The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 27 ~ Tuan dan Nona, yang berselisih



'Tanpa aku sadari sekarang ini aku sudah kehilangan semuanya. Ibu, ayah, saudara dan keluarga hilang musnah mengkhianati ku.'


'Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi saat ini, aku sendirian. Walaupun aku sudah menjadi diriku sendiri tapi kenapa jadi hampa begini. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apakah keinginan yang selama ini aku impikan sudah benar?' Pikir Gill merenungi dirinya sendiri dalam keheningan panggung pertunjukan.


'Yah aku sudah benar, karena mereka lah aku jadi seperti ini. Mereka harus membayarnya karena telah membuatku seperti ini.' Sambungnya dengan tatapan tajam murka bila mengingat masa lalunya.


'Tetapi siapa sebenarnya aku ini, apa tujuanku hidup. Siapa yang bisa memberitahuku kebenaran. (Berfikir sejenak) Apakah mungkin dia tahu siapa aku ini. Tidak ada salahnya aku mencoba bertanya padanya.' Langsung bangkit dan memutar badannya ke belakang untuk mencarinya.


'Alin!' pikir Gill terkejut melihatnya tiba-tiba berdiri di tepat belakangnya.


"Surprise, apakah kau terkejut?" candanya yang melihat wajah Gill sedikit kaget.


"Pas sekali, ada hal yang ingin,-


"Nanti saja ya Vergile, sekarang ayo kita makan dulu. Yang lain juga sudah menunggumu," sahutnya langsung menghampirinya dan menarik tangannya mengajaknya pergi.


Setelah sampai mereka di sambut oleh bersorak gembira para warga yang melihat kedatangan Gill dan Alin, "Kemana saja Anda Tuan. Kami sedang mencari Anda." Kata Luckas cemas.


"Kami pun." Sahut lima orang gadis aneh.


"Maaf karena aku kalian jadi lama menunggu." Jawab Gill merasa canggung tidak enak.


"Duduk lah Vergile nikmatilah hidangan yang sudah kami siapkan." ajak Alin pelan dengan nada mesra menatapnya penuh cinta.Gill hanya mengangguk sedikit gugup dan malu.


Suasana desa Kaname sangat menyenangkan pada malam itu, semua wajah dihiasi oleh senyum bahagia dan canda tawa kerukunan antar para warga tak luput Alin dan Gill juga merasakan kehangatan dari kebersamaan tersebut. Mereka akhirnya tahu bagaimana orang lemah menikmati hidupnya.


"Nona makanan ini sangat lah enak. Bagaimana Anda bisa membuat masakan luar biasa seperti ini?" Tanya Olivia terkejut pada suapan pertama.


"Ehemhs (tersenyum manis) kalian kan sudah tahu caraku dalam membuatnya. Kalau aku bisa membuatnya, kenapa kalian tidak." Jawab Alin.


Mereka semua sangat senang dan nampak begitu menikmatinya begitu pula dengan Gill.


'Lumayan juga masakannya, aku tidak pernah menyangka wanita ini ternyata hebat juga skill memasaknya. Sudah pandai bertarung, wajah cantik, sikap yang baik dan pandai memasak dia sudah sangat sempurna sebagai seorang wanita. Betapa beruntungnya lelaki memiliki istri pandai sepertinya.' pikir Gill terkagum sedikit melirik ke arahnya.


"Bagaimana Vergile. Apakah kamu suka?" Tanya Alin sangat kepo.


"Lumayan, aku tidak menyangka kau ternyata boleh juga. Tapi apakah kau tahu, aku bisa membuat masakan yang lebih enak daripada ini." Sahutnya menyombongkan diri.


"Oh ya, apa aku tidak salah dengar?" Balas Alin terkejut mendengarnya.


"Kamu akan tahu setelah merasakannya sendiri, kau akan tahu perbedaan skill masakan kita." Kata Gill dengan percaya diri.


"Benarkah, kalau begitu aku akan sangat menantikan masakan mu itu." kata Alin menatapnya serius dari dekat.


"Terima kasih untuk hidangannya Nona, ini sangat luar biasa. Seumur hidup kami belum pernah merasakan makanan selezat ini." Ucap Livia.


