The Story Of "A"

The Story Of "A"
Hadiah Untukmu



Lana tampak terperangah ketika melihat Vi bukan membawanya ke lantai atas. Di mana kamar pengantin mereka berada. Tapi pria itu malah mengajaknya ke basement hotel.


"Kita mau kemana, Vi" tanya Lana setengah menarik tangannya dari genggaman tangan suaminya.


"Pulang" jawab Vi singkat.


"Pulang? Ke apartemenmu?" tanya Lana benar-benar kepo.


"Nanti kamu juga tahu, By" ucap Vi sambil mengkode Lana dengan kepalanya untuk masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah Vi buka.


Lana bergeming.


"Oh come on, aku belum akan memakanmu" goda Vi.


Membuat Lana mencebik kesal. Namun tak urung. Dia pun masuk ke mobil BMW i8 series milik sang suami.


Awalnya Vi begitu tidak sabar untuk menikmati malam pertama mereka di kamar pengantin di lantai paling atas hotel tempat pernikahan mereka dihelat.


Tapi sejurus kemudian, Vi berubah pikiran. Dia ingin malam paling indah dalam hidupnya, dihabiskan ditempat yang istimewa pula.


Dan di sinilah ia dan istrinya, Lana. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit. Mereka sampai di sebuah rumah yang terletak di sebuah kawasan yang cukup private. Sebuah bukit dengan tumbuhan hijau yang tampak begitu rimbun. Seolah menyembunyikan sesuatu di dalamnya.


Dan benar saja setelah masuk semakin dalam. Lana langsung membulatkan matanya. Melihat sebuah rumah bertengger di puncak bukit itu. Rumah minimalis namun terlihat mewah dan elegan.


"Rumah siapa Vi?" tanya Lana ketika sang suami membukakan pintu mobil untuknya.


"Rumah kita" jawab Vi singkat.


"Serius? Kamu punya rumah" tanya Lana antusias.


Pria itu mengangguk pelan. Lantas mulai menekan password dan juga melakukan scan sidik jari di pintu masuk rumahnya.


Pintu terbuka.


"Kamu bisa membukanya dengan sidik jarimu. Password-nya, tanggal pernikahan kita. Hari ini" jelas Vi.


Lana sedikit heran melihat rumah Vi yang masih terlihat kosong. Interiornya sangat menakjubkan.


"Kamu belum membeli perabot?" tanya Lana.


Mengikuti ke mana langkah Vi membawanya. Karena pria itu sedari tadi terus menggenggam jemari tangannya.


"Kamu yang pilih isinya. Terserah. Kamu kan ratunya" ucap Vi.


Ucapan Vi sontak membuat Lana mengulum senyumnya. Sangat bahagia saat Vi menyebut dirinyalah ratu di rumah ini.


Melewati dua kali anak tangga. Yang berarti melewati dua lantai. Mereka akhirnya berhenti di sebuah pintu berwarna coklat. Satu-satunya pintu yang ada di lantai itu.


Lana sedikit menggerutu karena Vi membuatnya lelah. Menaiki dua lantai dengan tangga, yang benar saja. Untung gaun Lana sangat simple. Dengan panjang gaun yang hanya sampai mata kaki. Hingga dia sama sekali tidak kesulitan saat berjalan.


"Selamat datang di kamar kita, nyonya Aditama" ucap Vi setelah membuka pintu menggunakan password dan sidik jarinya.


Lana langsung disambut dengan sebuah kamar yang super mewah. Super luas.


"Kamar kita?" tanya Lana.


Vi mengangguk. Lantas membiarkan Lana masuk. Vi langsung menutup pintu, begitu Lana sudah benar-benar berada di dalam. Samar terdengar bunyi "klik" bersamaan dengan notifikasi samar "locked".


"Kamu menyukainya?" tanya Vi memeluk Lana dari belakang lantas meletakkan kepalanya di bahu sang istri.


Lana mengangguk. Kamar tidur yang luas dengan desain mewah. Sejenak Lana terus saja mengedipkan matanya. Tidak percaya. Sejak masuk ke dalam rumahnya sendiri. Hanya kamar inilah yang sudah ada isinya. Sebuah ranjang super besar yang terletak di tengah ruang itu. Di hiasi dengan kelambu yang terlihat begitu cantik.


Vi pelan mengecup leher Lana. Membuat si empunya sadar dari kekagumannya pada kamarnya sendiri.


"Aku mau mandi dulu" pamit Lana.


Mencoba melepaskan diri dari pelukan Vi. Lana rasa perlu waktu, menyiapkan diri untuk malam pertama mereka.


"Walk in closetnya ada di sebelah sana" bisik Vi di telinga Lana. Membuat tubuh Lana meremang seketika.


"Haish belum apa-apa sudah merespon saja ni tubuh" gerutu Lana dalam hati.


"Jangan suruh aku pakai lingerie" ucap Lana.


Vi terkekeh.


"Tidak. Aku lebih suka kamu yang polos" goda Vi.


Dan ucapan Vi membuat Lana semakin salah tingkah. Pelan, gadis yang otewe jadi wanita itu melangkah ke sisi kanan kamarnya. Di mana kamar mandi. Yang lagi-lagi super besar menyambutnya.


"Ini orang ngadi-ngadi bener bangun rumahnya" gerutu Lana lagi.


Heran kenapa semua dibuat dalam ukuran yang super besar. Perlahan Lana mulai melucuti gaunnya. Heran ketika dia mendapati resleting di bagian belakang punggungnya. Sudah diturunkan ke bawah. Memudahkan Lana untuk menggapainya lantas membukanya.


