
"Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah punya pacar?"
"Uhuk-uhuk!"
Baik Arch maupun Marina langsung tersedak minuman masing-masing.
"Hati -hati sayang" ucap Nita pada Marina. Menepuk pelan punggung Marina.
"Ma...aku yang anak Mama. Kenapa Mama malah nolongin dia" protes Arch.
Karena sang Mama lebih memperhatikan Marina dibanding dirinya.
"Ha? Mama? Jadi wanita cantik ini Mamanya si pria menyebalkan itu" batin Marina tidak percaya.
Marina menatap Nita tidak percaya.
"Kan kamu bisa urus diri kamu sendiri" cetus Nita cuek.
Membuat Arch langsung merengut kesal.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang" tanya Nita.
Marina menggeleng.
"Saya tidak apa-apa, Tante" jawab Marina terbata.
"Nama Tante Nita. Mamanya Arch. Jahat sekali Arch tidak memberitahu Tante kalau dia punya pacar secantik kamu. Tahu begitu kan Tante gak nguber-nguber Arch buat cari pacar" cerocos Nita khas emak-emak.
Membuat Marina mengulas senyumnya. Merasakan rindu pada Mamanya yang sudah meninggal sejak Marina masih kecil. Arch terpana melihat senyum Marina.
"Dia cantik juga kalau tersenyum" batin Arch.
"Tapi Tante saya dan dia tidak pacaran" kilah Marina.
Pacaran dari mananya. Bertemu juga baru dua kali. Nama juga tidak tahu.
"Alah, jangan menutupi dari Tante. Tante tahu kalau Arch itu menyebalkan. Karena itulah dia jadi jomblo akut" ucap Nita sambil berbisik di telinga Marina ketika membisikkan kata jomblo akut.
Marina langsung melebarkan matanya mendengar hal itu.
"Ha? Jomblo akut? Sama dong kalau begitu" batin Marina menatap Arch yang juga tengah menatap balik dirinya.
Seolah bertanya "apa yang kalian bicarakan"
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Arch kepo.
"Idih mau tahu aja. Oh ya nama kamu siapa Sayang?" tanya Nita.
Arch yang tadinya sebal sekarang jadi penasaran dengan gadis tomboy berwajah cantik itu.
"Nama saya Marina, Marina Alesandra" jawab Marina gugup.
"Marina Alesandra? Nama yang cantik seperti orangnya" batin Arch.
Meraih ponselnya. Lantas bertanya pada si buku pintar online alias mbah Google. Tentang jati diri gadis yang kini mulai asyik mengobrol bersama sang Mama.
"Wahh kamu dokter obgyn di AR Medical Centre. Berarti kamu kenal dokter Riko Armando dong" celetuk Nita.
Membuat Arch mengangkat wajahnya. Sebab semua jatidiri Marina tidak dia jumpai di mbah Google.
"AR Medical Centre? Dia kerja dengan Riko" batin Arch.
"Dokter Armando? Tentu kenal. Dia kan CEO dirumah sakit tempat saya bekerja" jawab Marina.
"Juga yang nguber-nguber teman saya, Kanaya" batin Marina.
"Wah tahu gitu kan Tante nggak jauh-jauh nyari jodoh buat Arch" celetuk Nita.
"Memang kenapa Tante?" tanya Marina.
"Riko Armando adalah teman Arch" jawab Nita.
"Ha?"
Marina melongo. Dia menatap Arch yang tampak menyeringai kala menatap Marina.
"Arch kapan kamu akan mengenalkan Marina ke Papa" desak Nita.
"Ma..aku sama dia itu tidak pacaran. Kami baru dua kali bertemu" jelas Arch.
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi. Kamu cium Marina. Dan sekarang kamu mau lari dari tanggung jawab!" cecar Nita.
Marina dan Arch sama-sama melongo. Saling menatap satu sama lain.
"Ciuman? Yang benar saja" batin Arch.
"Amit-amit ciuman sama pria menyebalkan itu" batin Marina tidak kalah sengit menatap Arch.
"Pokoknya Mama tunggu di rumah. Mama pulang dulu. Mau membicarakan ini sama Papa kamu" ucap Nita.
Arch langsung membulatkan mata.
"Ma...Mama...tunggu dulu kami tidak pacaran. Mama!" Arch hampir berteriak saking kesalnya.
"Pacaran denganmu? Yang benar saja? Dasar pria menyebalkan" ucap Marina.
Seraya bangkit dari tempat duduknya. Mengikuti jejak Nita yang sudah lebih dulu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Arch yang hanya bisa mematung mendengar Marina mengatai dirinya menyebalkan.
"Oh shitt! Berania sekali dia menyebutku menyebalkan. Aarrggghh Mama kenapa semua jadi rumit begini. Kalau papanya sampai tahu hal ini. Bisa dijewer telinganya.
Arch sudah mengambil mobilnya di basement parkiran mall itu. Ketika ekor matanya menangkap sesosok yang dia kenal. Marina tengah berdiri di lobi mall itu. Sedang bicara melalui ponselnya.
Dari tempatnya berada, Arch bisa mendengar percakapan Marina yang Arch pikir membuat Marina kesal.
"Ha? Yang benar saja? Hei kau bicara yang benar! Kau bilang bisa menyelesaikan mobilku hari ini. Lalu mengantarnya ke sini! Tapi sekarang kau bilang tidak bisa menyelesaikannya" maki Marina
"...."
"Aku tidak peduli!" pekik Marina tidak peduli pada orang yang memandang aneh padanya.
Gadis itu terus saja menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Perlu tumpangan?" tanya Arch yang sudah menepikan mobilnya.
