The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 6 ~ Kunjungan Adik dan teman Akrab



Malam begitu dingin, rasa dingin itu hampir masuk dan menusuk tulangnya. Michael bersandar di sebuah batu tepi sungai sembari merenungi apa yang telah terjadi barusan.


Terlihat bulan purnama yang meneranginya dimalam itu di tengah larutnya kesedihannya. Semua terjadi begitu cepat dan dia selalu lengah terbuai oleh cinta. Membuatnya hancur dan menderita.


ya Tuhan tidak bisakah aku hidup normal seperti orang lain... Gumamnya dalam hati.


Tubuh Michael Sakit, Tertusuk, Terpotong dan ditambah hati yang hancur melihat Sherlyn menghianatinya. Teman baiknya Noah hilang musnah seketika dari jalan hidupnya. Semua hari - harinya akan terasa sunyi dan sepi.


Terdengar jejak kaki samar dari balik semak - semak. Jika dia adalah perempuan itu nampaknya sudah sampai sini saja hidupku... Pikirnya.


Perempuan itu mendekat ke arah Michael dengan pelan dan hati - hati wajahnya masih tertutup bayangan terhalang oleh dedaunan. Darah yang keluar dari kepala Michael yang habis membenturkannya ke topeng Catherine tadi kian keluar dan menutupi wajahnya.


Perempuan tadi mulai keluar dari semak dan terlihat wajahnya samar karena mata Michael mulai kabur karena lemas lesu.


"Tuan Michael, ya ampun!" Kata Perempuan itu.


Michael yang sudah hampir tidak sadarkan diri bertanya kepadanya.


"Kamu... kamu siapa, kenapa kamu ada disini?"


Perempuan itu meraba - raba wajah Michael dan mengusapi darah yang keluar membasahi wajahnya.


"Kreeek!" Terdengar seperti seorang menyobek kain.


Kemudian Perempuan tersebut membalut luka parah ditangan dan kaki Michael dengan kainnya.


"Tuan, tolong jangan banyak bicara dulu ya, saya sedih melihat Anda seperti ini." Dengan nada hampir menangis.


Dia menangis?... Pikirnya merasakan tetesan air yang membasahi tangannya.


"Tuan, tunggulah disini sebentar, Saya akan mencari bantuan untuk Anda." Sambil bergegas pergi.


Siapa wanita ini, begitu sekali baik kepadaku... Pikirnya dalam hati.


Michael bersandar di sebuah batu tepi sungai menunggunya sambil menahan rasa sakit. Tubuhnya semakin lemas dan kedinginan setelah terkena air dan udara malam yang dingin.


Suhu tubuhnya menurun seperti mati rasa di setiap syaraf tubuhnya. Cukup lama dia menunggu akhirnya mata Michael melihat melihat kerumunan orang yang ramai membawa obor. Tetapi dia terlelap pingsan dahulu karena tubuhnya yang sudah sekarat sebelum sempat melihat mereka sampai.


Cukup lama Michael pingsan. Akhirnya dia mulai tersadar dan lekas membuka mata dari semula kabur pengelihatannya kini menjadi semakin jelas.


"Tuan!" Enry kemudian memeluknya sambil menangis.


"Apa yang terjadi denganmu kenapa kamu menjadi seperti ini?" Dengan menangis di pelukannya.


"Ini dimana?" Tanya Michael bingung sambil melihat sekeliling.


Enry melepas pelukannya dan memegang tangan kanan Michael kemudian ditempelkan di pipinya sambil tersenyum senang bercampur linang air mata.


"Ini aku Tuan, Apakah kau melupakanku?" Tanya Enry dengan sangat dekat dengan wajah sedih.


"Kau, Enry!" Katanya kaget yang baru menyadarinya.


Enry tersenyum senang melihat Michael masih mengingatnya.


"Ougchh!"


Darah keluar dari mulut Michael sewaktu dia mau bangun dari tempat tidur dan menggapai gelas yang ada di meja.


"Tuan, tolong jangan banyak bergerak dulu, Anda menginginkan apa? Akan saya ambilkan," katanya.


Kemudian Enry mengambilkan gelas berisi air yang ada di meja dan memberikannya kepada Michael. Dia meminumnya pelan - pelan.


"Arghh!"


Air yang mulai masuk dari mulutnya menuju tenggorokannya terasa sakit dan dia segera memuntahkannya. Baju dan tempat tidur tersebut seketika basah terkena semburan air yang keluar dari mulutnya.


