
Semenjak kepergian Azazeal dan Gill Orion menjadi terasa sangat sepi, terlihat Stacia dan Exifilia tengah duduk berdua di bangku taman. mereka mengobrol membicarakan Gill yang bisa pergi kemanapun seenaknya bertarung melawan iblis, sedangkan mereka berdua hanya diperintahkan untuk menjaga Orion yang aman-aman saja.
Stacia bertanya kira-kira apa yang akan dilakukan Azazeal kepada Acquila yang telah membangkang perintahnya, "Sebaiknya kita tidak lagi bicarakan pembangkang itu. yang jelas Tuan akan menghukumnya tegas dan keras!" jawab Exifilia dengan wajah judes benci kepadanya.
Semenjak kepergian Azazeal. Stacia menjadi sering pergi ke luar mengunjungi Edward di Kerajaannya, Edward adalah satu-satunya Malaikat yang mampu memikat hati pelayan Azazeal. Acquila jarang sekali pulang, sekalipun dia pulang hanya ganti baju setelah itu pergi kembali.
Stacia juga membicarakan soal Gabriel yang sebentar lagi akan menggelar pesta pernikahan besar. Exifilia justru tersenyum mendengarnya, "Gabriel itu benar-benar bodoh atau gimana. harusnya dia merasa malu menggelar pesta pernikahan dengan pengantin iblis seperti itu" ucap Exifilia menanggapinya.
"Kau benar, entah apa yang ada di dalam pikirannya." jawab Stacia pelan.
"Hei Exfilia?" tanya Stacia pelan.
"Hmmh?" menoleh kearahnya.
"Menurutmu apakah Vergile bisa membangkitkan Sam kembali?" tanya Stacia dengan wajah sedih.
"Aku tidak tahu, kecil kemungkinan niatnya itu akan berhasil karena satu-satunya cara untuk menghidupkan Sam kembali adalah bersujud kepada Tuhan dan meminta kepadanya. sayang sekali Tuan Azazeal tidak memiliki kekuatan sebesar dulu" jawab Exifilia.
"Aku sangat merindukan Sam saat ini. kira-kira apa ya yang sedang dia lakukan sekarang?" gumamnya menatap langit senja kuning matang.
"Entahlah." jawab Exifilia pelan ikut memandang langit yang indah.
"Apakah menurutmu sikap kita kepada Vergile itu terlalu dingin, aku selalu merenunginya setiap saat dan merasa bersalah kepadanya. sebelum pergi, Tuan pernah berpesan kepada kita untuk menjalin hubungan baik dengannya. secara tidak langsung Vergile itu adalah saudara kita, Bukan? Meskipun takdir mempertemukan kita dengan cara yang buruk!" ucap Stacia.
"Kau benar, kita ini seperti senior yang sedang memarahi junior yang tidak tahu apa-apa. Vergile itu anak yang masih polos, pantas saja dia mendapat perlakuan spesial dari Tuan." jawab Exifilia menyadari kesalahannya.
"Bagaimana kalau kita mengunjunginya?" usul Stacia membuat Exifilia terkejut.
Ia tertawa mendengar ucapannya, "Memangnya kau tahu dimana anak itu tinggal. sekolah itu sangat luas, bagaimana kalau kedatangan kita diketahui oleh orang lain. Ingat Vergile itu sedang menyamar disana!" jawab Exifilia.
"Tenang saja, aku bisa melacak keberadaannya melalui kekuatannya. Tengah malam adalah waktu terbaik untuk kita turun supaya tidak ada orang yang mengetahui kedatangan kita." ucap Stacia mengusulkan idenya.
"Itu ide yang bagus Stacia tapi apakah kau yakin caramu ini akan berhasil?" tanya Exifilia.
"Aku jamin cara ini akan berhasil. Manusia itu akan menghabiskan malamnya untuk tidur, tubuh mereka tak setangguh kita yang hanya tidur setahun sekali" jawabnya yakin.
"Oke, lalu kapan kita akan pergi?" tanya Exifilia.
"Kita hanya perlu menunggu sampai tengah malam tiba." jawabnya santai.
