
Ibu dan anak itu hanya bisa saling pandang. Tidak tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Vi yang sibuk mencerna semua hal yang baru saja dia dengar. Soal Papanya, yang dengan sengaja membuat kesalahpahaman di antara Mamanya dan Tania. Juga banyak fakta yang lainnya. Pria itu perlahan menarik nafasnya.
"Apa kamu kecewa dan marah pada Mama , Vi?" tanya Vera.
Untuk pertama kalinya, dia bisa bicara sedekat ini dengan putranya. Bicara dari hati ke hati sebagai seorang ibu dan anak.
"Kamu pantas marah dan kecewa dengan Mama. Mama tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Tidak bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah. Mama egois, hanya memikirkan diri Mama sendiri" ucap Vera kembali berlinang air mata.
Melihat hal itu, Vi menarik nafasnya pelan. Tidak dia pungkiri. Dirinya begitu kecewa pada Mamanya. Bagaimana bisa Mamanya itu bisa percaya begitu saja pada perkataan Papanya. Meski Vi tidak menampik kenyataan kalau kadang orang bisa bertindak di luar logika. Hanya karena cinta.
"Aku memang kecewa pada Mama. Bagaimana bisa Mama begitu mudahnya percaya pada bualan Papa. Tanpa mempertimbangkan bagaimana pertemanan kalian dulu" ucap Vi dingin.
Nadanya cenderung menyalahkan sang Mama.
"Mama memang salah Vi. Mama akui. Tapi tidak bisakah Mama menebus kesalahan Mama?" pinta Vera.
"Bagaimana Mama akan menebusnya? Aku kehilangan masa kecilku yang harusnya aku lalui dengan bahagia. Bukan menjadi tahanan kota! Mama Tania tidak harus berjuang begitu lama untuk bisa hamil. Dia tidak seharusnya mengalami depresi. Bagaimana Mama akan menebusnya?" tanya Vi emosi.
"Vi...." panggil Vera.
Dia tahu, sang putra begitu kecewa padanya. Tapi apa Vi juga tahu. Kalau dalam lubuk hati Vera yang paling dalam. Penyesalannya... jauh berlipat-lipat.
"Dan sekarang dengan semua fakta yang sudah terungkap. Apa aku pantas untuk mendapatkan cinta Lana? Aku rasa tidak" ucap Vi lesu.
"Tentu saja kamu berhak mendapatkan cinta Lana. Tidak ada yang lebih pantas daripada dirimu untuk mendampingi Lana"
Vi mengukir senyum tipisnya seraya menarik nafasnya pelan.
"Aku rasa, aku tidak lagi pantas untuk seorang Alana Aira Lee. Begitu banyak hal buruk yang telah keluarga kita torehkan kepada mereka. Benar perkataan Om Jayden. Aku bahkan tidak akan bisa membayar semua hutangku pada Mama Tania. Hutang nyawa"
"Apa kau tahu Papamu menyembunyikan satu lagi fakta dari kalian. Saat Vi lahir. Kau mengalami pendarahan hebat. Dan butuh pendonor. Kau sendiri tahu, kau dan Tania punya darah yang sama. Hingga tanpa pikir panjang lagi. Dia menyumbangkan darahnya. Membuatmu bisa selamat dari kematian. Tapi suamimu memberitahumu pun tidak. Tapi malah menyembunyikannya"
Kembali satu fakta baru menghantam kepala Vera. Bagaimana bisa suaminya menyembunyikan hal sebesar itu darinya.
Ditambah lagi. Bahwa Bryan juga sempat mengancam Tania untuk tidak menemui dirinya dan Vi.
"Bagaimana aku bisa mencintai dan menikah dengan pria seperti suamiku" batin Vera.
Namun seberapa banyak kesalahan yang telah Bryan perbuat,satu hal yang pasti. Cinta Vera untuk Bryan tidak pernah pudar. Silahkan kalian berpikir kalau Vera gila. Karena memang begitu adanya. Sebab selain kesalahan yang sudah Bryan lakukan. Hubungan keduanya sangatlah harmonis. Baik di luar rumah maupun kehidupan ranjang mereka. Sejak menikah dengan Vera, Bryan tidak pernah sekalipun berpaling pada perempuan lain. Hebat bukan?
Hal positif itulah yang turun pada Vi. Bertemu Lana, lantas jatuh cinta. Tanpa pernah berpikir untuk mencari yang lain. Meski kini, rasa insecure dan minder tengah mendera dirinya. Setelah semua kebenaran terungkap. Vi tidak lagi yakin, kalau dirinya pantas disandingkan dengan Lana.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Vera.
"Aku tidak tahu Ma. Semua fakta ini benar-benar membuatku shock" ucap Vi setengah putus asa.
***
Braakkkk,
Suara meja digebrak terdengar nyaring di ruang kerja Bryan.
