
'Mereka sedang apa ya? Bagaimanapun kesalahanku itu tidak akan mudah untuk dimaafkan. Apa yang bisa aku lakukan sekarang. Minta maaf saja sepertinya tidak akan cukup.' batin Gill terus menatap langit dengan mata berkilau terpapar cahaya bulan purnama.
'Tidak mungkin aku akan minta bantuan kepada Tuan. Ini adalah kesalahanku bagaimanapun aku harus menyelesaikannya sendiri, aku bukan anak kecil lagi sekarang yang selalu merengek meminta bantuan. Tapi ... Tetap saja, pikiranku buntu. Aku butuh bantuan seseorang. Siapa kira-kira yang mau membantuku?' pikirnya bingung sambil mengacak-acak rambutnya yang masih basah.
'Datanglah kemari kalau kau butuh bantuan dengan senang hati aku akan menolong mu.' Ucap Queen dalam ingatannya yang tiba-tiba terbesit begitu saja di tengah kebingungannya mencari jawaban.
'Nona Avhriela pasti mau membantuku. Tapi ... Dia juga minta bantuan ku untuk mencari muridnya di sini. Apa iya aku mau minta bantuannya sekarang sedangkan permintaannya saja belum aku penuhi. Mau di taruh mana muka ku nanti.' sambungnya semakin membuatnya stres.
'Siapa lagi selain mereka berdua yang bisa menolongku. Tidak mungkin aku akan menanyakan hal ini pada Kak Fyona, dia kan bangsa Iblis mana mungkin ia tahu.' merenung sesaat memikirkannya dalam.
'Alin Xaverias!' tiba-tiba terbesit dalam benaknya. 'Tepat sekali. Ya dia adalah jawaban yang aku butuhkan saat ini. Lebih baik aku mencobanya.' sambungnya langsung memejamkan kedua matanya memulai telepati.
'Hai Vergile, sudah lama sekali kamu tidak menghubungiku. Kangen ya?' sapa-nya usil.
'Perasaan baru kemarin.' jawab Gill datar.
'Hi hi cuma becanda. Bagaimana hari pertamamu di sana? Menyenangkan bukan?' Tanya Alin penasaran.
'Yah lumayan, meskipun ada hal yang sedikit membuatku kesal.' jawabnya.
'Oh iya bagaimana dengan seleksi ujian masuknya. Apakah Emilia mau membantumu?' Imbuhnya.
'Tidak, dia malah membuatku babak belur.' jawab Gill blak-blakan.
Mendengar itu tawa Alin langsung pecah dengan nada sindiran ia sedikit menggodanya, 'Fufufu pria kok kalah sama cewek sih. Gak malu kamu, ya?'
'Berisik! Dia hanya beruntung setelah itu dia juga pingsan.' Sahut Gill kesal. 'Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu tapi yang jelas setelah aku menerima serangan kerasnya tersebut. Tiba-tiba tubuhku jadi terasa sakit dan susah untuk digerakkan.' jelasnya.
'Kau terkena Leghius Marsha Ethernal Blood Fallen. Jika pedang tersebut berhasil menggores kulitmu meskipun hanya sekecil rambut, sel gerak tubuhmu otomatis akan lumpuh karena kekuatannya telah masuk ke dalam. Sederhananya seperti kau terpatok ular, luka yang ditimbulkan memang kecil tapi racunnya yang berbahaya.' jelasnya.
'Jadi begitu, baru kali ini aku mendengar ada pedang yang punya kekuatan seperti itu.' gumamnya terkagum.
'Ada banyak pedang yang memiliki kekuatan serupa, wajar saja kau tidak tahu pengalaman bertarung mu masih sedikit.' Tuturnya.
'Jadi ada apa Vergile? Tumben kamu menghubungiku.' sambungnya.
'Apakah kamu tahu, cara menghidupkan Dementor yang sudah mati?' Tanya Gill terus terang.
'Eh! Siapa yang mati. Kenapa aku sampai tidak tahu?' Tanya Alin terkejut mendengar pertanyaannya.
