The Story Of "A"

The Story Of "A"
Mencoba Bertahan



Lana jelas melongo ketika malam harinya. Saat makan malam tepatnya. Vi meminta mereka untuk tidur terpisah.


"Maksudnya apa, Vi?" tanya Lana sedikit terkejut.


"Kita tidur terpisah. Aku habis operasi, masih dalam masa pemulihan. Tidak mau dekat-dekat kamu dulu" jawab Vi tegas.


"Apalagi ini?" batin Lana nelangsa.


Penolakan berulangkali yang Lana terima. Membuat wanita itu semakin putus asa. Baru seminggu dia kehilangan kehangatan dan rasa cinta dari suaminya. Tapi rasanya benar-benar membuatnya terluka.


"Sabar ya, Non. Anggap saja den Vi lagi marah sama Non. Nanti kalau marahnya hilang pasti den Vi ingat sama Non" hibur Bi Inem juga Bi Ijah.


"Bi, apa selama ini, Lana kurang baik sama suami Lana. Apa Lana terlalu egois dan cuma mau menang sendiri" tanya Lana dalam isakan tangisnya.


"Kalau menurut Bibi sih nggak ya..cuma Non kayak anak kecil, jadi den Vi lebih banyak ngalahnya. Tapi Bibi lihat den Vi tidak masalah dengan hal itu. Den Vi bucin banget sama Non" jawab Bi Inem jujur yang diangguki oleh Bi Ijah.


"Non dalam berumah tangga, semuanya harus serba saling. Saling mencintai, saling menghargai. Saling menghormati, saling mempercayai dan banyak saling lainnya. Jika sudah begitu, Bibi jamin rumah tangganya bakal awet dan harmonis. Saya nggak bilang rumah tangga Non nggak harmonis ya...cuma kurang "eeehhh" gitu" seloroh Bi Ijah.


"Pokoknya kayak kurang satu setrip gitu" tambah Bi Inem.


Lana tampak manggut-manggut mendengar saran dari dua ART-nya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.


Sementara di dalam kamar, Vi tampak memejamkan mata. Mencoba mencari sesuatu yang bisa dia rasa dalam kamar itu. Pria itu berdiri tepat di hadapan foto pernikahannya dengan Lana, sang istri.


"Jadi dia benar istriku" guman Vi sambil pelan meraba cincin pernikahan di jari kirinya.


Semua memang benar adanya. Pria itu berjalan ke arah ranjangnya. Aroma tubuh Lana dengan cepat merasuk ke indra penciumannya. Aroma itu sedikit membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Sebuah rasa yang terasa tidak asing untuknya. Vi begitu familiar dengan rasa itu.


Pelan dia naik ke ranjangnya. Jika mereka memang suami istri. Dan menurut Riko mereka adalah pasangan ter-uwu yang pernah Riko lihat. Berarti urusan ranjang mereka pastinya sangatlah wow. Tidak tahu harus mengungkapkan dengan kata apa. Tapi Vi jadi membayangkan dirinya yang bercinta dengan Lana di ranjang itu. Pastinya sangat panas.


Ceklek,


Suara pintu yang dibuka. Membuat Vi dengan cepat memejamkan matanya. Entahlah, kenapa juga dia harus memejamkan matanya.


"Lah malah sudah tidur lagi. Obatnya kan belum diminum" guman Lana yang bisa Vi dengar dengan jelas.


Meletakkan obat juga air minum di nakas samping, tempat Vi berbaring.


"Vi minum obatnya dulu. Itu kapsul untuk mengeringkan luka" ucap Lana pelan menggoyangkan tubuh Vi.


No respon. Ini bagaimana caranya agar Vi meminum obatnya ya. Hingga kemudian dia membuka satu kapsul dan mencoba merasakannya menggunakan ujung lidahnya. Tidak pahit. Dia teringat pesan Riko yang mengatakan agar Vi meminum semua obatnya. Agar luka di kepala Vi akibat operasi kala itu cepat mengering dan sembuh.


Lana memasukkan kapsul kecil itu dalam mulutnya. Lantas meminum sedikit air. Pelan dia menyentuh leher Vi agar wajah pria itu sedikit mendongak. Menghindari tersedak. Lana pikir pasti Vi tertidur akibat pengaruh obat tidur yang Riko berikan.


Tubuh Vi seperti tersengat arus listrik ketika tangan Lana menyentuh belakang lehernya. Detik berikutnya, Vi rasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Diiringi sesuatu yang mengalir cepat di tenggorokannya.


