The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 34 ~ Kunjungan Sakral



Sesampainya di Istana Tuhan, di sepanjang jalan menuju ruang tahta semua malaikat membungkuk memberi hormat kepada mereka berdua.


"Hormat kami, Tuhan semesta alam." Ucap Edward sambil berlutut merundukkan kepala memberinya hormat.


"Edward, Acquila! Sudah kuduga kalian akan datang kemari," jawab-Nya.


"Tujuan kami datang kemari adalah untuk mencari kesembuhan bagi Tuan kami. Saat ini beliau tengah terluka parah, kami tidak mau masalah ini terus berlarut!" Ucap Acquila terus terang.


"Kami mohon, tanpa beliau para Guardian bukanlah apa - apa! Kami sangat membutuhkan kehadirannya di sisi kami," imbuh Edward.


"Apakah kalian tidak menemukan kecurigaan dari sikap Azazeal, beberapa tahun belakangan?" Tanya Dia.


... Diam berfikir sejenak.


"!!! ... Ada Tuan! Akhir - akhir ini saya merasa sikap Tuan mulai berubah,-


Berubah! Pikir Edward terkejut mendengarnya.


"- Beliau sekarang lebih baik dan murah senyum, berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu! Tetapi karena itu lah, beliau menjadi seperti ini." Sambung Acquila mengutarakan pengamatannya.


"Apakah itu benar? Lalu kenapa kau tidak pernah bilang kepadaku?" Tanya Edward penasaran.


"Saya sebelumnya masih ragu tentang hal tersebut, apakah hanya saya saja yang merasakan perubahan sikapnya." Jawab Acquila.


"Apakah yang dikatakan oleh Acquila itu benar, Tuhan? Kenapa Tuan bisa berubah seperti itu, apa yang membuatnya melakukan hal tersebut?" Tanya Edward sangat penasaran.


"Azazeal yang sekarang sudah bukan lagi Azazeal yang dulu kalian kenal. Dahulu dia sangat kuat tak tertandingi dan berkuasa hampir seperti diriku, namun sekarang malah sebaliknya," jawab-Nya.


Ah!! Pikir mereka berdua tercengang mendengarnya.


"Dahulu dia sangat kejam melebihi Raja iblis dan tidak mau mendengar nasihat dari orang yang perduli dengannya. Aku tahu selama ini dia merasa tersiksa dengan semua yang dia dapat, jabatan, kekuasaan, kekuatan, semuanya!" Imbuh-Nya menjelaskan.


"Tapi menurut saya, apa yang telah Tuan lakukan selama ini sudah benar. Beliau adalah seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus tegas tidak pandang bulu. Dia tidak hanya memimpin para Guardian saja, tetapi semuanya sebagai tangan kanan Anda, Tuhan!" Bela Edward.


"Kau benar Edward, menjadi seorang pemimpin haruslah tegas. Namun jangan lupa seorang pemimpin tidak bisa berdiri tanpa dukungan dari anggotanya. Seorang pemimpin lemah saat diabaikan oleh anggotanya, dia menjadi tidak berguna dan hanya menjadi sampah buangan saja." Jawab-Nya.


"Maksud Anda?" Tanya Acquila bingung sedikit tersinggung.


"Azazeal memanglah tegas, tapi dia telah melupakan perannya sebagai seorang ketua yang harusnya melindungi semuanya. Beberapa tahun belakangan aku sering melihatnya melakukan perbuatan tak pantas kepada para Guardian, Ia bahkan tidak segan untuk melakukan kekerasan apabila Guardian tersebut gagal dalam melakukan sesuatu yang dia perintahkan. Bahkan dia sampai memusuhi Queen pelayan setiaku hanya demi mempertahankan keputusannya," jawab-Nya.


"Walaupun sikap beliau keras seperti itu tapi saya yakin, ia adalah pribadi yang sangat baik. Pasti ada alasan lain di belakangnya yang membuatnya melakukan hal tersebut!" Jawab Edward.


"Walau saya ini adalah ciptaan-Nya, tapi entah kenapa hati ini merasa sedikit kecewa dengan sikap beliau selama ini. Kami sadar kami hanyalah seorang pelayan, tetapi tidak seharusnya bukan beliau melakukan hal sekejam itu pada kami," kata Acquila mengeluarkan uneg-unegnya.


Acquila kau! ... "Apakah kau sudah di hasut sehingga berani berkata seperti itu!,- sahut Edward marah.


"Sudah - sudah, yang di katakan Acquila itu memang benar, Kekuatan memang dapat membuat kita lupa kepada seorang yang selama ini telah berjasa besar bagi hidup kita, itulah yang selama ini Azazeal rasakan. Dan apa yang Edward bilang barusan itu tidak sepenuhnya salah," sahut-Nya.


"Maksud Anda?" Tanya Acquila bingung.


