The Story Of "A"

The Story Of "A"
Bertemu Tania



Riko langsung bersiap di UGD rumah sakit miliknya sendiri. Arch yang menghubunginya mengatakan Lana terluka kala bersama Vi.


"Bagaimana mereka bisa bertemu" batin Riko.


Tak lama ponselnya berdering.


"Ya, Arch" jawab Riko.


"..."


"Aku akan bersiap" ucap Riko cepat.


Panik seketika melanda.


"Lana pingsan. Tapi Vi terluka parah"


Satu kalimat Arch yang membuat Riko langsung terkejut. Dengan cepat melakukan persiapan.


"Dokter Kanaya bisa membantuku. Kamu free kan?" ucap Riko.


"Ya Dok, saya free" jawab dokter cantik itu dingin.


"Alah mbok yo sing ramah sedikit to yo" gerutu Riko dalam hati.


"Temen saya terluka dan dalam perjalanan kemari" info Riko.


"Oh" lagi dokter cantik itu hanya ber-oo ria.


"Ampun deh" lagi gerutu Riko.


Tak lama menunggu. Mobil Arch masuk ke area UGD. Riko langsung menyambutnya.


"Bagaimana?" tanya Riko pada Arch yang sudah membawa Lana dalam gendongannya.


"Tolong Vi cepat" ucap Arch. Sementara pria itu langsung membawa Lana masuk. Merebahkannya di ranjang pasien.


"Dokter, tolong periksa dia" teriak Arch. Membuat semua dokter langsung menghambur ke arahnya.


Tak lama brangkar dengan Vi diatasnya. Didorong ke samping brangkar Lana.


"Bagaimana?" tanya Arch melihat Riko yang sudah melepas jas Vi. Membuka kemeja Vi.


"Kita perlu memeriksanya lebih dulu" ucap Riko tenang.


"Masukkan dia ke ruang tindakan" perintah Riko pada perawat. Yang langsung mendorong brangkar Vi masuk ke ruang tindakan.


"Apakah parah" tanya Arch lagi.


"Semoga saja tidak" jawab Riko.


Melangkah menjauh mengikuti dokter Kanaya yang sudah lebih dulu masuk ke ruang tindakan.


"Dokter Lita, tangani pasien ini. Lakukan semua tindakan yang diperlukan" perintah Riko pada seorang dokter perempuan yang tengah menangani Lana.


"Baik, Dok" jawab dokter itu.


***


Jayden dan Tania masuk ke UGD dengan kepanikan luar biasa. Tania langsung masuk ke ruangan dimana Lana dirawat. Masih menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Mana Lana?" tanya Tania panik.


"Di dalam Tan, masih belum sadar" ucap Arch.


Membuat Tania langsung menghambur masuk melihat putrinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Jayden setelah melihat keadaan Lana sekilas. Melihat ada perban di kepala Lana.


"Belum tahu Om. Yang parah yang nolong Lana" info Arch.


"Lana ada yang nolong?" tanya Jayden.


Arch baru akan menjawab. Bersamaan dengan Riko yang keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana?" tanya Arch.


"Luka tusuk sedalam hampir sepuluh senti. Untungnya tidak ada organ dalam yang kena. Jahitan tujuh. Mungkin dia langsung melawan hingga luka tusukannya melebar. Kehilangan darah lumayan. Tapi tidak sampai membutuhkan transfusi. Boleh disimpulkan kalau keadaannya lumayan...parah. Kita tunggu saja. Sebentar lagi dia bangun. Bagaimana Lana?" jelas Riko.


"Masih menunggu hasil rontgen kepala"


"CT Scan, Arch" potong Riko cepat.


"Wis mbohlah. Pokoke kuwi" jawab Arch.


Sementara Jayden hanya menyimak. Dia cukup khawatir dengan keadaan Lana.


Tidak lama, seorang perawat datang.


"Dokter, pasien sudah sadar" ucap perawat itu.


