
"Cahaya apa itu, terang sekali. aku tidak pernah melihat cahaya seindah itu di langit Underworld." kata Gerald kagum melihat cahaya itu dari balik jendela kamarnya.
"Osmound apa itu, jarang sekali ada cahaya yang bisa menembus langit ini!" Tanya Geilla penasaran sekaligus terkagum melihat cahaya itu dari balik jendela kamarnya.
"Entahlah, aku memiliki firasat buruk mengenai ini." Jawab Osmound menatapnya mengamati cahaya tersebut.
"Benda itu menuju kemari, aku harus segera menghentikannya!" Kata Raja Iblis Leviathan langsung berbalik dan pergi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka berdua sampai dan menginjakan kaki di tanah Underworld yang gersang.
"Akhirnya kita sampai Tuan. sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Acquila.
Azazeal hanya diam sambil memperhatikan daerah sekitar. Ia dan Acquila memilih turun di tengah hutan untuk menghindari kedatangan mereka yang mencolok.
'Selama ini aku hanya mengutus mereka (para Guardian) untuk turun ke Underworld. Walaupun sudah lama aku tidak kemari tetapi rasanya masih sama seperti kemarin, tempat ini sungguh tidak berubah sama sekali' Pikir Azazeal sambil mengamati sekitarnya.
"Tuan?" Panggil Acquila.
"Ehm!" Gumam Azazeal terkejut segera berbalik ke arahnya.
"Kita sudah sampai, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Sambung Acquila.
Perlahan sambil berjalan menghampiri Acquila, Azazeal berubah ke mode Iblis Tirani. Acquila terkejut melihatnya menjadi sangat menyeramkan dengan mata merah menyala berjalan mendekatinya.
'Tuan sangat luar biasa, dia sangat gagah dan menyeramkan dengan wujud itu ... Ah, aku baru ingat. Bagaimana caraku berubah sepertinya? Selama ini aku belum pernah melakukan penyamaran' Pikir Acquila kagum sekaligus kebingungan.
"Tuan Anda sangat luar biasa dengan wujud ini!" Menatanya penuh kagum.
Azazeal tersenyum manis menatapnya hangat, "tetapi ... Bagaimana cara saya bisa berubah ke mode Iblis sama seperti Anda. selama ini saya menghabiskan waktu melayani Anda di Orion, sehingga saya tidak tahu bagaimana cara saya melakukan penyamaran," tanya Acquila kebingungan dan bersedih.
"Saya pasti hanya akan menjadi beban Anda disini, saya menyesal telah ikut tanpa bertanya dulu akibatnya!" Kata Acquila penuh penyesalan, sampai air matanya menetes membasahi pipinya.
Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini! Tetapi karena sudah terlanjur mengajakmu kemari aku jadi terpaksa melakukannya. Semoga ini tidak membuatnya kecanduan. Pikir Azazeal kemudian memegang dagunya dan menatap wajahnya.
"T-Tuan, kau?" Kata Acquila terkejut mulai terhanyut oleh tatapan mesra Azazeal.
Azazeal menciumnya tepat di bibirnya untuk memberinya kekuatan baru, tetapi Acquila malah salah paham mengartikan ciuman tersebut. Ia menganggap ciuman itu adalah ciuman cinta, akhirnya dia membalas ciuman tersebut menggunakan bibir dan lidahnya dengan sangat ganas.
Apa! Pikir Azazeal terkejut merasakan ******* bibirnya yang sangat ganas dan liar.
Aku hidup! Aku hidup! Aku tidak pernah menyangka bibir Tuan senikmat ini! Ohhh ini pasti akan membuatku ketagihan, pikir Acquila sambil terus ********** terbakar nafsu birahi.
Bahkan dia sampai meraih tangan Azazeal dan menempelkannya kedadanya sedangkan yang satunya ke bagian belakangnya berniat menggodanya. Acquila sungguh sedang larut tenggelam oleh nafsu birahinya sampai tidak bisa mengontrol tubuhnya.
Tidak Acquila! Aku tidak bisa melanjutkan ini, atau kau akan mati karena terlalu banyak menerima kekuatan kegelapan yang kumiliki! Pikir Azazeal langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari bagian yang sudah Acquila arahkan.
Azazeal langsung memegang kedua pipinya sedikit keras dan menghentikan ciuman tersebut secara paksa. Seketika Acquila langsung menelan semua air liur yang telah bercampur dan lekas membuka matanya. Azazeal terkejut melihat mata Acquila yang mulai menghitam dan pupil matanya menjadi merah menyala seperti miliknya.
Gawat! Dia sudah menghisap hampir seperempat kekuatan gelap ku! Ini akan buruk untuknya! Pikir Azazeal terkejut waktu melihat warna matanya berubah.
Ini ... Dimana aku? Pikir Acquila terkejut melihat langit merah seperti darah.
