
Vi menatap hampa pada pemandangan malam yang ada dihadapannya. Pembicaraannya dengan Jayden beberapa waktu lalu benar-benar menghancurkan moodnya juga perasaannya.
Kredit Instagram @xukai_fans_12
"Apa maksudmu ingin menikahi Lana?" tanya Jayden.
"Saya mencintaimnya Om"
"Lalu Lana?"
"Dia setuju ketika saya berkata untuk melamarnya pada Om"
Hening,
Jayden perlahan menyentuh pelipisnya.
"Apa Lana mencintaimu?"
"Saya rasa iya"
"Alasannya?"
"Dia tidak menolak ketika saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Yaitu menikah"
Lagi Jayden hanya terdiam.
"Last question, apa papamu tahu dengan tindakanmu ini?" tanya Jayden.
Vi terdiam. Dia memang belum memberitahu papa dan mamanya. Kalau dia ingin menikah. Vi bermaksud memberitahu kedua orang tuanya jika dia sudah memiliki calon istri.
Jayden menarik nafasnya.
"Jujur Om menyukaimu Vi. Kamu apa adanya. Kamu tidak neko-neko. Berani..tapi untuk membiarkanmu bersama Lana. Om tidak bisa" jawab Jayden sendu.
Dia sendiri berat untuk memutuskan hal ini. Tapi Jayden tidak membiarkan Lana terluka. Jayden takut kalau Bryan akan menyakiti Lana.
"Alasannya? Kalau boleh saya tahu" tanya Vi.
Meski hatinya kecewa mendengar keputusan Jayden. Tapi Vi cukup berbesar hati. Dia yang terbiasa dikecewakan sejak kecil membuat hal itu bukan hal baru lagi.
Vi pikir berapa banyak lagi kekecewaan yang harus dia telan. Kecewa, sakit hati dan diabaikan adalah sahabatnya sejak dulu.
"Vi, ada kejadian di masa lalu yang membuat Om takut untuk membiarkan Lana bersamamu" ucap Jayden.
"Apa Om takut kalau saya akan menyakiti Lana? Saya berani jamin kalau saya tidak akan menyakiti Lana. Saya mencintai Lana melebihi cinta saya pada diri saya sendiri"
"Bukan kamu tapi orang lain" ucap Jayden.
"Siapa? Saya bisa menjamin keselamatan Lana selama bersama saya. Saya akan melindungi Lana. Saya berjanji" ucap Vi yakin.
"Tidak Vi, Om tidak mau mengambil resiko.Jawaban Om tetap sama. Maaf..Vi" ucap Jayden.
Membuat Vi harus menelan kembali rasa kecewa.
***
"Apa yang Mas lakukan? Menolak Vi?" tanya Tania.
"Pilihan apalagi yang aku punya. Aku tidak akan membiarkan Lana terluka"
"Tapi hal ini saja sudah melukai hati Lana"
"Lebih baik Lana terluka sekarang daripada nanti" tegas Jayden.
"Tapi Mas, bukankah Mas sendiri yang bilang kalau Vi berbeda dengan Bryan"
"Tapi dia tetap putra Bryan. Orang yang membuatmu terluka di masa lalu. Orang yang menyakitimu di masa lalu"
Tania tersenyum.
"Bukankah Mas sendiri yang bilang, kalau kesalahan yang dibuat orang tua kita tidak seharusnya ditanggung oleh si anak akibatnya" ucap Tania.
Jayden terkesiap.
"Aku dulu jelas putri pembunuh. Tapi Mas, dengan lantang mengatakan tidak memperdulikannya. Karena menurut Mas seperti itu. Lalu apa bedanya dengan Vi? Vi memang putra Bryan dan Vera. Tapi apa iya kesalahan Bryan adalah kesalahan Vi? Tidakkan?"
Jayden kembali terdiam. Apa yang dikatakan Tania ada benarnya juga. Tapi tetap saja dia rela jika Lana terluka.
"Tapi aku tetap tidak akan membiarkan Lana bersama. Aku takut dia terluka"
"Apa Vi akan membiarkan Lana terluka? Bagaimana jika Lana benar-benar mencintai Vi? Mas sendiri yang paling tahu jawabannya" ucap Tania.
"Jangan malah Mas yang menyakiti Lana, karena salah mengambil keputusan" tambah Tania.
Menepuk pelan lengan sang suami. Lantas berlalu keluar dari kamar mereka.Berjalan menuju kamar Lana.
"Sedang apa, Kak?" tanya Tania begitu masuk ke dalam kamar sang putri.
"Bertanya pada bintang, kira-kira alasan apa yang membuat Papa tidak menyetujui hubungan kami" jawab Lana sendu.
Seperti biasa. Lana berbaring di bawah hamparan langit malam tiruan di kamarnya.
"Papamu hanya belum rela kamu dimiliki oleh pria lain. Semua papa akan melakukan hal yang sama seperti yang papamu lakukan padamu. Dia sangat menyayangi kamu. Hingga tidak rela kamu bersama pria lain" hibur Tania.
"Tapi Ma..Lana benar-benar menginginkan Vi. Dari semua cowok yang deketin Lana. Cuma Vi doang yang tahan dengan godaan Lana"
"Kamu jangan sesekali memancing atau menggoda pria. Kalian lepas kendali. Bahaya" Tania memperingatkan.