"Saya juga belum pernah menyaksikan wajah para warga sebahagia ini sebelumnya, karena kehadiran Anda saya jadi bisa menyaksikan senyum tersebut. Saya senang melihat mereka seperti ini, hati saya merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda berdua." Sambungnya berlutut di depan mereka berdua memberinya hormat.


"Bangunlah Luckas, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Alin terkejut melihatnya berlutut ia langsung menghampirinya dan berjongkok di depannya.


"Kami hanya sedang menjalankan tugas, kami senang bisa membantu kalian. Sekarang (memegang kedua lengannya mengajaknya berdiri) berdirilah!" Ajaknya.


"Semoga Anda selalu di beri kemudahan dalam melaksanakan tugas Nona." Membungkuk memohonkan doa untuknya.


"Semoga kedamaian tetap abadi untuk desamu ini Luckas." Balas Alin mendoakannya kembali.


"Maaf apabila saya menyela pembicaraan kalian tetapi ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda Nona." Sela orang yang sama, penggemar berat dari Erfyona.


"Ada apa. Katakan saja?" Jawab Alin.


"Ini mengenai ...


"Erfyona kan?" Sahut Alin.


"Bagaimana Anda bisa tahu?" Kata pria itu terkejut mendengarnya.


Alin tersenyum melihatnya yang sedang terkejut. "Sebelum itu apakah aku boleh tahu siapa namamu?" Tanya Alin dengan pelan.


"Nama saya Baron Shibanong. Anda bisa memanggil saya Baron, Nona." Jawabnya membungkuk memperkenalkan dirinya.


"Baiklah Baron, apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Alin.


"Seperti yang Anda tahu Nona, saya adalah penggemar beratnya. Hati saya merasa kurang puas ketika mendengar ada seorang yang lebih cantik lagi darinya. Kalau boleh saya tahu, seberapa cantik kah Queen yang bahkan bisa mengalahkan Erfyona kami." Tanya lelaki tersebut.


"Ternyata kamu adalah seorang maniak wanita ya." Goda Alin padanya, mendengar hal itu pria tersebut menjadi malu merunduk kan kepala salah tingkah.


"Aku mengerti pada dasarnya kebanyakan pria memang menyukai wanita cantik. Begitu pula kami para wanita, juga memiliki rasa yang sama seperti halnya kalian para pria. Kalian akan bertemu keduanya suatu hari nanti dan saat hari itu tiba. Nilai lah sendiri kecantikan mereka dengan mata kepala kalian." Jawabnya.


"Aku memang belum pernah melihat Queen secara langsung, tetapi menurut cerita yang pernah aku dengar. Queen adalah tipe wanita yang sedikit tomboi, dia bisa jadi sangat tampan kalau rambutnya pendek dan cantik saat rambutnya panjang." imbuhnya.


"Dalam Bidadari surga selain dari kekuatan yang menjadi tolak ukur. Kecantikan juga menjadi faktor utama yang mendukung seberapa pantaskah wanita tersebut menempati posisinya. Intinya semakin kuat dan cantiknya wanita tersebut maka akan tinggi juga pangkat dan derajat yang akan dia dapat." Jelas Alin panjang lebar.


"Tetapi kembali lagi cantik itu relatif. Apa yang menurutmu bagus belum tentu bagi orang lain juga bagus, sama halnya dengan kecantikan." Sambungnya.


"Apakah benar suatu saat kami akan bertemu dengan mereka berdua Nona. Seperti halnya kami bertemu denganmu saat ini?" Tanya pria tersebut yang masih belum percaya.


"Aku tidak tahu detailnya nanti akan seperti apa. Aku juga tidak tahu, apakah nanti kalian akan bisa akrab dengan mereka berdua. Seperti pada saat kalian bertemu denganku saat ini tetapi percayalah hari itu pasti akan datang." Sambung Alin meyakinkan.


"Terima kasih Nona atas penjelasannya sekarang hatiku menjadi merasa tenang." Jawabnya.


'Seperti yang aku duga, ternyata Alin memang mengetahui banyak hal.' ikir Gill merasa lebih yakin dengan dugaannya sebelumnya.


"Apakah kita bisa mengobrol empat mata?" Tanya Gill menatapnya tajam sebagai seorang lelaki dengan sangat dekat.