Scene berpindah kepada Gill yang baru saja pulang dari sekolah. nampak hari sudah malam ia sampai di kos sudah pukul 8 malam. terlihat Gill pulang dengan keadaan yang sangat lesu dan lemas. dasi dan bajunya berantakan, lelah seharian di ajak jalan-jalan oleh Fain dan Enrylind. Namun kabar baiknya hubungan Gill dengan Enrylind berangsur membaik dan mulai akrab satu sama lain.
Liliana sampai terlelap menunggu kepulangan Gill yang lama. penantiannya itu terbayar setelah ia mendengar suara pintu terbuka. dengan senyum lebar yang manis ia menyambutnya, "Kamu sudah pulang Vergile?" tanya Liliana lembut.
"Aku pulang." jawab Gill lirih lesu langsung duduk di kursi dengan kaki terlentang lurus terkulai lemas. Liliana langsung menuangkan teh hangat di cangkir yang sudah ia siapkan.
"Minum lah Vergile supaya kamu baikan. tidak biasanya kamu pulang selarut ini?" ucapnya setelah menuangkan teh tersebut.
"Dua orang bodoh mengajaku jalan-jalan sampai lupa waktu!" jawab Gill membuat Liliana tersenyum manis.
"Aku sempat cemas saat mendengar ada Iblis yang mengacau tadi. Apakah kamu terluka, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Liliana lembut memegang lengan tangannya hendak mengeceknya.
"Aku tidak apa-apa. saat peristiwa itu terjadi aku sedang jajan di kantin." jawab Gill membuat hati Liliana tenang kembali.
Gill bertanya kemana Alice dan Laphia, kenapa suasana rumah sangat hening dan sepi. Liliana menjawab kalau mereka telah pergi tidur. hari ini Laphia membersihkan rumah seorang diri jadi wajar kalau dia lelah dan akhirnya tidur lebih awal. Liliana balik bertanya mau dibuatkan menu apa untuk malam ini. Vergile menjawab "Yang mudah saja"
Liliana lantas tersenyum dan menawarinya pilihan telur ceplok mata sapi sebagai menu makan malam ini. Vergile hanya mengangguk tidak masalah. ia lalu bangkit dan bertanya dimana Liliana meletakan handuk mandinya. Liliana menjawab kalau handuk mandi akan selamanya ia taruh di kamar. Vergile lalu bangkit dan berjalan menaiki tangga untuk mandi sedangkan Liliana mulai menghidupkan kompornya dan mulai memasak.
Selang beberapa menit Gill turun dengan rambut yang masih basah dengan handuk tersampir di pundaknya. ia lalu duduk menghadap piring berisi nasi kosong sebelum akhirnya Liliana datang dan menuangkan telur mata sapinya. "Ya ampun Vergile, kamu tidak mengeringkan rambut mu dengan handuk. Lihat lah airnya jatuh membasahi meja!" ucap Liliana memarahinya.
Gill merasa bodo amat dengan ucapannya itu dan menjawab, "Biarlah, aku sengaja membiarkannya supaya kepalaku tetap segar" jawabnya enteng membuat Liliana gedek-gedek kepala.
Dengan sabar Liliana meraih handuk tersebut dan mengeringkan rambutnya dengan lembut. hati yang semula kesal dan marah kini menjadi meleleh penuh kasih sayang saat mengusap rambutnya yang halus. Liliana merasakan jiwa keibuannya keluar saat sedang mengusap rambut putih itu. dia senang dan sadar bahwa marahnya tadi adalah marah kasih sayang untuk anak laki-laki yang nakal sepertinya.
Terlihat Gill seperti anak kecil di depan Liliana yang dengan lahapnya memakan telur mata sapi tersebut. Liliana hanya tersenyum sambil terus mengeringkan rambutnya. setelah rambutnya kering Liliana lalu menyampirkan kain tersebut di punggung kursi dan segera menuangkan teh hangat untuknya.
"Terima kasih Bu, makanannya enak sekali. Ini mengingatkan ku kepada masakan ibuku." ucap Gill membuat Liliana yang sedang mengemasi piring bekasnya menjadi sedikit terkejut.
"Benarkah?" tanya Liliana.
Ia mengangguk, "Meskipun ibu orangnya seperti itu tapi aku tahu dia wanita yang baik. biasanya setiap berkunjung ibu akan selalu membuatkan ku menu ini dan aku sangat menyukainya!" jelasnya.