"Tuan! Anda tidak apa - apa?" Tanya Enrylind khawatir.


Enry kemudian mengambilkan kain untuk mengelap mulutnya dan tangannya yang terkena air tadi. Dia kemudian membantu Michael kembali ke posisi tidur semula.


"Tunggu sebentar Tuan, aku akan, mengambilkan makanan untukmu," Kemudian pergi meninggalkannya.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya Enry kembali dengan membawakan mangkuk berisi bubur. Dia duduk di sampingnya dan membantunya bangun untuk nanti dia akan menyuapinya.


"Ayo tolong buka mulut Anda Tuan, Aaaa." katanya.


Michael mulai membuka mulutnya perlahan kemudian dia memasukan makanannya. Terasa tidak enak di mulutnya karena Michael sedang dalam kondisi buruk tetapi dia terus berusaha memakannya supaya lekas sembuh.


Sewaktu dia menelannya dan lekas sampai perut. Ia merasakan sakit yang luar biasa dan segera mengeluarkan darah lagi dari mulutnya.


"Tuan!" Teriak Enry panik langsung menaruh mangkuk yang dia bawa ke meja dan langsung mengelap bibirnya setelah memuntahkan darah.


"Tuan jangan Anda paksakan kalau masih belum bisa makan," Katanya penuh khawatir.


"Enry, tolong terus suapi aku!" Kata Michael bersikeras.


Enry langsung memerah wajahnya malu. "Ehh, ba--baik Tuan,"


Dia langsung mengambil mangkuknya dan kembali menyuapinya. Walaupun tubuh Michael masih sakit dan belum bisa makan tetapi dia terus memaksanya.


"Ayo Tuan, makanannya sudah hampir habis, tinggal sedikit lagi." Kata Enrylind menyemangatinya.


Michael terus memakannya agar tidak lemas dan berharap cepat sembuh. Tusukan - tusukan pedang tadi merusak berbagai organ dalamnya dan membuatnya susah untuk makan atau minum.


"Wahh, makanannya habis!" Kata Enry terkejut senang.


"Semoga Tuan cepat sembuh, sebentar saya akan mengembalikan mangkuknya ke belakang." Kemudian dia pergi mengembalikan mangkoknya.


Tak berapa lama Enry pergi kedua Orang tuanya masuk.


"Tuan Michael bagaimana keadaan Anda sekarang?"


"Masih sedikit sakit pak, tapi tidak apa - apa, ini sudah lebih baik," jawabnya.


"Saya senang bisa diberi kesempatan membalas kebaikan Tuan waktu itu." Sambung Ibu Enry.


"Terima kasih telah menolong saya, mungkin saya sudah mati kalau Enry tidak menolong saya tadi."


Mereka berdua tersenyum dan mulai mengobrol seperti biasa. Ibu Enry bertanya kepada Michael mengenai peristiwa apa yang telah menimpanya. Michael berbohong dengan berkata bahwa dia dikeroyok oleh segerombolan bandit pencuri.


Mereka berdua turut sedih mendengar alasan bohong Michael barusan. tak berapa lama Enry datang dan kaget melihat kedua Orang tuanya masuk ke dalam.


"Bu, izinkan Enry merawat Tuan Michael sampai sembuh, ya?"


"Enry janji tidak akan menyusahkan kalian, ini juga merupakan bentuk terima kasih Enry kepada Tuan Michael."


Mereka berdua tersenyum dan senang dengan apa yang Enry katakan.


"Iya, kami berdua paham kok." Jawab ayahnya.


Kemudian mereka pergi keluar dan hanya meninggalkan mereka berdua.


"Tuan sebenarnya apa yang terjadi dengan Anda, sampai seperti ini?" Tanya Enry kembali bersedih.


Michael kemudian menceritakan semuanya yang telah terjadi kepadanya secara jujur tentang Noah tentang semuanya. Enry menangis sangat sedih mendengar semuanya dan langsung memeluk tubuh Michael.


"Kenapa, kenapa!" Teriaknya marah bercampur kesal.


"Setiap orang yang aku jumpai, dan aku mulai ada ikatan dengannya selalu begini!" Dengan menangis meraung - raung sambil memukuli dada Michael.


Michael kemudian mengeluarkan gelang yang kemarin dia beli di pinggir jalan dan menggenggamnya erat sambil meratapinya sedih karena dia gagal memberikan gelang tersebut untuknya.