'Berdua, jangan-jangan dia mau menyatakan perasaannya padaku. Tidak-tidak aku masih belum siap menerimanya, karena umurnya yang masih sangat muda. Dan bagaimana caraku nanti menjelaskannya kepada Queen kalau dia tahu siapa Gill ini sebenarnya.' Duganya terlalu jauh salah paham meresapi tatapan mata Gill.


"Apa yang mau kau katakan padaku?" Tanya Alin sedikit gugup melihat tatapan matanya.


"Ini mengenai bangsa Dementor. Kau pasti tahu banyak mengenai bangsa tersebut." Jelasnya.


"Oh mengenai itu," 'kenapa aku jadi berfikiran yang tidak-tidak, mana mungkin dia suka dengan wanita yang umurnya sedikit lebih tua.' Pikirnya sedikit melirik ke wajahnya.


"Aneh sekali padahal kau tadi bisa menebak dengan benar apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu. Tapi kenapa,-


"Sudah-sudah jangan kau pikirkan. Sekarang ayo kita pergi." Sahutnya langsung menggenggam lengan tangan Gill dan menariknya mengajaknya pergi.


"Sepertinya di sini aman (melihat sekeliling) Sekarang apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanya Alin terus terang.


"Aku ingin kau menceritakan semuanya secara detail sejarah dari bangsa tersebut, tujuan hidup, kekuatan, apapun itu mengenai mereka." Kata Gill menjelaskan maksudnya.


"Apa aku tidak salah dengar. Aneh sekali kenapa kau yang seorang bangsa Dementor tidak mengetahui latar belakang dari bangsamu sendiri. Aku curiga jangan-jangan kau punya maksud lain kepada mereka." Menatapnya penuh curiga.


"Tidak, aku tidak punya maksud apa-apa percayalah padaku. Aku akan jujur menceritakan maksud dari pertanyaanku ini nanti setelah kau menjelaskan semuanya." Kata Gill berusaha meyakinkannya.


'Bagaimana ini, bagaimana caraku menjawab pertanyaannya tersebut. Aku juga belum pernah bertemu dengan Dementor lain selain Sam, apakah perlu membicarakan hal ini dengannya terlebih dahulu. Tetapi, setelah melihatnya banyak berkorban untukku dan para manusia, aku jadi semakin yakin kalau dia ini pribadi yang baik dan berbeda dari Sam Dementor yang aku kenal selama ini.' Merenung sesaat memikirkan pilihan yang tepat.


'Tapi karena itu juga aku jadi mencurigainya, karena biasanya seorang Dementor jarang sekali mempunyai hubungan dengan manusia dan lebih ke memburu para Iblis. Seorang Dementor biasanya mempunyai sifat yang keras dan kejam tetapi dia ini malah sebaliknya. Apakah dia hanya berpura-pura baik saja. Aduh aku jadi semakin bingung,-


"Hey (Meraih tangannya) percayalah padaku. Aku tidak akan mengkhianatimu lagian aku hanya seorang remaja, kalau aku ada niat jahat pasti para Dementor akan dengan mudah membunuhku." Menatapnya tajam serius.


'Kau!' Pikir Alin terkejut melihat kesungguhannya.


"Baiklah aku percaya padamu Vergile, aku akan menceritakan semuanya kepadamu." Jawabnya.


"Dementor adalah bangsa terkuat yang sangat disegani oleh semua bangsa penduduk langit. Sifat mereka sangat patuh dan Loyal kepada Tuannya. Tugas utama mereka adalah mengadili dan membunuh para pemberontak sampai para penghianat, dari seluruh makhluk alam semesta. Termasuk para Guardian itu sendiri." Mulai menjelaskan.


"Selain terkenal oleh sifat setianya para Dementor juga terkenal dengan sifat keras dan kejam dalam menjalankan tugasnya. Mereka memiliki kebencian abadi kepada para Iblis Tirani, bagi mereka tidak ada kesenangan yang lebih berarti selain menyiksa dan membunuh mereka."


"Semua itu terjadi karena Tuan mereka memiliki sifat yang sangat buruk. Tuan Azazeal adalah wajah dari sifat buruk bangsa tersebut. Perlu kau ketahui dia lah makhluk adidaya yang mampu menciptakan bangsa terkuat dari seluruh tingkatan langit tersebut. Ia adalah Raja dari para raja, pemimpin dari para pemimpin, seorang yang sangat kuat yang memimpin seluruh alam semesta ini."


