The Story Of "A"

The Story Of "A"
Semakin Rumit



Semenjak Lana tahu dirinya hamil, dia jadi lebih berhati-hati. Tidak melakukan hal-hal yang kira-kira akan membahayakan janinnya. Beruntungnya, dia tidak mengalami morning sick seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. Atau seperti Kanaya yang harus bed rest karena morning sick yang parah.


Lana cukup senang, calon anaknya bisa diajak bekerjasama untuk bersembunyi dari sang Papa. Dan selama itu pula. Hubungan keduanya masih belum ada perbaikan. Lana selalu memenuhi kebutuhan Vi. Dari pergi bekerja sampai pria itu memejamkan mata di malam hari. Dan masih sama. Lana diharuskan tidur terpisah dengan Vi. Di sofabed.


(Duh jadi pengen nimpuk si babang Vi nih 😤😤😤😤)


Pria itu juga masih bersikap dingin pada Lana. Jarang sekali bicara jika Lana tidak memulainya lebih dulu. Kadang Lana merasa putus asa dengan keadaan itu semua. Namun dia juga menolak jika harus melepaskan sang suami.


Hingga dititik terendahnya. Hanya dukungan keluarga dan juga teman-temannya yang bisa menguatkan Lana. Di tengah kesedihan yang mendera. Terlebih Kanaya, Marina dan sang Mama. Tiga orang selalu ada jika Lana membutuhkan bahu untuk menangis, juga tempat untuk curhat.


"Baik-baik saja" tanya Kanaya yang siang itu mengajak mengajak Lana makan siang.


"Yah beginilah" jawab Lana ambigu.


"Masih punya stock sabar kan untuk menghadapi si kutub utara" canda Kanaya. Yang terlihat kesusahan duduk karena kehamilannya yang sudah masuk delapan bulan.


"Yah berusaha mencarilah kalau stocknya habis"


"Kok nggak yakin gitu jawabnya"


"Yakin bertahan. Tapi entahlah jalannya kok makin sulit ya" keluh Lana.


"Sabar Bu"


"I'm trying" jawab Lana.


Kanaya menepuk pelan bahu Lana. Sedetik kemudian tangis Lana pecah.


"Aku rindu padanya Aya. Aku rindu manjanya dia. Aku rindu senyumnya" ucap Lana di sela-sela isak tangisnya.


"Bertahanlah. Aku mohon. Tidak ada yang sia-sia. Percayalah"


"Tapi bagaimana jika dia terus mengabaikanku. Aku tidak mungkin bertahan lama jika dia terus seperti itu" ucap Lana lagi.


Tanpa Lana tahu, Vi melihat Lana yang tengah menangis di pelukan Kanaya. Sesaat ada rasa sakit yang menyerang hati Vi. Melihat Lana yang menangis pilu.


Pasalnya sejak Vi membentak Lana waktu itu. Lana tidak pernah lagi terlihat menangis. Tanpa Vi tahu Lana diam-diam menangis di belakang Vi.


"Ada apa?" tanya Dika.


"Tidak ada" jawab Vi singkat berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Dika yang mengikuti arah pandangan Vi. Dan mendapati Lana yang tengah menangis.


"Apa kamu akan terus menyembunyikannya?" batin Dika.


**


"Vi..apa yang akan kau lakukan seandainya Lana hamil?" tanya Dika tiba-tiba.


"Apa maksud Om" tanya Dika balik sambil menegakkan duduknya.


"Misalnya Lana hamil. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dika lagi.


"Nggak mungkin. Mana mungkin Lana hamil. Kami kan tidak pernah bercinta. Bagaimana mungkin dia bisa hamil?" sangkal Vi.


"Kalian kan tidak bercinta baru sebulan ini. Sebelumnya kalian pasti rajin melakukannya"


"Darimana Om tahu. Siapa tahu pernikahan kami memang sudah bermasalah dari dulu. Karena itu aku sulit mengingat apapun soal dirinya. Atau mungkin dia menjebakku agar kami bisa menikah"


Bughhh


Vi meringis ketika sebuah buku mendarat di kepala Vi.


"Kau jangan sembarangan kalau ngomong. Biar Om cerita. Bukan Lana yang nguber kamu. Tapi kamu yang ngejar dia tanpa henti. Kamu yang bucin setengah mati pada Lana, istrimu"


Vi melongo melihat Dika yang emosi gara-gara Lana.