Mereka berdua sangat sedih karena ditinggal pergi seorang yang sangat berarti baginya, Noah Lewise. Mereka mengeluarkan kesedihan di hatinya masing - masing pada malam itu.


Cukup lama mereka mengeluarkan semua rasa pilu di hati, akhirnya Enry mulai kelelahan dan tertidur di dadanya sambil menempelkan tangan Michael di pipi manisnya.


Hari - hari berikutnya Enry terus merawat Michael tanpa mengenal rasa lelah. Setelah kurang lebih dua bulan Michael terbaring di tempat tidur akhirnya tubuhnya sudah mulai bisa di gerakan dan sudah tidak lagi terasa sakit.


Yang menjadi penghalang bagi Michael adalah hilangnya kaki kanan dan tangan kirinya yang membuatnya susah berdiri dan susah menyeimbangkan tubuhnya. Enry membuatkan tongkat kayu dan membantunya berjalan.


Michael sering terjatuh pada saat latihan tetapi dia tidak menyerah untuk bangkit dari titik rendah dirinya. Sedangkan Enry tanpa putus juga terus mengajarinya sampai Michael bisa.


"Wahh! Selamat Tuan, Anda sudah bisa berjalan kembali." Katanya kegirangan melihatnya bisa berjalan kembali.


Michael tersenyum senang dan berterima kasih banyak padanya. Enry langsung memeluknya erat senang sekali. Malamnya Michael keluar ke halaman depan mencari angin segar sambil melihat bintang di langit malam. Kemudian Enry juga datang dan duduk disampingnya.


"Bintangnya indah, ya Tuan?"


"Aku selalu melihat mereka disaat aku sedang kesepian atau bersedih." Sambungnya.


"Andaikan saja Ibu dan Ayahku sekarang berada disini, biasanya disaat seperti ini merekalah yang selalu menghiburku..." Ucapnya lirih.


"Maaf Tuan kalau saya lancang, memangnya apa yang terjadi kepada Orang tua Anda?" Tanya Enry penasaran.


"Waktu itu,--


__________FlashBack_________


Ada beberapa bangsawan dari Kota Derlin datang ke rumah kami, mereka berencana akan menghancurkan rumah kami,


Ayahku yang tidak terima dengan keputusan mereka mencoba untuk melawannya namun apa daya, karena Ayahku yang sudah berumur dan jumlah mereka yang banyak akhirnya dia berhasil mengalahkan Ayahku, Ibu yang sedih melihat Ayah terluka dia langsung berlari menghampirinya,


Kemudian salah satu dari mereka melihatku yang mengintip dari balik pintu, dan melangkahkan kakinya berniat menghampiriku untuk membunuhku, tetapi dihentikan langkahnya oleh Ibuku dengan tangannya,


Aku masih ingat saat - saat terakhir dia berteriak kepadaku.


Larilah Michael!


Selamatkan Adikmu, Jangan kau pedulikan kami!


Aku kemudian berlari ke dalam dan bergegas menyelamatkan Patricia dengan ku gendong dia dan kubawa kabur lewat pintu belakang, tepat setelah aku kabur terdengar suara jeritan Ibu yang sedang kesakitan dan...


___________FlashBackEnd___________


Sejak saat itulah aku tidak pernah melihat mereka lagi."


Enry terdiam sesaat sambil meneteskan air mata sedih.


"Berarti, Kakakku!" Kata Enry.


"Emhh, Aku juga menduganya demikian." Jawab Michael yakin.


"Dasar Sialan!" Sambil beranjak berdiri.


"Aku pasti akan membinasakan mereka semua suatu hari nanti..." Ucapnya lirih dengan tatapan mata marah sekali.


Michael terkejut melihat ekspresi wajah Enry yang seperti orang kerasukan iblis, dari tatapan matanya nampak dia sangat dendam kepada mereka semua.


"Enry," panggil Michael.


"Iya, Maaf Tuan," kemudian kembali duduk.


"Maaf Tuan, kalau saya boleh tahu, nama kedua Orang tua Anda siapa?" Sambungnya.


"Ayahku bernama Josh Hamzah dan Ibuku Astried J Hamzah." Jawabnya.


Enry langsung terbelalak matanya mendengar jawaban dari Michael barusan.


"Emmh?" Michael kaget dan menoleh ke arahnya.


