The Story Of "A"

The Story Of "A"
Kita Akan Menikah Besok



Vi mengetuk pintu kamar Lana. Hingga beberapa waktu, tidak juga dibukakan.


"Lana...Lana... ini aku Vi" panggil Vi


Tidak ada jawaban.


Hingga tiga kali, Vi memanggil Lana. Sama sekali tidak ada jawaban. Hingga Vi menekan password di monitor kamar Lana.


Perlahan pria itu masuk ke kamar Lana. Sejenak Vi terpana dengan dekorasi kamar Lana. Meski Vi sudah sering melihat kamar Lana dari CCTV kamar yang Vi retas. Tapi rasanya tetap berbeda. Ketika Vi secara langsung berada di sana.


Aroma parfum Lana langsung menyeruak masuk ke indera penciuman Vi. Membuat pria itu sejenak memejamkan mata. Meresapi aroma Lana yang benar-benar Vi rindukan.


"Lana...Lana...." panggil Vi.


Berjalan semakin masuk ke kamar Lana yang luas. Hingga kemudian Vi teringat. Satu tempat yang sangat Lana suka.


Dan benar saja. Dilihatnya gadis itu berbaring di kasur favoritnya. Dibawah kerlip bintang fantasi di langit-langit kamar Lana.


"Lana..." panggil Vi.


Gadis itu hanya diam. Vi menghela nafasnya. Tentu saja Lana tidak mendengar panggilan Vi karena telinga Lana tertutup air pods.


Perlahan Vi ikut naik ke kasur mini itu. Pergerakan kasur membuat Lana membuka matanya. Lana jelas terkejut melihat Vi sudah berbaring di sampinnya.


"Ngapain kamu ke sini?" salak Lana.


"Eh sudah melek. Ketemu kamulah. Mau ngapain lagi" jawab Vi kalem.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?" lagi Lana bertanya.


"Masuk lewat pintulah" lagi Vi menjawab kalem.


"Vi....!" pekik Lana.


Dia masih cukup kesal. Dan sekarang ditambah kehadiran Vi. Jelas-jelas pria itu hanya akan menambah kekesalan hatinya.


"Ssssttt sudah dong marahnya. Tidak capek apa marah mulu" bujuk Vi.


"Nggak aku marah" kilah Lana.


"Lalu?" desak Vi.


"Kesal tahu" ucap Lana lantas membanting tubuhnya disamping Vi.


Membuat Vi tersenyum.


"Boleh tahu kamu marah karena apa?" tanya Vi.


Lana mendengus geram.


"Kamu tahu, tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan" ucap Vi menatap langit-langit kamar Lana.


Lana sontak menoleh ke arah Vi.


"Tapi aku sangat menginginkannya. Aku menunggu lama untuk hari ini" ucap Lana setelah beberapa waktu berlalu.


Vi tersenyum.


"Aku juga sama. Aku dulu sangat menginginkan papa dan mamaku bisa memprioritaskan aku dalam kehidupan mereka. Tapi ...aku tidak pernah mendapatkannya. Mereka mengabaikanku. Menomorsatukan karier mereka" ucap Vi sendu.


Lana terdiam menatap Vi. Baru kali ini pria itu bicara soal dirinya.


"Karena itu kau kabur dari Sidney?" tanya Lana.


"Salah satunya. Tapi yang jelas aku menginginkan kebebasan. Papaku secara tidak langsung menjadikanku tahanan kota" tambah Vi getir.


Ada nada kecewa dalam tiap ucapan Vi.


Lana kembali menatap wajah tampan yang biasanya terlihat dingin itu. Namun sekarang hanya rasa sedih yang terukir di wajah Vi.


"Jadi bersyukurlah dengan apa yang kamu punya. Aku rela menukar semua yang kumiliki untuk mendapatkan apa yang kau dan yang lainnya punya. Sebuah keluarga yang hangat dan penuh perhatian padamu" ucap Vi menatap dalam wajah Lana.


"Tapi ...itu.." ucap Lana.


"Kau akan mendapatkan hal yang lebih berharga dari Heart of the Ocean. Percayalah" ucap Vi percaya diri.


"Ha?? Kamu tahu soal berlian itu" tanya Lana tidak percaya.


Vi sejenak hendak tertawa.


"Lana...Lana apa yang tidak aku tahu soal dirimu. Kabur ke Shanghai tidak pamit. Rasakan kau kalah lelang" ledek Vi.


"Kau... "


"Apa? Memang yang aku katakan salah?" cibir Vi.


Lana merengut. Kembali menjatuhkan dirinya di ranjang bulatnya.


"Aku sangat menginginkan berlian itu" ucap Lana sendu.


"Apa hebatnya sih benda kecil itu. Selain harganya yang bikin kantong bolong" ucap Vi.


"Hei...kau tidak tahu apa-apa soal berlian" ledek Lana.


