The Story Of "A"

The Story Of "A"
Konflik



Braakkkkk,


Suara pintu kamar Lana yang dibuka dan ditutup kasar secara bersamaan. Membuat Tania yang sedang berada di dapur langsung berlari naik ke lantai dua.


"Ada apa Vi?" tanya Tania.


"Aahh itu Ma. Ada salah paham diantara kami" jawab Vi cepat.


"Sudah dibicarakan?" tanya Tania.


"Vi sudah berusaha menjelaskan. Tapi Lana tidak mau dengar" jawab Vi sendu.


"Ya sudah. Ayo duduk dulu. Biarkan Lana berpikir. Beri dia waktu" ucap Tania menenangkan.


"Tapi Ma...takutnya Vi, kalau kelamaan dibiarkan nanti malah tambah runyam masalahnya" Vi berusaha menjelaskan.


"Tidak Vi. Kamu tahu Lana kan. Kalau dia lagi emosi itu seperti apa" bujuk Tania.


Vi terdiam. Apa yang dikatakan Tania benar. Lana kalau sedang emosi tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun. Semua seperti mental di telinga Lana. Pada akhirnya, Vi berlalu dari depan kamar Lana. Memilih tidur di kamar tamu. Di lantai satu.


Sementara didalam kamar Lana. Wanita itu terus saja memaki sang suami.


"Dasar brengsek! Berani-beraninya melakukan itu di belakangku!" ucapnya penuh amarah. Sambil meremas ponselnya.


"Vi brengsek!!" teriak Lana di kamarnya sendiri. Setelahnya dia jatuh terduduk dengan derai air mata mengalir dipipinya.


"Hikss..hiksss..kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku Vi? Apa aku masih kurang cantik? Kurang seksi? Kurang hot diranjang?" gumannya dengan sederet tanya yang keluar dari bibirnya yang bergetar menahan sesak di hati.


Tangisnya terdengar pilu. Lana sendiri tidak tahu kenapa dirinya akhir-akhir ini begitu emosian. Boleh dibilang selama hampir enam bulan menikah. Tidak ada pertengkaran yang berarti dalam rumah tangga mereka.


Ribut atau debat sering mewarnai hari-hari mereka tapi pertengkaran yang serius hampir tidak pernah terjadi. Hingga hari ini satu kejadian mematahkan semuanya. Lana bertengkar hebat dengan Vi di kantor sang suami. Setelah keduanya bertemu secara tidak sengaja di sebuah restoran.


"Aku benci kamu, Vi" satu kalimat terucap dari bibir Lana saking frustrasinya ia.


Sementara itu, Jayden yang pulang dari kantornya. Langsung meminta Vi untuk bertemu dirinya di ruang kerja. Tania jelas bingung karena dia sama sekali tidak memberitahu jika Vi ada di rumah mereka.


"Apa ada masalah serius?" tanya Tania cemas.


"Cukup serius jika dibiarkan terlalu lama" jawab Jayden membuat Tania semakin penasaran.


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Tania.


"Aku akan bicara dulu dengan Vi. Akan aku pastikan dulu semuanya. Baru kita bicara, oke? Panggilkan Vi ke ruang kerjaku" ucap Jayden sambil mencium hangat kening sang istri.


Seolah memberitahu kalau semua akan baik-baik saja. Tak berapa lama, Vi sudah berada di hadapan Jayden.


"Bisa jelaskan semuanya? Sebelum aku benar-benar menghajarmu!" ancam Jayden.


"Pa...aku dijebak" ucap Vi singkat.


"Papa tahu. Masalahnya apa kamu sudah menyentuhnya? Lalu bagaimana bisa kamu tidak aware dengan keadaan sekelilingmu" tanya Jayden.


Vi menunduk. Dia tahu dia salah.


"Vi jawab aku!" desak Jayden.


"Aku tidak bisa memastikan aku sudah menyentuhnya atau belum. Aku tidak ingat Pa" jawab Vi penuh sesal.


Seharusnya dia tidak datang ke pesta sialan itu. Maki Vi dalam hati. Jayden menarik nafasnya dalam. Cukup prihatin dengan masalah yang menimpa rumah tangga putrinya.


Jayden tahu, Vi tidak akan melakukan hal-hal yang akan merusak rumah tangganya. Kecuali dijebak. Dan itu semua diluar kendali Vi.


"Sudah meretas CCTV-nya" tanya Jayden.


"Sudah Pa. Tapi bagian "itu" hilang" jawab Vi sendu.


Sungguh dia sangat menyesal dengan kejadian hal itu.


"Tidak bisa mencarinya?" tanya Jayden. Dan Vi mengangguk. Otaknya sudah tidak bisa diajak berpikir. Kepalanya hanya diisi oleh rasa bersalah dan kemarahan Lana. Juga rasa takut kehilangan sang istri.