"Ini pasti kerjaannya" duga Lana.


Mulai masuk ke bilik shower.


Sementara itu Vi langsung melepaskan jasnya. Meninggalkan kemeja putihnya saja. Sembari menunggu dia meraih ponselnya. Beberapa pesan masuk. Dan sebagian besar penuh makian karena dia dan Lana kabur sebelum pesta selesai. Plus semua orang tidak menemukan keduanya di kamar pengantin mereka.


Vi hanya tersenyum membaca semua pesan itu. Hingga satu pesan dari Rafael membuatnya semakin melebarkan senyumnya.


"Selamat berjuang mencapai puncak"


Diantara semua sepupu Lana. Hanya Rafa yang sudah menikah. Jadi Vi duga Rafa pernah merasakan bagaimana di posisinya.


Ceklek,


Pintu kamar mandi terbuka. Lana berjalan mendekat dengan piyama satin melekat si tubuhnya. Wangi Lana cukup membuat hidung Vi terusik. Namun pria hanya menatap sang istri yang perlahan naik ke ranjang itu. Bahkan gerakan Lana yang tengah merangkak naik ke atas ranjang terlihat begitu seksi di mata Vi. Tanpa basa basi, Lana langsung merebahkan dirinya di samping sang suami.


"Apa sih? Aku tidak melakukan apa-apa juga" cebik Lana.


Vi pelan naik ke atas tubuh sang istri.


"Mandi dulu sana. Bau" usir Lana padahal bau Vi sangatlah maskulin.


"Bau atau bau" tanya Vi malah mulai menyerang leher Lana sengaja menggodanya.


"Aaahhh" rengek Lana.


Vi tertawa senang melihat wajah merah sang istri.


"Iya, iya aku mandi dulu. Jangan tidur dulu" Vi berucap setengah mengancam.


"Tapi aku mengantuk" keluh Lana.


"Ya terserah, tinggal pilih. Aku ambil pas kamu melek atau pas kamu tidur. Karena apapun keadaannya aku akan tetap mengambilnya malam ini" seringai Vi.


"Tukang paksa" gerutu Lana.


Ketika pria itu berjalan ke kamar mandi. Lana meraih ponselnya yang ternyata ada di atas nakas di sebelahnya.


"Malah kabur duluan. Sudah nggak tahan ya" ledek Marina.


"Beuuuh, yang otewe malam pertama" pesan dari Young Jae.


"Selamat menempuh status baru" dari Rafa.


"Selamat dihajar sama suamimu ya" ledek Arch.


Dan masih banyak pesan-pesan rusuh dari sepupu dan teman-temannya. Membuat Lana tersenyum. Hampir tertawa cekakakan ketika membaca pesan Riko.


"Mau tak edukasi malah sudah kabur duluan" pesan Riko.


Tanpa sadar kalau Vi sudah selesai membersihkan diri. Berdiri di sisi ranjang. Sejenak menatap Lana yang senyum-senyum menatap ponselnya.


"Matika saja ponselnya. Kalau tidak nanti tang ting tung tang ting tung. Mengganggu saja" ucap Vi.


Membuat Lana terkejut. Sejenak menatap Vi yang hanya memakai celana kargonya. Tanpa atasan alias shirtless. Hingga otot abs Vi, terpampamg nyata di depan mata Lana. Seketika Lana jadi susah untuk menelan salivanya.


"Mana baju?" tanya Lana.


"Kan aku sudah bilang kalau aku tidur shirtless bahkan kadang-kadang naked" jawab Vi santai. Perlahan naik ke ranjang super besarnya.


"Ha?"


Lana melongo. Bagaimana dia bisa tahan jika tiap malam disuguhi body hot seperti itu. Sekarang saja, air liurnya hampir menetes saking tergodanya ia melihat body seksi sang suami.


"By..." panggil Vi.


"Ya?" jawab Lana setelah meletakkan ponsel dan mematikannya sesuai permintaan Vi.


"Sini..." ucap Vi meminta Lana agar mendekat ke arahnya.


Perlahan Lana, mendekatkan dirinya ke arah Vi. Menjadikan lengan Vi sebagai bantal.


"Aku punya hadiah untukmu" ucap Vi menatap Lana yang berbaring di sampingnya.


"Apa? Banyak sekali hadiahnya" jawab Lana.


Vi terkekeh mendengar jawaban Lana.


"Yang ini spesial"


"Semua darimu spesial" bisik Lana membuat Vi semakin menghimpit tubuh Lana.


"Vi..."


"Kamu juga spesial pakai telor" canda Vi.


"Alvian apa hadiahnya? Aku ngantuk" keluh Lana.


"Eitt malam ini kita akan begadang sampai pagi"


"Mau ngapain?"


"Lihat itu" ucap Vi lantas mengarahkan pandangannya ke depan. Atau lebih tepatnya ke atas mereka.


Di mana atap diatas mereka perlahan terbuka membentuk sebuah kubah setengah lingkaran. Dengan dinding kaca sepenuhnya. Hingga langit malam di atas mereka terlihat sangat jelas.


"Ini apa?"


"Hadiah pernikahan untukmu" bisik Vi


Menatap dalam wajah Lana. Sedang Lana menatap pemandangan diatasnya seolah tidak percaya.


"Indah sekali" guman Lana pelan.


***



Kredit Instagram.com.


Si pengantin baru 🤣🤣🤣


***