"Isshh makanya diam saja kalau tidak tahu. Itu seperti investasi untuk kalanganmu" jelas Lana.


"Tapi aku rasa itu lebih ke gengsi atau pamer saja" lanjut Vi.


"Vi..."


"Apalagi?" tanya Vi menoleh ke arah wajah Lana.


Sejenak pandangan mereka terkunci satu sama lain. Detik berikutnya Vi meraih tengkuk Lana lantas mencium lembut bibir gadis itu.


"Vi..." Lana mendorong tubuh Vi menjauh.


"Aku merindukanmu" bisik Vi.


Lana memutar matanya jengah. Dalam beberapa hari ini. Dia benar-benar dibuat jengah dengan tingkah para pria di sekitarnya.


Pertama, Alex yang main cium dirinya hanya karena dia merasa diacuhkan oleh Lana. Meski pada akhirnya Alex meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Kecuali dia lepas kendali. Yang membuat Rafa harus memberi ancaman pada Alex agar tidak sembarangan mencium Lana.


Belum dengan kejadian Kenzo, yang dalam pengaruh afro terlihat begitu ingin menerkam dirinya. Membuat Lana bergidik ngeri kala bertemu Kenzo di lain hari. Ketika pria berwajah imut sudah merasa lebih baik. Kenzo juga meminta maaf pada Lana. Karena Kenzo sadar, dia sempat kepikiran untuk menerkam Lana kala itu.


Dan sekarang Vi. Pria balok es yang sudah mencuri ciuman pertama Lana. Dan selalu menciumnya ketika ada kesempatan. Main cium tidak tahu tempat dan waktu.


"Kenapa kalian para pria suka sekali main cium begitu saja" ketus Lana.


"Ha? Siapa? Aku hanya pernah dan akan mencium dirimu seorang. Atau kau? Siapa yang berani menciummu?" tanya Vi mulai emosi.


Membayangkan Lana dicium pria lain. Membuat Vi tidak rela. Lana hanyalah miliknya.


"Tidak ada!" kilah Lana berusaha menghindar.


"Jangan bohong Lana. Kau tidap pernah bisa bohong dihadapanku" desak Vi.


Membuat Lana kelabakan.


"Lah kenapa aku jadi merasa bersalah. Bukankah belum ada status hubungan aku dan Vi" batin Lana.


"Kenapa kau marah? Bukankah kita tidak ada hubungan" jawab Lana santai.


Vi memang suka sekali mencium dirinya. Ungkapan cinta dan rindu sering terlontar dari bibir Vi. Tapi pria itu tidak mengajaknya pacaran atau sekedar memperjelas status hubungan mereka.


Sedang Lana sendiri. Dia tidak tahu pasti apa yang dia rasakan pada pria balok es di masa lalu itu. Namun tiap kali Vi menciumnya. Lana sama sekali tidak pernah bisa menolaknya. Menikmatinya jelas.


"Apa maksudmu kita tidak punya hubungan?" tanya Vi, sekarang pria itu sudah mendudukkan dirinya. Menatap tajam pada Lana.


"Kita kan tidak pacaran. Kekasih juga bukan" jawab Lana enteng.


Membuat Vi geram. Pria itu turun dari ranjang bulat Lana dengan cepat. Menarik tangan Lana. Setengah menyeret tubuh Lana menuju pintu.


"Hei ...lepaskan aku Vi...kau mau membawaku ke mana?" tanya Lana setengah meronta.


Namun Vi tidak menggubrisnya. Terus menyeret tubuh Lana. Ketika mereka hampir sampai di pintu. Lana menepis cekalan tangan Vi. Membuat Vi menghentikan langkahnya.


"Apa sih sebenarnya maumu?" tanya Lana galak plus nafas tersengal.


"Kita perjelas hubungan kita ke papamu" jawab Vi.


"Hubungan apa?" tanya Lana.


"Kita akan menikah besok!" ucap Vi mantap.


"What?!!!" teriak Lana tidak percaya.


Sedang Vi hanya menatap tajam pada Lana. Ada seringai tipis terukir di wajah Vi.


***


"Bagaimana perkembangan hubungan mereka?" tanya Bryan.


"Mereka sudah dekat sejak beberapa waktu lalu. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian soal hubungan mereka" jawab seorang pria berpakaian hitam.


"Beritahu aku jika mereka sudah memperjelas hubungan mereka" perintah Bryan.


"Baik Tuan"


"Saat itu aku akan muncul untuk menghancurkan perasaan putrimu, Tania" batin Bryan.


Entah apa yang Bryan pikirkan. Dia terus saja berpikir untuk menghancurkan ataupun merusak kebahagiaan keluarga Jayden dan Tania.


***


Bonus pict



Kredit Instagram.com


Vi yang mau ngelamar Lana 🤭🤭🤭


****