'Tidak, tidak ada. Ini hanya perumpamaan jika hal itu terjadi.' jawab Gill ngeles.
'Maaf, soal itu aku tidak tahu Gill. Hanya Tuan Azazeal dan Ratu saja yang tahu sebaiknya kamu tanyakan pada mereka.' jawabnya pelan. 'Tapi aku sedih mendengar kau bertanya begitu, kamu baik-baik saja kan sekarang?' Imbuhnya merasa cemas.
'Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku tidak akan mati semudah itu.' balas Gill meyakinkannya.
'Syukurlah kalau begitu.' Ucapnya lega mendengarnya.
'Apakah Nona Avhriela ada di sana?' Tanya Gill penasaran.
''Tidak, saat ini aku berada di tempat Gabriel.'' jawabnya sedikit keras sampai terdengar oleh mereka berdua.
'Gabriel. Kau temannya Gabriel?' tanya Gill terkejut.
"Iya dia ada di sampingku." Jawab Alin sambil menoleh kearahnya.
"Alin kau sedang bicara dengan siapa?" Tanya Gabriel penasaran melihatnya asik mengobrol.
"Bukan siapa-siapa hanya seorang kenalan." Jawab Alin enteng. "Iya kenapa. Kau mau bicara dengannya? Baiklah." Menoleh ke arah Gabriel menyuruhnya mendekat dengan telapak tangannya.
"Maaf ya Motty temanku ingin ngobrol dengan Gabriel. Kau tidak keberatan 'kan? Tenang saja dia cowok kau tidak perlu khawatir." Tanya Alin meminta izin untuk menyentuh tangannya demi menghubungkan telepati tersebut.
"Ah sama sekali tidak, kalian lanjutkan saja." Jawabnya tidak merasa keberatan sedikitpun karena Motty sudah sangat akrab dan percaya pada Alin.
'Disini Gabriel, siapa di sana?' sapa-nya.
'Benarkah itu Gabriel, posisi 25 Guardian Tuhan?' tanya Gill tidak percaya.
'Iya dengan aku sendiri. Siapa namamu Nak?' Jawab Gabriel.
'Aku Vergile, teman sekelas Greey Havord. Jadi bagaimana saya memanggil Anda. Tuan atau ...
'Gabriel saja tidak apa-apa, kamu sepertinya sangat akrab dengan Alin. Panggil saja aku sama seperti kau memanggilnya.' sahut Gabriel.
'kau sangat rendah hati Gabriel.' puji Gill. "Kalau begitu senang bertemu denganmu, Gabriel.' sambungnya dengan nada yang ramah.
'Ku beritahu ya. Temanku ini bergelar malaikat penyayang, tentu saja dia sangat rendah hati.' Imbuh Alin memamerkannya.
'Benarkah. Aku kira itu cuma rumor.' jawab Gill terkejut.
'Rumor kau bilang.' Ucap Alin keras merasa kesal.
'Sudah-sudah jangan bertengkar.' Sahut Gabriel melerainya. 'Vergile bagaimana hari pertama Greey di sekolah. Apakah dia mendapatkan banyak teman?' imbuhnya.
'Greey sangat terkenal di sekolah, malah saat ini dia yang menjadi wakil ketua kelasnya.' jawab Gill semangat.
'Benarkah?' tanya Gabriel terkejut ikut merasa senang.
'Iya. Aksinya di seleksi ujian masuk kemarin berhasil memikat perhatian banyak orang terutama saat dia mengeluarkan Centaurus di Arena. Sampai saat ini Greey masih jadi bahan perbincangan yang hangat di kalangan para murid dan guru. Ditambah mereka semua tahu kalau dia adalah murid mu tentu popularitasnya melesat naik hingga mampu menyaingi Emilia.' Imbuhnya.
'Murid mu itu ternyata boleh juga Gabriel.' puji Alin terkejut mendengar pengakuannya.
'Aku harap dia tidak jadi sombong oleh ketenarannya itu.' gumam Gabriel pelan sedikit merasa khawatir.
