
Vi melangkah terburu-buru. Melesat keluar dari mobilnya. Tapi baru saja ia akan masuk ke kantor Lana. Ponselnya berdering.
"Ya, Om" jawab Vi tergesa-gesa.
"Dia ada disini" ucap Dika dari seberang.
"Oh ****!" umpat Vi.
Pria itu kembali masuk ke mobilnya. Melajukannya kembali ke kantornya.
Beberapa saat yang lalu,
"Vi, Papamu telah terbang ke Surabaya. Kemungkinan dia sudah tiba disana. Aku tidak tahu apa tujuannya. Tapi aku merasakan kalau ini bukanlah hal yang baik" lapor Dika setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang berada di Sidney.
Vi yang sudah selesai meeting dengan seorang kliennya. Langsung melesat keluar dari restoran tempatnya meeting dengan kliennya. Menyerahkan sisa urusannya kepada Fajar, asistennya yang lain.
Tujuannya adalah Lana. Vi begitu takut kalau berita hubungannya dengan Lana sudah sampai ke telinga papanya. Satu clue Vi dapatkan. Orang lain yang bisa menyakiti Lana adalah papanya.
"Halo, Rahma apa Lana bersamamu?" tanya Vi.
Rahma yang memang bersama Lana. Langsung menjawab iya. Membuat Vi merasa lega.
"Apa dia baik-baik saja? Apa tadi papaku menemuinya?" cecar Vi.
Pria itu begitu takut jika Papanya mengatakan sesuatu yang menyakiti Lana. Lana yang mendengar pertanyaan Vi, langsung menangis tertahan. Lana tahu Vi begitu mengkhawatirkannya.
Perlahan gadis itu memberi kode kepada Rahma agar menjawab tidak. Membuat Rahma membulatkan matanya. Namun Lana memberi kode untuk tetap menjawabnya seperti itu.
"Tidak, tuan Aditama. Tidak ada siapapun yang menemui mbak Lana. Selain klien kami" jawab Rahma.
Mendengar hal itu Vi langsung menutup panggilan ponselnya. Semakin memacu mobilnya menuju ke kantornya.
Sementara itu Lana semakin menangis kencang. Membuat Rahma dengan segera memeluk bosnya itu.
"Mbak, belum tentu yang dikatakan orang itu benar. Tuan Aditama orang baik. Saya bisa merasakan ketulusannya"
"Tapi orang itu punya buktinya" ucap Lana.
"Mbak, bukti bisa dibuat. Dimanipulasi. Tapi ketulusan seseorang tidak bisa" jawab Rahma.
Lana semakin bingung. Apa yang harus dia lakukan.
"Mbak Lana sebaiknya menenangkan diri dulu. Jernihkan pikiran Mbak Lana. Baru setelah itu Mbak bisa mengambil keputusan" saran Rahma.
Lana tampak berpikir. Benar dia harus menjernihkan pikirannya dulu. Sebelum memutuskan siapa yang harus dia percayai.
"Aku pergi dulu kalau begitu" pamit Lana.
"Mbak Lana mau ke mana?" tanya Rahma.
"Ke mana saja" jawab Lana asal.
Karena dia memang tidak tahu harus pergi ke mana.
Di sisi lain,
Vi langsung melesat naik ke ruangannya. Di mana sang papa sudah berada di sana. Jantung Vi berdebar kencang sekali. Bertemu papanya setelah beberapa waktu berlalu. Tentu saja setelah aksinya melarikan diri dari Sidney yang sempat membuat papanya marah besar.
Ceklek,
Perlahan Vi membuka pintu ruangannya. Setelah terlebih dahulu mengatur nafasnya. Begitu ia masuk. Dilihatnya Om Dika, sekaligus asistennya sedang menundukkan kepalanya.
"Kau tahu kesalahanmu?" tanya suara yang begitu dingin. Begitu familiar di telinga Vi.
Vi memang sengaja belum masuk sepenuhnya ke dalam ruangannya. Sengaja ingin mendengarkan apa yang ingin papanya katakan.
Dika menggeleng mendengar pertanyaan Bryan.
"Kau sangat lancang membiarkan Vi begitu bebas di luar sana!" ucap Bryan penuh penekanan.
Lagi, Dika hanya diam. Tidak ingin menambah kemarahan pria yang pernah menjadi atasannya hampir dua puluh empat tahun yang lalu.
"Kau tahu jika Vi tidak boleh berhubungan dengan keluarga mereka. Terutama keluarga Lee. Tapi kenapa kau membiarkan Vi bergaul dengan mereka" lagi ucapan yang membuat Vi penasaran.
"Karena Vi bahagia bersama mereka. Terutama Nyonya Tania" kali ini Dika berani menjawab. Dika tahu Vi sudah berada di belakangnya.
"Sudah waktunya kamu tahu semua kejadian di masa lalu, Vi" batin Dika.
Berharap kalau Bryan akan keceplosan soal kejadian itu.
Braakkkk!
Suara meja yang digebrak Bryan.
"Kau berani menjawab?" tanya Bryan marah.
Dika kembali diam.
"Kau bilang Vi bahagia dengan mereka? Omong kosong apa lagi yang kau ucapkan?" tanya Bryan meremehkan.