"Begitu ya. kalau kamu memang menyukainya aku akan membuatkan mu setiap hari!" ucap Liliana membuat Gill senang, "Sungguh?" tanya Gill yang langsung di jawab anggukan dengan senyum manis.
"Terima kasih Bu, kau memang wanita yang baik!" pujinya. Liliana lalu pergi untuk mencuci perkakas bekas ia masak.
Saat Liliana sedang mencuci perkakas. mereka mendengar suara ketukan pintu dari depan. Liliana yang masih sibuk lantas menyuruh Gill untuk membukakannya. saat pintu tersebut di buka betapa terkejutnya Gill melihat siapa yang datang, "Enrylind?" ucapnya terkejut.
Dengan wajah yang malu Enrylind menjawab, "Hai Vergile. maaf apabila aku datang tiba-tiba seperti ini. Aku tidak mengganggumu kan?" tanya Enrylind malu-malu kucing.
"Tidak-
'Aneh sekali, biasanya sikap Enry keras seperti batu. Apakah dia hanya berpura-pura tegas. Tidak-tidak, harusnya aku tahu kalau wanita sedang bersikap lembut seperti ini pasti akan ada maunya!' pikir Gill mengamati sikapnya.
"Tumben kamu kesini malam-malam. Ada apa?" sambung Gill bertanya.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu. Kau tidak keberatan kan?" jawab Enrylind yang langsung di jawab "Tentu saja" olehnya. "Boleh aku masuk?" sindir Enrylind yang dari tadi berdiri di depan pintu. dengan wajah malu Gill langsung membukakan pintu lebar dan mempersilahkannya masuk.
Liliana yang sudah selesai cuci piring sontak terkejut melihat kedatangan Enrylind malam-malam. "Enrylind, dasar dewan tidak tahu diri. Beraninya kau menggunakan hipnotis itu pada kami-
"Tenang lah Bu, kali ini aku datang secara baik-baik. tidak perlu tegang seperti itu, aku janji tidak akan berbuat macam-macam disini" bela Enrylind dengan wajah ketakutan.
"Katakan apa tujuan mu datang kemari?" tanya Liliana tegas dengan tatapan mata tajam.
"Bu dia datang karena ingin ngobrol denganku" ucap Gill membelanya.
"Vergile kau tidak tahu seberapa bahayannya wanita ini. aku sudah memperingatkan mu untuk tidak dekat dengannya lagi" ucap Liliana yang masih waspada.
"Bu kedatanganku kemari ingin membahas soal pertarungan besok. Vergile dan aku sudah mempunyai kesepakatan dan aku ingin membahasnya malam ini" jelas Enrylind meyakinkannya.
Liliana lalu bertanya kepada Gill apakah yang dia katakan itu benar. ia mengangguk mengkonfirmasinya. Liliana lalu duduk dan mencoba untuk tenang meskipun masih ada sedikit rasa waspada di hatinya. Gill dan Enrylind juga duduk berseberangan dan mulai ke inti obrolannya.
"Soa pedang yang kau janjikan itu aku ingin melihatnya sekarang!" ucap Enrylind terus terang.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya Gill menyindirnya.
"Keluarkan saja sesuai keinginanku jika kau memang memilikinya!" tegasnya ngotot.
Gill yang baik hati lantas mengeluarkan semua pedang pemberian Erfyona dan menunjukan padanya. Enrylind dan Liliana sontak terkejut darimana ia mendapatkan semua pedang ini, "Vergile, pedang sebanyak ini kau dapat dari mana?" tanya Liliana penasaran.
"Rahasia, tapi kalian tenang saja. pedang ini ku dapat dengan cara yang halal jadi untuk keberkahannya pasti terjamin!" jawab Gill santai "Bagaimana Enrylind. Apakah kau masih meragukan ku?" sambungnya meyakinkan.
Enrylind masih tidak menyangka ternyata apa yang dijanjikan itu nyata adanya, Vergile benar-benar memiliki semua pedang tersebut. dalam hati ia sangat tertarik dengan semua pedang yang disuguhkan karena penampakannya yang indah dan istimewa, "Apakah kau sungguh ingin memberikan semuanya jika aku yang menang?" tanya Enrylind.