Siapa dia? Pemuda itu sangat mirip dengan Tuan Azazeal, pikirnya mengetahui seorang anak yang di siksa oleh tiga orang yang menaiki kuda.
Kemudian pandangannya beralih ketika mendengar tangisan dari pemuda yang sama waktu melihat temannya mati mengenaskan di depannya. Ia juga melihat bagaimana seorang wanita yang sangat cantik berubah ekspresi wajahnya menjadi sangat kejam menghianati pemuda tersebut.
Pandangannya teralihkan kembali karena terkejut mendengar teriakan histeris para korban kekejaman Azazeal dahulu sebelum kematian menjemputnya. Acquila sangat ketakutan melihat wajah dari Tuannya dahulu yang sangat bengis dan kejam melebihi bangsa Iblis sekalipun.
"Aku Azazeal! Bersumpah setia kepada Tuhanku, berjanji akan menghapus cinta dari dalam hatiku! Ketaatan dan perintah! Adalah prioritas hidupku!" Kata Azazeal dalam pandangan Acquila pada saat ini.
Tidak! Tidak! Tuanku tidak mungkin melakukan semua ini! Aku pasti berada di neraka sekarang! Siapa pun tolong aku! Keluarkan aku dari siksa pedih ini! Mohonnya dalam hati.
Acquila berteriak tak tahan menyaksikan kegelapan dan kejahatan yang menyelimuti Tuannya Azazeal, ia sangat ketakutan melihatnya berbuat seperti itu kepada setiap makhluk hidup. Ia terus merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan mata merah melotot terbelalak ke langit.
Tidak ada cara lain! Aku harus mengeluarkannya! Pikir Azazeal berniat mengeluarkan penangkalnya.
"Heim Fire!" Tangannya seketika berkobar mengeluarkan api hitam menyala - nyala.
Ia langsung mencengkeram leher Acquila dan menempelkan kobaran api hitam tersebut ke dadanya. Sontak Acquila menjadi diam sesaat seperti sedang terhipnotis, tubuhnya menjadi lemas tak berdaya hingga membuatnya hampir terjatuh tetapi Azazeal menahannya dan menidurkannya di tanah.
Setelah beberapa saat Acquila akhirnya tersadar dan mulai membuka matanya. Tetapi tiba - tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada dadanya, seketika dia mengalami batuk keras dan memuntahkan darah hitam dari mulutnya.
Nampak dari mata Acquila, raut wajah Azazeal sedang cemas memikirkan keadaanya sambil memangku kepalanya dan membaringkan tubuhnya di atas tanah.
"Tuan? Apa yang telah terjadi dengan sa,-
Pada saat dia berusaha mengingatnya, tak sengaja tangannya menyentuh dagunya yang basah dengan air liur bekas ciumannya tadi. Ah! Ini ... Sekarang aku ingat! Aku dan Tuan tadi kan ... Seketika wajahnya perlahan berubah merah merona.
Bagaimana aku mengatakannya nanti? Ini sangat memalukan! Ia pasti akan sangat marah padaku! Pikir Acquila bingung dan takut bercampur aduk.
"Acquila? Apakah masih terasa sakit?" Tanya Azazeal khawatir dengan keadaanya.
"Sedikit Tuan, ... Tuan?" Tanya Acquila sedikit gugup dan malu.
"Hemh?" Tatap Azazeal penuh tanya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan saya? ... Pada waktu saya pingsan, saya melihat hal yang sangat menyeramkan mengenai Anda! Apakah semua itu benar, Tuan? Semua itu terlihat seperti nyata," Tanya Acquila menatapnya dengan lemah lembut.
"Kau terlalu banyak menghisap kekuatan gelap ku! Itu hanyalah efek samping darinya, Lagian apa yang kau lakukan barusan?" Tanya balik Azazeal.
"Eh! ... Itu ..." Mengalihkan pandangannya merunduk merah wajahnya.
"M-m-maafkan saya Tuan?" Karena emosi dan perasaanya bercampur aduk, akhirnya dia menangis tak tahu harus menjawab apa.
"Hukuman apa yang pantas bagi pelayan J*lang seperti saya ini, Tuan? Anda hanya akan mendapat malu, apabila masih mengampuni saya! Tolong akhiri hidup saya segera!" Mohonnya pada Azazeal.
Sontak ekspresi wajah Azazeal berubah karena dia mendengar deru kaki kuda dari jauh sedang berjalan ke arahnya.
"Apakah kau sudah bisa bangun?" Tanya Azazeal.
"Emhh!" Angguk Acquila.
"Baguslah, sekarang bangunlah!" Perintahnya.
Acquila kemudian bangkit berdiri dan tangannya langsung di tarik pergi oleh Azazeal. Tak berapa lama mereka pergi, rombongan Raja Iblis Leviathan datang.