' Kau tenang saja, Greey bukanlah tipe orang yang seperti itu. Dia rendah hati sama sepertimu Gabriel.' Ungkap Gill.
'Jika Greey yang sepopuler itu menjadi wakilnya lalu siapa ketua kelasnya.' Tanya Alin kepo memecah suasana hening.
'Yah kau bisa menebaknya.' jawab Gill dengan nada malas mengakuinya.
'Hi hi ternyata murid ku memang tidak ada lawan.' ucap Alin senang sambil senyum-senyum sendiri.
'Oh iya Gabriel, tentang Centaurus itu ... Bagaimana dia mendapatkannya?' tanya Gill kepo.
'Itu adalah hadiah dariku selama ini dia sudah berlatih sangat keras. Aku pikir tidak ada salahnya memberinya itu. Berharap dengan adanya Centaurus bisa terus membuatnya bersemangat.' Tutur Gabriel.
"Jadi seperti itu...
'Hampir saja aku lupa. hampir semua murid perempuan di kelasku mengidolakan mu Loh. Apakah kau tidak ingin menemui mereka?' tanya Gill.
'Mungkin suatu saat.' jawabnya dengan nada sedih.
'Aku harap kau menemui mereka suatu hari nanti kasian jika harapannya kau pupus kan begitu saja,-
"Vergile!" Panggil Indyra dari belakang tiba-tiba memeluknya sontak membuat Gill terkejut hingga telepati-nya terputus.
"Indyra rambutmu masih basah, sebaiknya kau keringkan dulu." Ujar Vergile merasakan tetesan air yang membasahi kemejanya.
"Hi hi maaf sebenarnya dari tadi aku memanggilmu tapi kamu hanya diam. Aku kira kamu pergi." Jawabnya sambil melepaskan pelukannya.
"Maaf aku tidak dengar karena mataku sedikit terasa sepat." Jelas Gill sambil mengucek sebelah matanya.
"Lalu bagaimana dengan seragamku tadi?" Tanya Gill menyadari seragamnya yang berlumuran darah.
"Tinggalkan saja di sini, aku akan mencucinya nanti." Jawabnya enteng.
"Aku jadi tidak enak kamu sudah banyak membantuku." Merunduk malu.
"Sudah tidak apa-apa malahan aku merasa senang bisa banyak membantumu." Imbuh Indyra dengan senyum manis.
Tak berapa lama rembulan kembali bersinar terang setelah tertutup oleh awan hitam, cahaya tersebut langsung masuk menembus kaca jendela dan menerangi ruangan tersebut. Ia baru sadar kalau dari tadi Indyra sedang berdiri di depannya tanpa sehelai busana. Nampak dengan jelas dadanya menyembul dengan ujung buah berwarna merah muda. Kulit putih dan body gitarnya tersebut bisa dengan mudah memikat mata para pria.
Namun dengan santai dan polosnya Gill bertanya, "Indyra, kenapa kamu tidak berpakaian? Kamu bisa masuk angin nanti udara malam sangat dingin." Tuturnya merasa khawatir.
"Pakaian yang aku bawa ternyata sudah tidak muat aku hampir tidak bisa bernafas karenanya. Sepertinya aku mulai gemuk. Bagaimana menurutmu?" Melenggokkan tubuh seksinya menampakkan pinggul dan pantatnya yang indah kedua tangannya diangkat ke atas dengan siku di tekuk memegang kepala.
Namun Gill hanya melihatnya sebentar dengan ekspresi datar dan berkata, "Tidak, menurutku kamu tidak gemuk bentuk ini ideal untukmu."
Mendadak ia terkejut mendengar pengakuan Gill yang seketika membuat hatinya merasa senang, "Apakah kamu menyukainya?" Tanya Indyra menatapnya hangat sambil memperlihatkan lekuk tubuh depannya dengan jelas, sesekali dia berputar dan menunjukan bagian belakang.
"Maksudmu?" Tanya Gill bingung sambil menggaruk kepalanya.