"Semuanya!" jawab Gill.
Enrylind lalu menyandarkan tubuhnya di kursi rileks sambil berfikir sejenak, 'Jika semua pedang yang dia janjikan saja nyata, berarti perkataannya soal masterku itu bukan lah omong kosong!' batinnya yakin.
"Baiklah Vergile, ku rasa aku bisa mempercayaimu!" ucap Enrylind percaya padanya. Gill lalu menyimpan lagi semua pedang tersebut setelah ia puas melihatnya.
"Pertanyaanku tadi itu sebenarnya adalah pengalihan untuk mengecek kejujuran dan kesungguhan mu. Dan kau ternyata tidak bohong. Berarti soal Masterku itu kau juga tidak bohong kan?" tanya Enrylind memastikan.
"Tentu saja tidak untuk apa aku berbohong! Aku memiliki hubungan yang bisa dibilang erat dengan wanita itu. sebaiknya kau pikirkan saja cara untuk mengalahkan ku dan kau akan mendapatkan janjiku!" kekeh Gill mengulangi apa yang telah ia janjikan.
"Vergile aku mohon, beritahu aku dimana dia. beliau adalah seseorang yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri!" mohon Enrylind.
Enrylind lalu menceritakan semua masa lalunya yang kelam. mulai dari desanya yang kekeringan, hari dimana dia bertemu dengan dua orang remaja yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri sampai pada akhirnya dia kehilangan keduanya. kehilangan kedua orang tua sampai dia kehilangan adik kesayangannya. Enrylind menceritakan kalau hidupnya sangat hancur bahkan ia sempat depresi dan ingin bunuh diri.
"Karena aku tidak ingin kehilangan lagi akhirnya aku memutuskan untuk menggendong tubuh adikku yang sudah menjadi mayat hingga tubuhnya kurus kering menjadi mumi. saat itu yang ada dalam pikiranku adalah aku tidak ingin hidup sendiri dan aku tidak ingin ditinggal lagi. aku berjalan tanpa arah tujuan, kaki ku terus melangkah sampai aku merasa lelah. hingga pada akhirnya aku bertemu dengannya, wanita yang sangat cantik seperti bidadari" ucap Enrylind.
"Wanita itu memberiku makan, merawatku dan memperbaiki kesehatan mentalku yang sudah hancur. dia mengajariku beberapa tekhnik bela diri sampai aku bisa mandiri. dia benar-benar mengajariku arti merelakan dan arti dari kesabaran. Nona itu orangnya baik sekali dan saat aku mendengar dirinya dari marga Iblis, sontak aku pun terkejut luar biasa" sambungnya.
"Tolong lah Vergile. jangan kau pisah kan aku dengan Masterku. Dia adalah orang yang penting dalam hidupku, aku tidak memiliki siapa pun lagi kecuali hanya dia!" mohonnya untuk yang kedua kalinya.
"Apakah yang kau katakan itu benar Enrylind. Kau tidak sedang membuat cerita manipulatif kan?" tanya Liliana sedikit tersentuh mendengarnya.
"Demi Tuhan. Sekarang pun aku bisa menunjukkan kepada kalian dimana makam mereka semua!" yakin Enrylind.
Liliana sontak terkejut melihatnya jujur dengan cerita tragis seperti itu. ia lalu meraih tangan Gill dan membujuknya, "Vergile, kenapa kau tidak langsung memberitahukannya kepada Enrylind. dia sudah menceritakan masa lalunya kepadamu, dia percaya kepadamu Vergile!" bujuknya lembut.
"Aku turut berduka dengan masa lalu mu Enrylind tapi maaf aku tidak akan memberitahumu semudah itu. berusahalah untuk sesuatu yang kau inginkan, jangan menggunakan cara wanita yang pengecut. Menggunakan rayuan sebagai cara instan!" balas Gill menohok membuat Enrylind marah.
"Apakah menurutmu aku sehina itu Vergile. Aku menceritakan ini agar kamu tahu dan mengerti, tapi kau malah mengartikanya lain seolah-olah aku ini merengek dengan kedok merayu. Apakah kau sungguh tidak punya hati!" marahnya kesal karena harga dirinya di injak.
"Sudah lah sebaiknya kita jangan membahas ini lagi." ucap Gill berniat menyudahi topik tersebut.
