The Story Of "A"

The Story Of "A"
Benar-Benar Kurang Ajar



Vi sungguh terkejut ketika mendapati seorang wanita seksi sudah duduk di ranjangnya. Di kamar hotel tempat dia menginap. Pria tampan itu baru saja selesai mandi. Parahnya lagi, Vi hanya memakai handuk di pinggangnya.


Membuat wanita yang duduk di ranjang Vi, langsung menggigit bibir bawahnya. Melihat kesempurnaan tubuh Vi. Muda, tampan dan tubuhnya benar-benar hot, menggoda. Dia pikir betapa beruntungnya dia malam ini. Apalagi kalau dia sampai bisa bercinta dengan pria tampan yang kini sedang menatapnya tajam. Membuat si wanita itu langsung menelan ludahnya susah payah.


"Gila, pria ini pasti luar biasa kalau sudah berada di atas ranjang" batin wanita itu.


"Kau siapa?" tanya suara baritone milik Vi yang terdengar seksi di telinga wanita itu.


Bukannya menjawab. Wanita itu malah berdiri. Lantas dengan berani menyentuh dada bidang Vi. Membuat Vi mundur satu langkah.


"Aku tanya sekali lagi siapa kau?!" tanya Vi mulai kesal.


"Berani sekali menyentuhku!" batin Vi marah.


"Aku adalah hadiah yang dikirim oleh seseorang untukmu" bisik wanita itu sensual.


Vi mengerutkan dahinya. Hadiah? Seseorang? Sejenak berpikir. Hingga satu nama terlintas di pikiran Vi.


"Ooo ini hadiah yang kau maksud" batin Vi meremehkan.


Sesaat Vi menatap wanita itu. Cantik? Tidak. Seksi? Masih juga seksian Lana kemana-mana. Lagipula Lana masih perawan juga. Ciih, mengirimkan hadiah kok sudah bekas. Pikir Vi geli. Vi pikir, Papanya benar-benar tidak mengenali dirinya. Gadis seperti apa yang Vi suka. Tipe seperti apa yang Vi inginkan.


Tanpa Vi sadari, wanita itu sudah mulai menyentuh miliknya. Merabanya bahkan sedikit mere***nya.


"Sial dia malah memancingku" batin Vi kesal.


Dengan cepat Vi mendorong tubuh wanita itu ke atas ranjangnya. Membuat wanita itu tersenyum. Berpikir kalaulah Vi pasti sudah tergoda olehnya. Apalagi milik Vi terasa menegang kala wanita itu menyentuhnya tadi.


"Kau ingin bercinta denganku?" tanya Vi.


Wanita mengangguk. Sambil meraba dada bidang Vi. Mulai turun ke bawah. Menuju milik Vi.


"Tapi sayangnya aku tidak" ucap Vi meremehkan.


Membuat wanita itu langsung menghentikan aksinya.


"Tapi milikmu sudah siap tempur sayang" ucap wanita itu sensual.


"Memang tapi sayangnya milikku hanya menyukai perawan. Dia tidak suka bermain dengan bekas orang" bisik Vi yang langsung membuat mata wanita itu membulat.


"Kau meremehkanku. Coba dan kau tidak akan mencari yang lain" ucap wanita itu. Mulai menyentuh bibir Vi.


Bibir yang sejak tadi begitu menggoda. Ingin sekali wanita itu mencecap rasa bibir Vi. Pasti rasanya sangat nikmat.


"Sayangnya aku tidak tertarik. Tapi aku bisa memberimu saran. Kembalilah pada orang yang menyuruhmu kemari. Goda dia sama seperti kau menggodaku. Aku jamin dia akan langsung on fire. Dia bisa menggempurmu semalaman" bisik Vi di akhir kalimatnya.


Dan kalimat itu sukses membuat wajah wanita itu berbinar cerah.


"Benarkah?" tanya wanita itu.


"Tentu saja. Kau tahu dia lebih pro daripadaku. Aku jamin kau pasti puas dengannya" rayu Vi.


Sesaat wanita itu terdiam.


"Akan kuberikan kau alamatnya. Juga tambahan bonus jika kau bisa bercinta dengannya" tambah Vi. Lantas bangkit dari atas tubuh wanita itu.


Mendengar kata bonus. Wanita langsung menyusul Vi bangun.


"Benarkah ada bonus untukku?" tanya wanita itu tidak percaya.


"Benar. Ingat goda dia seperti kau menggodaku. Dan aku pastikan kalau dia akan langsung menerkammu" ucap Vi sambil menyeringai.


Vi tahu betul siapa Papanya. Casanova yang tobat. Namun sekali senggol bisa langsung on fire.


"Enjoy your present" batin Vi tersenyum.


Menatap wanita yang sudah menghilang di balik pintu.


***


"Ya"


Vi baru saja selesai berpakaian ketika ponselnya berbunyi.


"Apa maksudmu mengirimkan video seperti itu kepada Lana" teriak Arch dari seberang.


"Maksud kamu apa? Aku tidak paham" jawab Vi cepat.


Tuuut bunyi ponsel yang dimatikan. Vi mengerutkan dahinya. Hingga terdengar bunyi pesan masuk. Vi membukanya. Sedetik kemudian matanya membulat.


"Sial!" maki Vi.


"Di mana dia sekarang?" tanya Vi kepada Arch melalui ponselnya.


Membuat Vi langsung memejamkan matanya. Mendengar teriakan Arch tepat ditelinganya. Pria itu tengah menyetir mobilnya. Dan menggunakan headset bluetooth di telinganya untuk menghubungi Arch.