"Tentu sa,- Ehemh lupakan saja ... Apakah kamu suka susu?" Tanya Indyra mengalihkan topik pembicaraan.
"Susu. Kamu punya susu?" Imbuhnya penasaran.
"Tentu saja aku punya. Susuku ini adalah yang paling nikmat. Mau mencobanya?" Tawarnya dengan godaan menggairahkan berdiri di depannya dengan dada menyembul menghalangi pandangan Gill.
"Boleh, sudah lama aku tidak minum susu sampai lupa rasanya." Jawabnya dengan senang hati.
"Rasa ini tidak akan pernah kau dapatkan di tempat manapun. Jadi kau mau meminumnya dari mana, dalam gelas atau langsung?" Goda Indyra mendekatkan wajahnya dan menatapnya hangat dengan nada rayuan. Ia kemudian duduk di pangkuannya dan menyandarkan kedua telapak tangannya di atas pundak Gill.
"Langsung? Kau mau membawa sapinya kemari." Duganya dengan wajah bingung berusaha menebaknya.
Ia tersenyum cantik setelah mendengar reaksi polosnya tersebut dan menatap matanya dalam kemudian berbisik di telinganya lirih, "Sapinya sudah ada di depan mu, jadi ... Mau minum dari mana?" Godanya mendekatkan dada sampai 5 cm di depan wajahnya.
'Jangan-jangan!' duga Gill terkejut membuat pipinya langsung memerah.
"Jangan-jangan susu yang kau maksud adalah,- belum selesai Ia menduganya, tiba-tiba Indyra langsung memeluk kepala Gill dan menempelkan mulutnya erat ke ujung dadanya yang menyembul hingga membuat Gill tak bisa bernafas.
"Emhh..." Rintihnya dengan mata terpejam dan bibir bawah digigit oleh rahang atasnya menahan desahan.
Gill yang kaget sontak berusaha memberontak namun karena dadanya sangat lembut dan kenyal, akhirnya dia luluh dan memilih bermain-bermain dengan gumpalan lemak tersebut. Ia memelintir memainkan niple manisnya tersebut sambil meremasnya manja, Indyra hanya bisa terpejam merasakan kenikmatan tersebut
Nampak wajah Indyra merah merona karena telah hanyut dengan kenikmatan, "Gill kamu sudah seperti bayi. Jangan dipelintir begitu, Ahhh..." Desahnya.
"Maaf!" Dengan cepat ia langsung melepaskan tangannya dan berhenti mempermainkan dadanya.
Indyra terkejut karena tiba-tiba Gill menghentikan aksinya, dengan lembut ia mengangkat dagunya ke atas dan menatap matanya hangat seraya berkata, "Duh kenapa kamu malah menghentikannya?" Dengan nada manja dan pipi merah menggelembung cemberut.
"Eh, bukannya tadi kamu merasa kesakitan. Aku kira kamu akan marah." Jawab Gill sedikit merasa takut.
Secara mengejutkan Indyra kembali menciumnya hangat dan bertukar air liur dengan sangat mesra, ia dengan lihai mempermainkan dan menghisap lidah manis Gill tersebut. Perlahan ia mendorong tubuh Gill ke belakang dan menidurkannya di atas kasur menindihnya dengan posisi pantat nungging ke atas.
Sejenak ia menghentikan ciumannya dengan air liur kental yang masih tersambung antara kedua mulut mereka, "Aku akan sangat marah jika kamu tidak menikmatinya." Rayunya dengan senyum manis.
"Indyra, apakah semua ini adalah rencana mu dari awal?" Tanya Gill dengan raut wajah kesal bangkit untuk duduk kembali.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Balasnya pelan merunduk kan wajah merasa sedih.
"Seumur hidup aku tidak pernah diperlakukan seperti ini Vergile, hanya kamu orang yang mengakui keberadaan ku." Sahutnya merunduk dengan nada sedih.
'Indyra...' Kata Gill dalam hati terkejut mendengar pengakuannya.