"Apakah kau sengaja berkata seperti itu agar aku mati penasaran. dengan memamerkan dua kekuatan itu kau mungkin beranggapan kalau aku tidak akan pernah bisa menang. Ya aku akui caramu itu berhasil, aku memang tidak akan bisa mengalahkan mu dan aku juga tidak akan pernah bisa bertemu dengan masterku kembali." ungkapnya marah bercampur kesal.
Gill lalu tertawa mendengarnya, "Enry oh Enry, rupanya kau termakan oleh gertakan ku itu. Terkadang orang pandai lebih mudah untuk diprediksi. lagian siapa juga yang akan membunuh mu, apakah pernah terlintas dipikiran mu apa yang akan terjadi jika kau terbunuh dengan kekuatanku itu?" sindirnya membuat Enrylind berpikir dalam. untuk pertama kali Enrylind merasa terlihat bodoh di depan Gill.
"Benar sekali, bukan kebanggaan yang aku dapat tapi justru masalah besar yang akan datang. semuanya pasti akan heboh, aku tahu kamu itu tidak bodoh Enrylind. Kau pasti juga tahu siapa pemilik dari dua kekuatan ini!" sambungnya membuat Enrylind terdiam.
"Aku juga tahu kalau kekuatan mu itu sama besarnya dengan Alin Xaverias. tidak, mungkin kau sedikit lebih kuat darinya. Tapi tenang saja, tanpa kekuatan itu aku juga masih bisa mengimbangi mu jadi kau tidak perlu khawatir pertarungannya tidak seimbang. Aku tidak akan menggunakan dua kekuatan itu dan aku juga tidak akan membunuh mu. Apakah sekarang semuanya sudah jelas?" tanya Gill menatap matanya dari dekat.
Enrylind mengangguk pelan merasa sedikit lega, "Baiklah kau mau makan apa malam ini?" tanya Gill membuatnya terkejut. dengan sigap Erylind menolaknya dengan berkata, "Tidak, terima kasih. aku baru saja makan" jawabnya.
"Sudah tidak usah sungkan, tidak baik membiarkan tamu pergi dengan perut kosong. Tunggulah sebentar" ucap Gill lalu pergi ke dapur.
Sembari menunggu masakannya siap. Liliana membuka topik obrolan agar suasana kembali hangat. ia tertarik dengan cerita Enrylind sebelumnya dan penasaran dengan dua orang yang disebut kakak itu, "Boleh aku tahu siapa nama dari kedua orang yang kau sebut kakak itu Enrylind?" tanya Liliana.
"Namanya adalah Michael dan Noah. Kak Michael adalah orang pertama yang aku kenal, kami dipertemukan oleh situasi yang buruk. saat itu aku kepergok olehnya mencuri makanan di Kerajaan yang ia jaga dan akhirnya aku pun dikejar sampai masuk hutan." jawabnya.
"Kenapa kamu mencuri?" tanya Liliana lembut.
"Keadaan lah yang memaksaku melakukannya. saat itu desa kami sedang dilanda krisis pangan, awalnya kakak ku lah yang menjadi tulang punggung desa dengan cara mencuri makanan dari setiap kerajaan dan membagikannya kepada masyarakat. namun dia tertangkap dan di bunuh secara mengenaskan, kami menemukan mayatnya sudah membusuk dan sudah tidak berbentuk." jawabnya membuat Liliana menaruh rasa iba padanya.
"Lalu apa yang terjadi dengan Michael dan Noah?" tanya Liliana.
"Kak Noah meninggal karena dikhianati oleh Ratu yang ia jaga. Kak Michael adalah orang yang mengetahui itu dan menceritakannya padaku. dia sempat di kejar dan akan di bunuh setelah mengetahui itu namun dia masih sempat selamat meskipun salah satu tangan dan kakinya harus putus." jawabnya membuat Liliana menutup mulutnya karena ceritanya terlalu tragis.
"Lalu?" tanya Liliana penasaran.
