
Malam tiba, kali ini mood Lana benar-benar memburuk. Dia pulang lebih dulu. Membersihkan diri lalu menghempaskan diri di sofabed kesayangannya. Sudah dua bulan ini sofabed inilah yang jadi teman setianya. Vi yang sedang gila, begitu Lana menyebutnya belum mengizinkan dia untuk tidur diranjang mereka.
Setelah pulang kerja tadi, Lana langsung mengambil makan malamnya. Beralasan dia sangat lelah dan ingin cepat tidur setelah mandi.
Vi yang pulang belakangan. Heran karena biasanya dia akan melihat Lana yang sedang menyiapkan makan malam. Selalu menunggunya. Namun hari ini terasa berbeda karena tidak ada Lana di sana.
"Aku mungkin hilang ingatan soal Lana. Tapi kehadirannya dua bulan ini membuatku terbiasa. Jika dia tidak ada rasanya aneh dan ada yang kurang" batin Vi.
"Bi, Lana mana?" tanya Vi pada Bi Ijah.
"Ibu sudah naik, katanya capek. Mau langsung tidur. Ibu juga sudah makan malam tadi" info Bi Ijah.
"Dia sudah makan?" tanya Vi.
"Sudah Den" jawab Bi Ijah.
"Ya, sudah saya naik dulu. Mau mandi dulu. Siapkan saja seperti biasa. Kalian boleh istirahat" ucap Vi.
"Siap Den!" sahut Bi Ijah cepat.
Vi membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Lana tidak ada di sana. Tidak ingin ambil pusing. Vi langsung mandi. Selesai mandi dan mengganti pakaian. Dia turun untuk mengambil makan malamnya.
Makan sendirian. Rasanya benar-benar hampa. Biasanya dia dan Lana akan makan bersama. Lana bilang itu aturan yang dia buat sebelum dirinya hilang ingatan. Meski Vi selalu mengacuhkan Lana. Nyatanya ketidak hadiran Lana di meja makan itu cukup memberikan impact yang luar biasa bagi Vi.
"Masak hanya makan saja harus ada dia sih!" gerutu Vi sambil membanting sendok di atas piringnya.
Selera makannya hilang seketika. Dia marah tanpa tahu sebabnya. Padahal tadinya dia sangat lapar. Tapi rasa lapar itu menguap seketika.
Vi naik kembali ke kamarnya dengan langkah marah. Sampai di kamar dia bertambah marah karena dilihatnya Lana yang malah sudah tidur membelakanginya di sofabed kesayangannya.
"Lana bangun!" ucap Vi kesal.
Hening, Lana sama sekali tidak menanggapi panggilan Vi.
"Lana aku tahu kau belum tidur. Bangun kita bicara" panggil Vi.
Dia mulai terganggu dengan gaun tidur Lana yang meskipun dua lapis. Namun bahan satin yang dipakai pada gaun tidur Lana. Mengekspose jelas lekuk tubuh sang istri.
Merasa diabaikan Vi dengan cepat naik ke sofabed itu. Lalu menarik tubuh Lana agar berbalik kearahnya. Sesaat Vi tertegun. Melihat mata sembab Lana.
"Kau menangis lagi? Sudah kubilang jangan menangis! Kenapa kau ini suka sekali mengabaikan perintahku!" cecar Vi.
"Perintahmu? Memangnya kau siapa? Minta dituruti perintahnya!" salak Lana.
"Kau bilang aku suamimu"
Lana berdecih kesal.
"Suami kononnya? Jika hanya aku saja yang berjuang rasanya akan sama saja. Kau sudah tidak menganggapku lagi"
"Kau masih marah soal Stella?" tanya Vi.
"Tidak! Aku marah pada diriku sendiri. Karena tidak becus jadi istri.Hingga suamiku sendiri bisa dengan mudah melupakanku"
Vi terdiam. Ada rasa yang begitu menusuk ketika Lana berucap seperti tadi.
"Pergilah. Aku mau tidur. Aku lelah. Semoga ketika aku bangun besok. Gantian aku yang amnesia. Biar aku lupa kejadian hari ini" ucap Lana kembali merebahkan diri.
"Kita belum selesai bicara. Jangan tidur dulu!" ucap Vi lagi menahan Lana untuk rebahan lagi. Kesal sekali rasanya.
"Bodo amat!" kesal Lana. Muncul sudah sifat judes Lana yang lama hilang.
Kesal diabaikan, Vi menindih tubuh Lana lantas menciumnya. Membuat Lana gelagapan. Reflek berontak. Ingin melepaskan diri.
"Kau ingin membunuhku ya?" kesal Lana. Nafasnya tersengal. Dengan cepat Lana mendudukkan dirinya. Vi tampak menyeringai melihat ekspresi Lana.
"Kau lupa cara berciuman ya dua bulan ini" ejek Vi.
Lana dengan cepat mendorong tubuh Vi menjauh darinya. Tapi dorongan Lana hanya membuat Vi bergeser sedikit saja dari tempatnya duduk.