"Kemana perginya cahaya tadi? Aneh sekali, aku yakin cahaya itu mengarah kemari! Sial!" Katanya marah sekali dari atas kudanya.
"Telusuri seluruh penjuru hutan ini! Laporkan padaku apabila kalian menemukan sesuatu, Cepat!" Perintah Raja Iblis Leviathan pada para pengawal dan pasukannya.
"Baik Tuan!" Segera bubar menelusuri seluruh tempat.
Perasaan apa ini? Kenapa hatiku merasa takut begini, kenapa aku begitu cemas memikirkan cahaya itu! Sebaiknya aku juga ikut mencarinya! Pikirnya kemudian memacu kudanya pergi ikut mencarinya.
"Tuan? Kenapa Anda tidak marah mengenai ciuman tadi? Padahal seperti yang kau tahu, aku sudah bertindak kurang ajar padamu! Dengan mengambil ciuman pertamamu dan menggerayangi tubuhmu!" Tanya Acquila dibelakangnya terus berjalan mengikutinya.
"Tuan jawab pertanyaan saya! Saya telah melakukan dosa besar karena sikap kurang ajar saya sebagai seorang pelayan! Kenapa Anda tidak menghukum saya? Kenapa Anda masih diam saja melihat penyimpangan ini!" Bentak Acquila mengehentikan langkahnya.
"Apakah karena saya seorang wanita?" Uh! Sontak Azazeal terkejut menghentikan langkah kakinya.
"Oh jadi benar begitu? Aku tidak menyangka kalau selama ini. Tuanku yang perkasa Azazeal mempunyai kelemahan yaitu permainan seorang wanita! Apakah itu benar, Tu,-
Sontak Azazeal langsung membungkam mulutnya paksa dan mencekik lehernya. Ia sangat marah sampai kedua mata terkuatnya muncul dengan simbol penguasa tertinggi ditengahnya, menatapnya tajam menandakan kalau dia sedang tidak main - main.
"Tutup mulut mu! Aku tidak peduli siapa kau saat ini! Siapa saja yang berani mengkhianati ku, maka dia akan merasakan murka dariku!" Ancam Azazeal marah mengangkat tubuh Acquila di udara mempererat cengkeramannya.
Acquila melotot ketakutan, dahinya mengucurkan keringat dingin banyak sekali. Ia tidak percaya kata - katanya barusan bisa membuatnya semurka ini.
Matanya itu menandakan kalau dia sedang murka kepadaku saat ini! Akhiri nyawa pelayan J*lang mu ini, Tuan! Tidak ada siksa yang lebih pedih kecuali darimu! Ini pantas aku dapatkan atas kelancanganku padamu. Terima kasih untuk semua hari - hari menyenangkannya, Saya bersyukur bisa terus berada di samping Anda ... Pikir Acquila memejamkan mata bersiap kehilangan nyawanya.
Azazeal kemudian mengeluarkan Belatrix Sword-nya dari tangannya bersiap menusukkan pedang tersebut tepat di dadanya. Waktu mata pedangnya menyentuh kulit tubuh Acquila, tiba - tiba darah hitam keluar dari setiap lubang wajahnya. Azazeal menjadi semakin lemah pada saat dia menggunakan wujud sempurnanya di tambah Belatrix di genggaman tangannya.
Ia baru sadar kalau saat ini dia sedang menerima masa pembelajaran dari Tuhannya. Ia menyadari kalau dia tidaklah sekuat dulu, karena kekuatannya telah di beri batasan (Limit) sampai dia berhasil menemukan arti dari semuanya.
Perlahan dia menurunkan tubuh Acquila dan melonggarkan cengkeraman tangannya. Wujud adidaya dan pedang kekuasaannya hilang memudar seketika, dan darah terus saja mengalir keluar dari semua lubang wajahnya.
Acquila terkejut merasakan cengkeraman tangannya yang perlahan mengendor dan tubuhnya yang semakin di turunkan. Karena penasaran ia segera membuka matanya, kedua matanya dibuat melotot sangat terkejut melihat Azazeal yang sudah berlutut tak berdaya merunduk dengan mata yang sayup di depannya.
"Tuan!" Panggilnya panik langsung berlutut mengecek keadaannya.
"Tuan apa yang telah terjadi dengan Anda? (Sambil mengusapi darah yang keluar) Tolong jawab saya Tuan, Tuan!" Panggilnya terus menerus karena khawatir luar biasa.
Tetapi Azazeal hanya diam tak bergeming dengan darah yang terus saja menetes membasahi tanah tersebut.
"Bertahanlah Tuan! Saya akan membawa Anda kembali pulang!" Merangkul kan tangannya pada pundaknya membantunya berdiri dan langsung membawanya terbang dengan tertatih - tatih karena sendirian.
Tuan bertahanlah! Pikir Acquila khawatir sambil terus merangkulnya terbang.