"Tiga bulan setelah itu desaku di serang oleh sekelompok sekte misterius. desa kami dibakar, seluruh penduduk desa dibantai termasuk ayah dan ibuku. tengah malam kami berlari masuk ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri dari pembantaian itu. namun sayang mereka berhasil menyudutkan kami, karena terdesak Kak Michael menyuruh kami berdua untuk kabur. Awalnya aku tak mau meninggalkannya namun dia berjanji akan menyusulku, akhirnya aku pun pergi meninggalkannya," jawabnya.
"Aku menunggunya cukup lama tapi dia tak kunjung datang, setelah aku cek kembali ke tempat itu ternyata Kak Michael sudah meninggal dunia dengan dua pedang menyilang menusuk kedua paru-parunya. satu pedang besar menembus jantungnya dan wajahnya penuh dengan luka sayatan, sepertinya dia meninggal dengan siksaan yang pedih." sambung Enrylind membuat Liliana meneteskan air mata.
"Kau sungguh gadis yang malang Enrylind." ucap Liliana pelan iba padanya.
"Semuanya sudah takdir. karena masa kelam itu aku jadi sadar kalau hidup harus diperjuangkan. Supaya peristiwa yang sama tidak terulang kembali, akhirnya aku bertekad untuk menjadi orang yang kuat!" jawabnya membuat Liliana tersenyum.
"Knok-Knok!" suara pintu diketuk.
Mereka berdua terkejut dengan suara itu. Gill yang sedang memasak di belakang meminta tolong kepada Liliana untuk membukanya dan setelah dibuka betapa terkejutnya ia, "Yahaloo!" sambut Alin ramah dengan senyum manis.
"Nona!" ucap Liliana terkejut membuat Enrylind penasaran.
"Apakah Gill tinggal disini?" tanya Alin membuat Liliana kebingungan, melihatnya kebingungan spontan Alin meralat pertanyaannya tersebut. "Maksudku Vergile. Apakah dia ada?" Liliana lalu tersenyum dan mengangguk "iya" dia lalu membukakan pintu lebar dan mempersilahkannya masuk ke dalam.
Enrylind terkejut bukan main saat tahu tamu itu adalah Alin Xaverias. Ia lalu segera berdiri dan membungkuk memberinya hormat, "Enrylind! Kok kamu ada disini?" tanya Alin terkejut.
"Kebetulan ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada Vergile sebelum pertarungan kami dimulai." jawab Enrylind sopan.
"Begitu ya. Lalu dimana dia sekarang,-
"Umhhh" hirupnya mencium sesuatu "Bau harum apa ini?" tanya Alin teralihkan oleh bau lezat masakan yang keluar dari dapur. Enrylind dan Liliana juga terkejut mencium baunya yang sangat nikmat menggoda. mereka lalu pergi ke dapur dan mengeceknya sendiri.
Terlihat Gill tengah menggoyangkan wajannya dengan api yang menyala tinggi, tangannya begitu luwes dan gesit menggoyangkan wajan besar tersebut. "Oh akhirnya kau datang juga Alin!" ucap Gill gembira sedikit menengok ke arahnya karena sibuk mengaduk sayuran yang ia tumis.
"Kau sedang masak apa Gill, heboh sekali?" tanya Alin penasaran.
"Aku sedang membuat tumis spesial kesukaanku. Maaf aku sampai lupa tidak membawa makanan yang sudah siap ke depan. Ayo coba lah! Aku belum sempat mencicipinya siapa tahu kurang sesuatu" ucapnya mempersilahkan mereka mencicipi dua hidangan yang sudah siap yakni tumis kecap tempe dan kacang panjang dan satunya lagi opor ayam.
"Maaf Enry aku tidak bisa membuatkan mu kari ayam karena bumbunya kurang!" ucapnya sambil menaburkan gula pasir ke dalam masakannya.
"Tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan mu." jawab Enry pelan, terpukau melihat skill memasaknya yang seperti koki profesional.
"Ayo coba lah!" ucap Gill mempersilahkannya.
Mereka bertiga lalu mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah opor ayam tersebut. saat kuah tersebut membasahi lidah Alin, matanya langsung melek dengan kedua alis terangkat ke atas, "Umhhh ini lezat sekali Gill. rasa rempahnya pas dan tidak terlalu pekat di lidah, tingkat kekentalan santannya juga pas tidak membuat eneg saat di makan!" ucap Alin sebagai orang yang pertama menilai masakannya.
