
Setelah Erfyona sampai di Lockheim.
"Home sweet Home! Rumahku istanaku. Senangnya bisa kembali ke rumah." Kata Erfyona senang dengan senyum manis menghiasi wajahnya, memperhatikan istananya dari udara.
'Rombongan apa itu? Sepertinya menuju kemari.' kata Erfyona dalam hati penasaran melihat rombongan kuda dengan kawalan prajurit ketat di belakangnya.
"Sepertinya banyak hal yang terjadi selama aku pergi." Sambungnya kemudian turun dan masuk ke dalam Istananya.
Saat Erfyona hendak membuka pintu kamarnya. Geilla datang memergokinya, sontak hal itu mengejutkannya. "Erfyona!" Panggilnya.
"Umh!" Kata Erfyona kaget menoleh ke arahnya. 'Ibu! Gawat, mau bilang apa kalau dia tanya nanti?' kata Erfyona dalam hati gugup dihampirinya.
"Beberapa hari ini ibu tidak melihatmu. Pergi kemana kamu Erfyona? Kok tidak pamit pada ibu? Biasanya kamu selalu izin dulu sebelum pergi." Tanya Geilla penasaran dan curiga.
"Oh itu... Aku pergi ke rumah temanku, Bu (katanya dengan gugup). Yah ibu tahulah, urusan perempuan tidak semua bisa di ceritakan." Jawab Erfyona mencari alasan.
"Ibu mengerti, tapi tidak biasanya kamu begini." Kata Geilla yang masih kurang yakin dengan jawabannya.
"Sudah ya, Bu. Jangan di bahas lagi, aku lelah. Lagipula aku juga sudah kembali. Aku tidak apa - apa, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku janji, lain kali akan izin dulu sebelum pergi." Ucapnya meyakinkan hati Geilla.
"Iya, Nak! Kau tahu, ibu sangat menyayangimu. Ibu tidak ingin kalau kau sampai kenapa - napa." Kata Geilla memeluknya erat.
"Karena kamu adalah satu - satunya mutiara ibu yang paling cantik." Pujinya sambil mengelus pipi manis Erfyona.
"Iya, Bu. Ibu juga sangat cantik! Aku bersyukur dapat mewarisi wajah cantik ibu." Kata Erfyona dengan senyum manis.
"Oh iya, Bu! Tadi saat aku pulang. Aku melihat rombongan kereta kerajaan sedang menuju kemari. Apakah Ayah sedang mengadakan pertemuan?" Tanya Erfyona penasaran.
"Tidak. Ayahmu selalu bilang pada ibu saat ingin mengadakan pertemuan seperti itu. Tapi siapa tahu? ... Sebentar, ya! Ibu tanyakan pada Ayah." Kemudian pergi.
'Aneh sekali? Sebaiknya aku melihatnya sendiri.' kata Erfyona dalam hati curiga kemudian menyusul Geilla dari belakang.
Sesampainya di ruang tahta.
"Osmound,- panggil Geilla sambil berjalan menghampirinya.
"Yang Mulia!" Sahut salah satu prajurit penjaga gerbang datang dengan terburu - buru.
"Ada apa Geilla?" Jawab Osmound.
"Tidak, nanti saja. Sepertinya dia akan menyampaikan hal yang ingin aku tanyakan." Kata Geilla melihat ke arah prajurit yang berlutut di hadapannya.
"Katakan prajurit. Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Osmound.
"Di depan ada rombongan kereta kerajaan. Mereka ingin bertemu dengan Anda, Raja!" Jelas prajurit.
"Padaku? Temanku selalu memberitahuku saat ingin berkunjung." Kata Osmound curiga.
"Mereka kerajaan yang berasal dari tenggara. Kingdom of Norman." Jelas prajurit.
"Kerajaan kecil? Mau apa dia kemari? Pasti mau merengek meminta sesuatu." Kata Osmound pelan menduganya.
"Suruh mereka pergi,- perintah Osmound.
"Tunggu!" Sahut Erfyona yang tiba - tiba datang.
'Erfyona!' kata Osmound dalam hati terkejut melihat kedatangannya.
"Erfyona. Dari mana saja kamu?" Tanya Osmound penasaran.
"Nanti aku jelaskan. Suruh mereka masuk dulu Ayah! Aku ingin tahu tujuan mereka kemari." Jawab Erfyona memaksa.