"Tidak salah lagi dia adalah si Legendaris pedang itu kan,"


"Kakakku dulu ingin sekali bertemu dengannya untuk belajar teknik berpedang darinya, katanya Dia ( Josh Hamzah ) dahulu pernah menghadapi sekitar 100 iblis sendirian, namun setelah itu dia menghilang bak angin tidak pernah terdengar lagi kabarnya darinya hingga saat ini," sambungnya.


"Berarti nama Asli Tuan adalah, Michael J HAMZAH!" katanya terkejut.


"Iya, itu benar, kenapa kamu sangat terkejut seperti itu?" Tanya Michael.


"Berarti Anda juga seorang Ahli pedang sama seperti Ayah Anda?" Duganya.


"Tolong ajari saya jurus yang kuat Tuan!" Sambungnya sambil sujud memohon.


"Tidak,"


!!! Enry kaget permintaanya ditolak mentah - mentah oleh Michael.


"Ke... Kenapa Anda menolaknya?" Tanya dia kaget.


"Tidak, sebenarnya aku tidak se-ahli Ayahku dalam menggunakan pedang, dan juga... Mungkin kalau kamu bisa berpedang, Kamu akan gegabah membalas dendam Kakakmu kepada para Bangsawan itu, kan?" Balas Michael.


Enry terkejut kemudian diam mendengar jawaban dari Michael tersebut.


.....


Suasana menjadi hening dan canggung sesaat kemudian Michael mengganti topik pembicaraannya.


"Langit malam ini sangat cerah, ya?"


"Lumayan ini sedikit bisa menghiburku," sambungnya sambil menatap bintang di langit.


"Anuu... Tuan bolehkah saya memanggil Anda dengan sebutan Kakak, seperti saya memanggil Kak Noah." Dengan nada gugup dan malu.


!!


Michael kaget mendengarnya.


Mengingat dia sedang berduka karena kehilangan orang yang berharga baginya, Michael menjadi tidak enak mau menolaknya.


"Boleh, aku senang mendengarnya."


"Waah!" Dengan senyum bahagia diwajahnya kemudian memeluknya hangat.


Mengingat dulu kamu adalah gadis yang pemalu dan penakut untuk berbicara kepadaku, Aku senang kini kamu sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi... Pikirnya.


"Aku senang sekali, Aku, aku tidak ingin kehilangan kak Michael sama seperti kakakku yang dulu atau Kak Noah." Jawabnya senang di pelukannya sambil menangis.


Adik! Bagaimana dengan Patricia? Pikirnya yang baru terpikirkan olehnya kalau Michael masih mempunyai seorang Adik Patricia.


"Enry, bisakah besok kamu membantu menemaniku ke Kota Sanguin?"


"Aku ingin mengunjungi Patricia,"


"Boleh Kak, aku akan menemanimu pergi ke sana."


di tengah mereka mereka mengobrol asik datanglah Orang tua Enry.


"Tuan silahkan masuk dan bermalam disini, malam sudah larut dan udaranya semakin dingin." Kata Ayah Enry.


Kemudian mereka berdua masuk.


"Karena rumah kami kecil dan hanya mempunyai dua kamar, jadi Tuan Michael tidurnya sama Enry saja ya, satu kamar." Kata Ibu Enry sambil tersenyum.


Hah! Pikir Michael terkejut.


Dia jadi bingung dan gugup mau berbicara apa. Kemudian ia menoleh ke arah Enry. Dia menundukkan wajahnya memerah dan malu sambil memainkan kedua jari telunjuknya. ( Kebiasaan wanita saat malu ).


"Aku tidak keberatan kok sekamar berdua dengan Kak Michael...." Katanya lirih dengan nada malu nampak merah sekalu wajahnya.


"Ya sudah Enry ajak Tuan Michael tidur, biarkan dia istirahat supaya cepat sembuh." Kata Ibu Enry.


Akhirnya Enry menuntun Michael berjalan ke kamar. Setelah sampai, tempat tidurnya ternyata sangatlah kecil dan sempit. Mau tidak mau Michael harus berbagi tempat tidur dengannya karena disini dia hanya menginap sebentar. Michael kemudian berbaring ditempat tidur. Sedangkan tempat yang tersisa sangatlah kecil dan tidak ada tempat lain lagi.


"Tidurlah di sini Enry, di sebelahku," Ajak Michael sambil menunjukan tempatnya.


"Tapi Kak, tempat tidurnya tidak muat," Dengan nada malu dan wajah memerah.


"Sudah kesini saja dulu, nanti kita bagi tempatnya." kata Michael meyakinkannya.


