The Story Of "A"

The Story Of "A"
First Meet, Jayden



"Tidak makan?" tanya Vi datar.


"Nggak!" jawab Lana ketus.


"Enak lo" lagi Vi berucap.


"Bodo!" judes Lana.


Vi mengulum senyumnya. Melihat wajah sebal Lana.


"O jadi gini to kalau cewek lagi ngambek. Nggak mau makan. Nggak mau ini. Nggak mau itu" goda Vi.


Heran, Vi yang dulu tidak seperti Vi yang sekarang. Dulu, dia begitu anti dengan makhluk cantik berjuluk wanita. Tapi lihatlah sekarang. Bibirnya begitu luwes kala menggoda Lana. Makhluk cantik yang judes bin galak. Sungguh rupa cantiknya benar-benar menipu siapa saja yang melihatnya.


Pada akhirnya Vi seorang yang memakan hidangan sushi di hadapannya.



Kredit Goole.com


Sedang Lana hanya menatapnya dengan kilatan marah yang terlihat jelas di kedua bola matanya. Lana membayar makanan yang Vi makan dengan terus mendengus geram.


"Masih marah?" tanya Vi kala mereka sedang berjalan menuju mobil mereka.


"Sudah tahu pakai nanya lagi" lagi judes mode on.


Lana baru saja akan menuju pintu pengemudi ketika Vi menahan tangannya.


"Aku yang nyetir" ucap Vi.


Membuat Lana cepat menarik tangannya dari genggaman tangan Vi. Bukannya tidak mau. Tapi sekarang setiap kali bersentuhan dengan Vi, tubuhnya seperti tersetrum. Ada gelenyar aneh yang Lana rasa kala kulitnya beradu dengan tubuh Vi.


Sesaat Lana menatap Vi, ragu.


"Jangan khawatir. Aku punya International Driving License" ucap Vi dingin.


Membuat Lana yang memang sudah mengantuk. Menurut saja ketika menyuruhnya duduk di kursi penumpang.


"Tahu jalan pulang tidak?" ketus Lana.


"Tahu" jawab Vi singkat. Mulai menyalakan mesin mobilnya.


Membawa mobil itu melandas dijalanan kota Surabaya. Menuju apartement mereka.


Mereka hanya diam sepanjang perjalanan pulang mereka.


***


Vi tampak menatap Lana yang tertidur pulas diatas ranjangnya. Ada debaran aneh yang Vi rasakan kala bersama Lana. Terlebih setelah pria itu mencium Lana tanpa sengaja.


Awalnya tidak sengaja. Lama-lama ketagihan 馃ぃ馃ぃ ampun deh Vi..


Vi membawa Lana yang tertidur ke unitnya. Dia bisa saja membuka unit Lana. Namun enggan dengan resiko kalau asisten papa Lana tahu. Jika dia bisa masuk ke apartement Lana.


Yeah, Vi juga punya bakat hacker dalam dirinya. Sesuatu yang hanya dirinya sendiri yang tahu. Bahkan sang kakek saja tidak tahu. Karena itulah dia tidak merasa bosan kala menjadi "tahanan" di Sidney.


Karena waktunya ia gunakan untuk melatih kemampuannya dalam meretas data. Juga ngegym. Tak heran juga, Vi punya tubuh atletis dengan abs dan juga otot-otot tubuh yang bisa membuat n模iler kaum hawa saat melihatnya.


Vi mendekat ke arah Lana. Naik ke atas ranjangnya. Mencium lembut bibir Lana yang sesore ini hanya digunakan untuk memaki dirinya. Melum**nya begitu lama. Hingga membuat Lana mulai membalas tanpa sadar. Pagutan itu kian panas dan menuntut. Dengan Vi yang memulai French kiss-nya. Mengajarkan Lana bagaimana caranya saling membelit lidah. Bertukar saliva antara keduanya.


Vi yang mulai kepanasan lantas membuka jaketnya. Menyisakan kaos oblong ketat yang membalut ketat tubuh atletisnya. Kembali mencium bibir Lana dengan gai*** yang mulai membara. Satu tangan Vi mulai bergerak ingin melepas jaket Lana ketika bel apartementnya berbunyi.


Vi langsung menghentikan aksinya. Sedikit berpikir. Siapa yang datang berkunjung. Atau lebih tepatnya siapa yang tahu dirinya tinggal disini. Kecuali Dika.


Berpikir itu Dika. Vi dengan santainya berjalan ke arah pintu. Lantas membukanya. Dua bola mata Vi membola melihat siapa yang datang.


"Selamat malam. Di mana Lana?" tanya pria itu.


Vi jelas gelagapan saat akan menjawab pertanyaan itu.


"Aku benci harus mengakuinya. Tapi Vi cukup tampan. Tubuhnya juga tidak kalah dengan Rafa dan Hyun Ae. Benar-benar, dia seperti bukan anak Bryan" batin Jayden.


Ini adalah kali pertama Jayden bertemu Vi langsung.


Ya, pria yang datang ke apartemen Vi adalah Jayden. Papa Lana.


Vi yang masih dalam mode shock. Tidak langsung menjawab pertanyaan Jayden.


"Excuse me. Kamu dengar pertanyaanku?" Jayden mengulan模i pertanyaannya.


"Lana, ahh..dia ada di kamarku" jawab Vi pada akhirnya.


"Rey..." ucap Jayden.


Tanpa menunggu perintah dua kali. Rey masuk. Langsung menuju ke kamar Vi. Seolah mereka sudah hafal tempat itu. Tak berapa lama. Rey keluar dengan Lana dalam gendongannya. Langsung keluar dari unit Vi. Meninggalkan suasana mencekam antara Jayden dan Vi.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Jayden dingin . Menunjukkan aura dominasinya. Sedikit ingin mengintimidasi Vi.