"Buat apa mengundang mereka masuk! Ini bukan kali pertama kerjaan kecil datang kemari. Aku benci rengekan mereka!" Kata Osmound dengan wajah malas tidak mau untuk menemui mereka.
"Osmound. Sekali saja kau kabulkan keinginan putrimu ini. Apa salahnya kita mengundang mereka masuk? Setidaknya biarkan mereka menemui mu, meskipun cuma sebentar." Bujuk Geilla padanya.
"Geilla mengertilah,-
"Norman!" Panggilnya dengan nada lembut.
"Aku benci mendengar ini (katanya pelan). Suruh mereka masuk!" Perintah Norman mengalah untuk Istrinya.
"Baik Raja!" Bangkit kemudian pergi.
Erfyona tersenyum senang melihat Ibunya berhasil membujuk sang ayahnya yang keras dan egois. Geilla juga membalasnya dengan senyum senang, mereka sudah sangat kompak sebagai ibu dan anak.
Tak berapa lama Norman dan Anastasya tiba di hadapan mereka bertiga. "Hormat saya, Raja tertinggi bangsa Iblis." Ucap Norman membungkuk memberi mereka hormat.
"Perkenalkan nama say,- kata Norman hendak memperkenalkan dirinya dan Istrinya.
"Langsung ke intinya saja. Mau apa kalian datang kemari?" Tanya Osmound dengan wajah jutek.
Mendengar itu Norman dan Anastasya merasa tidak enak dan mulai berkecil hati kalau Osmound mau membantu mereka. "Begini Tuan. Salah seorang putri kami mentalnya terkikis setelah bertemu dan bertarung melawan salah satu makhluk kuat. Ia selalu dihantui oleh ketakutan dan sering berteriak tidak jelas, kami sedih melihatnya terus seperti ini." Kata Norman menjelaskan maksud kedatangannya.
"Kami sudah berusaha mencari penawarnya dan sudah mengundang hampir semua penyembuh terbaik yang ada di kerajaan kami. Namun hasilnya nihil, mereka semua tidak dapat menyembuhkan putri kami. Salah satu dari mereka memberi kami saran untuk pergi kemari. Memohon kepada Anda untuk berbaik hati dan mau membantu kami." Sambung Anastasya.
"Gal'iell, ya? Jadi begitu. Sejujurnya kalian juga percuma datang kemari. Aku tidak dapat menyembuhkan makhluk yang sudah terkena teriakan terkutuk itu!" Jawab Osmound.
"Apa itu Gal'iell? Biasanya kau selalu tahu semua jenis kekuatan dan cara menanganinya. Kenapa saat ini tidak?" Tanya Geilla bingung.
"Sederhananya, Gal'iell adalah Teriakan emosional dari makhluk kuat yang menyebabkan kerusakan mental pada setiap pendengarnya. Iblis atau manusia yang sudah terkena Gal'iell kebanyakan pasti akan meninggal, sangat kecil kemungkinan mereka bisa diselamatkan." Sahut Erfyona menjelaskan.
"Rupanya kau tahu banyak Erfyona." Jawab Geilla terkejut merasa senang.
"Jadi maksud Tuan putri anak kami tidak bisa di selamatkan?" Tanya Anastasya dengan wajah sedih tidak percaya.
"Aku tidak berkata begitu. Siapa tahu bisa, teruslah berharap!" Jawab Erfyona.
"Walaupun ada itupun mustahil untukmu ataupun untuk kami!" Sahut Osmound memberitahunya.
"Apa itu, Tuan? Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk meyelamatan putri kami." Tanya Anastasya dengan wajah senang penuh harap.
"Temui lah Azazeal! Hanya dia satu - satunya makhluk kuat yang bisa menyelamatkan putrimu." Jawab Osmound memberinya solusi.
"Itu mustahil! Sebaiknya kalian urungkan saja niat kalian itu." Sahut Geilla memupuskan harapannya.
"Siapa itu Azazeal? Kenapa tidak mungkin?" Tanya Norman penasaran.
"Aku benci mengatakan ini tapi, Azazeal adalah makhluk terkuat dan paling berkuasa saat ini. Ia adalah tangan Tuhan yang sangat patuh dan loyal. Namun Azazeal sangat membenci kita para Iblis tirani. Belum sampai kau menginjakkan kaki di Istananya, kau pasti sudah di buru oleh para Guardian di sana." Jawab Geilla yakin.
"Bukan hanya itu saja. Semua keturunan Iblis baik itu yang berdarah campuran atau murni, tidak akan bisa menembus segel langit." Imbuh Osmound.