"Dasar wanita bodoh! Apa yang dipikirkan oleh otaknya itu. Bisa-bisanya mengemis maaf pada mereka!" ucap Jayden penuh emosi.
Pria itu sungguh marah ketika mendengar sang istri menemui Tania. Yang berujung pada membaiknya hubungan keduanya. Kemarahannya bertambah ketika tahu Vera bahkan menemui Jayden. Membuat Vera tahu semua kebenaran di masa lalu.
"Aku harus memberi pelajaran pada wanita itu.
***
Plak!
Vera tersungkur ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Sang suami langsung menamparnya begitu pintu hotel tempatnya menginap di buka oleh Vera.
"Bry..." ucap Vera sambil mengusap pipinya yang terasa panas akibat ulah sang suami.
Membuat Vera langsung menatap tidak percaya pada sang suami.
"Bry, sudah seharusnya kita minta maaf. Kita bersalah pada mereka. Kau yang menciptakan salah paham itu kan? Kenapa kau lakukan itu?" tanya Vera.
"Minta maaf? Aku tidak merasa bersalah. Buat apa aku minta màaf!" jawab Bryan keras kepala.
"Bry apa salah Tania? Apa salahku hingga kamu membuat kami bertengkar?" tanya Vera.
Dia begitu penasaran kenapa sang suami melakukan itu.
"Aku benci padanya. Karena itu aku tidak suka melihatnya bahagia" jawab Bryan dingin.
"Benci? Apa karena dia menolak cintamu? Atau karena kau masih mencintainya?" tanya Vera dengan bibir gemetar.
Satu hal yang membuat Vera takut. Jika Bryan hanya menjadikan dirinya pelarian dan pelampiasan.
Mendengar pertanyaan Vera. Bryan tersenyum smirk.
"Cinta? Apa itu cinta? Aku tidak mengenal cinta. Aku hanya tahu rasanya puas bercinta. Dan itu hanya kudapatkan darimu" jawab Bryan dingin.
Vera ternganga mendengar jawaban Bryan.
"Jadi kamu tidak pernah mencintaiku? Kamu hanya bernaf** padaku?" tegas Vera.
Bryan tertawa.
"Ya katakanlah begitu. Tubuhmu begitu nikmat dari dulu sampai sekarang. Membuatku setiap saat ingin mencumbunya. Kau selalu bisa membuatku bergai***" bisik Bryan di telinga Vera. Sambil memainkan surai rambut panjang Vera.
"Kau gila Bryan! Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?" protes Vera.
"Kau ingin protes? Kenapa? Bukankah kau juga selalu menikmati sesi panas kita? Selalu meminta lebih. Sudahlah Vera. Kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita bisa memuaskan satu lain" kembali Bryan berucap.
Kali ini pria itu sudah mulai menciumi leher belakang Vera. Setelah menyingkirkan rambut Vera. Ciuman Bryan membuat tubuh Vera meremang dan menegang seketika. Dan Bryan tahu sekali akan hal itu.
"Kau lihat..aku baru menyentuhmu sedikit dan tubuhmu langsung bereaksi" ledek Bryan.
Vera hanya memejamkan mata. Menahan semua rasa yang kini mulai menyerang tubuhnya. Sentuhan Bryan memang berdampak besar pada Vera.
"Kau benar-benar gila Bry!"
"Tapi kau menyukainya kan?" kembali Bryan menciumi leher Vera. Lantas naik ke telinga Vera.
Vera semakin memejamkan matanya. Ingin menolak efek semua sentuhan Bryan. Tapi tubuhnya malah berbuat sebaliknya. Tubuhnya merespon dengan baik setiap sentuhan Bryan. Membuat Bryan semakin gencar melancarkan aksinya.
Mulai menyentuh setiap inci tubuh Vera.
"Kau tahu aku begitu merindukan tubuhmu beberapa hari ini. Apalagi putra kesayanganmu sekarang begitu berani melawanku. Membuatku gila!" ucap Bryan parau. Bibirnya mulai melu*** bibir Vera.
"Dia putramu juga" jawab Vera di sela-sela ciuman mereka yang semakin memanas.
Pada akhirnya Vera tidak lagi mampu menolak sentuhan Bryan. Keduanya sudah mulai saling mencumbu satu sama lain.
"Kalau begitu Vi tahu kalau Lana barang yang bagus" ledek Bryan.
"Jangan sembarangan bicara Bry...
Vera ingin protes. Tapi hal itu tidak terjadi karena protes itu sudah lebih dulu berubah menjadi luma*** penuh api gai*** yang mulai membara.
"Kau lihat Vera. Kau sama sekali tidak bisa menolak sentuhanku" bisik Bryan.
Semakin getol menyentuh seluruh tubuh Vera. Hingga pagi itu keduanya memulai hari dengan sesi panas yang entah kapan akan berakhir.
***