"Kenapa kau jadi menyebalkan sekarang?" maki Lana.
"Masa iya. Kenapa? Karena kau sudah lama tidak kusentuh?" ledek Vi lagi.
"Hei, aku tidak seperti itu!" sangkal Vi.
"Benarkah? Tapi yang kulihat sepertinya sebaliknya. Kau asyik dengan sekretaris barumu itu" dengus Lana.
Sesaat Vi terdiam mendengar ucapan Lana.
"Kau cemburu ya?" tanya Vi sambil tersenyum.
Entah kenapa ada rasa bahagia mendengar Lana cemburu padanya.
"Cemburu? Yang benar saja. Kau bisa main perempuan. Aku juga bisa. Besok akan kau lihat. Aku juga bisa cari laki-laki lain" ucap Lana dengan amarah yang meluap-luap.
"Alana Aira Aditama...berani kau mencari pria lain akan kupastikan dia tidak akan hidup hari berikutnya" ancam Vi.
Lana tertawa sumbang. Menertawakan sikap Vi yang dinilainya sangat tidak konsisten.
"Kenapa kau boleh melakukannya sedang aku tidak. Kau bahkan tidak ingat siapa aku. Kau tahu aku istrimu hanya karena orang-orang berkata seperti itu. Sekarang aku tanya padamu. Jauh di lubuk hatimu apa kau ingat siapa aku sebenarnya?" tanya Lana sambil menunjuk dada Vi.
Vi diam. Benar kata Lana. Bahkan ketika dia bertanya pada hatinya. Hatinya seolah tidak punya jawaban.
"Kau tidak bisa menjawabnya kan" kembali Lana tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Bermainlah dengan wanita manapun yang kau mau. Aku tidak peduli!" ucap Lana berlalu dari hadapan Vi.
Namun pria itu menahannya.
"Apa kau rela?" tanya Vi.
"Ya?"
"Apa kau rela melihatku bercinta dengan wanita lain. Kau jelas ingat aku suamimu. Tapi kau semudah itu berkata aku boleh bermain dengan wanita manapun" tanya Vi menatap wajah Lana.
Lana tersenyum.
"Pilihan apalagi yang ku punya. Dua bulan aku bertahan. Kau mengabaikanku. Sikapmu bahkan jauh lebih dingin daripada saat pertama kita bertemu. Dulu aku dengan mudah bisa mencairkan pria balok esku. Tapi kini dia bukan lagi pria balok esku tapi sudah jadi pria kutub utara. Yang cuma global warming yang bisa mencairkan. Sedang aku tidak sepanas global warming. Terserah apa maumu sekarang. Aku lelah. Aku....
"Pria balok es" ungkapan itu sepertinya tidak asing di telinga Vi. Dia samar mengingat. Hanya ada satu orang yang menyebutnya demikian. Dan orang itu adalah wanita yang kini tengah Vi cium dengan lembut. Ciuman yang Lana rasakan begitu lembut. Penuh kerinduan.
Lana kembali mendorong dada Vi membuat pria itu melepaskan ciumannya. Sesaat kemudian keduanya saling tatap. Vi jelas tengah mencari sesuatu dalam bola mata Lana. Begitupun Lana. Dia tidak percaya pada sikap Vi yang menurutnya lain di hati lain di mulut.
Hingga detik berikutnya Vi kembali mencium bibir Lana. Kali ini sebuah lum**** langsung Vi berikan. Tangan Lana berusaha mendorong tubuh kekar suaminya. Membuat Vi kesal. Hingga kemudian dengan cepat Vi menahan kedua tangan Lana diatas kepalanya.
Ciuman itu semakin panas dan menuntut. Vi seperti menemukan dirinya yang hilang kala mulai mencumbu tubuh sang istri. Dia seolah hafal semua titik sensitif di tubuh Lana. Hingga dalam beberapa waktu, penolakan Lana berubah menjadi desah*** yang lolos dari bibir Lana yang masih dibungkam oleh bibir Vi.
Sebab tangan Vi sudah mulai bergerilya di tubuh Lana. Melucuti pakaian sang istri. Juga mulai masuk ke rumah Lana. Memberikan sentuhan yang dua bulan ini, jujur Lana rindukan.
Hingga tak lama tubuh keduanya menyatu. Setelah Vi melepaskan pakaiannya sendiri. Vi perlahan mulai memacu tubuhnya diatas tubuh istrinya.
"Pelan-pelan, honey" bisik Lana di sela desah***nya. Teringat ada bayi mungil yang tengah bersemayam di rahimnya.
Vi mengangguk. Melanjutkan aksinya untuk mencari nikmat surga dunia.
"Baiklah. Mungkin aku belum mengingatmu. Tapi setelah malam ini mari mulai semuanya dari awal lagi. Kalau memang aku tidak bisa mengingatmu. Biarkan aku untuk belajar mencintaimu..Lana my baby" batin Vi.
****
He he just info..kepoin karya author yang lain juga ya...
Silahkan dikepoin para reader yang tercinta..
****