Enry dengan pelan duduk dan berbaring.


Karena tidak ada tempat untuk kepalanya Michael menyandarkannya di dadanya. Enry langsung memegang erat pinggangnya karena dia tidak mau terjatuh.


Tubuh dan payudaranya menempel erat pada tubuh michael. Terdengar hembusan nafasnya tidak teratur dan detak jantungnya keras. Terasa sekali kalau dia sangat malu dan gugup.


"Sudah, bukankah kamu menganggapku seperti Kakakmu sendiri, anggap saja kamu sedang tidur dengan Kakakmu yang dulu." Katanya menenangkannya.


Kemudian Hati Enry menjadi tenang mendengar hal tersebut dan sudah sedikit hilang rasa gugup dan malu dari dalam hatinya. Hembusan nafasnya sudah mulai teratur dan detak jantungnya kembali normal. Dia memegang erat tubuh Michael dengan tangannya.


"Terima kasih, Kak Michael...." Ucapnya lirih kemudian tertidur.


Rambutnya dekat sekali dengan dagu Michael dan dielus lah rambut tersebut olehnya. Sebenarnya dia gugup karena payudaranya menempel ketat di dadanya. Michael berusaha untuk memejamkan mata untuk segera tidur tetapi kelembutan dan kehangatan payudaranya tersebut sangat mengganggu konsentrasinya untuk tidur.


Sementara itu di Raftell Kingdom.


Ratu Sherlyn menerima kunjungan dari dua orang penting. Setelah Ratu menemui mereka dia langsung berlutut di hadapan mereka berdua.


Penampilan mereka seperti Iblis Demi Human tetapi memliki Sayap hitam dan tanduk hitam mengerikan.


"Bagaiman Sherlyn, apakah kamu sudah menyekolahkan Patricia." Kata wanita itu.


"Sudah Ratu, sesuai perintah Anda," Jawab Sherlyn


"Bagaimana dengan anak bernama Michael itu?" Tanya pria di samping wanita itu.


"Dia sudah kami bunuh, sesuai perintah anda Yang Mulia," Jawabnya patuh.


Kedua orang itu tersenyum bengis dan mengucapkan kerja bagus untuk Sherlyn..


"Panggil Patricia kemari!" Perintah Pria itu.


Tak berapa lama Patricia datang dan terkejut melihat mereka berdua...


Keesokan paginya Michael terbangun dan segera bersiap - siap berangkat ke Kota Sanguin. Dia memakai jubah yang sekiranya bisa menutupi Identitasnya. Sedangkan Enry juga memakai jubah yang sama. Mereka berpamitan dan mulai berangkat.


"Aku tidak sabar ingin bertemu dan melihat Patricia, pasti dia sangat cantik sekali." Ucap Enry dengan senyum senang.


Aku berharap kamu tidak apa - apa Patricia, Tunggulah Kakak, aku akan menyelamatkanmu... Katanya dalam hati.


Mereka terus berjalan agar kami cepat sampai ditempat. Cukup lama berjalan melewati hutan akhirnya mereka berdua sampai di depan Kota Sanguin kemudian mereka berjalan menyusuri jalanan Kota tersebut. Tempat pertama yang dikunjungi Adalah rumah Sebas dan Rebecca.


Setelah dekat dengan rumah mereka Michael melihat kerumunan orang disekitar rumah Sebas dan Rebecca. Michael meminta bantuan Enry untuk bertanya kepada salah satu warga tentang apa yang terjadi.


"Maaf Tuan ada apa ini, ramai sekali disini?"


"Iya, pemilik rumah ini Sebas dan Rebecca meninggal mengenaskan kemarin malam, kami menduga pelakunya tidak lain adalah Michael dan Patricia,"


"Menurut kesaksian tetangga, mereka berdua mengadopsi anak dua orang anak beberapa tahun yang lalu." Kata salah satu warga menjelaskan.


Ini pasti ulah Sherlyn,


Kurang ajar! Dia menjadikanku kambing hitam atas perbuatannya... Katanya dalam hati marah.


Setelah mendengar itu Michael kemudian bergegas mencari Patricia ke sekolahannya.


Sesampainya disana dia bertanya kepada salah satu siswi teman seusianya yang lewat di depannya.


"Maaf Dik, Kakak mau tanya, tolong dong panggilkan Patricia kemari," mintanya sopan padanya.


