
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Lana hamil?" tanya Vi pada Dika.
Vi marah, benar-benar marah. Hal sepenting itu dirahasiakan darinya. Wajahnya memerah menahan amarah. Pria itu bahkan sudah bersiap untuk memukul asisten pribadinya.
"Vi kendalikan dirimu!" ucap Riko menahan laju tangan Vi yang siap menghantam Dika kapan saja.
"Dia keterlaluan Riko!" teriak Vi.
"Lalu apa kau tidak!" bentak Arch.
"Itulah kenapa Om Dika lebih memilih merahasiakannya ketika dia tahu Lana hamil!" tambah Riko.
"Kau sendiri mengakui jika kau sama sekali tidak ingat kalau Lana istrimu. Lalu kira-kira apa reaksimu saat itu jika aku beritahu Lana hamil. Bukannya menerima kehamilannya. Bisa-bisa kau menuduh istrimu sendiri selingkuh dan hamil anak pria lain. Bisa tambah gila nggak Lana kalau kau menuduhnya seperti itu!" jawab Dika panjang lebar.
Membuat tubuh Vi lemas seketika.
"Aku salah. Semua salahku.Semua salahku" isak Vi lirih pada akhirnya.
Semua orang hanya bisa menarik nafasnya pelan melihat betapa putus asanya Vi kini.
Dua hari berlalu,
Riko dan tim dokter lainnya tampak berlarian masuk ke ruang ICU dimana Lana dirawat. Ketegangan jelas terlihat diwajah mereka.
"Jangan menyerah Lana! Aku mohon!" teriak Riko putus asa ketika dokter David tampak bersiap dengan defribiliator (alat kejut jantung) di tangannya.
"Siapkan di angka 200 joule!" ucap dokter David
"Satu..dua...tiga....
Satu kejutan diberikan. Semua melirik ke monitor di samping Lana...
"No respon!"
"Again!"
"Aku mohon bertahanlah. Akan kulakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku. Aku mohon....beri aku kesempatan untuk membahagiakan kalian...aku mohon jangan tinggalkan aku....Laana......"
"Respon!" teriak sang perawat.
Hampir semua orang menarik nafasnya lega. Riko sendiri bahkan hanya bisa diam. Bertumpu pada tembok di belakangnya. Menatap nanar pada tubuh Lana yang terbaring di hadapannya.
"Dia benar-benar tangguh" ucap dokter David menepuk pelan bahu Riko. Tahu jika Lana adalah orang penting bagi Riko. Lantas berlalu dari hadapan Riko.
"Kau benar-benar ingin pergi! Tanpa memberinya hukuman? Enak sekali dia. Bangun dan hukum dia!" teriak Riko frustrasi.
Air mata mengalir deras di pipinya. Dia sering berada di situasi seperti ini. Bahkan dengan akhir yang sangat tidak diinginkan semua orang. Kematian....
Tapi ketika Lana yang jadi pasiennya. Seluruh kepercayaan dirinya hilang seketika. Riko benar-benar merasa tidak berguna. Hingga satu pelukan Riko rasakan. Bukannya membuat tangisnya mereda. Pelukan itu justru membuat dadanya semakin sesak. Seolah seluruh oksigen sudah direnggut paksa darinya.
"Aku benar-benar tidak berguna. Aku bodoh!!" lirih Riko.
Tidak ada jawaban. Hanya pelukan itu terasa semakin erat.
"Jangan putus asa. Terus berdoa. Kita tahu Lana membutuhkan hal itu. Dan yakinlah kalau ini semua akan berakhir baik" bisik Kanaya di telinga sang suami.
Fisik Kanaya sebenarnya masih sangat lemah. Sehari sebelum insiden Lana. Kanaya melahirkan, seorang putra yang akan menjadi penerus keluarga Armando. Karena itulah ketika Lana masuk rumah sakit. Dia tidak diberitahu. Mengingat kondisinya.
Namun pagi ini, dia tanpa sengaja mendengar seorang perawat NICU. Membicarakan kondisi Lana. Membuat Kanaya mengetahui semuanya. Dia hampir saja meledakkan amarahnya pada Riko, sang suami. Hanya saja, ketika seorang perawat menghubungi Riko, kalau Lana anfal, Kanaya mengurungkan niatnya untuk marah
"Maafkan aku. Maafkan aku" bisik Riko.
Untuk pertama kalinya sisi rapuh Riko terlihat.
"Jangan minta maaf padaku. Semangatlah agar Lana segera membuka matanya" bisik Kanya. Mencoba membawa Riko berdiri.
Keesokan harinya,
"Om sudah membereskannya?" tanya Vi melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Pria itu entah kenapa hari ini begitu bersemangat. Tidak tahu apa sebabnya. Setelah kemarin dia terlihat begitu hancur ketika melihat detak jantung Lana sempat berhenti. Beruntung dokter David bisa mendapatkan kembali denyut jantung Lana. Membuat keadaan Lana stabil sampai sekarang.
