
Vian tampak tersenyum puas melihat kendaraan yang berdiri gagah di depannya.
"Om benar-benar hebat" puji Vian.
Dika tampak tersenyum mendengar pujian tuan mudanya.
"Tapi untuk yang satunya lagi masih on proses untuk masuk ke sini" jelas Dika.
"Tidak masalah. Aku menginginkan ini sudah lama" ucap Vian penuh makna. Membuat hati Dika mencelos. Perkataan Vian cukup menyiratkan betapa terkekangnya Vian selama ini.
"Kita bertemu di kantor" ucap Vian.
"Yakin tidak akan tersesat. Ini pertama kalinya Anda keluar di kota ini" Dika cukup risau dengan hal ini.
"Jangan khawatir Om. Kan ada GPS. Lagipula kalau tersesat anggap saja aku sedang jalan-jalan" lagi ucapan Vian membuat hati Dika tercubit.
"Aku berangkat dulu" ucap Vian sambil memakai helm full facenya.
Dika hanya menarik nafasnya dalam. Tak berapa lama, Rey keluar dari lobbi.
"Selera tuan mudamu boleh juga" ucap Rey.
"Ah Rey. Kau tahu sendiri dia cukup terkekang selama ini. Jadi biarlah dia menikmati waktunya sekarang. Ngomong-ngomong terima kasih bantuannya. Kau tahu keinginannya itu sudah tidak diproduksi saking mahalnya. Untung kau punya kenalan yang punya motor itu dan bersedia menjualnya"
"Yah untung saja" jawab Rey ambigu.
Kawasaki Ninja H2R, motor sport yang diminta Vian pada Dika. Membuat Dika pusing tujuh keliling. Untung dia teringat pada Rey yang punya koneksi banyak di banyak bidang. Dika mencoba menghubungi Rey dan Rey untungnya tahu siapa yang punya motor itu.
Kredit Google.com
Yang punya? Tentu saja sultan kita, si Pakdhe Kai. Awalnya pria itu menolak mentah-mentah permintaan Rey. Tapi begitu dia tahu siapa yang menginginkannya. Kai langsung melepasnya. Padahal, Rafa sang putra sering juga memakai motor itu. Meski satu, dua kali.
"Itung-itung nyicil kasih hadiah ke calonnya Lana" kekeh Kai.
Membuat Rey mengulum senyumnya. Ini kalau Jayden tahu bisa ditoyor kepalanya.
Sementara itu, Vian begitu menikmati kebebasannya. Dia sedikit berputar-putar di jalanan kota Surabaya. Lantas menuju kawasan perumahan mewah milik Galaxy Group. Dimana rumah Jayden atau Lana berada.
Sempat berhenti beberapa saat di tempat yang cukup jauh dari rumah Lana. Pria itu tampak mengamati suasana rumah Lana yang bernuansa putih. Dengan kolam renang yang terbentang luas di depan rumah itu.
Design rumahnya luar biasa. Begitu terbuka. Tanpa pagar tinggi yang menghalangi pandangan. Namun Vian percaya keadaan seperti itu bukannya tanpa ada ekstra protection. Dan benar saja. Vian melihat empat tiang yang berada di empat penjuru angin.
Vian percaya itulah pengamanan ekstra yang mereka punya. Ada CCTV yang diprogram bisa berputar 360°,dengan program yang memungkinkan keempatnya berputar bergantian. Sehingga tidak ada satupun gambar yang bisa lolos dari pengamatan CCTV itu.
Selain itu pasti ada pengamanan lain yang terpasang di rumah itu. Begitulah setidaknya analisa Vian.
Tak berapa lama, Vian melihat sebuah mobil Porche Panamera berwarna hitam melesat keluar dari rumah mewah itu.
Kredit Google.com
Vian tersenyum melihat pengemudinya. Sesaat setelah mobil itu melandas di jalan raya. Vian mulai mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Hingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Cukup lama Vian mengikuti mobil itu. Hingga akhirnya sampai di sebuah mall. Kantor Lana memang di sebuah pusat perbelanjaan. Tepatnya di Pakuwon Mall. Tapi production house-nya ada di tempat lain. Di Pakuwon Mall hanya ada kantor dan dua outlet untuk mendisplay hasil kreasi rancangan terbaru dari outlet milik Kai dan Lana itu.
Vian kembali tersenyum melihat Lana yang keluar dari mobil mewah itu. Iseng pria itu menelepon Lana. Namun ternyata judesnya Lana tidak hanya saat berhadapan dengan orang. Terbukti dari raut wajah Lana yang terlihat judes plus jutek kala menatap ke arah ponselnya yang berbunyi.
"Iihh tidak kenal" guman Lana.
Dan panggilan itu langsung dimatikan Lana. Tidak peduli siapa yang menghubunginya.
"Dasar cewek judes" maki Vian.
Namun di detik berikutnya Lana terlihat begitu ceria kala bertemu seorang wanita di depan mall itu. Bahkan Lana sampai memeluk wanita itu.
"Sebenarnya seperti apa dirimu yang sesungguhnya" batin Vian.