"Maaf Kak, beberapa hari ini Patricia tidak masuk semenjak kedua orang tuanya meninggal," jawabnya polos.


"Oh, begitu ... Terima kasih, ya?" mengelus kepalanya.


"Sama - sama, Kak!" Kemudian dia pergi.


Michael langsung bergegas menuju ke pemakaman umum di Kota Sanguin. dalam hati kecilnya dia berharap semoga Patricia tidak ada disana. Setelah sampai dia segera mencari makam mereka berdua dan ternyata mereka dimakamkan tidak jauh dari tempat makam lainnya.


Mereka berdua berjalan menghampiri makam mereka berdua dan dia juga menemukan makam Patricia disampingnya. Hati Michael serasa tak percaya mereka bertiga meninggalkannya begitu cepat. Ia tak kuasa menahan sedih dan air mata di depan makam mereka bertiga.


Enry yang melihat Michael bersedih, dia juga turut berduka dan bersedih. Ia memegang pundaknya memintanya untuk bersabar dan jangan bersedih lagi.


"Sekarang aku tidak mempunyai siapa - siapa lagi!"


"Adik, Ibu, Ayah, Semuanya juga telah pergi meninggalkanku!"


"Setelah ini siapa lagi!"


"Kini aku tinggal sendiri menjalani hidupku yang menyedihkan ini." Teriak Michael marah bercampur sedih dengan berlutut.


Aku lelah! Sudah berhenti, aku sudah hancur sekarang, Aku muak dengan diriku yang penuh dengan kenaifan dan sangat menyedihkan, yang dengan mudahnya dihancurkan oleh Cinta... Pikirnya marah penuh kebencian.


Enry memeluknya erat bak dia merasakan juga apa yang Michael rasakan saat ini. Ia juga tidak kuasa menahan air mata setelah mendengar ungkapan isi hatinya yang ditinggalkan oleh orang - orang yang berharga baginya.


Kemudian Enry membantunya berdiri dan pergi meninggalkan makam mereka bertiga. Waktu mereka sedang berjalan ingin keluar dari pemakaman tersebut Michael melihat ada satu makam kecil yang nampaknya belum lama.


Terlihat makam tersebut penuh dengan karangan bunga dan berbagai prestasi darinya. Michael yang penasaran tentang siapa yang dimakamkan di sana segera menghampirinya.


Ini! pikirnya terkejut melihat makam tersebut.


Ternyata makam yang penuh bunga tersebut adalah makam dari teman dekatnya Noah Lewise. Dia kemudian melihat bunga dari siapa saja yang dikirimkan untuknya tersebut.


"Cihh!"


Dia kemudian melempar satu karangan bunga yang begitu indah. Ternyata karangan itu dari Sherlyn. Dia sangat membencinya karena dialah yang telah membunuh Noah.


Michael lalu berjongkok dan memberikan sebuah gelang yang belum sempat dia berikan kepadanya.


"Maafkan Aku Noah, karena baru sekaranglah aku bisa menemui mu, Maaf ya aku telat memberikan ini kepadamu," sambil menalikan gelang tersebut di Nisannya dan tak terasa air mata membasahi pipinya.


"Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan darimu, Selamat Jalan temanku, Terima kasih untuk semuanya, Selamanya aku tidak akan pernah melupakanmu..." Sambil memegang Nisannya kemudian berbalik tak kuat menahan sedih.


"Kak Noah, Kenapa kamu meninggalkanku begitu cepat!"


"Bukankah dulu kamu pernah berjanji, akan selalu membuatku tersenyum tapi kenapa malah sekarang kau yang membuatku bersedih seperti ini, hiks..." sambil menempelkan dahinya di Nisan dan air matanya membasahi tanah makamnya.


Sherlyn kau akan membayar besar untuk ini!


Kata Michael dengan tatapan penuh kebencian dan dendam menyulut hatinya.


"Kak, aku sangat menyukai gelang pemberianmu ini dan terima kasih untuk anggrek ungunya, aku sangat menyayangimu seperti kamu menyayangiku juga," kemudian Enry mencium Nisannya dengan pipi basah dengan air mata.


"Kami akan membalas perbuatan orang yang telah menghianati dan melukaimu, aku dan Kak Michael tidak akan pernah melupakanmu selamanya,"


"Kami pergi dulu, Terima kasih untuk semuanya, Kak Noah..." Kemudian mereka berdua meninggalkan makam Noah dengan gelang dari Michael yang tertali di Nisannya.