"Perasaan Om belain Lana banget. Om ada rasa ya sama Lana"


"Kau ini gila atau apa? Bisa-bisanya bicara kalau Om ada rasa sama Lana"


"Habisnya Om gitu banget sih. Bikin orang curiga saja"


"Kau saja yang curiga. Orang lain tidak" ucap Dika berlalu dari hadapan Vi. Kesal bukan main.


Sesaat Vi terdiam. Begitu baikkah Lana itu. Kenapa semua orang membelanya dan menekan dirinya. Vi bertanya pada dirinya sendiri.


"Arrggghh sebenarnya bagaimana sih hubungan kami sebelum ini. Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat soal Lana sama sekali" ucap Vi kesal.


***


"Dia siapa Vi?" tanya Dika dua hari berikutnya. Melihat seorang wanita yang berpenampilan cukup seksi berdiri di sebelah meja kerja Vi.


"Sekretaris baruku" jawab Vi singkat. Membuat Dika langsung menghentikan langkah Vi. Meminta penjelasan.


"Apa maksudmu sekretaris baru?" tanya Dika sambil memicingkan matanya.


"Om kan tahu pekerjaan kita tambah banyak. Ditambah setelah Papa mengalihkan semua asetnya padaku. Jadi aku berpikir untuk mencari sekretaris baru untuk membantu pekerjaan kita. Om dan Fajar sudah sibuk menjadi wakilku di sana sini. Jika semua meeting bersamaan" jelas Vi.


Memang benar sih apa yang dikatakan Vi. Tapi Dika menjadi sedikit ragu melihat sosok sekretaris baru Vi kali ini.


"Siapa yang pilih?"


"Bagian HRD. Dan sepertinya aku cocok dengan dia" jawab Vi ambigu.


"Apa HRD tidak salah pilih. Sekretaris itu terlalu seksi. Apa kau sudah bicara pada Lana soal hal ini?"


"Ini urusan kantorku. Tidak ada hubungannya dengan Lana"


"Tentu saja ada. Dia istrimu"


"Istri yang aku sendiri bahkan lupa siapa dirinya. Dia bahkan tidak mau melayaniku. Jadi tidak salah dong kalau aku mencari yang lain"


"Dia tidak melayanimu di ranjang karena menghargai sikap kutubmu itu. Sekarang aku tanya apa kau tidak marah jika Lana mendekatimu? Kau marah kan tiap kali dia baik padamu? Dia bersikap baik saja kau membentaknya"


Vi terdiam. Yang dikatakan Dika benar. Tiap kali Lana mendekatinya, dia pasti marah. Tidak tahu sebabnya.


"Terserah apa kata Om. Aku ada meeting di luar. Ayo Stella kau sudah bawa berkasnya kan?" tanya Vi pada sekretaris barunya.


"Sudah, Pak" jawab Stella.


Vi berlalu meninggalkan Dika diikuti Stella yang melewatinya dengan tatapan angkuh.


"Oohh ada ular betina di sini rupanya. Jangan berpikir bisa menyentuh keponakanku tanpa melewatiku" guman Dika lantas meraih ponselnya.


"John, aku ada tugas untukmu. Selidiki seorang wanita untukku. Akan kukirimkan fotonya padamu" perintah Dika langsung mematikan ponselnya.


***


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Tania.


Hari ini Tania memutuskan untuk pergi ke rumah sang Mama. Sekedar mencari hiburan. Juga untuk melihat keadaan sang Mama dan Papa.


"Hanya sedikit lelah, Ma"


"Istirahat kalau begitu. Tidur dulu. Kamu terlihat pucat. Apa kamu sakit?"


Lana menggeleng. Lantas memeluk sang Mama erat.


"Ada apa?" tanya Tania.


Lana menggeleng pelan.


"Semoga kamu bisa bersabar menghadapi Vi" batin Tania.


Tanpa sepengetuhuan Lana. Jayden dan yang lainnya terus mengawasi Vi dari jauh. Diam bukannya mereka tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan kabar Vi yang merekrut sekretaris baru pun sudah sampai ke telinga Jayden. Jayden tahu otomatis Tania tahu.


Hal itu cukup memancing kemarahan Jayden.


"Jika dia normal sudah aku kerjai dia" ucap Jayden. Menerima laporan dari Dika soal Stella, sekretaris baru Vi.


"Haisshh kenapa semuanya jadi semakin rumit saja" gerutu Jayden.


Dia pikir Vi hilang ingatan, sudah. Tapi nyatanya semuanya bertambah runyam semakin ke sini. Memaksa semua orang ikut waspada.


***