"Ngomong - ngomong, bagaimana ceritanya putrimu bisa bertemu dengan makhluk itu? Yang aku tahu, tidak semua makhluk bisa menggunakan Gal'iell. Hanya mereka yang punya wujud dan gelar sempurna saja yang bisa memilikinya. Kau bertemu dengan makhluk itu di mana?" Tanya Erfyona penasaran.
"Di dunia manusia. Sepertinya makhluk itu sengaja bersembunyi dan berbaur dengan mereka. Semua prajurit yang saya kirimkan untuk menemani putri saya habis di bunuh olehnya. Saat itu ada satu prajurit yang berhasil kembali, namun sepertinya dia terkena pengaruh Gal'iell lebih parah dari putri saya. Ia terlihat sangat depresi dan ketakutan, jiwanya seperti disiksa. tak berapa lama prajurit itu mengakhiri hidupnya, pada saat saya sedang bertanya mengenai penyebabnya." Jelas Anastasya.
'Jadi wanita ibu yang saat itu kau ceritakan, Gill? Dia sungguh layak mendapatkan semua ini. Entah kenapa aku merasa puas menyaksikan penderitaan orang lain, yang bahkan tidak ada kaitannya denganku. ' kata Erfyona dalam hati teringat kembali oleh perkataan Gill saat di Orion kemarin.
___FlashBack___
"Kau benar. Tadinya aku berfikir ibuku adalah satu - satunya wanita terbaik yang aku miliki. Tapi ternyata aku salah!"
"Kau anggap semua nyawa penduduk desa itu tidak berarti,?! Aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Tapi mereka,?! Mereka hanya manusia biasa? Tidak ada kaitannya dengan semua ini! Kenapa mereka turut menjadi korban,?!" Kata - kata itulah yang sampai saat ini terngiang di dalam kepalanya.
____FlashBackEnd____
"Apakah tidak ada cara yang lain, Tuan? Selain pergi menemuinya?" Tanya Norman sedih terus memikirkan keselamatan putrinya.
"Meskipun ada tapi apakah kau mau kehilangan istrimu? Kalau kau mau, pergilah ke tempat Marshall! Dia mungkin bisa membantumu, asal kau membawa bayaran yang sepadan." Jawab Osmound.
"Apakah masih ada cara yang lain? Aku tidak mungkin mengorbankan istriku sebagai bayarannya!" Jawab Norman tidak sudi.
"Tidak Anastasya,- kata Norman berusaha melarangnya.
"Tentu saja ada." Sahut Erfyona mengejutkan mereka.
"Katakan, Tuan putri,?!" Tanya Norman penasaran senang sekali masih ada pilihan lain.
"Temui makhluk yang membuat putri kalian seperti itu. Mungkin itu akan berhasil tapi resikonya sangat besar. Jika kalian gagal, nyawa kalian yang menjadi taruhan!" Jawab Erfyona.
"Tapi dimana kami bisa menemuinya? ... Dengan menggabungkan kekuatan, kami yakin bisa mengalahkannya!" Kata Anastasya yakin.
"Kau sangat percaya diri sekali, Nona." Ucap Erfyona dengan nada menghina.
"Ayah. Apakah aku boleh berbicara dengan mereka berdua?" Tanya Erfyona.
"Bawa mereka pergi dari sini!" Jawab Osmound tidak peduli.
"Kalian berdua! Ikut aku." Ajak Erfyona.
Sesampainya di ruangan Erfyona.
"Duduklah!" Perintahnya menatapnya tajam ke arah mereka berdua.
"Ada apa Tuan putri membawa kami ke sini,-
"Jadi kau yang bernama Norman Khall Reed. Raja iblis dari tenggara. Tubuh gagah besar dan kekuatan pisik yang hebat adalah ciri khas keturunanmu, East Monna. Setidaknya aku pernah merasakan kekuatan dari bangsamu itu beberapa tahun yang lalu." Sahut Erfyona dengan sombongnya.
"Maksud, Tuan putri?" Tanya Norman bingung sekaligus merasa curiga dengan arah pembicaraannya.
"Kau pasti masih ingat dengan insiden berdarah itu." Jawab Erfyona memberinya gambaran.
"Beberapa tahun yang lalu... Insiden berdarah?" Kata Norman pelan kembali mengingatnya.
"Jadi kau adalah pelaku teror waktu itu yang menewaskan saudaraku, Hah,?!" Ucap Norman keras marah setelah mengingatnya.
