
Maaf ya guys lagi-lagi ada kesalahan teknis. Jadi babnya terkirim dua kali. Jadi skip saja yang ini 🙏🙏🙏
"Lana ada di apartement Arch. Jadi Mama tidak usah khawatir"
Vi mengirim pesan pada Tania. Agar wanita itu tidak khawatir.
"Apa ada masalah diantara kalian berdua?" tanya Tania membalas pesan Vi.
"Tidak Ma. Hanya sedikit salah paham" balas Vi singkat.
Pria itu lantas menyandarkan tubuhnya di kursi mobilnya. Menunggu di luar apartemen Arch.
**
"Apa maksudmu dia ada di sini?" tanya Jayden pada Rey.
"Bryan Aditama ada di sini. Di Surabaya. Dan menurut anak buah kita, dia sempat menemui Lana" jelas Rey.
Jayden langsung memberikan tatapan membunuhnya.
"Apa yang dia lakukan?" guman Jayden.
Lantas meraih laptopnya. Membukanya. Sejenak dua orang itu diam mendengarkan rekaman CCTV dari kantor Lana. Yang memang terhubung dengan laptop Jayden.
Hingga keduanya saling beradu pandang. Dengan pandangan tidak percaya.
"Berani sekali anak itu!" ucap Jayden geram.
"Tunggu dulu Jayden. Itu belum tentu seperti itu. Kita harus menyelidikinya lebih dulu" saran Rey.
"Tapi itu suara Vi..."
"Aku tahu, tapi itu dibawa oleh Bryan. Kau tahu sendiri Bryan seperti apa. Tenanglah dulu. Yang penting sekarang adalah Lana" ucap Rey.
Membuat Jayden sadar. Lantas meraih ponselnya. Menghubungi seseorang.
"Dimana Lana?" tanya Jayden to the poin.
"..."
"Dengan siapa?"
"...."
"Apa? Vi juga baru dari sana?" tanya Jayden.
Lantas menutup panggilan teleponnya.
"Vi sudah bergerak menemui Lana" ucap Jayden.
"Lalu?" tanya Rey.
"Mobilnya masih ada di parkiran apartemen Arch" jawan Jayden.
"Berarti Riko ada di sana juga"
"Iya. Riko ada di sana" jawab Jayden menghela nafasnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rey.
"Kita tunggu saja apa yang akan si brengsek itu lakukan. Dia sudah mulai meracuni pikiran Lana. Berharap saja kalau Lana tidak terpengaruh. Tapi kalau dia mulai macam-macam. Akan aku goyang sedikit perusahannya" ucap Jayden kesal.
Kredit Instagram @wuli_eunwoo
Sekedar mengingatkan, ini papa Jayden ya guys, 😍😍
***
"Lalu kamu mau disini atau pulang?" tanya Arch.
"Boleh tidak kalau aku tetap disini?" tanya Lana.
"Tidak apa-apa jika kamu mau disini" ucap si pemilik apartemen.
"Tapi aku ada operasi satu jam lagi" keluh Riko.
"Tuh tukang servise panggilan ada pasien" celetuk Arch.
Membuat Lana menarik sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa. Sendiri juga tidak masalah. Katamu kamu ada date sama Marina" ucap Lana pada Arch.
"Iya sih" jawab Arch tidak enak.
Hubungan Marina dan Arch semakin menghangat. Berkat campur tangan Nita, mama Arch. Begitu juga dengan Riko dan Kanaya. Meski keduanya harus backstreet dari media dan karyawan rumah sakit mereka. Akhir-akhir ini, Riko sering jadi bahan pemberitaan di berbagai media.
Berkat kemampuannya sebagai seorang dokter dan CEO. Yang membuat namanya dikenal banyak orang. Yang diiringi dengan banyaknya wanita yang menginginkan Riko menjadi kekasih mereka. Padahal Riko sudah memilih Kanaya dari awal.
"Ya sudah pergi sana!" usir Lana.
"Apa kamu perlu teman. Kanaya free hari ini. Jadi dia bisa datang kalau kamu perlu teman" tawar Riko.
"Apa tidak merepotkan Kanaya?" tanya Lana.
"Tentu saja tidak. Akan kuhubungi dia" ucap Riko.
Sementara Arch sudah pergi dari apartementnya setelah mengganti baju.
"Tenang saja disini. Jangan berpikir dan berbuat aneh-aneh" pesan Arch sebelum pria itu menghilang di balik pintu.
"Terima kasih" ucap Lana sambil tersenyum.
"By the way. Terima kasih untuk cincinnya" ucap Riko menunjukkan cincin platinum di jari manis kanannya.
"Kau memakainya?" tanya Lana.
Riko mengangguk.
"Only You, spesial. Aku rencananya akan membuat empat seri untuk kita berempat. Karena kau yang sudah siap, jadi aku membuat milikmu dulu. Semua designnya sudah siap. Tinggal menunggu orderannya saja" jelas Lana.