"Tentu saja aku bahagia bersama mereka" jawab Vi tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Sedang Vi sendiri tidak tahan dengan perlakuan papanya pada Dika. Dika adalah orang yang sangat berjasa pada Aditama Grup. Vi tidak tahu, apa yang terjadi pada Aditama Grup kalau bukan Dika yang handle. Mungkin sudah hancur dari dulu. Dika benar-benar mengelola Aditama Grup dengan baik. Dia kompeten, jujur dan paling bisa diandalkan.
Bryan jelas terkejut melihat kedatangan Vi. Putra tunggalnya yang kini menatap tajam pada dirinya. Putranya jelas sudah berubah banyak. Dari terakhir kali mereka bertemu.
Kredit Instagram @xoxoxukai_mm
Vi terlihat lebih dewasa. Percaya diri dan berani. Satu sifat yang sangat Bryan takuti kalau Vi memilikinya.
"Bahagia dari mana? Kau jelas lebih bahagia waktu bersama kami, papa dan mamamu" jawab Bryan menatap tajam pada Vi.
Yang malah menunjukkan senyum smirk-nya.
"Bahagia papa bilang. Diabaikan. Di kurung di rumah. Sendirian. Begitu definisi bahagia menurut Papa?" tanya Vi skak mat.
Membuat Bryan kicep seketika. Hening sesaat.
"Pergilah Om. Om handle dulu urusanku" pinta Vi ramah.
"Tapi Vi...." Dika jelas enggan meninggalkan Vi sendirian bersama Bryan.
Dika cukup tahu sifat Bryan yang temperamental. Bisa saja Bryan melukai Vi. Meski Vi putra kandung Bryan.
"Jangan khawatir Om. Aku bisa menghadapinya. Aku bukan Vi yang dulu" ucap Vi sambil tersenyum.
Senyum yang tidak pernah terukir selama Vi berada di Sidney. Tapi di sini Vi, benar-benar bisa merasakan bahagianya bisa tersenyum. Senyum Vi membuat Dika merasa lebih tenang.
Yeah, Vi yang sekarang memang berbeda. Dan Dika yakin. Kali ini Bryan akan sedikit kesusahan saat menghandle Vi. Perlahan Dika undur diri. Keluar dari ruangan Vi. Meninggalkan dua orang, ayah dan anak itu. Dalam suasana yang sedikit tegang.
"Jadi kau bersenang-senang selama di sini?" tanya Bryan dingin.
"Tentu saja. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mendapat kebebasan. Bertemu banyak orang. Juga bisa tersenyum. Diperhatikan, dicintai...
"Cukup Vi! Kau merendahkan Papa dan Mama. Kau ingin mengatakan kalau selama ini kau tidak bahagia dengan kehidupan kita di Sidney?" potong Bryan cepat.
"Mau bahagia bagaimana? Kalau Papa memperlakukanku bak tahanan kota. Sedang Mama sibuk dengan pekerjaannya. Aku cuma pelengkap dalam rumah tangga kalian. Tanpa pernah kalian anggap ada. Aku perlu kasih sayang. Perhatian" balas Vi tajam.
"Vi.....!" suara Bryan menggelegar di ruangan kerja Vi.
Pria itu benar-benar marah dengan sikap dan ucapan Vi. Putranya benar-benar sudah berubah.
"Kenapa? Apa yang Vi katakan salah?" tantang Vi.
Bryan terdiam. Ternyata dia salah, telah meremehkan Vi. Berapa lama Bryan tidak bertemu Vi. Putranya itu nyata berani melawannya.
"Pa...aku sudah dewasa. Aku sudah bisa menentukan jalanku. Papa tidak perlu mendikteku" ucap Vi.
Membuat Bryan kembali meradang.
"Termasuk menikahi putri Jayden Lee?" tanya Bryan.
"Termasuk menikahi Lana" jawab Vi.
Bryan menyeringai.
"Kalau begitu kau perlu menanyakan kembali padanya. Apa dia bersedia menikah denganmu" ucap Bryan sambil tersenyum penuh misteri.
Seketika Vi membulatkan matanya.
"Apa yang sudah Papa katakan pada Lana?" tanya Vi dingin.
"Aku tidak akan memaafkan Papa. Jika sampai Lana terluka" batin Vi menatap tajam pada sang Papa.
"Papa hanya mengatakan apa yang perlu Papa katakan. Kebenaran yang mungkin menyakitkan. Yang mungkin akan membuatnya membencimu" ucap Bryan sambil berbisik di telinga Vi. Lantas berlalu keluar dari ruangan kerja Vi.
Seketika Vi mengepalkan kedua tangannya. Rasa takut langsung melanda hati Vi.
"Halo, apa kalian bisa menemukannya?" tanya Vi melalui ponselnya.
"..."
"Oh ****!!" maki Vi.
"Dimana kamu, Lana? Aku mohon jangan bersembunyi dariku" bisik Vi lirih.
Otaknya berpikir cepat. Seketika satu nama terlintas di pikirannya. Hingga tanpa ragu. Vi meraih ponselnya.
"Ma, aku perlu bantuan Mama" ucap Vi begitu panggilannya tersambung.
Sejenak suasana menjadi hening. Vi hanya terdiam mendengarkan ucapan dari Mamanya dari seberang sana.
"Aku mohon kamu baik-baik saja" doa Vi dalam hati.
Apalagi yang bisa Vi lakukan selain berdoa. Ketika masalah datang menerpa. Ajaran dari sang kakek, David Mattew Aditama.
****