"Norman tenanglah!" Sahut Anastasya sambil memegang lengan tangannya.
"Aku senang kau masih mengingatnya. Waktu itu menyenangkan sekali bisa melihat mereka merengek dan memohon ampun." Kata Erfyona enteng dengan tenangnya.
"Beraninya kau menindas mereka yang lemah! Kalau kau berani lawan aku sekarang! Akan ku bereskan kau di sini!" Teriak Norman dengan emosi yang sudah meluap - luap.
"Norman kau jangan marah, jangan terpengaruh dengan provokasinya. Nona tolong jangan memprovokasi suami saya!" Bentak Anastasya marah.
"Menindas yang lemah? Kau ini iblis yang naif Norman. Dunia memang tidak adil. Yang kuat yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Kau pasti tahu hukum itu, kan? Kau itu lemah, masih tidak mau mengakuinya, ya?!" Dengan wajah judes menghina mereka berdua.
"Tarik ucapan, Mu! Atau kau akan,- Ancam Norman.
"Atau apa? Apa yang bisa kalian lakukan?" Sahut Erfyona balik menantang mereka.
"Nona. Kau sudah kelewatan! Kalau tujuanmu hanya untuk mempermainkan kami, sebaiknya kami bereskan kau di sini!" Ancam Anastasya dengan mode Perffect Valuetans Queens.
"Oh tenanglah Anastasya, kau sungguh membuatku takut. Aku hanya memberi tahu pada suamimu kebenaran waktu itu, agar semuanya jelas dan tidak menjadi misteri. Percayalah kalian hanya akan bunuh diri kalau mau meyerang ku di sini." Kata Erfyona santai berusaha menenangkan mereka.
"Kami tidak peduli!" Teriak Norman marah serempak hendak menyerang Erfyona.
"Kalian mau putri kalian selamat?" Tanya Erfyona pelan mengancamnya. seketika mereka berhenti untuk menyerangnya.
"Kau mau menggunakan kata - kata itu untuk menghentikan kami? Percuma!" Kata Norman kembali ingin melancarkan serangan, namun dengan cepat di tahan oleh Anastasya.
"Tunggu Norman! Dengarkan dia sebentar." Kata Anastasya menahannya.
"Katakan Erfyona! Kau jangan coba - coba mempermainkan kami!" Ancam Anastasya tegas.
"Baiklah aku akan mengatakannya, tapi sebelum itu. Aku punya pertanyaan untukmu." Kata Erfyona menatap serius kepadanya.
"Apa itu?" Jawab Anastasya waspada.
"Kau ini sebenarnya makhluk apa? Kau bukan Iblis, kan?" Tanya Erfyona mencurigainya.
"Aku iblis campuran. Nama marga-ku adalah,- jawab
"Valuetans itu tidak ada. Kau jangan membodohi, ku! Katakan yang sejujurnya. Siapa kau ini sebenarnya?" Sahut Erfyona menatapnya tajam
Sontak Anastasya kaget kebohongannya di ketahui oleh Iblis lain. Ia gugup meneteskan keringat dingin, tangannya gemetar saking bingung dan takutnya. Ia berfikir sangat lama karena ragu apakah Erfyona beneran mau membantunya setelah dirinya membocorkan identitasnya.
'Jangan Anastasya. Dia ini wanita yang licik. Jangan terpengaruh olehnya!' kata Norman memperingatkan melalui telepati-nya.
"Jadi?" Menatapnya serius mendekat.
'Tapi kalau aku memberitahunya siapa tahu dia beneran akan membantu kita.' jawab Anastasya.
'Kau tidak tahu Anastasya. Semua keturunan Lucifer itu licik! Mereka akan ingkar janji setelah keinginan mereka terpenuhi.' Kata Norman melarangnya keras.
'Maaf Norman, hanya ini satu - satunya pilihan.' kata Anastasya pasrah.
"Sebenarnya...,-
"Sudah kuduga kau tidak akan mengaku semudah itu. Baiklah kesepakatan tetaplah kesepakatan! Aku tidak tahu apakah ini bisa menolong mu atau tidak." Sahut Erfyona menyerah menunggu jawaban darinya.
'Syukurlah!' kata Anastasya dalam hati senang menghirup nafas panjang lega.
'Hampir saja' kata Norman dalam hati ikut merasa tegang.