"Masalahnya Vi. Mereka menuntutmu bertanggungjawab. Atau mereka akan membatalkan semua kerjasama mereka dengan kita" ucap Jayden kemudian.


"Vi tidak peduli dengan kerjasamanya. Terserah mau batal ya batal. Bayar ganti rugi ya bayar" jawab Vi putus asa.


"Oke, kamu tidak masalah dengan kerjasama dengan pinalti dan sebagainya. Yang jadi masalah, jika kamu tidak bisa membuktikan kalau dirimu tidak bersalah. Lana akan meninggalkanmu. Papa jamin itu" ucap Jayden yang langsung membuat Vi mengangkat kepalanya.


"Kehilangan Lana? Tidak! Aku tidak bisa hidup tanpa Lana!" batin Vi nelangsa.


"Pa, aku tidak mau kehilangan Lana. Aku tidak bisa hidup tanpa dia" rengek Vi.


"Haishh kenapa kamu jadi cengeng begini?" bentak Jayden.


Sungguh Vi tidak punya kekuatan apa-apa jika sudah diancam menggunakan Lana.


"Aduhhh kenapa juga kamu jadi melow begini. Tenang dulu. Jangan panik" saran Jayden.


"Pa..gimana Vi bisa tenang jika tadi saja Lana sudah minta cerai pada Vi" jawab Vi sedih.


"Karena itu kau down duluan?" tanya Jayden.


Dan Vi mengangguk. Rasa takut kehilangan begitu besar merasuk di hati Vi. Dia takut kebahagiaan yang kini dia dapat akan hilang. Membuatnya kembali ke masa-masa paling suram dalam hidupnya. Itulah ketakutan terbesar Vi.


"Kau kan tidak mau"


"Sampai kapanpun, Vi tidak mau berpisah dari Lana. Sampai kapanpun" tegas Vi.


"Kalau begitu berusahalah untuk membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Buktikan kalau kamu benar-benar dijebak" saran Jayden seolah memotivasi Vi untuk bangkit dan berjuang.


"Tapi Vi tetap tidak bisa menemukan bagian yang hilang itu" keluh Vi.


"Kalau begitu carilah bantuan" saran Jayden.


"Siapa?" Vi bertanya pada Jayden namun tatapan mata Jayden seolah memberi jawaban.


Senyum perlahan terbit di bibir Vi. Seiring harapan yang juga terbit dihatinya. Dengan cepat dia meraih ponselnya. Menghubungi seseorang yang dia yakin. Bisa dan mau membantunya.


"Ya...ada apa Vi mengganggu saja" seloroh suara diujung sana.


"Iisshh masih sore juga" celetuk Vi.


Terdengar kekehan diujung sana. Vi tahu, orang itu hanya menggodanya.


"Pause dulu apapun yang kau kerjakan sekarang. Sekarang tolonglah aku dulu" pinta Vi.


Lagi terdengar kekehan diujung sana.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu" tantang suara itu.


"Selamatkan rumah tanggaku kali ini" ucap Vi berubah serius.


Bersamaan dengan suara diujung sana yang juga serius mendengarkan penjelasan Vi.


"Baik aku tolong. Tapi ini tidak gratis dan tidak murah" seloroh suara itu lagi.


"Akan kubayar berapapun asal Lana tidak meninggalkanku. Seperti Liu Corp kehabisan uang saja" celoteh Vi.


Lagi hanya kekehan yang terdengar di ponsel Vi.


"Beri aku 30 menit. Akan kucarikan potongan videonya" ucap pria itu yang tak lain adalah Rafa.


"Aku tunggu" jawab Vi lantas menutup panggilan teleponnya.


Bersamaan dengan suara ribut yang terdengar di luar ruang kerja Jayden. Membuat keduanya langsung berlari keluar.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Tania. Mencoba mencekal pergerakan sang putri yang ingin keluar rumah.


Tania jelas tahu konsekuensinya jika Lana sampai keluar dari rumah itu. Masalah mereka akan bertambah rumit. Juga keadaan diluar sana bisa sangat berbahaya bagi Lana.


"Kemana saja. Asal tidak bertemu dia" jawab Lana ketus.


"Lana, bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Jangan emosi. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan membuat masalah bertambah rumit" nasihat Tania.


"Ma...bagaimana bisa Lana menyelesaikan masalah jika dia sudah mengakui semuanya. Semua sudah selesai, Ma" jawab Lana.


"Siapa bilang sudah selesai?" satu suara bertanya di belakang Lana.


Lana dengan cepat berbalik. Menatap penuh amarah pada pemilik suara itu.


***



Kredit Instagram @sosoalive_07



Kredit Instagram @ chengxiao_paraguay


Duo "A" yang lagi berantem...


Maaf ya readers telat up-nya 🙏🙏🙏


***