young Jae pada akhirnya.


Kasihan pada Caca, tapi dia juga tidak ingin merusak gadis itu. Dengan sengaja mengambil apa yang paling berharga dari Caca. Pada akhirnya keduanya bisa saling memuaskan tanpa saling menyatukan diri. Meski keduanya juga tahu. Rasanya akan nikmat berlipat-lipat jika keduanya bisa saling beradu.


Cinta, memang Young Jae rasakan pada Caca. Gadis yang adik Lana pacari dengan rekor paling lama. Diantara semua pacar Young Jae. Baru Caca saja yang pria itu bawa ke rumah. Dan dikenalkan pada Mama, Papa juga Lana.


Menandakan kalau Young Jae memiliki rasa lebih, juga harapan lebih pada hubungannya dengan Caca. Caca juga sudah akrab dengan Lana. Kadang keduanya sering jalan bareng. Hangout. Atau shopping. Atau sekedar nonton. Kadang hang out rame-rame dengan Kanaya juga Marina.


"Malah ngelamun" bentak Lana.


Membuat Young Jae kembali ke alam nyata. Mulai menghilangkan bayangan malam panasnya dengan Caca.


"Hayo mikirin apa? Jangan-jangan elu ingat hal-hal mesum" tebak Lana lagi.


"Enak saja, mesum. Elu kali mesum ke mana-mana" sangkal Young Jae. Sambil memasukkan potongan cake yang Tania ambilkan untuknya.


"Secara di antara kita semua. Omes elu yang paling kentara. Kepala elu kan isinya part plus 21 semua" tebak Lana.


"Astaga! Kakak gue yang paling judes. Tega bener nuduh adiknya yang gantengnya ke mana-mana ini pakar plus 21" gerutu Young Jae.


"Tapi bener kan tebakan gue" goda Lana.


"Em em em" ucap Young Jae sambil menggoyang-nggoyangkan jari telunjuknya.


"Apa? Apa tebakanku salah?" tanya Lana.


Sedang Vi sejak tadi hanya asyik mendengar perdebatan kakak adik itu sambil menikmati cake dari piringnya.


"Salahlah. Karena aku bukan pakarnya. Tapi rajanya part plus dua satu" jawab Young Jae pede.


Dan, satu toyoran menghantam kening Young Jae.


"Aduh jangan ditoyorin mulu dong kepala gue. Bisa hilang nanti data di otak gue" kesal Young Jae.


"Data? Data apaan?" tanya Vi.


"Oh abang Vi sayang. Data soal berbagai gaya part plus 21-lah. Apalagi" seloroh Young Jae santai.


Kali ini tidak hanya Lana. Tapi Vi pun ikut menoyor kepala Young Jae bersama-sama.


"Aduh Mama. Tolongin Young Jae dong. Anak Mama yang ganteng ini dianiaya oleh anak sama mantu Mama yang masih otewe" teriak Young Jae.


Kali ini Lana yang gemas dengan sang adik. Sudah mengajak gelut Young Jae di karpet ruang tengah itu.


"Aduh elu kalau mau hajar. Jangan hajar gue dong. Hajar Vi sono. Dia pasti manut elu apa-apain" seloroh Young Jae. Membuat Vi mendelik mendengarnya.


"Sudah semalam" jawab Lana santai.


"What?!!! Elu jebol gawang kakak gue" tanya Young Jae kepo pada Vi.


"Enak saja. Kalo gue jebol gawang kakak elu. Gue pastiin dia nggak bisa jalan hari ini" jawab Vi tanpa filter membuat Lana membulatkan matanya. Mendengar ucapan Vi yang sangat tidak sopan menurut Lana.


"Haiisshh kenapa sih elu sama dia bisa satu server gitu?" gerutu Lana.


"Lah kan dia mantu otewe yang paling di approve sama bonyok kita" seloroh Young Jae.


"Bonyok? Mantu otewe?"


Vi mengerutkan dahinya. Mendengar istilah aneh yang keluar dari bibir Young Jae. Sementara pria itu terus berteriak saat Lana terus mengganggunya.


***


Bonyok Vi, bonyok....bokap nyokap..👨👩


Maklum gedhe di Sidney jadi nggak pehe apa itu bonyok. Tahunya bonyok itu babak belur 🤭🤭🤭


***