"Dari yang aku dengar. Ada sehelai bulu dari sayap Tuan Azazeal yang hilang! Bulu itu berwarna biru berkilau dengan simbol aneh di tengahnya. Sebaiknya kalian segera mencari keberadaan bulu itu dan menjauhkannya dari jangkauan Ibu hamil. Karena kalau tidak, akan sangat berbahaya bagi bayi yang berada dalam kandungannya." Jelas Erfyona.
'Aku tahu. Bulu itu ada padamu, Anastasya. Aku hanya memancing mu saja agar kau sadar dengan perbuatanmu!' kata Erfyona dalam hati menyembunyikan niatnya.
"Apa yang akan terjadi kepada bayi tersebut jika si ibu memakainya?" Tanya Anastasya penasaran.
"Sang ibu akan menjadi inang dari kekuatan bulu itu. Jika kekuatan itu sampai masuk ke dalam dan menyentuh janin kandungan, bayi tersebut pasti akan keguguran. Meskipun selamat, bayi itu bukan lagi anaknya." Jelas Erfyona.
"Kenapa bisa begitu? Jelas - jelas wanita itu yang mengandungnya. Anak itu pastilah anaknya!" Tanya Anastasya tidak terima.
"Secara spesifik iya, semua wanita pasti berfikiran sama. Setiap ada janin yang tumbuh di dalam perut mereka, pasti mereka akan menganggapnya sebagai anaknya. Tanpa peduli janin itu berasal dari mana. Itu wajar, sifat bawaan wanita memang seperti itu." Jelas Erfyona.
"Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana jadinya jika bulu jatuh ke Underworld dan ditemukan oleh ibu hamil. Kebanyakan Iblis tidak menyukai anak mereka terlahir cacat. Pasti mereka akan membuangnya jauh - jauh tanpa tahu keistimewaan dari anak itu. Kalau sang anak menyadari perbuatan orang tuanya dahulu. Oh aku tidak bisa membayangkan se-ngeri apa anak itu nantinya!" Imbuh Erfyona menakut - nakuti mereka.
Mendengar hal itu seketika raut wajah mereka berdua berubah menjadi sedih dan menyesal. Mereka bingung akan melakukan apa saat ini, di satu sisi putri mereka sedang menderita dan di sisi lain putra mereka telah mengetahui kejelekan mereka selama ini.
'Andai kau ada di sini dan menyaksikan wajah penyesalan ini. Kau pasti akan sangat senang, Gill!' kata Erfyona dalam hati merasa rindu dengannya.
"Bulu itu mungkin bisa membantu kalian. Tapi aku juga tidak yakin, apakah cara ini akan berhasil. Tidak ada salahnya, kan mencoba?" Kata Erfyona memberinya usulan.
"Kalau misalkan bulu itu malah membunuh putri kami bagaimana?" Tanya Norman merasa ragu.
"Jika belum digunakan, warna birunya akan sangat cerah dan jelas. Jika sudah, warna birunya pasti akan pudar dan tidak lagi berkilau seperti sebelumnya. Gunakan bulu itu sesudah orang lain menggunakannya, dengan begitu kekuatan yang ada di dalamnya sedikit berkurang dan tidak akan berbahaya lagi." Jawab Erfyona.
"Terima kasih, Nona! Kami tertolong berkat pengetahuan Anda." Puji Anastasya senang.
"Maaf karena sebelumnya telah bersikap kurang sopan. Saya tidak mengira Anda akan sebaik ini pada kami yang dari keluarga kerajaan kecil. Sekali lagi kami mewakili kerajaan Iblis tenggara, mengucapkan terima kasih banyak!" Sambung Norman membungkuk memberinya hormat.
"Tidak perlu seserius itu. Aku hanya mencoba membantu, dan semoga caraku ini berhasil." Balas Erfyona berharap.
"Saya akan selalu mengingat kebaikan Anda ini." Ucap Anastasya senang sekali.
"Kalau begitu. kami berdua pamit, Permisi!" Ucap Norman membungkuk kemudian berbalik dan pergi.
'Dari luar mereka nampak sangat baik, tapi di dalam mereka berdua adalah orang tua yang egois. Menyayangi mereka yang sempurna, tapi tidak untuk yang kelainan.' Kata Erfyona mengkritik dalam hati sambil melihat mereka berdua pergi.
Kemudian berjalan menuju jendela dan melihat ke langit. "Saat ini kau sedang apa, Gill? Baru sebentar saja aku sudah rindu lagi padamu" Ucapnya pelan terus memandangi langit hitam itu.