"Saat masih kecil aku sering mendapat kekerasan fisik dari ibuku. Sejak ayah meninggal sifat ibu jadi berubah dari yang semula penuh kasih sayang, kini jadi beringas dan mudah marah. Aku tahu apa yang ibu rasakan waktu itu, semenjak kepergian ayah ekonomi keluarga kami menurun." Imbuhnya.
"Aku tahu ibu berubah karena tekanan batin, selain keadaan ekonomi yang menghimpit dia juga masih merasa sedih dengan kepergian ayah." Jelasnya.
"Seorang ibu yang biasanya dipuja bak Malaikat ternyata tidak berlaku di keluargamu. Apakah kau marah padanya?" Tanya Gill penasaran.
Dengan senyum ia menjawab tulus, "Tidak, meskipun dia seperti itu tapi ia tetaplah ibuku."
"Lalu kenapa kamu meninggalkannya?" Sambung Gill bertanya.
"Aku tidak ingin mencampuri hidup barunya. Hari itu setelah aku pulang dari bermain tak sengaja aku melihat ibu sedang melayani seorang pria di dalam kamarnya. Nampak dari lubang kunci, ia sedang melayani lelaki itu dengan mulutnya. Desahan dari si lelaki terdengar keras sampai ke telingaku dari mata ibu aku bisa melihat dia sempat meneteskan air mata sedih karena harus mengkhianati ayahku." Jawabnya.
"Kenapa kau membiarkannya melakukan itu. Kenapa kamu tidak menghentikannya. Ibumu sudah bertindak kelewatan." Tanya Gill marah.
"Aku hanya seorang gadis kecil saat itu umurku masih 7 tahun. 9 bulan kemudian akhirnya ibu dinikahi oleh pria yang aku saksikan di ranjangnya tersebut. Nampak perut ibu sudah membesar dan sebentar lagi akan melahirkan." Tuturnya menjelaskan.
"Sorenya setelah pernikahan selesai ia memperkenalkan lelaki itu padaku. Aku akui dia memang lebih tampan dari ayah, kulitnya kuning sawo matang, matanya coklat, dan postur tubuhnya tinggi semampai. Tapi aku merasa lelaki itu sangat benci padaku, lirikan matanya sangat tajam dan dingin. Tak berapa lama dia menarik tangan ibu ke dalam kamar dan mengungkapkan ketidaksukaannya padaku di dalam."
"Dengan samar aku mendengar lelaki itu berkata, "Aku tidak mau anak itu ada di rumah tanggaku. Dia bukan anakku suamimu yang dulu telah mati lalu kenapa kau masih menyimpannya sampai sekarang!" Dengan nada marah."
"Dari nada bicaranya nampak saat itu ibu sedang marah karena si pria itu menyinggung lelaki yang pernah dicintainya, "Kamu ini bicara apa, dia itu anakku. Memang suamiku sudah tiada tapi hanya dia peninggalan berharga yang aku punya." Jawabnya.
"Namun si lelaki itu balik marah dan mengeluarkan kata-kata egois-nya, "Aku tidak mau tahu sekarang aku adalah suamimu, usir dia dari sini atau aku ceraikan kamu. Aku tidak mau rumah tanggaku dicampuri oleh anak yang bukan dariku." Ucapnya dengan lantang.
"Terdengar ibu sedang berusaha membujuknya tapi pria tersebut enggan untuk mendengarkannya, saat lelaki itu keluar dari dalam ia sedikit melirik ke arahku dengan tatapan mata tajam. Tak berapa lama ibu juga keluar untuk menyusulnya namun setelah dia melihatku sedang berdiri di sana, akhirnya ia mengurungkan niatnya."
"Dia berlutut dan menangis di depan mataku untuk yang pertama kalinya, ia mengelus kepalaku sembari meminta maaf,-
"Indyra kamu simpan saja masa lalu itu untuk dirimu sendiri. Intinya kamu sebagai seorang wanita jangan bertindak bodoh seperti ibumu yang rela menggadaikan buah hatinya untuk sebuah cinta palsu. Itu salah dan tidak bermoral!" Potong Gill.
