
Vi benar-benar memasang tampang tidak sukanya, pada tamu yang tiba-tiba saja menyerbu rumahnya. Beruntungnya ada satu set sofa yang Vi beli sebelum dia menempati rumah itu semalam. Kalau tidak, bisa disuruh lesehan tu semua cowok ganteng.
"Busyet dah tampang elu gitu amat" seloroh Arch melihat wajah Vi yang ditekuk sepuluh. Sudah seperti kertas bekas membuat origami.
"Elu tu maksudnya apa? Pagi-pagi ngegruduk rumah gue" ketus Vi.
"Ini sudah siang Bambaaannng. Sudah masuk makan siang" oceh Young Jae.
"Ha? Masak sih?" tanya Vi tidak percaya.
Teringat Lana yang dia hajar dari semalam tanpa dia beri kesempatan untuk makan. Tiba-tiba rasa bersalah menghampiri Vi.
"Elu sih kebanyakan ngendon di kamar. Jadi nggak tahu si surya udah bikin ubun-ubun mau pecah saking panasnya" lagi Young Jae berucap.
"Sok tahu lu anak kecil!" ledek Vi.
"Eiitss anak kecil pinter bikin anak kecil" jawab Young Jae sambil menaikturunkan alisnya.
"Sebodolah. Kalian mau apa? Gue mau masak. Bini gue belum makan dari semalam" seloroh Vi berlalu ke dapur. Yang berada jauh di sisi kanan rumah itu.
"Elu jadi suami kejam amat Vi. Dah ngerjain istri semalaman, nggak diberi makan lagi" ketus Rafa akhirnya membuka suaranya.
"Haah! Diamlah!" bentak Vi kesal.
Digoda oleh para bromance-nya yang somplak nggak kira-kira. Pada akhirnya daripada bosan. Mereka mengekor Vi ke dapur. Di sana, mereka melongo. Melihat Vi dengan lihainya menguasai dapur. Memakai apron, potong sayur. Potong daging.
"Woaahh, nggak salàh kakak gue. Milih elu jadi suaminya" seloroh Young Jae.
"Kenapa?" tanya Vi.
Mulai menumis cap caynya. Arch dan Riko mengadakan touring di rumah Vi yang luas. Rafa dan Young Jae menunggui Vi masak.
"Pasti kakak gue akan bilang elu paket komplit" jawab Young Jae.
"Mestilah. Gue kan tampan, kaya, bisa masak. Bisa buat kakak elu jejeritan puas di ranjang" seloroh Vi yang langsung mendapat lemparan wortel dari sang adik ipar.
"Woi sakit tahu!" marah Vi.
"Eehh tu mulut kalau ngomong pake sensor bisa nggak?" protes Young Jae.
"Nggak. No filter at all" ucap Vi bangga.
Alhasil Young Jae berlalu pergi. Memilih ikut touring Arch dan Riko. Daripada harus mendengar perkataan no sensor dari kakak iparnya yang mulai ikutan somplak otaknya.
"Seriously, elu hebat bisa bangun rumah kayak gini" puji Rafa terang-terangan.
"Oh finally, ada juga orang yang mau puji gue. Thank you" jawab Vi sumringah.
"Aduh salah ngomong deh gue kayaknya" sesal Rafa.
Membuat Vi tergelak.
"Bahagia?" tanya Rafa menatap Vi.
"Absolutly. Gue pikir hidup gue yang hancur dari dulu akan tetap hancur selamanya. Nyatanya enggak" jawab Vi sendu.
Rafa cukup tahu kisah Vi. Jadi diapun paham sedikit-sedikit perasaan Vi. Tidak sepenuhnya mungkin. Mengingat Rafa lahir dari keluarga yang komplit. Penuh kasih sayang. Hanya saja dia juga sedikit bisa meraba rasa sakit dalam hidup. Sebab Valerie, sang istri pernah merasakan kepahitan hidup. Sebelum bertemu dirinya.
"Ada komen untuk firewall gue" tanya Vi. Dia tahu Rafa yang berhasil membobol firewall-nya.
"So far sudah bagus. Untuk hacker amatiran akan sangat kesulitan untuk menembus firewall-nya. Tapi untuk yang pro lumayanlah. Aku saja cukup kesulitan untuk membongkarnya" ucap Rafa secara tidak langsung memuji kemampuan Vi.
Vi langsung mengembangkan senyumnya.
"Terima kasih" cengir Vi.
"Ada minat untuk menjualnya" tanya Rafa menaikkan satu alisnya.
"Apa ini sebuah penawaran bisnis?" tanya Vi.
"Anggap saja sepert itu. Firewall-mu cukup untuk membuat sebuah sistem keamanan sulit dibobol oleh para hacker amatiran. Sistem-mu sudah masuk kelas berat"
"Elu kate tinju" seloroh Vi.
"Enggak, seriously. Kamu membuatnya berputar-putar hingga mereka lupa kemana harus melangkah. Padahal sekali shoot...booomm... bisa hancur sistemmu" puji Rafa lagi.
Hening sejenak. Hanya terdengar suara mendesis dari daging yang Vi masak.
"So...berminat?" tanya Rafa lagi.