Lantas melajukan motor sportnya itu menjauh dari area Pakuwon Mall. Membawa motornya menuju kantor Aditama Group yang berada di kawasan timur Surabaya.
Motor sport itu berhenti tepat di depan lobi kantor Aditama Group. Dika tampak sudah menunggu.
"Tidak tersesat kan?" tanya Dika.
Vian menggeleng setelah membuka helmnya. Beberapa karyawan nampak terlihat memperhatikan Vian. Secara wajahnya cukup asing di kantor itu. Namun juga ketampanan yang Vian miliki. Membuat mereka berbisik-bisik saat melintas di depan Vian.
Namun melihat Dika sendiri yang menyambutnya. Mereka mengambil kesimpulan kalau dia pastilah orang penting. Semua karyawan tahu siapa Dika. Orang mengenalnya sebagai pemimpin di kantor itu. Tanpa tahu kalau Dika hanyalah wakil.
"Kita langsung naik. Rapat akan segera dimulai" ucap Dika.
Vian berhenti mendengar ucapan Dika.
"Kenapa? Bukankah ini bisa Anda jadikan alasan untuk menolak kembali ke Sidney" Dika menyarankan.
Vian tampak terkejut dengan ucapan Dika.
Namun detik berikutnya Vian tersenyum.
"Mari kita hadapi para pemegang saham itu" ajak Dika.
***
Rapat berjalan singkat. Karena Dika hanya mengumumkan pergantian pemimpin. Sekarang tampuk kepemimpinan dipegang oleh Vian. Tidak peduli beberapa pemegang saham tidak setuju. Toh ini sudah diputuskan oleh tuan David sejak lama.
"Oke Om, mari kita mulai bekerja" ucap Vian begitu dia masuk ke ruang kerjanya yang tentu saja sudah Dika siapkan.
Dika langsung mengembangkan senyumnya. Melihat bersemangatnya sang tuan Muda. Dan berapa lama, keduanya sudah tenggelam dalam kesibukan pekerjaan mereka.
**
Beberapa hari berlalu. Weekend tiba. Vian tampak menggeliatkan tubuhnya. Punggung kokoh itu terlihat begitu seksi dan menggoda kala terlihat polos. Vian masih ingin bermalas-malasan ketika kemudian dia bergegas bangun.
Melesat masuk ke kamar mandinya. Tak berapa lama dia sudah berdiri di lobi apartementnya. Sejenak memeriksa ponselnya. Seulas senyum terukir disini.
"Kau disini" gumannya pelan.
Lantas kembali masuk dan mendudukkan dirinya di lounge lobi apartement mewah itu.
"Halo..."
"Kau tidak ingin bangun?"
"Siapa sih?" terdengar gerutuan di ujung sana.
"Bangun atau aku naik sekarang juga. Biar asisten papamu tahu dan mengadu ke papamu" ancam Vian.
Lana yang masih setengah merem. Beberapa kali menatap ponselnya. Ini nomor siapa sih? Pikir Lana kesal.
Dia pikir ingin menghabiskan weekendnya dengan memeluk guling seharian. Mumpung Archie lagi dinas ke luar kota dan Riko ada seminar di Jakarta.
"Ini siapa sih?" tanya Lana pada akhirnya. Dia benar-benar tidak bisa menebak siapa yang menelepon dirinya.
"Tidak ingat padaku?" lagi Vian bertanya.
"Tidak!"
"Kalau begitu aku akan naik sekarang" ucap Vian. Menutup panggilan teleponnya.
Lantas naik ke lantai 35 dimana unit Jayden Lee berada. Lana yang masih bermalas-malasan diatas kasur king size-nya. Langsung membulatkan matanya begitu mendengar bel pintunya berbunyi.
"Siapa sih?" kesal Lana.
Berjalan gontai ke arah pintu. Penampilannya benar-benar berantakan tapi akan membuat ngiler siapa saja yang melihatnya.
"Siapa sih?" maki Lana begitu dia membuka pintu.
Baik Vian maupun Lana langsung membulatkan matanya begitu pintu terbuka.
"Kamu ngapain disini?" Lana hampir berteriak.
Tapi dengan cepat, Vian memaksa masuk ke dalam apartement Lana.
"Kamu ngapain di sini?" lagi Lana bertanya pada Vian yang malah menatap tajam ke arah dirinya.
"Kau sengaja memancingku untuk jadi penjahat wanita sungguhan?" Vian balik bertanya.
"Apa maksudmu?" Lana tidak paham.
Bukannya menjawab. Vian hanya menatap Lana penuh makna.
"Gila, aku sering lihat para wanita yang mencoba menggodaku. Tapi aku tidak pernah berminat. Tapi lihatlah gadis judes ini. Tubuhnya benar-benar seksi dan menggoda" batin Vian.
"Kenapa kamu pandangin gue seperti itu" tanya Lana yang masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Vian.
"Karena kamu begitu menggoda" ucap Vian.
Sejurus kemudian pria itu sudah menyerang Lana dengan sebuah ciuman yang begitu lembut. Namun juga penuh hasrat.
"Gadis ini benar-benar membuatku hilang kendali" batin Vian.
***