
Sementara itu di Orion Kingdom.
Sudah bertahun-tahun lamanya Azazeal hanya menghabiskan waktunya menyendiri di kamar sambil terus melihat keluar jendela kamarnya.
"Tok!"
"Tok"
"Tuan saya Acquila. Apakah saya boleh masuk?" Tanya Acquila dari luar.
"Masuklah." Jawabnya.
"Tuan, beberapa tahun belakangan ini saya lihat Anda selalu menghabiskan waktu di kamar. Anda juga tidak memimpin jalannya rapat pertemuan ke seratus Guardian. Anda juga tidak memerintah kami sebagai pelayan. Ada apa dengan Anda Tuan?"
"Maaf apabila saya lancang menanyakan hal ini. Apa yang sedang terjadi kepada Anda, tidak biasanya Anda seperti ini. Kami sangat khawatir dengan kondisi Anda Tuan?" Sambungnya bertanya khawatir.
Tetapi Azazeal hanya diam dan terus memperhatikan taman Istananya yang indah, wajahnya terkena hembusan angin dan rambutnya tersingkap ringan.
"Tuan ma-maafkan saya, saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Kalau begitu sa,- hendak memutar tubuhnya berjalan pergi meninggalkan kamarnya.
"Acquila!" Panggil Azazeal mengagetkannya.
"Iya Tuan." Membungkuk memberinya hormat.
"Menurutmu hidup itu seperti apa?" Tanya Azazeal sambil terus melihat taman.
"Anda lebih tahu dari pada saya Tuan," jawabnya merendah.
"Aku tidak bertanya arti hidup yang sesungguhnya, aku hanya meminta pendapatmu mengenai hal itu?" Sambung Azazeal.
"Bagi saya hidup itu adalah pengabdian, hidup ini akan terasa hampa tanpa perintah dari Anda Tuan beberapa tahun belakangan kami merasa tersiksa atas keheningan yang terjadi, oleh karena itu ... (Berlutut) ... Tolong beri kami perintah, Tuan Azazeal." Mohon nya.
Azazeal diam sesaat kemudian lekas berbalik dan menghampiri Acquila yang sedang berlutut memohon perintah.
"Jika kau merasa tersiksa beberapa tahun belakangan, maka aku sudah tersiksa sejak pertama kali aku menciptakan kalian." Jawabnya mengagetkan Acquila.
'Tuan Azazeal selama ini tersiksa? Bodohnya aku sampai tidak menyadari hal itu. Pelayan macam apa aku ini yang tidak bisa menyenangkan hati,-
"Acquila jangan menyalahkan diri sendiri, Berdirilah. Kamu tidak seharusnya seperti itu." perintahnya.
Merasa sedih, Acquila berusaha bangkit berdiri dan menegarkan dirinya di depan Azazeal.
"Beritahu kepada Sam, aku mengutusnya untuk menemui Edward, dia sudah tahu apa yang akan dia bicarakan padanya. Perintahkan Exifilia untuk mengawasi setiap latihan Knight!" Melangkahkan kakinya maju mendekati Acquila dan menepuk pundaknya.
"Maaf aku telah membuatmu khawatir, kau memang berbeda dari keempat pengawal ku." dengan nada pelan dan sedikit senyum manis di wajahnya kemudian lanjut berjalan pergi.
"Degg Degg!" Jantung Acquila berdetak kencang melihat ekspresi Azazeal barusan.
"Anda mau pergi kemana Tuan?" Tanya Acquila gugup sedikit merona pipinya.
Menghentikan langkah kakinya. "Underworld" Jawabnya singkat.
'Ah!' Terkejut hati Acquila mendengarnya. "Sendirian? Tuan saya bisa mengutus para Guardian lain untuk menemani Anda pergi ke sana." Sambungnya merasa cemas.
"Tidak apa-apa, kau tunggulah disini." Kata Azazeal kemudian melanjutkan berjalan pergi.
'Kondisi Tuan saat ini sedang tidak baik, aku tidak ingin dia nanti kenapa-napa. Baiklah sudah ku putuskan!' Pikirnya merasa khawatir.
"Tuan!" Panggilnya menghentikan lagi langkah Azazeal.
"Izinkan saya menemani Anda pergi ke sana, saat ini kondisi Anda sedang tidak baik akan lebih baik kalau Anda pergi dengan di temani oleh seseorang." Sambungnya.
"Saya mohon Tuan." Sambung Acquila memohon.
'Dia sangat bersikukuh, sepertinya akan sangat sulit untuk melarangnya.' Pikir Azazeal terharu atas sikap loyalnya. "Baiklah (Menoleh sedikit ke Acquila) Aku akan menunggumu di depan gerbang." Melanjutkan langkahnya kembali.
'Aneh sekali, sikap Tuan akhir-akhir ini berbeda. Tetapi aku menyukai dirinya yang sekarang ia menjadi semakin bijaksana dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan setiap permasalahan. Aku senang dia sudah tidak lagi Arogan.' batinnya.