"Hebat sekali staminanya" ucap Riko.


Riko langsung melesat masuk ke dalam. Menyusul dokter Kanaya yang memang masih didalam.


"Bagaimana?" tanya Riko.


"Observasi awal oke. Tidak ada tanda-tanda pasien mengalami cedera organ dalam. Organ vitalnya tidak ada masalah. Tubuhnya cukup hebat" puji Kanaya membuat Riko merengut.


Tidak suka mendengar Kanaya memuji tubuh orang lain.


"Vi, Vi..bagaimana keadaannya?" suara Lana menyeruak di kerumunan orang di depan ruang tindakan.


"Vi?" Jayden mengerutkan dahinya mendengar nama Vi disebut Lana.


"Dia Vi?" tanya Jayden pada Arch.


"Iya Om, Vi yang menghubungi aku. Mengatakan kalau Lana pingsan. Tidak tahunya dia sendiri juga terluka" jelas Arch.


"Vi? Siapa Vi?" tanya Tania.


Jayden langsung panik. Apalagi melihat Lana sudah berdiri disamping brangkar Vi yang masih setengah sadar.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Vi panik.


"Malah nanya. Kamu tu yang apa-apa atau tidak" jawab Lana judes tapi terdengar panik.


Membuat Vi tersenyum.


"Baguslah. Masih bisa judes. Berarti tidak apa-apa" jawab Vi. Sambil sesekali meringis menahan sakit di pinggangnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Lana.


"Masih nanya. Ya sakitlah" jawab Vi dingin.


"Dasar balok es! Ditanya baik-baik. Jawabnya kayak gitu" maki Lana.


"Dia yang nolong Lana?" tanya Tania.


Arch mengangguk. Sementara Jayden hanya bisa berdiri mematung. Seakan tahu, sebentar lagi akan terjadi hal yang ingin dia hindari beberapa hari ini. Tania dan Vi bertemu.


"Mungkin sudah waktunya bagi mereka untuk bertemu" batin Jayden.


"Kamu yang menolong Lana?"


Deg,


" Benarkah itu suara mamanya"


Melihat mama Lana berjalan mendekat. Tapi kenapa suaranya begitu mirip dengan suara wanita yang sering menghubunginya via telepon.


"Iya Ma, dia yang nolongin Lana. Namanya Vi, Vian"


Deg,


"Vi? Vian? namanya mirip dengan putranya Vera" batin Tania.


"Alvian Andrew Aditama" ucap Jayden tegas.


Membuat Tania menoleh ke arah sang suami. Menatap tidak percaya pada sang suami.


"Dia...."


"Ya...dia putra Vera" jawab Jayden setengah tidak rela.


Tania langsung berkaca-kaca menatap Vi. Putra Vera yang sangat ia rindukan.


"Kamu putra Altania Vera dan Bryan Aditama?" tanya Tania dengan bibir bergetar hebat. Jantungnya berdebar hebat.


"Iya Tante. Saya putra mereka" jawab Vi.


Dan detik berikutnya, wajahnya sudah tenggelam dalam pelukan Tania.


Lana, Archie dan Riko hanya melongo melihat hal itu. Pun dengan Vi yang tidak paham akan situasinya. Dia hanya tahu. Mama Tania adalah teman mamanya, itu saja.


"Kau sudah besar Vi" ucap Lana disela isak tangisnya.


"Ah iya, Tante" jawab Vi bingung. Dia cukup risih diperlakukan seperti itu oleh Tania. Mengingat Vi sudah 24 tahun, takut orang berpikir yang tidak-tidak soal dirinya.


"Kau tidak kenal suaranya Vi" tanya Jayden.


Vi tercekat.


"Apa dia?" tanya Vi ragu.


Jayden mengangguk. Berikutnya tangis Vi yang pecah.


"Ma...ini Mama?" tanya Vi mengeratkan pelukannya pada Tania.