"Tuan Azazeal?" Sambung Gill tambah penasaran dengan sosoknya.


"Dia bahkan pernah membuat Queen kami sampai sekarat hanya karena perbedaan pendapat. Hal itu lah yang membuat kami sampai sekarang begitu membencinya. Kenapa orang yang tak punya hati sepertinya harus menjadi pemimpin yang besar seperti ini. Jujur aku masih tidak terima dia menempati posisi itu seharusnya Queen kami lah yang berhak dan layak menempati posisi tersebut!" Jelasnya sedikit mencurahkan isi hatinya atas ke kekecewaannya.


"Tetapi Vergile kau ini sangat berbeda dari Dementor yang pernah aku kenal selama ini. Sifat mu berbanding terbalik 180° dengan sifat alami bangsa tersebut. Sekarang aku tanya mengenai dirimu, siapa kau ini sebenarnya?" Tanya Alin dengan tatapan serius.


"Hemmhh - Huftt!" Menarik dan menghembuskan nafasnya panjang mengumpulkan nyali memberi tahu kebenaran tentang masa lalunya kepada Alin Xaverias.


"Sebenarnya namaku bukanlah Vergile, melainkan Gill." Perlahan mulai menjelaskan tentang jati dirinya.


"Gill, sepertinya aku tidak asing dengan nama itu." sahut Alin.


"Aku adalah anak kelima dari pasangan Norman Khall Reed dan Anastasya Gulleen." Sambungnya menjelaskan.


"Maksudmu kau adalah putra kerajaan Norman? Tetapi aku mendengar kabar bahwa putra kelima mereka telah meninggal sejak kecil karena penyakit bawaan," sahut Alin merasa mulai bingung.


"Itu hanyalah alasan yang mereka buat untuk menutupi kebusukannya tersebut. Mereka terkejut waktu mengetahui aku yang terlahir cacat, karena tidak kuat menahan aib yang memalukan akhirnya mereka membuangku dari tanah kelahiran ku sendiri."


"Aku beruntung karena Ibuku masih mau menyelamatkanku dan segera mengasingkan ku jauh. Seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai menemukan kejanggalan dari sikap Ibu. Dia tidak pernah menceritakan mengenai ayahku maupun para keluargaku!"


"Setiap aku menanyakan hal tersebut, dia selalu marah dan mengalihkan pembicaraannya. Sampai pada suatu waktu, bayangan Dementor ku lah yang memberi tahu kebenaran tentang diriku! Dia menguatkan hatiku untuk tegar dan membalaskan dendamnya pada keluargaku!"


"Awalnya aku tidak setuju oleh apa yang dia katakan. Bagiku dia pada waktu itu hanyalah amarah, dari kegagalanku selama ini. Tetapi lama - kelamaan, aku mulai menyadari kalau yang dia katakan selalu bermaksud untuk mendukungku untuk mencari kebenarannya!"


"Anehnya pada saat dia muncul, aku selalu bisa membuka mataku, dan pada saat dia hilang aku kembali buta menjadi lemah tak berdaya. Sampai pada suatu hari dia menawarkan hal yang menarik padaku,"


"Hal menarik?" Sahut Alin penasaran.


"Dia akan memberiku kekuatannya, asalkan aku mau menuruti kemauannya. Karena kemauannya sama dengan apa yang kuinginkan selama ini, akhirnya aku mengambil tawarannya tersebut."


"Waktu aku melihat para Iblis pertama kali, entah kenapa aku merasa sangat benci dengan sifat mereka. Mataku kini di telah buka oleh kenyataan ia memberi tahuku tentang penindasan yang telah mereka lakukan pada kaum lemah seperti manusia."


"Pada saat aku berhasil menemui Ibu dan keluargaku, aku malah mendapat hal tak terduga darinya. Seperti yang telah bayangan Dementor itu katakan, ternyata kasih sayang yang ibu berikan kepadaku selama ini hanyalah sebatas sandiwara."


"Aku kira dia akan membelaku di depan para keluarga, tetapi malah memberiku ini," membuka bajunya dan memperlihatkan semua luka yang telah Anastasya lakukan padanya.