"Termasuk punyamu?" goda Riko.
Lana menundukkan kepalanya.
"Sialnya aku menggunakan ukuran jari manis Vi saat membuat designya. Dan designnya Vi-banget" batin Lana kesal.
"Aku bermaksud menggunakan Heart Of The Ocean sebagai permatanya agar sesuai dengan gelangku. Tapi aku gagal mendapatkannya" keluh Lana.
"Alah sudahlah, pakai safir lainnya kan bisa" hibur Riko.
"Bisa sih" jawab Lana sekenanya.
Sejenak Riko terdiam. Tidak tahu apa yang harus diomongkan lagi.
"Oh ya katamu ini spesial. Spesial dimananya?" tanya Riko.
Dia tahu Lana akan sangat antusias jika sudah membicarakan soal pekerjaan.
"Jangan sampai ketahuan kalau kamu memakai cincin. Cincin kalian akan langsung menunjukkan di mana pasangannya. Karena aku setting seperti itu" jelas Lana.
"Apa seperti GPS begitu?" tanya Riko.
"Lebih kurang seperti itu. Namun lebih tepatnya karena nomor seri yang aku ukir dicincinmu dan Kanaya adalah sama. Juga permata kalian dari berlian yang sama" jelas Lana lagi.
"Ha? Ada berlian di cincinku?" tanya Riko tidak percaya.
Lana menyeringai sambil mengangguk.
"Aku tahu untukmu tidak boleh memakai unsur emas. Jadi jangan khawatir, aku rasa kalau berlian setengah karat masih boleh kan?" ucap Lana enteng.
Menunjukkan dimana berlian di cincin Riko berada.
"Wah kau genius sekali. Bagaimana bisa kau menanamnya di sini?" tanya Riko kagum dengan kemampuan Lana.
"Ada deh caranya" ucap Lana.
Riko sendiri masih menatap takjub pada cincinnya. Tidak tahu jika ada berlian topaz kecil yang ditanam Lana dalam ring platinum miliknya. Ya cincin Kanaya memang bermata topaz, karena gadis itu suka warna kuning.
Untuk Arch permata merah, rubi. Untuk Young Jae permata hijau, zamrud. Dan untuk dirinya permata safir, biru. Meski tidak tahu kapan akan terwujud untuk dirinya.
Ketukan pintu terdengar membuyarkan obrolan mereka.
"Itu pasti Kanaya" ucap Riko berlari ke pintu.
Membuka pintu. Lantas tanpa ba bi bu langsung mencium bibir Kanaya. Membuat Lana langsung membulatkan matanya.
"Woi, ada orang lagi galau juga. Main sosor aja!" maki Lana.
Membuat Kanaya langsung memerah wajahnya menahan malu. Namun tidak dengan Riko yang tetap santai.
"Aku tinggal dulu ya. Baik-baik kalian berdua. Aya, tolong awasi adikku yang lagi galau setengah mati ya" pesan Riko pada Lana juga Kanaya.
"Sembarangan kalau ngomong!" pekik Lana.
Sedang Kanaya hanya melambaikan tangannya. Melepas kepergian Riko.
"Are you okay?" tanya Kanaya.
Setelah beberapa saat terdiam.
"Actually not" ucap Lana.
Detik berikutnya gadis itu sudah menangis. Membuat Kanaya dengan cepat meraih tubuh Lana. Memeluk gadis itu menenangkan.
"Puaskan tangismu. Tapi setelah ini tersenyumlah. Ingat badai pasti berlalu" ucap Kanaya.
***
"Marry, aku akan ke Indonesia untuk beberapa waktu" pamit Vera pada asistennya.
"Nikmati saja liburan Anda, Nyonya" jawab Marry.
Membuat Vera tersenyum kecut.
"Aku ke sana untuk menyelesaikan masalah masa laluku. Berlibur? Yang benar saja" batin Vera.
Vera menatap hampa pada pemandangan kota Sidney. Ada benarnya jika kehidupannya terasa hampa dalam beberapa tahun belakangan ini. Tidak ada kehangatan yang Vera rasakan dalam keluarganya.
Seolah semuanya sudah mati rasa. Tanpa ada rasa cinta di dalamnya. Vera semakin takut saja. Kalau ini adalah karma dari perbuatannya di masa lalu kepada Tania.
"Akan kuterima jika memang ini karmaku. Asalkan putraku Vi bisa bahagia. Tidak peduli apapun kondisinya" batin Vera.
Seolah penyesalan kini mulai dia rasakan. Vera memutuskan menyusul ke Surabaya. Karena seseorang memberitahu kalau sang suami pergi ke sana. Padahal Bryan pamit padanya akan pergi ke Singapura.
"Apa kamu bermaksud menghalangi kebahagiaan Vi?" batin Vera lagi.
Perlahan mulai keluar dari ruang kerjanya.
***