"Akan kupikirkan. Sejujurnya aku hanya ingin membuat satu untuk rumahku. Tapi kalau elu berminat mungkin akan kupertimbangkan. Tapi aku tidak akan memberikan versi ini padamu. Ini milikku. Kalaupun kujual akan kubuat versi lain. Tapi basicnya ini. Bagaimana?" tanya Vi.
"Up to you. Aku tertarik dengan labirinnya. Belum ada yang pernah buat firewall basic labirin. Bener-bener pusing gue" ucap Rafa lagi.
"Woiii balok es boleh nggak kita berenang?" teriak Young Jae dari sisi timur di mana kolam renang berada.
"Siapin aja air jahe" pinta Riko.
"Ogah! Pada minta sana sama calon istri elu!" balas Vi.
"Ye, kalau sama calon istri nggak minta air jahe tapi air yang lain" guman Young Jae. Yang langsung mendapat keplakan dari Arch.
"Elu ya. Makin lama makin somplak aja" gerutu Arch yang disambut cengiran dari Young Jae.
"Peace man, peace" ucap Young Jae sambil menunjukan jarinya yang membuat kode peace.
Arch dan Riko hanya geleng-geleng melihat tingkah Young Jae. Mereka kompak melepas kemeja dan celana mereka. Meninggalkan celana pendek yang menutup area pribadi mereka. Dan "byur", mereka bersamaan nyemplung ke kolam renang milik Vi. Di sertai gelak tawa yang menggelegar.
"Mereka ya, sudah pada mau married juga kelakuan masih seperti anak kecil" gerutu Vi yang mendengar teriakan ketiga temannya dari arah dapur.
Rafa hanya tersenyum kecil mendengar gerutuan Vi. Yang kini sedang menumis brokoli saus asam manis. Usulan Rafa, mengingat yang pada mau makan orang yang kelaparan semua.
"Kalian ini datang-datang cuma mau numpang makan saja" guman Vi sambil memeriksa nasi yang tengah dia masak.
"Salah elu sendiri. Bikin masalah pagi-pagi. Jadikan kita juga yang repot. Padahal gue juga masih mau main sama Valerie" balas Rafa.
"Emang salah ya bawa istri pulang ke rumah sendiri?" tanya Vi.
"Salahnya elu kagak beritahu kita, bambaanng" salak Rafa.
Vi hanya nyengir mendengar gerutuan Rafa.
"Sorry, ini diluar rencana sih sebenarnya. Elu lihat sendiri kalau sebenarnya rumah gue masih kosong blong. Untung kemarin bagian interiornya sempat belanja kitchen set komplit sama tu sofa. Lain gak ada. La nanti berhubung meja makan istri gue belum pilih. Jadi kita lesehan makannya" seru Vi.
"Lesehan ya menunya liwetan Vi. Bukan western" protes Rafa.
"Alah kita kawinin barat sama timur. Biar jadi bule. Elu aja begitu" timpal Vi.
"Valerie setengah bule ya. Nanti anak gue oriental jadinya" potong Rafa cepat.
"Alah apapun itu yang penting anak elu, sudah habis cerita" jawab Vi sambil menata makanan di piring.
"Untung piringnya ada. Coba kalau nggak"
"Nah, gelasnya ada nggak?"
Vi langsung menatap Rafa.
"Enggak tahu, Fa" jawab Vi cepat.
"Wah kacau lu Vi, masak iya kita ******* berjamaah" seloroh Rafa.
"Ha? Maksud elu?"
"Gue nemu gelas cuma satu. Lah kalo kita minum dari gelas ini. Bukannya sama saja elu minum bekas bibir gue" jelas Rafa.
"Huwekk...idih ogah" tolak Vi.
"Elu cari deh. Siapa tahu ada gelas lain yang masih ngumpet" usul Rafa.
"Bantuin dong" pinta Vi.
Akhirnya dengan malas, Rafa ikut ngubek-ngubek dapur Vi, dan beruntung mereka menemukan setengah lusin gelas di pojok kabinet. Tertutup oleh tumpukan piring.
"Selamat, kagak jadi ******* berjamaah" Vi berucap syukur. Membuat Rafa tertawa.
"Nemu gelas kayak nemu istri" ledek Rafa.
"Isshh masak Lana disamain sama gelas. Mana ini gelas jadul lagi" gerutu Vi.
"Iya-iya, Lana elu gelas kristal"
"Nah tu tahu"
Kembali Vi berkutat dengan makanan. Sedang Rafa diminta untuk mencuci gelas.
"Elu somplak beneran deh. Masak tangan gue, elu suruh buat cuci gelas. Ini tangan buat tender milyaran dolar, Vi" protes Rafa.
"Bodo! Cuci atau elu bagian gelas berjamaah sama Young Jae" ancam Vi.
"Idih ogah" Rafa bergidik ngeri. Membayangkan mulut somplaknya Young Jae. Lantas menggulung lengan kemejanya sampai siku. Mulai mencuci gelasnya.
Saat keduanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Satu suara mengejutkan mereka.
"Kalian lagi ngapain?"
Sontak Vi dan Rafa menatap ke arah sumber suara.
****