Mendengar suara Arch. Marina langsung mendengus kesal. Bertemu Arch hanya membuat tensi darah Marina merangkak naik.
"Tidak!" jawab Marina tegas.
"Yakin tidak mau?" tanya Arch meledek. Marina menggelengkan kepalnya yakin.
"Tidak ingat pesan Mamaku?" tanya Arch.
"Antarkan dia pulang. Kalau tidak awas!" ancam Nita pada sang putra.
"Tante harap kamu mau ya diantar Arch. Pikiran Tante akan tenang jika kamu diantar anak itu" ucap Nita lembut.
Seraya mengusap lembut kepala Marina.
Satu rentetan pesan dari Nita, membuat keduanya saling pandang.
"Masuklah. Akan kuantar kau pulang hari ini" ucap Arch datar.
Marina pada awalnya hanya diam. Namun sejurus kemudian masuk ke dalam mobil Arch.
"Rumah?" todong Arch.
Marina mendelik mendengar ucapan Arch.
"Bener-bener ya? Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali" batin Marina kesal.
"Waterplace Apartement" jawab Marina kesal.
Marina pikir kenapa juga dia harus bertemu dan berurusan dengan pria menyebalkan model Arch. Tampan sih iya. Kaya? Sepertinya juga iya. Dilihat dari gaya dan mobil yang Arch pakai.Range Rover Sport 3.0 HSE.
Kredit Google.com
Arch baru saja melajukan kijang besinya keluar dari area mall itu. Ketika ponsel Marina berdering.
"Ya, Si" sapa Marina pada asistennya, Lusi.
"..."
"Kondisi terakhir?" tanya Marina.
"..."
"Aku akan segera ke sana" ucap Marina.
"Aku akan ke rumah sakit.Turunkan aku didepan jika kau sedang sibuk" ucap Marina tanpa sadar kalau Arch sudah mengubah arah tujuannya.
"Kita akan sampai dalam 20 menit. Atau bisa lebih cepat" ucap Arch datar.
Marina sontak menatap ke depan. Cukup terkejut. Kapan pria menyebalkan ini mengubah arah tujuannya.
"Ya, Si" kembali ponsel Marina berbunyi.
"..."
"Siapkan saja ruang bersalinnya. Kita lihat apa bisa normal atau caesar. Kirimkan rekam medisnya padaku sekarang. Laporkan keadaan terbarunya begitu aku sampai di sana" pesan Marina pada Lusi.
"..."
Sejenak menunggu, ponsel Marina kembali berbunyi. Marina langsung tenggelam dalam dunianya. Tidak peduli pada Arch yang semakin terpesona pada Marina kala gadis itu berubah serius saat bekerja.
"Lusi, siapkan operasi caesar untuknya. Keadaannya tidak memungkinkan untuk melahirkan normal. Kita harus segera menyelamatkan keduanya. Benturan itu membuat resiko kematian keduanya makin tinggi" perintah Marina kembali melalui ponselnya.
Arch hanya diam, mendengarkan setiap percakapan Marina dan asistennya.
"Ada yang serius?" tanya Arch.
"Ada ibu hamil yang mengalami kecelakaan. Dia harus ditangani cepat" jawab Marina cepat.
Mata cantik gadis itu masih terus menatap layar ponselnya.
Mobil Arch mulai memasuki kawasan AR Medical Centre milik Riko.Baru kali ini, Arch mengunjungi tempat kerja service panggilan Riko. Begitulah bahasa yang Riko pakai untuk menggambarkan pekerjaannya. Yang kadang datang sesuka hatinya.
Tanpa kata, Marina bermaksud langsung turun dari mobil Arch.
"Eits tunggu dulu" ucap Arch mencekal tangan Marina.
"Apalagi sih? Pasienku menunggu" ucap Marina kesal.
"Berikan aku nomor ponselmu" pinta Arch.
Marina cukup terkejut mendengar permintaan Arch.
"Cepatlah! Katanya pasien menunggu" ucap Arch dingin. Sambil mengulurkan ponsel miliknya.
Marina sempat bingung. Namun sejurus kemudian, dia meraih ponsel milik Arch. Mengetikkan nomor ponselnya. Karena dilihatnya Lusi sudah menunggunya di pintu IGD lengkap dengan sebuah map di tangan di tangan. Juga jas dokter milik Marina yang tersampir di lengannya. Menandakan kalu pasien harus segera ditangani.
"Ini! Aku pergi" ucap Marina.
Melesat keluar dari mobil Arch. Meninggalkan senyum di wajah pria tampan itu. Sesaat Arch menatap pada Marina yang langsung berlari ke arah seorang wanita, yang Arch pikir adalah asisten Marina. Melihat Marina dengan cepat memakai jas dokternya juga sneli-nya. Lantas masuk ke ruang IGD.
Arch melajukan kendaraannya, keluar dari kawasan rumah sakit Riko. Sesekali melirik ke arah ponselnya. Dimana dia menyimpan kontak Marina dengan nama "dokter cantik"
"Anggap saja ini imbalan tambahan karena kau, dua kali mengotori kemejaku, Marina Alesandra" batin Arch sambil tersenyum.
Hatinya menghangat tiap kali mengingat Marina. Diiringi detak jantungnya yang berdebar semakin kencang. Apa yang sebenarnya Arch rasakan pada Marina. Cinta? Entahlah. Hanya saja Arch merasa bahagia tiap kali membayangkan wajah Marina.
Gadis tomboy yang dua kali ia temui. Dalam dua insiden yang sama. Marina mengotori kemeja Arch.
"Sepertinya gadis ini menarik juga" batin Arch sembari fokus pada kemudinya.
****