The Story Of "A"

The Story Of "A"
Akhirnya



"Ini cantik sekali" guman Lana berkali-kali.


Lama dia memimpikan hal semacam ini. Tapi dirumah lama tidak mungkin akan tercapai.


"Kamu suka?" tanya Vi.


Lana mengangguk berkali-kali. Dengan tubuh berbaring di lengan Vi. Lana tidak berhenti mengagumi keindahan langit malam yang terlihat dari balik kubah berdinding kaca transparan yang tepat berada diatas mereka.



Kredit Google.com


Anggap saja seperti ini ya guys 😁


Tadinya Lana pikir dengan ranjang berkelambu seperti itu akan membuat suasana di dalamnya terasa sempit. Nyatanya Lana salah. Kelambu cantik itu tidak mengitari ranjang. Tapi seperti membuat satu pembatas dan bentuknya ternyata melingkar. Dengan ukuran yang cukup besar.


"Jadi bisa kita mulai acara intinya?" tanya Vi blak-blakan.


"Ha? Acara inti?" Lana melongo mendengar pertanyaan Vi.


"Malam pertama kita" bisik Vi yang kini mengubah posisinya menghadap kepada sang istri. Lanapun tengah menatap sang suami.


Lama dua pasang mata itu saling mengunci. Seolah menunggu siapa yang berani mengambil langkah pertama. Vi pikir, dia sendiri yang harus memulainya. Mengingat Lana adalah perempuan. Dengan dominan sisi malunya. Ketimbang sisi agresifnya. Dia sendiri memang berusaha menahan diri. Tidak ingin Lana berpikir kalau dia hanya ingin menikmati tubuh Lana setelah mereka menikah.


Pelan Vi mengusap lembut pipi Lana.


"Kamu tahu kan, aku lama menunggu hari ini tiba" lirih Vi.


Lana sendiri tahu. Bagaimana usaha Vi untuk tidak menyentuh dirinya melebihi batasannya sebelum mereka menikah. Dia cukup terharu dan merasa tersanjung karena Vi benar-benar menghargai dirinya sebagai wanita. Tidak hanya dijadikan obyek pelampiasan semata.


Lana mengangguk pelan. Kini sebagai istri Vi. Seharusnya dia sudah tidak merasa malu ataupun canggung lagi. Karena itu sudah menjadi salah satu kewajibannya. Dan Vi sang suami berhak memintanya.


Perlahan Lana mendekat ke arah Vi. Setelah sudah berada dalam jangkauannya. Lana mencium lembut bibir sang suami. Membuat Vi membulatkan mata seketika. Dia tidak berpikir kalau istrinya akan berani memulai serangan lebih dulu.


Satu pesan dari Marina yang Lana ingat.


"Jadilah yang pertama untuk memulai. Dan lihatlah suamimu akan menyerangmu sepuluh kali lipat"


"Well, let see" batin Lana. Masih dengan posisi mencium bibir Vi.


"Kamu pernah berkata ingin melihatku lepas kendali kan?" tanya Vi saat Lana melepaskan ciumannya.


Tidak ada jarak di antara mereka. Karena Vi sudah menahan pinggang Lana. Sejenak Lana menatap dalam wajah sang suami. Lalu mengangguk perlahan.


"Jadi aku tidak akan sungkan lagi malam ini" bisik Vi.


Sejurus kemudian, pria itu sudah mendaratkan ciuman di bibir ranum sang istri. Menciumnya penuh kelembutan dan cinta. Vi tahu benar betapa besar rasa cinta yang dia punya untuk istrinya ini.


Perlahan ciuman itu berubah menjadi lum*** disertai suara sesapan yang mulai mendominasi kamar luas itu. Vi melu*** bibir Lana tiada henti. Apalagi ketika sang istri mulai bisa mengimbanģi permainan bibirnya. Pelan lidah Vi mulai meminta akses masuk ke dalam mulut Lana. Memulai French kiss mereka yang sesungguhnya.


Dengan lembut Vi menjelajahi rongga mulut Lana. Mengajak sang istri untuk berbelit lidah. Mengajaknya bertukar saliva. Pemanasan itu membuat jantung keduanya berpacu semakin kencang. Seiring hawa panas dalam tubuh mereka semakin terasa.


Ciuman Vi berangsur turun ke leher jenjang Lana. Kali ini Vi dengan berani menyesapnya kuat. Menciptakan tanda kepemilikan dimana-mana. Lana langsung terbuai dengan permainan sang suami.


Tanpa sadar jika Vi mulai melucuti pakaiannya. Membuat tubuh Lana polos seketika. Sesaat Vi terpana melihat keindahan tubuh Lana. Teringat dulu yang dia asal njeplak memuji tubuh Lana di depan Tania, sang Mama. Ternyata kenyataannya melebihi ekspektasinya.


" Dada 36 B, pinggang 28" bisik Vi.