Ahh! Kata Alin terkejut melihat luka parah pada tubuh Gill. "Ibumu yang melakukan itu padamu?" Tanya Alin masih belum percaya.


"Aku bersyukur mendapatkan luka ini karena luka inilah aku bisa menjadi kuat sampai bisa berdiri saat ini. Karena luka ini juga aku jadi punya tujuan hidup." Dengan tatapan serius.


"Apa itu?" Tanya Alin penasaran.


"Membinasakan seluruh bangsa Iblis Tirani." Jawab Gill tegas.


"Apa kau sudah gila. Perlu kau tahu tidak semua Iblis itu memiliki hati yang jahat. Keluargamu memang telah berbuat jahat padamu, tetapi kau tidak bisa mengadili suatu kaum hanya karena segelintir dari mereka berbuat salah!" Sahut Alin terkejut mendengar jawaban dari Gill.


"Kau itu naif sekali. Kau bilang sudah pernah berkeliling ke penjuru dunia melawan para Iblis tapi sepertinya kau tidak tahu apa-apa tentang mereka. Lelucon macam apa ini atau jangan-jangan kau hanya bersandiwara." Balas Gill menohok.


"Tutup mulut mu kau bilang aku ini naif. Lancang sekali kau berkata seperti itu. Lihat lah siapa dirimu sebelum kau menilai seseorang. Apakah kau tidak pernah di ajari sopan santun oleh orang tuamu?" Kata Alin tidak terima mengacungkan jarinya membalikan tuduhan.


"Memang aku tidak pernah." jawab Gill pelan.


Sontak Alin terdiam dan merasa bersalah karena telah mengucapkan itu, dia tidak tahu bagaimana perasaan orang yang sedang hancur hidupnya.


"Sudah lah tidak ada gunanya aku menjelaskan lebih lanjut tujuan hidupku, kau juga tidak akan mengerti perasaanku. Terima kasih sudah memberi tahuku mengenai sejarah bangsaku, sekarang aku menjadi yakin kalau tujuanku itu tidaklah salah." Kata Gill melerai keadaan dan berbalik untuk pergi.


"Tunggu!" Sahut Alin menghentikan langkahnya.


"Aku minta maaf atas sikap kasar ku tadi, aku memang tidak tahu perasaan yang sedang kau rasakan saat ini. Aku tidak ingin hubungan kita pecah hanya karena perbedaan pendapat. Perbedaan itu lumrah tetapi menghargai itu yang sulit." Sambung Alin tetapi Gill tidak menggubrisnya dan lanjut berjalan pergi.


"Apakah kau masih marah padaku, aku kan sudah minta maaf." Ucapnya sedikit kesal.


Gill kemudian berhenti dan berbalik menatapnya. "Maaf tetapi aku sudah tidak tahan dengan ini." Jawab Gill.


"Aku mengerti sangat berat bagimu menerima semua ini. Tetapi,-


"Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil." Sahut Gill.


'Hah?' Kata Alin bengong terkejut sekaligus bingung.


"Maaf ya aku tinggal dulu sebentar, jangan ikuti aku!" Berjalan sedikit cepat karena sudah tidak tahan.


'Ternyata kau ini benar-benar berbeda Gill aku tidak pernah bertemu seorang Dementor seunik dirimu. Walaupun tujuan hidupmu sangatlah kejam tetapi kau memiliki sikap dan hati yang sangat baik kepada para makhluk yang lemah.' batinnya sedikit tersenyum manis.


'Kini aku tahu alasanmu nekat melakukan hal itu. Kau tidak ingin mereka yang lemah juga turut merasakan hal yang sama, oleh karena itu kau selalu berusaha sekuat tenaga melindungi mereka semua.' sambungnya.


'Maafkan aku Gill yang tidak bisa menyadari perasaanmu. Karena selama ini, aku memang terlalu nyaman dengan apa yang sudah aku dapatkan. Sehingga aku tidak tahu penderitaan kaum yang lemah.'


'Kini aku bisa sedikit belajar darimu, aku tidak ingin hubungan baik kita ini berakhir dan berbalik menjadi musuh abadi. Seperti yang telah terjadi antara kedua pemimpin bangsa kita.' Pikir Alin mulai mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Gill.