"Harusnya kamu marah dan tidak terima diperlakukan seperti itu, kalau kamu masih menyayanginya bebaskan ia dari belenggu lelaki busuk itu. Buat dia senang dengan dirimu yang sekarang agar ia melupakan masa lalu kelam dalam hidupnya." Sahut Gill menasihatinya.
Indyra tersentuh mendengarkan nasihatnya sampai ia tak kuasa menahan air mata yang mau menetes, dengan cepat dia langsung memeluk tubuh Gill hangat, "Terima kasih Vergile." Ucapnya di pelukan dengan linang air mata.
"Ternyata kamu lebih kuat dari yang aku kira. Jangan menyerah ya Indyra?" Teguh-nya di pelukan.
Indyra kemudian melepaskan pelukannya dan meninggalkan senyum manis untuknya, "Aku hanya ingin melakukan apa yang ibu lakukan dengan pria itu, terdengar pria tersebut sangat menikmatinya meskipun aku tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah itu." Jelas Indyra memberitahu niatnya yang sesungguhnya.
"Tapi Indyra hubungan itu hanya bagi mereka yang saling mencintai dan yang sudah berumur. Kita masih remaja, masa depan kita masih panjang. Lagian kita ini hanya teman, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Setelah Ibumu melakukan itu dia hamil, tanpa aku jelaskan kau pasti juga sudah tahu hubungan apa yang sedang mereka lakukan." Jawab Gill berusaha menolaknya.
"Aku tidak mempermasalahkan hubungan kita ini Vergile, bagiku kamu itu lebih dari sekedar teman. Meskipun kamu menganggapku bukan siapa-siapa, tapi ... Aku ingin kamu yang menjadi pertama kalinya untukku. Jadi aku mohon..." Dengan mata yang berbinar-binar.
"Aku ini hanyalah satu dari sekian banyak orang yang peduli dengan mu. Masih banyak di luar sana orang serupa yang sama atau mungkin mereka lebih baik dariku. Aku yakin suatu saat akan ada orang baik yang sangat menyayangimu dan aku pikir dia lah orang yang layak mendapatkan ini." Tolak Gill halus sambil memberikan wejangan.
Sejenak Indyra nampak merasa kesal dengan penolakannya itu ia merasa Gill hanya berbelit-belit mencari alasan dan sengaja mengulur waktu, "Aku tidak peduli Vergile jika dia mencintaiku tentu ia mau menerima segala kekuranganku. Saat ini aku hanya ingin kamu. Kamu yang aku inginkan untuk menjadi yang pertama untukku" mewek hampir menangis.
'Kalau saja aku tahu hal ini akan terjadi lebih baik aku tinggalkan saja dia tadi.' ucap Gill dalam hati merasa kesal menatapnya dingin.
Melihat Indyra yang hampir menangis akhirnya Gill mengalah dan menuruti apa maunya walau dalam hati ia merasa sangat keberatan, "Tapi aku tidak pandai melakukan ini." Ujarnya pelan setelah menghela nafas panjang.
Indyra mengusap kembali air matanya dan tersenyum senang karena akhirnya kemauannya Itu dituruti oleh Gill, "Kalau begitu kita sama-sama belajar bagaimana menjadi orang dewasa." Mencium kembali bibirnya dan menidurkan tubuh Gill di ranjang dengan ditindih oleh dada besarnya.
Ia meraih tangan Gill dan menempelkannya ke dada sedangkan satunya ia tempelkan ke pantat semok-nya. Setelah puas mencium bibir dan lidahnya Indyra ganti mencumbu leher kemudian turun ke dada sambil melepaskan kancing bajunya satu per satu.
Nampak dengan jelas bahwa Indyra sangat mendominasi adegan ini. Ia sudah seperti pelacur profesional yang kompeten di bidangnya, sedangkan Gill hanya bisa pasrah seperti rusa yang telah kalah dan menjadi santapan singa lapar. Mereka berdua pun melakukan sesuatu yang spesial pada malam itu dengan tujuan ingin mengenal lebih dekat satu sama lain.