"Seperti keinginanmu" jawab Dika sambil menyeringai.
Kadang Dika terlihat lebih mengerikan ketimbang Vi jika kumat jiwa psyconya.
"Seperti keinginanmu. Lagipula ternyata dia sudah banyak sekali main dengan perempuan itu" jawab Dika jijik.
Perlahan Vi masuk ke ruangan dimana Lana dirawat. Setelah sedikit berbincang dengan Tania dan Jayden yang juga menunggu disana.
"Morning Baby" sapa Vi mencium lembut kening Lana. Karena hanya tempat itulah yang bisa dijangkaunya.
"Masih marah padaku?" tanya Vi. Beberapa hari ini keadaan Vi juga mulai membaik. Setelah menjalani serangkaian tes. Ingatan Vi dinyatakan kembali.
"Masih belum mau membuka mata untuk melihatku?" kembali Vi bertanya.
Hening,..
Hanya terdengar bunyi alat pendeteksi denyut jantung dan oksigen.
"Kata Kanaya kamu rindu padaku. Kalau rindu kenapa masih betah tidur? Bangunlah...aku rindu sekali padamu. Maafkan aku...dua bulan ini aku melupakanmu. Tapi sungguh..aku tidak berniat melakukannya" ucap Vi dengan mata berkaca-kaca.
"Bangunlah ....aku mohon, By. Aku sangat mencintaimu. Juga putra kita" ucap Vi sambil mencium lembut pipi Lana. Lantas meletakkan kepalanya disisi ranjang. Pelan Vi mulai memejamkan matanya. Sambil menggenggam jemari Lana.
Beberapa menit berlalu. Hingga tiba-tiba Vi merasakan sebuah gerakan lembut dalam genggamannya. Buru-buru,Vi mengangkat wajahnya. Jantung Vi seolah berhenti berdetak. Ketika manik matanya beradu dengan netra sayu Lana.
Seketika rasa bahagia membuncah didada Vi.
"Baby, akhirnya kamu bangun!" teriak Vi.
Mendengar Vi memanggilnya "baby" seketika Lana juga sadar jika ingatan sang suami sudah kembali. Senyum tipis terukir di bibir pucatnya.
****
Semua orang bersuka cita dengan kabar Lana yang sudah membuka matanya. Pelan, masa kritis Lana berhasil dilaluinya. Tiga hari setelahnya. Lana akhirnya diizinkan keluar dari ICU meski dengan pengawasan ketat.
Hampir semua orang ingin masuk ke ruang VVIP dimana Lana dirawat untuk menjalani masa penyembuhannya. Namun tidak semua diizinkan masuk. Mengingat kondisi Lana yang masih lemah.
Pemeriksaan terakhir menunjukkan kalau kadar HB (Hemohlobin) dalam darah Lana sudah diangka 11. Sangat bagus sekali. Juga dari USG keadaan sang jabang bayi juga sangat baik.
"Bu Bosss" teriak Rahma menghambur ke pelukan Lana. Ulah Rahma itu, membuat Lana reflek mengangkat tangan kirinya dimana jarum infus tertancap disana.
"Iisshh hati-hati dong" gerutu Lana lemah.
Rahma hanya nyengir mendengar gerutuan Bosnya.
"Pagi Boy, terima kasih sudah mau berjuang dan bertahan bersama Bu bos" ucap Rahma menyapa bayi dalam kandungan Lana.
"Terima kasih sudah ikut merawatnya" balas Lana.
Lana sadar selama dia menyembunyikan kehamilannya. Rahmalah yang diam-diam ikut memperhatikan dirinya. Bahkan urusan ngidam pun kadang Rahma yang kena batunya.
"Sama-sama Bu Bos. Sekarang tugas saya selesai. Kan sudah ada pak Bos yang bakal nggantiin saya muterin Surabaya buat nyari mangga muda" cengir Rahma.
"Serius dia pernah minta itu?" tanya Vi dari tempatnya duduk.
"Seriuslah. Ingat ketika aku meeting pagi pulang sore. Ya itu ulah anakmu" tambah Dika.
"Ya ampun"
"Boy, minta saja yang aneh-aneh sama Papamu. Balas dendam. Tiga bulan ini kamu nggak diperhatiin Papamu" doktrin Rahma sambil mengelus perut Lana.
"Jangan ngajarin yang enggak-enggak kamu Ma" ucap Vi.
"Nggak kok pak Bos. Cuma lagi ngobrol aja si Boy" jawab Rahma.
"Sudah baikan bu Bos?" bisik Rahma.
"Masih dalam tahap rekonsiliasi" bisik Lana balik.
"Jangan kasih mudah Bu. Enak saja dua bulan ngelupain Ibuk" kompor Rahma.
"Rahma jangan ngomporin istri saya" teriak Vi.
"Nggak kok pak Bos cuma lagi curhat aja" kilah Rahma.
Keduanya nyengir bersamaan bersamaan dengusan geram yang berasal dari Vi.
***