"Rasa manis dan asinnya juga seimbang. Jika kantin menyajikan opor ayam seenak ini mungkin aku akan memilih menu ini daripada kari ayam!" timpal Enrylind ikut menilai dan mengeluarkan pendapatnya.
"Ini sangat lezat Vergile, ibu sampai tak bisa berkata apa-apa selain sempurna. Ini enak sekali!" puji Liliana yang nampak begitu menikmatinya.
"Syukurlah, aku senang kalau kalian suka!" ucap Gill senang sambil menyendok dikit demi sedikit tumis yang sudah masak ke dalam piring, "Bu tolong bawakan nasi dalam baskom itu ya. Kita makan bersama malam ini!" sambungnya yang langsung di jawab "Oke!" olehnya.
Setelah sampai di ruang makan mereka langsung dipersilahkan oleh Gill mengambil makanan yang mereka suka, "Ayo makanlah sepuas hati kalian, aku sengaja membuatnya banyak. Jangan sampai tidak dihabiskan!" ucapnya.
Alin, Liliana, dan Enrylind lalu mengambil nasi dari baskom tersebut. terlihat Alin sama sekali tidak segan kepada yang lainnya dan mengambil nasi banyak sekali sampai menggunung tinggi. "Nona ternyata nafsu makan Anda tinggi sekali!" ucap Liliana dengan senyum.
Alin tersenyum sedikit merasa malu, "Lima belas tahun lebih aku menjalani progam diet. Mumpung sekarang ada makanan enak aku tidak akan menahannya lagi!" jawabnya membuat Gill tersenyum senang.
"Makan lah Alin, makan lah yang banyak!" ucap Gill.
Terlihat wajah Alin begitu bahagia saat menikmati makanan tersebut. dia terlihat manis dan menggemaskan saat mulutnya penuh dengan makanan. berbanding terbalik dengan Alin yang rakus Liliana justru makan dengan gayanya yang elegan dan anggun menggunakan garpu dan sendoknya. dia juga menaruh pisau kecil disamping piringnya untuk ia gunakan memotong daging ayam agar tidak mengotori tangannya.
"Enry kok kamu makannya dikit sekali?" tanya Liliana, "Tambah dong. sudah tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri" sambungnya.
Gill yang melihat Enrylind hanya mengambil nasi dan lauk yang sangat sedikit menjadi sedikit merasa kesal, "Enry apakah kau tidak menghargai aku. aku sudah masak banyak loh!" sindir Gill menyorotnya dengan kedua mata yang tak berkedip.
"Maaf Vergile tapi aku-
Gill lalu bangkit dari kursinya dan mengambilkan nasi yang banyak untuk Enrylind secara paksa, "Vergile apa yang kau lakukan?" tanya Enrylind kebingungan.
"Sudah jangan banyak tapi. Aku bilang makan lah yang banyak, gagal kan diet mu yang tidak berguna itu. Lihat lah Alin, dia makan banyak sekali tanpa memperdulikan dietnya!" ucap Gill yang di jawab anggukan setuju oleh Alin dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Tapi-
"Sudah diam, kita harus menghabiskan semua makanan ini!" sahut Gill sambil menuangkan lauk opor yang banyak di piringnya.
Saat sedang asik menuangkan kuah opor ayam ke piring Enry tiba ada suara orang mengetuk pintu. mereka sontak terkejut mendengarnya, "Siapa itu yang mengetuk pintu Vergile. Apakah kau punya janji dengan orang lain?" tanya Alin belepotan dengan mulut penuh.
"Tidak." jawab Gill singkat.
"Sudah kau bukakan saja dulu pintunya, siapa tahu penting." tutur Liliana lembut. dengan penuh kemalasan Gill bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri pintu. setelah pintu itu terbuka betapa terkejutnya ia.
"Kak Fyona!" ucap Gill.
"Syukurlah kau belum tidur Gill. Apakah aku mengganggumu?" tanya Erfyona.
"Tidak, aku baru saja selesai belajar!" jawab Gill berbohong.
"Tumben kamu rajin. Aku datang karena ingin mengembalikan ini." sambil menyodorkan kotak alumunium bekas tempat rendang dulu, "Bau apa ini, nikmat sekali?" tanya Erfyona mencium bau opor ayam.
