
"Dokter Armando apa ada di dalam?" tanya seorang wanita berpakaian dokter. Berparas ayu kepada Satya.
"Oh dokter Kanaya, ada Dok. Silahkan masuk" Satya mempersilahkan.
"Topan badai datang" batin Satya sambil mengetik di ponselnya.
Kanaya langsung masuk ke ruangan Riko. Dia sejenak melihat Riko yang tampak sedang menghubungi seseorang. Sambil melirik ponselnya. Senyum tipis terkembang di bibirnya.
"Ada yang bisa saya bantu dokter Kanaya?" tanya Riko santai.
Dia tahu dokter cantik di depannya ini sedang marah. Laksana naga, dia pasti sebentar lagi akan menyemburkan apinya.
Tapi Riko terlihat santai. Watak Kanaya seperti Lana. Judes, galak. Tapi dia sedikit banyak belajar dari Vi. Bagaimana menghandle wanita tipe Lana dan Kanaya.
"Apa maksudnya dengan ini?" tanya Kanaya sambil menyerahkan, hampir melemparkan kertas yang baru saja dia buka dari amplopnya.
"Bukankah sudah jelas. Di situ saya menunjuk Anda sebagai konsultan kesehatan pribadi saya. Dengan kata lain Andalah dokter pribadi saya sekarang menggantikan dokter Eddi yang mengajukan pensiun dini" jelas Riko santai.
Pria itu hanya mengenakan kaos oblong. Dengan rambut sedikit berantakan. Namun pesonanya tetap terpancar terang seperti matahari di luar sana yang mengintip pembicaraan dua orang beda gender itu. Bisa dipastikan jika pria itu baru saja menyelesaikan operasinya.
Kredit Instagram @heluoluo.s
"Tapi kenapa harus saya? Bukankah ada dokter lain yang lebih relevan dan kompeten untuk menjadi dokter pribadi Anda" protes Kanaya.
"Tapi aku hanya mau kamu" jawab Riko mulai menghilangkan bahasa formalnya.
Deg,
Jantung Kanaya berdetak kencang. Mendengar ucapan Riko.
"Maksud Anda?" tanya Kanaya.
Kanaya hanya tidak ingin penunjukkan dirinya jadi dokter pribadi menjadi bahan gosip di luar sana. Kanaya tahu banyak perempuan di luar sana. Menginginkan dekat dengan Riko. Hampir semua staf lajang yang bekerja di rumah sakit Riko pasti menginginkan hal itu. Tapi tidak dirinya. Dia hanya ingin bekerja dengan tenang. Meski tidak dia pungkiri. Kalau dirinya juga tertarik dengan Riko.
Siapa juga perempuan yang tidak tertarik dengan pesona seorang Riko. Tampan, mapan, kaya, pokoknya boyfriend atau bahkan husband material bangetlah. Tapi ya itu tadi dia terlalu dingin dengan orang lain. Apalagi perempuan.
Tapi pandangan Kanaya berubah. Kala melihat Riko bisa bersikap hangat saat bersama keluarganya.
"Bukankah jelas kalau aku ingin kamu menjadi dokter pribadiku. Itu pekerjaan yang bisa dilakukan semua dokter dari semua bidang. Toh kalau ada masalah dengan kesehatanku. Aku pasti dirujuk ke dokter spesialis yang relevan dengan keluhanku. Betul tidak?" jelas Riko.
"Betul juga. Tugasku kan hanya mengawasi kesehatannya. Mengontrol semuanya agar dia tetap sehat" batin Kanaya.
"Tapi kenapa harus saya?"
Dari tadi pertanyaan itu yang ada di kepalanya.
"Kamu mau tahu alasannya?" tanya Riko.
Kanaya mengangguk cepat.
"Karena aku ingin dekat denganmu" jawab Riko.
Membuat jantung Kanaya berdetak semakin cepat. Aliran darahnya berubah cepat. Membuat wajah Kanaya memerah.
"Maksud Anda?" desak Kanaya.
"Jelas-jelas aku sudah menjawabnya. Masih juga bertanya. Aku tetap pada keputusanku. Kamu sekarang adalah dokter pribadiku. Dan jadwal konsultasi kita yang pertama adalah minggu depan. Harinya akan aku kirimkan nanti"
"What?!! Minggu depan? Are you kidding me?" tanya Kanaya tidak percaya.
"No. I'm serious. Benar-benar serius. So sampai jumpa minggu depan.Please....masih ada yang harus aku kerjakan" usir Riko halus.
Kanaya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Kesal bukan main. Lihat saja habis ini pasti semua mata perempuan di rumah sakit ini akan memandangnya dengan tatapan penuh permusuhan.
"Apa kau tahu kenapa aku menunjukmu sebagai dokter pribadi. Hari kamu bersamaku, aku ingin melihatmu beristirahat sejenak" batin Riko.