"Tapi Ma..." rengek Lana.
"Sssttt Papamu itu cuma shock karena Vi tiba-tiba melamarmu"
"Benarkah?" tanya Lana.
"Iya. Kamu tenang saja. Nanti setelah shock papamu hilang. Dia akan bisa berpikir jernih lagi. Percaya deh sama Mama" lagi Tania berusaha menenangkan Lana.
"Apa Kakak mencintai Vi?" tanya Tania.
"Lana rasa iya Ma" jawab Lana masih menatap langit-langit kamarnya.
"Sudah menghubungi Vi? Dia perlu dukungan kamu saat ini" ucap Tania.
Lana terkesiap. Dia belum menghubungi Vi. Belum bertanya bagaimana perasaan Vi. Tadi dia hanya melihat wajah sedih Vi. Ketika pria itu keluar dari ruang kerja Jayden. Jangan ditanya kenapa? Soalnya jawabanny sudah tergambar jelas di wajah Vi.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Pesan Lana yang ia kirim ke Vi. Lama Lana menunggu jawaban dari Vi. Tidak juga dibalas. Membuat Lana menghela nafasnya.
"Dia pasti kecewa sekali dengan keputusan Papa" guman Lana.
"Jangan khawatir Vi. Nanti kita bicara lagi dengan Papa. Siapa tahu Papa berubah pikiran soal hubungan kita"
Lagi, sebuah pesan Lana kirim ke Vi. Berharap pria itu baik-baik saja. Dan tidak berbuat yang aneh-aneh.
Sementara Vi hanya membaca pesan yang Lana yang kirim. Pria itu menarik nafasnya pelan.
"*Apa yang akan kamu lakukan ketika tahu Papamu tidak menyetujui hubungan kita. Mundur atau berjuang bersamaku untuk mempertahankan hubungan ini" batin V**i.
"Bukan kamu yang menyakiti Lana tapi orang lain*"
Kembali ucapan Jayden terlintas di pikiran Vi.
"Orang lain? Apa Om Jayden takut kalau papa akan menyakiti Lana? Tapi kenapa?"
Ada banyak hal yang Vi pikirkan. Semua menjadi begitu rumit. Tidak tahu apa sebabnya.
***
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tania.
Wanita itu sengaja mengunjungi Vi pada keesokan harinya. Bukannya menjawab, Vi malah meletakkan kepalanya di pangkuan Tania. Membuat Tania reflek membelai surai rambut hitam Vi. Rambut Vera.
"Aku tidak baik-baik saja Ma" jawab Vi sendu.
"Sabar, Om-mu hanya belum rela Lana jadi milik pria lain" hibur Tania.
"Mama jangan menghiburku" ucap Vi manyun.
"Mama tidak menghiburmu. Lihat saja nanti jika kamu punya anak perempuan. Posesifnya melebihi kamu ke Lana" lagi Tania berucap.
Vi terdiam.
"Vi dengarkan Mama. Bersabarlah sebentar saja"
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu. Antara keluargaku dan keluarga Lee"
Vi benar-benar ingin tahu soal hal itu.
"Bukan hal yang penting" jawab Tania singkat.
"Jangan bohong, Ma" ucap Vi tajam.
Pria itu kini sudah duduk menghadap sang Mama. Mata keduanya bersirobok. Tania pada akhirnya menarik nafasnya dalam.
"Vi, memang terjadi kesalah pahaman antara kami di masa lalu. Tapi percayalah, buat Mama itu tidak menjadi masalah.Tapi Om-mu dia boleh dibilang masih sedikit "marah" dengan mama papamu" jelas Tania.
"Memangnya, apa sih yang terjadi?" desak Vi.
Tania bingung bagaimana menjelaskannya. Vi jelas tipe yang akan mengejar sampai dapat penjelasan.
"Itu...."
"Vi..ini aku!" pekik Lana dari luar pintu apartement Vi.
Keduanya saling pandang.
"Bukalah" pinta Tania.
Begitu pintu dibuka. Lana langsung menghambur memeluk Vi. Membuat pria itu hampir terjengkang.
"Astaga Lana!" pekik Tania.
"He... he ...Mama" cengir Lana.
"Jadi begini kelakuanmu kalau berdua dengan Vi.Main tubruk aja" oceh Lana.
"Isshh Mama, bahasa apa itu, main tubruk aja"
"Ya gitu itu" ucap Tania.
"Kenapa Mama kemari tidak bilang Lana" tanya sang putri.
"Kamu masih molor" jawab Tania enteng.
"Ma..." rengek Lana.
"La terus apa namanya?" ledek Tania.
"Botik, bobok cantik" jawab Lana manis.
"Nggak botak sekalian" ledek Tania.
"Issshh Mama!"
Sedang Vi hanya menatap kedua perempuan dengan tatapan penuh cinta. Sedikit terhibur dengan pertengkaran manis antara mama dan anak itu.
"Aku ingin menjadi bagian dari pertengkaran manis ini setiap hari" batin Vi dengan mata berkaca-kaca.
Hati Vi menghangat. Rasa kecewanya sedikit berkurang. Dia sedikit terhibur melihat Lana dan Tania yang terus saja berdebat. Tanpa mempedulikan Vi yang menyaksikan hal itu dengan perasaan bahagia.
***