The Story Of "A"

The Story Of "A"
Bodyguard Cantik



"Kampret lu" maki Jayden begitu melihat siapa yang masuk ke ruangannya.


Sedang yang dimaki hanya nyengir tanpa dosa.


"Kenapa lu kayak ngeliat hantu. Ngeliat gue" ucap Sean santai.


Yang masuk ke ruangan Jayden ternyata Sean.


"Gue pikir elu Tania atau staf gue" jawab Jayden kembali menormalkan nafasnya.


Sean langsung cekikikan melihat wajah Jayden yang panik plus gelagapan. Persis maling yang ketahuan nyolong.


Yaelah Sean maling mah kerjaannya nyolong, kalau nyupir namanya supir gimana sih?😁


"Sialan malah ngetawain" gerutu Jayden.


"Memang apa sih yang elu sembunyikan. Sampai ketakutan gitu kalau ketahuan. Selingkuhanmu?" ledek Sean.


"Sembarangan kalau nuduh. Gue udah setia ya Sean" jawab Jayden.


"Terus ini apa?" ucap Sean. Mulai melihat foto yang masih bertebaran di atas meja.


"Ini siapa?" tanya Sean membolak balikkan foto Vi.


"Guess who?" tantang Jayden.


Lama Sean menatap foto Vi.


"Surrender..no idea" jawab Sean menyerah.


Gantian Jayden yang terkekeh.


"Siapa sih bikin penasaran saja" desak Sean. Merasa penasaran melihat foto Vi yang Sean nilai lumayan tampan itu.


"Eh elu jodohin Lana sama ni orang" Sean coba menebak.


"Enak saja. Ogah gue besanan sama Bryan" jawab Jayden cepat.


"Ha? Ini Thole?" Sean memang memanggil Thole sejak Vi masih dalam kandungan Vera.


"Iya itu Tholemu" Jayden menjawab enggan.


"Busyet deh. Jadi ganteng gini Thole gue. Yakin nggak mau jodohin sama Lana" Sean ngomporin Jayden.


"Ogah!" Jayden tegas menolak.


"Kalau Lana suka?" ucap Sean santai.


Jayden tertegun.


"Iya juga ya. Bagaimana jika ternyata Lana suka sama Vi. Apalagi mereka sudah bertemu. Bahkan Lana sendiri yang menawari Vi untuk menginap di apartemennya" Jayden berperang dengan pikirannya sendiri.


"Malah melamun. Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


"Kalau Lana suka sama Vi. Eehh ini mereka malah sudah bertemu" ucap Sean menemukan foto Vi dan Lana.


Jayden langsung terduduk lesu.


"Mereka memang sudah bertemu. Bahkan Lana menawari Vi untuk nginap di apartemenku. Karena Bryan sedang mengejar Vi. Menyuruhnya pulang ke Sidney" jelas Jayden.


"Wah sepertinya jodohnya Lana sudah nongol. Vi lumayan juga. Tidak kalah dengan Rafa" ucap Sean membuat Jayden kesal.


"Aku ogah besanan sama dia!" kesal Jayden.


Sean menarik nafasnya.


"Tapi kalau keduanya seandainya saling mencintai bagaimana? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau akan menerima siapapun asalkan pria itu bisa membuat Lana meleng dari Rafa atau Hyun Ae. Lagipula Vi boleh juga" kembali Sean berucap.


"Ya tapi tidak anaknya dia juga. Kayak tidak ada yang lain saja" sanggah Jayden.


"La kalau Lana sukanya sama Thole hayo kamu mau apa?" tantang Sean.


Jayden mengacak rambutnya frustrasi.


"Entahlah. Gue pusing jadinya"


Sean terkekeh melihat frustrasinya Jayden memikirkan putri tunggalnya.


"Jadi elu kemari mau ngapain?" tanya Jayden.


"Cuma kebetulan lewat. Tapi ingat kemarin menghubungiku kalau Thole ada di sini. Ingin memastikan saja"


"Sudah lihat kan. Kalau Tholemu ini benar ada di sini"


"Aku berharap kalau Lana tidak jatuh hati pada Vi. Bisa kacau rencanaku" ucap Jayden. Nada bicara mereka sudah kembali ke mode serius.


Sean langsung menatap Jayden.


"Kamu benar-benar menjalankan rencana itu" Sean penasaran.


Jayden mengangguk.


"Kamu ingin menghancurkannya?"


"Tergantung situasinya" jawab Jayden enteng.


"Jika dia berani macam-macam akan kulibas dia sampai habis" lanjut Jayden.


"Jika kau melakukan itu. Akan berimbas pada Vi juga" Sean memperingatkan.


"Tidak akan. Aset Bryan dan aset Vi sudah dipisahkan dengan jelas oleh David. Jadi kalaupun Bryan hancur hanya dirinya saja yang hancur. Tidak ada masalah dengan Vi" jelas Bryan.


"Kamu masih waraskan?" tanya Sean serius.


"Kau meledekku. Aku tidak gila kampret!"


"Lalu kenapa kau melakukan ini kalau tidak ketularan gilanya dia"


Jayden menghela nafasnya.