Membuat Lana mendelik. Bisa-bisanya membicarakan ukuran disaat seperti ini. Apalagi ketika dirinya sadar. Kalau dia tidak memakai pakaian. Reflek Lana menutup dadanya karena malu.


"Jangan ditutupi. Ini milikku sekarang" ucap Vi sambil menyingkirkan tangan Lana dari atas dadanya. Lantas merematnya pelan.


"Aahhh Vi.." bisik Lana.


Vi tak lagi menahan diri. Lantas menenggelamkan diri di dada Lana. Yang penutupnya sudah dia lempar ke sembarangan arah. Memainkannya sesuka hati. Membuat Lana kelabakan karena rasa yang tidak pernah ia rasa selama ini. Masih berkutat di area dada. Bersamaan dengan tangan Vi, yang mulai merayap turun. Ke area inti sang istri.


Tangan Lana spontan menjambak manja rambut Vi. Saat pria itu terus saja memainkan dadanya. Membuat Vi semakin beringas.


Sementara di bawah sana. Dengan satu sentakan. Vi melepas penghalang terakhir di tubuh Lana. Menampilkan lembah kenikmatan yang siap untuk dinikmati dan diarunģi oleh Vi.


Sesaat Vi menatap takjup pada milik sang istri yang terlihat begitu indah di matanya. Dikecupnya milik Lana. Membuat si empunya langsung berjengit. Belum pernah ada seorangpun yang menyentuh miliknya.


"Aku akan bermain lembut" ucap Vi sambil melepaskan celana kargo miliknya. Sedikit terkejut ketika tahu Vi sudah tidak memakai dalaman lagi di balik celana kargonya. Hingga Lana langsung bisa melihat milik Vi yang sudah siap tempur.


"Astaga jadi ini yang sering author sebut rudal balistiklah, jagung bakar afrikalah. Terong Romawi, Pythonlah, anancondalah. Ular sawalah. Dan segala jenis ular lainnya" batin Lana berusaha menelan salivanya susah payah.


"Vi..." cicit Lana.


"Hemm?" jawab Vi sambil mencari posisi yang nyaman untuk dirinya dan Lana saat menyatu nanti.


"Sakit tidak?" tanya Lana.


"Sakit di awal saja. Tapi habis itu enak. Itu kata mbah Google. Jadi kita cari tahu saja benarnya" jawab Vi lembut.


Lantas kembali meraup bibir Lana. Menciumnya untuk membuat Lana sejenak melupakan kerisauannya. Sementara dibawah sana. Kedua benda itu saling mengesek lembut. Berkenalan satu sama lain. Sebelum nanti membaur menjadi satu.


Dirasa Lana siap. Vi perlahan memasuki tubuh sang istri. Perlu usaha ekstra keras untuk membuka jalan menuju kenikmatan yang hakiki. Peluh mengucur deras dari dahi Vi.


"Beeuuhh tinggal masuk saja susahnya minta ampun" batin Vi.


Mendorong pelan miliknya. Agar bisa segera membuka jalan untuk bertemu sang pemilik rumah.


"Vi...sakit" rengek Lana untuk kesekian kalinya.


"Tahan sebentar, By" jawab Vi lembut. Tidak masalah dengan tangan Lana yang meremas lengannya saat dirinya menghentak milik Lana. Air mata mulai menggenang di sudut mata Lana.


"Apa memang sesakit ini ya?" batin Lana sambil berusaha terus bertahan. Dia tahu Vi berusaha selembut mungkin saat ingin memasukinya.


Setelah beberapa kali mencoba. Entah di hentakan ke berapa. Vi berhasil melesakkan miliknya masuk ke rumahnya. Sedikit tercekat saat rasa sakit menjalar dipunggung dan pundaknya. Cakaran dan gigitan Lana bersarang di dua tempat itu.


"Maaf" satu kata terucap dari bibir Vi. Menatap Lana penuh rasa bersalah. Sesaat Lana hanya terdiam. Merasakan sesak, penuh, perih di area intinya.


Sedang Vi merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sela-sela pahanya.


"Sebenarnya segelannya ada berapa sih. Susah amat di tembusnya. Aqua aja yang segelnya berganda mudah aja dibukanya" heran Vi dalam hati.


"Aahhhh" Vi mendesis ketika dia merasakan milik Lana meremas milikknya pelan.


"Sepertinya tuan rumah sudah bisa diajak main nih" batin Vi menatap Lana.


"Sudah siap?" tanya Vi pada Lana.


Lana mengangguk pelan. Rasa sakit masih terasa. Tapi sekarang dia lebih penasaran pada rasa bercinta itu sendiri. Setelah banyak mendengar dari teman kuliahnya dulu. Kalau bercinta itu menyenangkan dan juga nikmat.


Vi bersorak senang. Ketika lampu hijau dia dapat dari sang istri.


"Akhirnya"


Setelah bertahun-tahun, akhirnya milik Vi bisa menemukan rumahnya. Rumah yang akan selalu menjadi tujuannya pulang nanti, saat rindu datang mendera.


***