'Dan juga yang tadi itu manis sekali, selama aku menjadi pelayannya baru kali ini aku melihatnya tersenyum tulus seperti itu. Mungkin aku lah pelayan yang paling beruntung karena dapat menyaksikan senyum manisnya tersebut.' Pikirnya mulai kembali memerah pipinya.
'Baiklah aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Akhirnya aku bisa berkencan dengan lelaki tertampan di seluruh penjuru langit meskipun dia adalah Tuanku sendiri lagian siapa yang peduli. Aku kan pelayannya jadi aku berhak dong memberinya rasa aman dan nyaman. Aku beruntung sekali, karena terlahir sebagai pelayan Tuan Azazeal.' Pikir Acquila kegirangan dan langsung pergi keluar menyusulnya.
*Yang sebenarnya terjadi pada Azazeal beberapa tahun belakangan dan hal yang membuatnya berubah ...
___FlashBack____
"Azazeal pelayan setiaku, tujuanku memanggilmu kemari adalah untuk menegur mu atas sifat keras yang selama ini kau lakukan. Aku tahu kau bukan tipe orang yang keras dan arogan, tapi pilihan mu telah menjerumuskan mu ke dalam hal yang sebenarnya kau benci. "
"Kau adalah sosok pemimpin yang ideal Azazeal tapi tidak untuk saat ini, mengembalikan seratus persen kekuatanmu juga bukanlah pilihan yang tepat. Suatu saat kau akan sadar dengan apa yang telah kau lakukan."
"Ketegasan mu sudah masuk dalam kejahatan, namun tak apa karena pada dasarnya mereka sengaja memancing kemarahan ku. Dengan adanya kamu yang sekarang, aku bisa sedikit mengatur ciptaan ku yang lain."
___FlashBackEnd___
Setelah menunggu sedikit lama di depan gerbang, akhirnya Acquila datang dengan di temani oleh Sam dan Exifilia di belakangnya.
"Maaf Tuan telah membuat Anda lama menunggu," kata Acquila membungkuk meminta maaf.
"Tuan terima kasih Anda telah kembali lagi memerintah kami. Kami merasa senang keheningan ini cepat berakhir." Membungkuk padanya berterima kasih.
Azazeal tersenyum, "Maafkan aku karena telah menyiksa kalian." Ucapnya tulus.
"Acquila!" Panggilnya mengajaknya pergi.
Mereka bertiga sontak terkejut mendengar Azazeal meminta maaf kepada para pelayannya. 'Ternyata benar apa yang dikatakan Acquila. Tuan Azazeal kini telah berubah!' Pikir Sam terkejut.
Acquila langsung berlari menghampiri Azazeal karena tidak ingin membuatnya menunggu, setelah itu mereka berdua langsung berjalan pergi.
"Tuan!" Panggil Exifilia menghentikan langkah mereka berdua.
"Berhati-hati lah!" Kata Exifilia merasa cemas.
Azazeal menoleh ke arahnya dan sedikit memberinya senyum manis meyakinkannya agar tidak merasa cemas lagi padanya dan lanjut berjalan pergi menuju Underworld.
"Exifilia, apakah kau juga menyadarinya?" Tanya Sam sambil melihat mereka berjalan pergi.
"Entah kenapa dia jadi berubah drastis seperti ini. Baru kali ini aku mendengar permintaan maafnya tetapi aku suka dia yang sekarang,"
"Kini dia menjadi murah senyum dan tidak lagi keras kepala seperti dulu. Aku jadi semakin mencintainya dengan sifat barunya itu. Aku yakin jauh di dalam hatinya, Tuan Azazeal itu adalah pribadi yang romantis." Sambungnya menghayal dengan fantasi liarnya.
"Menjijikan, kau tidak punya malu ya menyukai Tuan mu sendiri?" Sahut Sam sedikit menyinggungnya.
"Diam lelaki menyedihkan sepertimu tidak akan paham tentang yang namanya Cinta. Yang kau tahu hanyalah misi dan kerja. Menyedihkan sekali, kau hidup hanya menjadi budak pekerjaan!" Balasnya judes.
"Hemhh! Tidak ada gunanya juga terus berbicara denganmu." Kemudian berbalik dan pergi dengan sombongnya.
"Siapa juga yang mau berbicara dengan lelaki menyedihkan sepertimu. Pantas saja kau jomblo tak akan ada wanita yang mau dengan orang sepertimu!" Cela Exifilia terbakar api amarah.
'Kenapa aku harus se-rekan dengan orang sepertinya dia itu sangat menyebalkan, melihatnya terus-menerus akan buruk bagi kesehatanku mentalku.' Pikir Exifilia sambil melihatnya pergi.
Menoleh ke arah Azazeal yang sudah berjalan sangat jauh dengan ekspresi penuh harap. 'Tuan aku akan sangat menantikan hari itu tiba. Hari dimana hanya ada kau dan aku berdua melaksanakan misi bersama dan saling melengkapi.' batinnya dengan wajah merah merona malu sendiri menghayal kan angan-angan tersebut.