Riko sudah melihat schedule Kanaya. Kanaya jarang sekali mengambil libur. Tiap kali libur dia selalu bekerja. Bahkan sering tidak pulang. Dan numpang tidur di mess karyawan yang memang disediakan di rumah sakit Riko.
Riko jelas khawatir dengan keadaan Kanaya. Karena itu ketika kemarin Vi memberinya ide ini. Riko langsung mengiyakan. Itulah tujuan utamanya.
***
"Bagaimana?" tanya Marina. Teman dekat Kanaya.
Kanaya hanya diam. Mendudukkan dirinya di kursi. Lantas meletakkan kepalanya di meja.
"Dia menolaknya ya?" tanya Marina.
Kanaya mengangguk.
"Habis sudah hari tenangku di rumah sakit ini" keluh Kanaya.
"Ya mau gimana lagi. Kita cuma kuli dia bosnya. Suka hati dialah mau ngapain. Tapi...tapi bukannya kamu untung bisa cuci mata. Lihat muka ganteng pak Riko yang uuhhh ganteng pisan" ucap Marina sumringah.
Membuat Marina hanya bisa menepuk-nepuk pelan bahu teman akrabnya itu. Saking akrabnya malah ada gosip yang menyebut mereka itu tidak normal alias penyuka sesama jenis. Sebab penampilan Kanaya sangat feminim. Sedangkan Marina tomboy meski dia dokter obgyn.
"Ya ambil sisi baiknya saja" Marina menghibur Kanaya.
"Tidak ada sisi baiknya Na. Gimana kalau kamu gantiin aku aja. Kan kamu seneng tu ketemu dia" tiba-tiba sebuah ide mampir ke kepala Kanaya.
"Idih ogah. Ketemu sama kulkas tiap bulan. Mending kagak deh" tolak Marina.
"Tadi katanya seneng bisa lihat muka ganteng yang kata kamu boyfriend material banget" ledek Marina.
"Nggak jadi. Ganteng iya, body goals pasti, tidak diragukan. Tapi sifatnya itu lo dinginnya melebihi freezer di kulkas. Nggak tahu harus ngomong apa atau mau ngapain kalau pas depan dia" Marina bergidik mengingat dinginnya sifat Riko.
Kanaya menghela nafasnya. Sepertinya tidak ada celah baginya untuk lolos dari ujian hidup yang satu ini. Sekolah kali ujian..🤣🤣
"Lagipula Ya, bukannya yang dia mau itu kamu. Jadi dia pasti punya alasan tersendiri" pikir Marina.
"Dia ingin menyiksaku hidup-hidup Na" keluh Kanaya.
"Widih istilahnya gitu amat yak" seloroh Marina.
"Aku ingin dekatmu"
Satu kalimat itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Na, tadi dia bilang dia pilih aku jadi dokter pribadinya karena ingin dekat denganku. Maksudnya apa ya?" ucap Kanaya.
"Dia bilang begitu?" tanya Marina.
Kanaya mengangguk.
"Jangan-jangan dia suka lagi sama kamu" Marina tiba-tiba berucap.
"Huwek...." Kanaya menirukan gaya orang muntah.
"Entar elu bucin baru tahu rasa kamu" doa Marina.
"Jangan dong. Lagian mana mungkin dia suka sama aku" kilah Kanaya.
"Kita mana tahu, Naya" ucap Marina sok bijak.
Kanaya menarik nafasnya perlahan. Hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Berkas medical check up tuan Armando aku letakkan di mejamu"
Sebuah pesan masuk. Beserta nomer baru yang mengirimnya. Satya, asisten Riko.
"Aku balik dulu kalau begitu. Mau mempelajari medical check up big boss. Jadwal pertamaku minggu depan" pamit Kanaya.
"Apa? Secepat itu?" tanya Marina tidak percaya.
"Kayaknya dia beneran suka sama kamu deh" ucap Marina.
"Ihh bodo amatlah. Semakin dipikir semakin pusing.Sudah aku balik dulu" ucap Kanaya keluar dari ruangan Marina.
Jadwal operasi Kanaya masih satu jam lagi. Jadi dia masih punya waktu untuk membaca laporan kesehatan Riko.
"Bagaimana?" tanya Riko pada Satya.
"Dia tidak ada" jawab Satya.
Riko terdiam.
"Dia paling ke tempatnya Marina. Sahabatnya" ucap Satya.
"Yang rumornya mengatakan kalau mereka tidak normal?" sahut Riko cepat.
"Kamu tahu gosip itu?" tanya Satya heran.
"Aku pernah tidak sengaja dengar" jawab Riko.
"Lalu?" Satya penasaran dengan reaksi Riko mendengar gosip itu.
"Gampang.Kita tinggal buktikan saja hal itu benar atau tidak" jawab Riko enteng.
"Caranya?" lagi Satya bertanya.
"Iisshh pakai nanya lagi. Masak tidak tahu" ledek Riko.
Membuat Satya mendengus geram.
"Kita buktikan saja apa kau itu normal atau tidak. Masak cantik-cantik belok" batin Riko setengah mengulum senyumnya.
***