"Manis dan lembut" dua kata yang langsung terlintas di benak Vi. Sekelebat bayangan aneh terlintas di kepala Vi. Sentuhan dan ciuman Lana bukan suatu hal baru bagi dirinya. Seolah dia sering mendapatkannya di waktu dulu.


Entah dorongan dari mana. Tangan Vi reflek menahan tengkuk Lana ketika wanita itu berencana mengurai acara minum obat ala Lana itu. Pelan pria itu mulai menggerakkan bibirnya diatas bibir Lana. Mencoba mencari rasa yang mungkin dia pernah rasa dulu.


Merasa mendapat respon dari Vi. Lana hanya diam. Toh Vi memang suaminya. Tidak salah jika mereka berciuman atau bercinta sekalipun itu tidak masalah.


Vi mulai melu*** bibir tipis Lana. Memagutnya dengan sejuta tanya di benaknya. Benarkah wanita ini adalah miliknya. Wanita cantik dan juga seksi yang kini membalas ciumannya tak kalah panas. Suara sesapan dan decapan langsung menggema di kamar luas itu.


Vi seolah hilang kendali. Pria itu terus mencium Lana dengan panas. Hingga api gairah mulai tersulut. Sampai Lana dengan cepat melepaskan ciumannya.


"Kamu tidak boleh bercinta selama masa pemulihan kamu. Itu bisa membuka kembali luka di kepalamu" ucap Lana menatap dalam pada wajah Vi.


"Siapa yang ingin bercinta denganmu. Aku hanya mengujimu. Apa kamu benar istriku. Kalau iya kenapa aku tidak merasa mengenal sentuhanmu. Juga ciumanmu terasa asing bagiku" kembali ucapan Vi bak pisau yang menyayat hati Lana.


Benarkah sang suami sudah lupa dengan semua sentuhannya. Tapi tadi bisa Lana rasakan jika Vi begitu menikmati ciuman mereka. Bahkan Vi membalas ciumannya sama seperti biasanya.


"Pergilah. Aku ingin tidur. Tidurlah di tempat lain aku tidak ingin satu ranjang denganmu" ucap Vi dingin.


Lana kembali menatap Vi tidak percaya. Rasa sakit itu kembali Lana rasa dalam hatiya. Namun setelahnya Lana beranjak menjauh dari Vi. Masuk ke kamar mandi. Setidaknya Vi tidak memintanya tidur di kamar lain. Jadi malam ini, Lana akan tidur di sofabed yang ada di dalam kamar itu.


Dulu Vi yang bersikeras ingin membeli sofabed itu. Dengan alasan sebagai alternatif jika mereka bosan bercinta di ranjang. Mereka bisa melakukannya di sofa bed itu.


Vi sempat membulatkan matanya. Ketika tanpa sengaja melihat Lana, sang istri yang hanya memakai baju tidur tipis saat keluar dari kamar mandi. Sontak saja hal itu membuat tubuh Lana seperti telan...jang. Tapi karena memang seperti itu kebiasan Lana ya Lana cuek saja meakukannya.


Perlahan mulai membaringkan diri. Menatap Vi yang terlelap di ranjangnya. Tanpa sadar air mata mengalir di pipi Lana. Sampai kapan dia mampu bertahan dengan sikap dingin Vi. Sampai kapan dia mampu bertahan dengan rasa sakit yang ia rasa di hati. Saat melihat tatapan dingin dari suaminya.


Lana mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dia akan mencoba bertahan selama yang dia mampu. Dia bertekad untuk selalu berada di samping Vi tidak peduli suaminya itu mengingat dirinya atau tidak.


Mungkin ini adalah balasan untuk dirinya yang selama ini selalu membuat Vi mengalah untuknya.


Semangat Lana. Ucap Lana pada dirinya sendiri. Setidaknya dirinya masih tidur satu kamar dengan Vi, suaminya. Perlahan Lana memejamkan matanya. Sofabed itu cukup nyaman untuk menjadi tempat tidurnya. Meski Lana akui ranjang miliknyalah yang paling nyaman untuknya.


Ditambah dengan pelukan hangat sang suami. Ahh Lana jadi merindukan itu semua. Sadar betapa selama ini dia telah menyia-nyiakan sesuatu yang begitu berharga.


"Selamat malam suamiku. Selamat tidur. Aku mencintaimu..juga merindukanmu" bisik Lana berkaca-kaca.


Karena seperti itulah ritual Lana setiap malam. Sebelum masuk ke alam mimpi.


"Aku mencintaimu Vi. Tidak peduli bagaimanapun sikapmu padaku. Aku akan mencoba bertahan" batin Lana dengan setetes air mata yang mengalir di sudut matanya.


**