"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran. Dia membuat Tania stress di awal pernikahan kami. Membuat kami sulit memiliki Lana. Lalu dia membuat Tania depresi hampir sepuluh tahun lalu. Kau tahu, Tania masih sering menangis seorang diri. Dia rindu pada Vi"


"Kalau begitu pertemukan saja Tania dengan Thole" usul Sean.


"Aku rasa waktunya belum tepat. Kita masih tidak tahu apa Bryan merencanakan ini semua atau memang benar Vi yang melarikan diri dari bapaknya. Semua harus jelas sebelum Tania bertemu dia"


"Dia?..Dia siapa" sahut suara tepat di belakang Sean.


Membuat keduanya langsung membulatkan mata mereka melihat orang itu.


"Alamak kenapa dia datang di saat yang tidak tepat begini" batin dua pria itu bersamaan.


***


Vian tampak menatap puas ke dalam apartementnya. Dia akhirnya membeli unit satu lantai dibawah unit Jayden Lee. Dengan bantuan Dika tentunya.


Dia menatap ke luar jendela apartemennya. Menatap view yang menakjubkan dari unitnya.


"Pantas saja harganya selangit. Tempatnya benar-benar mengagumkan" puji Vi.


Beberapa orang tampak hilir mudik. Membawa banyak paper bag. Berisi pakaian ganti. Sepatu. Jas, aksesoris dan segala keperluannya. Semua dipesannya online. Bahkan bokser juga pakaian dalamnya. Sedang dua orang langsung langsung menatanya di walk in closet miliknya.


"Kali ini apapun yang kau lakukan. Aku tidak akan pernah kembali ke Sidney. Meski kau memaksaku sekalipun" tekad Vi.


Vi sendiri di apartemennya. Sesekali mengecek ponselnya.


"Sial! Dia bahkan tidak membalas pesanku" geram Vi.


Dia sempat mengirim pesan pada Lana. Kalau dia keluar dari apartemen papanya. Tapi sampai sekarang gadis judes itu belum membalasnya. Membacanyapun tidak.


Ingin keluar dia masih merasa malas. Vi masih menunggu Dika mengabari dirinya. Yang dimintanya ada atau tidak.


Tanpa Vi tahu. Gadis galak yang tengah dipikirkannya. Sedang sibuk dibagian produksi perhiasannya. Dia sendiri yang turun mengawasi langsung proses produksi perhiasannya.


Sebab terkadang design yang dia gambar akan jadi susah untuk dibuat karena gambar dan pembuatannya tidak sama.


Seperti sekarang contohnya. Design yang Lana buat adalah sebuah liontin mutiara air tawar dari Lombok. Dalam designya Lana menggambarkan kalau mutiara itu akan diikat dengan emas dari bagian atas. Namun prakteknya hal itu tidak bisa dilakukan. Kalau diikat dari atas. Keindahan mutiaranya akan tertutupi oleh emas pengikatnya.


Jika ingin meminimalkan emas pengikatnya, pilihannya mutiara itu harus dilubangi dan itu jelas tidak mungkin. Pada akhirnya mutiara itu diberi pengikat dari arah belakang. Sungguh gambar dan hasil akhirnya jauh berbeda.


Lana sendiri tidak masalah. Toh sepertinya design seperti memang umum dipasaran. Meski dia sebenarnya menginginkan designya direalisasikan. Tapi keadaan di lapangan tidak bisa melakukan keinginannya. Jadi mau bagaimana lagi. Mungkin teknologi saat ini belum bisa mewujudkan design Lana. Tapi mungkin suatu hari nanti bisa.


"Sabar ya kamu belum bisa dilahirkan saat ini" guman Lana bicara pada kertas designnya. Lantas memasukkannya ke brangkas pribadinya. Brangkas berisi design-design miliknya.


Lana masih memakai celemek. Juga sarung tangan. Biasanya staf bagian produksi juga memakai hair caps dan juga masker. Namun Lana hari ini hanya menggulung tinggi rambut panjangnya. Menampilkan leher jenjangnya.


Tampilan Lana memang feminim. Tapi sikapnya terkesan cuek. Riko dan Archie sudah berulangkali mengingatkan Lana. Jangan menggulung rambutnya karena lehernya akan terlihat. Namun Lana tidak peka dengan peringatan kedua bodyguardnya.


Hingga lihatlah hasilnya sekarang. Staf pria banyak yang menatap lapar pada Lana. Bagaimana tidak, jika dihadapan mereka disuguhi pemandangan yang menggoda mata. Leher jenjang. Wajah cantik. Bibir merah merona. Tubuh aduhai. Pria mana yang tidak ngiler dibuatnya.


Sedang yang dijadikan obyek fantasi sama sekali tidak menyadarinya. Hingga kadang Rahma yang harus turun tangan menanganinya. Memperingatkan para stafnya agar tidak bertindak kurang ajar.


Sebab tugas Rahma selain menjadi asisten Lana adalah menjadi bodyguard cantik untuk melindungi majikannya kala di kantor. Salah satunya ya itu tadi. Memberi peringatan pada staf pria dengan pikiran mesum di kepalanya.


Memperingatkan bos mudanya, amat sangat tidak mungkin. Lana yang polos, tidak tahu seberapa besar dampaknya kala gadis cantik itu menunjukkan sedikit saja bagian tubuhnya. Hingga akhirnya Rahma, si bodyguard cantik yang harus bertindak.


***