"Iya, ini Mama" jawab Tania.


Keduanya terhanyut dalam keharuan. Kerinduan yang lama terpendam. Dan kini kerinduan itu seolah diberi kesempatan untuk meledak. Membuat si pemilik rindu hanya bisa menangis menyelami rasa.


Lana dan yang lain jelas melongo. Melihat pemandangan itu. Apalagi Lana. Mendengar Vi memanggil Mama pada mamanya.


"Ini ada apa Om" tanya Arch.


"Kita bicara nanti" cegah Jayden.


"Kenapa Mama tidak datang menjemput Vi. Vi kesepian Ma, Vi sendirian" tanya Vi, mengungkapkan satu hal yang selama ini ada di benaknya.


"Maafkan Mama Vi, maafkan Mama. Ada banyak hal yang tidak bisa Mama katakan pada Vi sekarang. Bersabarlah..Oke" jawab Tania.


Mengusap lembut kepala Vi. Mereka masih berada di ruang tindakan. Karena beberapa sร at yang lalu. Luka Vi kembali berdarah. Membuat Riko harus kembali membuka perbannya dan memeriksanya.


"Jangan banyak bergerak" desis Riko.


"Sakit tahu" ketus Vi.


"Sudah tahu sakit. Masih sok jadi pahlawan" cibir Riko.


Membuat Vi diam seketika. Ya luka itu memang salahnya.


"Sudah-sudah" lerai Tania.


"Abisnya, Riko gemas Tante sama dia. Irit banget omongnya" celoteh Riko.


Membuat Kanaya yang masih disana, menaikkan satu alisnya.


"Bisa receh juga ni orang" batin Kanaya.


Pasalnya seluruh rumah sakit tahu bagaimana dingin dan cueknya Riko. CEO plus owner plus salah satu dokter bedah disana.


"Jadi dia anaknya teman orang tua kita" tanya Arch tidak percaya.


Jayden mengangguk.


"Mama Vi dan Tantemu teman baik. Mereka berteman sudah lama. Jauh sebelum bertemu papamu, mamamu juga papa mama Riko" jelas Jayden.


"Lalu kenapa Vi bisa pindah ke Sidney" desak Arch.


"Urusan bisnis" jawab Jayden singkat.


"Sementara seperti ini dulu. Anak-anak belum waktunya tahu. Vi juga sedang terluka. Dan aku belum membuat perhitungan dengan Vi. Bagaimana bisa dia bisa nyolong bertemu Lana di belakangku" batin Jayden geram.


Hampir pukul satu malam ketika Riko mengizinkan Vi pulang. Dengan rentetan hal yang harus Vi lakukan dan tidak boleh dilakukan


"Bisa diam tidak" bentak Vi.


"Astaga, Tante putramu yang ini sama dengan putrimu, galaknya" seloroh Riko.


Membuat Lana dan Vi kompak melayangkan tatapan tajam pada dokter tampan itu.


"Ampun deh. Baru kali ini dokter kalah sama pasien" gerutu Riko.


Vi celingak celinguk.


"Cari ini" tanya Arch mengulurkan ponsel Vi.


"Yah mokat" gumannya.


Membuat semua tertawa.


"Bahkan bahasanya sama dengan Lana. Cocok jadi adik kakak" oceh Arch.


Membuat Lana dan Vi saling tatap.


"Aku tidak mau jadi saudaramu" batin keduanya bersamaan.


"Mau ngapain?" tanya Lana.


"Suruh Om Dika jemput" jawab Vi singkat.


"Kamu pulang ke rumah Mama ya. Lukamu masih baru. Nanti tidak ada yang merawat" saran Tania.


"Tapi Ma..." tolak Vi.


"Kamu pulang ke rumah kami" satu suara membuat Vi diam. Dia jelas kalah jika sudah melawan orang itu.


***


Up pagi sebelum kesibukan melanda. Yak mau shopping ngabisin duit misua ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


***