"Tuan Jayden Lee. Papa dari Alana Aira Lee" jawab Vi tegas.


"Hebat sekali anak ini" batin Jayden.


"Apa kau tahu kesalahan yang sudah kau buat?" tanya Jayden dingin.


Vi menunduk. Tidak berani menatap mata elang Jayden. Karena dia memang bersalah dalam hal ini. Tidak membawa Lana pulang ke unitnya. Malah membawanya ke unitnya sendiri. Bahkan dia dengan berani. Mencium Lana kala gadis itu tertidur.


"Maaf" Vi berucap.


"Kau tahu, seharusnya kau tidak membawanya kemari kan?" lagi Jayden bertanya dengan nada mengintimidasi.


"Saya tahu" jawab Vi.


Jayden menatap Vi tajam.


"Jauhi putriku mulai sekarang" perintah Jayden.


Perkataan Jayden membuat Vi langsung mengangkat wajahnya. Menatap wajah karismatik milik ayah gadis yang kini mulai bertahta di hati Vi.


"Alasannya?" tanya Vi berani.


Sejenak Jayden terdiam.


"Saya minta maaf. Jika saya lancang menyukai putri Anda. Saya juga minta maaf karena saya sudah lancang mencium putri Anda..."


Jayden mengepalkan tangannya. Mendengar Vi berani mengakui kalau dirinya sudah pernah mencium Lana.


"Gentleman juga dia" batin Jayden.


Dari semua pria yang pernah mendekati Lana. Mun模kin Vi-lah yang paling berani. Berani mengakui kalau dia memang menyukai Lana. Berani mengakui kalau dia pernah mencium Lana. Tapi bukan itu masalahnya bagi Jayden.


"Aku tidak ingin punya hubungan dengan keluarga Aditama" jawab Jayden pada akhirnya.


Vi kembali menatap Jayden. Pria itu mengerti dengan maksud ucapan Jayden.


"Apa ada masalah dengan keluarga saya. Hingga saya tidak pantas bersanding dengan Lana?" kembali Vi bertanya tanpa takut.


Vi tidak takut. Hanya penasaran, kenapa seorang Jayden Lee sampai memiliki masalah dengan keluarganya. Padahal setahu dirinya. Keluarganya sudah pindah ke Sidney sejak dirinya lahir.


"Apa Anda tidak menyukai saya karena berani menyentuh putri Anda?" lagi Vi mendesak Jayden.


"Anak ini bena艜-benar punya karakter yang kuat. Benar kata Thomas. Dia lebih pintar dari bapaknya. Dia juga punya sikap yang baik sebetulnya. Tapi tidak, aku tidak mau berhubungan lagi dengan Bryan" batin Jayden.


"Aku memang tidak menyukai kelancanganmu. Kau berani menyentuh putriku. Bahkan ketika aku pun belum memberikan izin" jawab Jayden tajam.


Membuat Vi kembali menundukkan kepalanya.


"Maaf" lagi Vi berucap.


Jayden menghela nafasnya. Dia cukup terkesan dengan sikap Vi sebenarnya.


"Aku tidak mengizinkan kau mendekati putriku. Karena aku tidak menyukai ayahmu" ucap Jayden pada akhirnya.


Membuat Vi menatap wajah Jayden lagi. Vi mengerutkan dahinya.


"Tapi apa masalahnya?" tanya Vi.


Dia pikir selama ini papanya tidak pernah membuat masalah dengan siapapun. Terlepas dari hubungannya yang tidak baik dengan papanya. Vi cukup tahu kiprah sang papa di dunia bisnis. Bisnis papanya juga clear, bersih. Tidak ada tindakan ilegal ataupun melanggar hukum yang pernah papanya lakukan. Lalu apa alasan papa Alana tidak menyukai papanya.


"Ini urusan pribadi kami di masa lalu. Karena itu aku tidak ingin putriku terlibat dengan keluarga Aditama. Jauhi putriku. Jangan coba mendekatinya" ucap Jayden penuh penekanan.


"Tunggu tuan Lee. Apakah ini adil untuk kami?" tanya Vi cepat.


Membuat Jayden berhenti. Dia sudah berbalik untuk keluar dari unit Vi.


"Saya menyukai putri Anda. Saya tidak tahu dengan putri Anda. Tapi jika itu berkaitan dengan masalah pribadi Anda dengan papa saya. Bukankah itu terdengar tidak adil bagi hubungan kami. Bagaimana jika kami benar saling mencintai?" protes Vi.


"Persetan dengan keadilan. Aku tidak menyukai papamu. Aku tidak ingin punya hubungan dengan keluarga kalian. Jadi jauhi putriku mulai sekarang!" Jayden memberikan peringatannya.


Lantas berlalu keluar dari unit Vi. Meninggalkan Vian yang diam mematung. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


..."Rasa cintaku bahkan baru saja tumbuh. Dan sekarang aku harus membunuhnya?...Haruskah aku menyerah?" batin Vi berperang melawan dirinya sendiri....


..."Apa yang harus lakukan?" lagi Vi membatin....


***


He he, Vi bingung disuruh jauhin Lana. Padahal baru juga nyium doang 馃き馃き


Pasalnya papa Jayden ,, masih illfeel sama papa Vi,



Kredit Instagram @ chaeun_lovers


Papa Jayden yang lagi ngambek gegara Lana yang dicium Vi diam-diam 馃ぃ馃ぃ


**