Gill lalu mengaku kalau dirinya baru selesai masak dan sedang makan malam saat ini, "Tuh kan kamu bohong, aku sudah menduganya. Anyway kamu masak menu apa hari ini?" tanya Erfyona dengan perut keroncongan.
'Sepertinya ini adalah hari keberuntungan Enrylind' batin Gill dalam hati, 'Kasihan Kak Fyona jika aku melarangnya masuk hanya karena kesepakatan yang ku buat' sambungnya setelah berfikir panjang.
"Apakah Kak Fyona lapar?" tanya Gill.
Erfyona menjadi malu sambil memegang perutnya yang kosong, "Sebenarnya aku sudah seminggu tidak makan setelah persediaan rendangku habis. semua makanan yang masuk ke mulutku terasa hambar membuat ku tidak selera untuk makan" jawabnya jujur.
Gill lalu tersenyum, "Masuk lah Kak Fyona, aku baru saja membuat opor ayam yang banyak. Makan lah sepuas hati mu!" ucap Gill mempersilahkan.
"Eh beneran?" tanya Erfyona yang di jawab anggukan oleh Gill. dengan hati yang gembira Erfyona langsung memeluk Gill erat sampai tubuhnya terdorong ke belakang membuat pintu terbuka lebar, "Terima kasih Gill. Kamu memang adik yang pengertian!" pujinya haru.
"Nona!" ucap Alin dan Liliana secara bersamaan.
"Master!" ucap Enrylind langsung bangkit dari kursinya.
"Wah ternyata ramai sekali malam ini" ucap Erfyona dengan senyum manis.
Enrylind langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Erfyona. ia langsung memeluk tubuhnya erat dengan air mata rindu yang pecah menetes membasahi pipi, "Nona aku sangat merindukan mu, sudah sangat lama kita tidak bertemu!" ucapnya.
"Enry. kau Enrylind yang itu kan?" tanya Erfyona pangling. ia langsung melepaskan pelukannya dari Erfyona dan menatap wajah masternya tersebut.
"Ini aku nona, gadis kecil ulung yang pernah kau tolong dahulu" jawab Enrylind mengembalikan ingatan Erfyona.
"Ya ampun Enry, aku bahkan sampai tidak mengenalimu. Maafkan aku ya tapi jujur kau sudah banyak berubah sekarang. kamu sudah tumbuh dewasa, tinggi mu saja hampir menyamaiku." ucap Erfyona membuat Enrylind tersenyum lebar penuh kebahagiaan mendengarnya.
"Nona Land Sankarea!" ucap Liliana mengejutkan seisi ruangan.
"Kamu, sepertinya aku tidak asing dengan wajah mu itu. seingatku kau dulu sangat dekat denganku tapi nama dan tempatnya aku lupa. saat aku mencoba mengingatnya kembali kepalaku menjadi sakit" tanya Erfyona membuat Liliana sedikit terkejut karena ternyata ia masih mengingatannya.
Liliana tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa Nona, jangan memaksakan diri kalau memang belum mengingatnya. biarkan waktu yang mengembalikan semua ingatan itu, intinya saya senang dapat bertemu kembali dengan Anda" sambil sedikit membungkuk.
"Siapa itu Land Sankarea Nona?" tanya Enrylind penasaran.
Mereka lalu saling tatap satu sama lain apakah harus memberitahunya atau tidak. Tapi Erfyona percaya kalau memberitahunya pun tak akan menimbulkan masalah, akhirnya Alin pun buka suara dan memberitahunya. Enrylind yang baru pertama kali mendengar itu sontak terkejut luar biasa, dia baru tahu kalau selama ini Masternya adalah Bidadari nomor satu dalam Istana Tuhan.
"Itu juga belum tentu benar Enrylind. Erfyona Land Sankarea telah wafat ribuan tahun yang lalu dikalahkan oleh Queen, Ratu dari si Alin!" ucap Gill mengejutkannya yang dikonfirmasi anggukan 'iya' oleh Alin.
"Itu benar, mungkin aku ini hanya mirip saja" jawab Erfyona merendah, "Sudah-sudah sebaiknya kita lupakan saja masalah ini. Aku dengar Gill masak makanan yang enak malam ini!" sambungnya merubah topik.