"Hei aku tidak melakukan apapun pada perempuan itu" sangkal Vi.


"Bomat! Sekarang temukan Lana. Sebelum Lana berbuat yang tidak-tidak! Aku dan Riko juga sedang mencarinya" pekik Arch.


Vi langsung melempar headset bluetoothnya ke dasboard Pajero Sport Black Series-nya. Lantas mencoba berpikir kemana Lana ke mana akan pergi dalam keadaan kacau begini.


Vi masih melajukan mobilnya tanpa tahu arah tujuan. Ketika ponselnya kembali berdering.


"Dimana dia?" tanya Vi langsung menggunakan ponselnya.


"..."


"Aku akan kesana" ucap Vi cepat.


"Bagaimana bisa kamu berpikir untuk pergi ke sana?" guman Vi lirih.


Sementara itu,


Seseorang tengah tertawa penuh kemenangan. Dia yang mendapat laporan dari anak buahnya, kalau Lana dan Vi masih sering berhubungan. Merasa geram. Tanpa tahu, jika Vi sebenarnya sudah memutuskan hubungannya dengan Lana. Hingga pria itu terus mencari cara agar kedua orang itu benar-benar berpisah.


Hingga satu ide terlintas di benaknya. Jika kemarin dia gagal mempengaruhi Lana. Kali ini dia akan menggunakan cara yang berbeda.


Dan hasilnya sesuai dengan harapannya. Anak buahnya melaporkan kalau Lana keluar dari apartemen Arch dengan wajah marah luar biasa. Langsung menuju sebuah tempat yang membuat Bryan semakin bersorak senang.


"Akan lebih mudah menghancurkannya selama dia ada di sana" batin Bryan.


Tawa Bryan berhenti ketika terdengar suara ketukan di pintu. Bryan melangkah ke pintu apartementnya. Membukanya. Dan nyaris terjengkang. Ketika seorang wanita seksi langsung menyerangnya.


Mencium bibir Bryan liar. Dengan tangan yang langsung menyentuh milik Bryan.


"Hei tunggu dulu. Kenapa kamu malah kemari?" tanya Bryan gelagapan karena serangan dadakan dari wanita bayaran yang ia kirim untuk menjebak Vi putranya.


Bryan heran kenapa wanita itu kini malah ada di hadapannya. Langsung menyerangnya pula.


"Oh ****!!"


Bryan mengumpat kesal. Karena dirinya sangat sensitif dengan sentuhan wanita. Dan wanita tadi berhasil membangunkan miliknya.


"Kata dia tuan lebih pro dibanding dia. Dan juga katanya tuan bisa memuaskan saya" jawab wanita itu sambil terus menggerayangi tubuh Bryan.


Jangan salah ya readers meski sudah lima puluh tahun lebih. Tapi tubuh Bryan masih seksih dengan otot perutnya yang terawat baik.


"Sialan kau Vi! Berani-beraninya mengirim balik wanita yang sudah kubayar untuk menjebakmu! Ahhhh" desa*** Bryan akhirnya lolos juga.


Ketika wanita itu tanpa ampun terus menyentuh miliknya. Membuat has*** Bryan meroket seketika. Jika sudah begitu, Bryan tidak punya pilihan lain selain menyerang balik wanita itu. Untuk segera menuntaskan has***nya.


"Serang dia seperti kau menyerangku. Aku jamin dia akan langsung menerkammu"


Sebaris pesan Vi yang membuat wanita itu langsung tersenyum senang. Melihat bagaimana Bryan ini begitu liar menyerang dirinya. Hingga dalam beberapa detik saja. Tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benang sedikitpun.


Tak butuh lama. Keduanya sudah saling bergelut panas diatas ranjang milik Bryan. Disertai suara desa*** dan lenguhan penuh kenikmatan dari dua insan yang tidak saling kenal namun saling memberi kenikmatan satu sama lain.


Malam itu menjadi malam panas bagi keduanya. Bryan yang sudah ditinggal Vera kembali ke Sidney. Tentu perlu seorang wanita untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Dan kehadiran wanita bayaran itu cukup membuat Bryan bisa menuntaskannya. Meski Bryan akui, hanya Vera yang bisa memuaskan dirinya.


Persis seperti kata Vi, setelah melewati tengah malam. Bryan baru berhenti dari kegiatan panas itu. Membuat si wanita itu tersenyum senang.


"Yang dikatakan pria tadi ternyata benar" batin wanita itu.


Menatap Bryan yang kini berbaring di sampingnya.


"Pakai bajumu dan segera pergi dari sini!" perintah Bryan.


Wanita itu menatap Bryan tidak percaya.


"Apa kau tidak mendengarku!" ulang Bryan. Tatapan matanya sungguh tidak bersahabat.


Membuat wanita itu bangkit dengan cepat dan memakai bajunya dengan tergesa-gesa.


"Ciih setelah puas, langsung mengusirku!" gerutu wanita itu.


"Akan kuberikan bonus. Tapi jangan muncul lagi dihadapanku!" lagi Bryan berucap.


Membuat senyum mengembang di bibir wanita itu.


"Wah semoga saja aku bisa beruntung seperti ini setiap hari. Double bonus.Plus double puas" lagi wanita itu membatin sebelum keluar dari apartement Bryan. Tidak peduli dengan rasa lelah ditubuhnya.


"Vi...kau benar-benar kurang ajar!" maki Bryan dari atas ranjangnya.


****---