"Azazeal memang telah salah memilih keputusan, tetapi di balik itu semua, dia memiliki tujuan yang baik,-


"Maksud Anda Tuhan? Bagaimana tindakan sekejam itu Anda sebut baik?,-


"Diam Acquila, dengarkan dulu saat beliau menjelaskan." Sambung Edward memperingatkannya.


"Azazeal tidak ingin melihat mereka yang disayanginya hilang untuk yang kedua kali dalam hidupnya!" Sahut-Nya.


Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Tuan Azazeal, Gumam Acquila dalam hatinya bingung.


"Kelak kalian semua akan mengetahui kebenaran tentangnya, sekarang ini Azazeal sedang terkena efek batasan kekuatannya." Jelas-Nya.


"Batasan kekuatan? ... Bukankah kekuatan Tuan sangatlah besar dan tidak terbatas, sejak kapan beliau mendapat batasan tersebut?" Tanya Edward.


"Sejak dia membuat Gabriel sekarat, bukan hanya karena itu saja. Ia juga sudah bertindak kelewatan pada saat menghukum para pelayan dan Guardian lain dengan kekuatannya." Jawab-Nya.


"Apakah kalian pikir aku tidak perduli dengan nasib kalian disana?" Sambung-Nya.


Tuhan Anda ... Pikir Acquila merasa terharu mendengar jawabannya.


"Tidak, meskipun Azazeal telah melakukan hal seperti itu. Bukan berarti musibah yang aku berikan ini adalah karma, namun ini adalah pembelajaran baginya." Jelas-Nya.


"Pembelajaran, Tuhan apakah Anda saat ini sedang menghina-Nya?" Tanya Edward sedikit merasa emosi.


"He ha ha ha, Edward kau membuatku tertawa ... Sekarang aku tanya padamu, apakah kau tahu arti hidup yang sesungguhnya, apakah kau mengerti arti kepemimpinan sesungguhnya dan apakah kau paham, arti dari kekuasaan?" Tanya Dia menohok.


Namun Edward tidak mampu menjawabnya dan hanya bisa diam membisu.


Pertanyaan itu! Kata Acquila terkejut dalam hati saat mendengarnya.


___Flashback dalam ingatan Acquila__


"Acquila!" Panggil Azazeal.


"Iya Tuan," jawabnya merunduk sopan.


"Menurutmu hidup itu seperti apa?" Tanya Azazeal pelan sambil terus melihat ke arah luar jendela.


___FlashBackEnd__


"Azazeal adalah makhluk yang paling cerdas dari semua makhluk yang aku ciptakan, dia aku berkati kekuatan yang dahsyat, wajah yang luar biasa tampan, dan tubuh yang kuat. Tidak hanya itu, aku juga memfasilitasinya dengan berbagai jabatan dan kekuasaan di langit. Namun untuk ilmu kehidupan itu beda lagi. Tidak hanya Azazeal saja yang tidak tahu, kau, Acquila, Queen, bahkan seluruh bidadari surga dan para Guardian juga tidak mengetahui jawabannya secara pasti. Kebanyakan jawaban dari mereka abu - abu atau meragukan." Jelas-Nya.


"Dengan kata lain Anda memerintahkan-Nya untuk mencari jawaban dari pertanyaan Anda ini? Bagaimana Tuan bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan yang mustahil ini, jawaban yang hanya di ketahui oleh sang penguasa sejati!" Ucap Edward sedikit merasa frustasi.


"Apakah kau meragukan Tuan mu?" Tanya Dia membalikan perkataannya barusan.


Ah! Kata Edward terkejut hebat.


"Dia akan mengetahuinya suatu hari nanti dan kaulah yang akan menyampaikan jawaban itu di depan semua makhluk ciptaan ku!" Sambung-Nya.


"Apa! ... Saya? Kenapa harus saya?" Tanya Edward kebingungan.


"Azazeal itu adalah orang yang tidak banyak bicara, dia juga akan menunjuk mu untuk mengatakannya suatu hari nanti. Karena kalian berdua adalah orang yang paling dekat dengan Azazeal sekaligus orang kepercayaannya, jadi aku tidak keberatan membeberkan sedikit sifat aslinya." Jawab-Nya.


"Jadi kemarin itu adalah sifat Tuan yang sebenarnya?" Tanya Acquila tercengang.


"Dia lelah berpura - pura menjadi sosok lain. Sekeras apapun makhluk berusaha untuk merubah sifatnya, namun tetap saja dia tidak akan bisa merubah sifat aslinya. Itu sudah menjadi ciri khasnya dan sudah menjadi kodrat dari semua makhluk yang aku ciptakan." Jawab-Nya.


Acquila kemudian tersenyum senang meneteskan air mata haru. Jadi selama ini dan yang aku lihat waktu itu hanyalah sifat semu dari Tuan Azazeal? Syukurlah semua itu hanyalah bohong dan tidak nyata, Tuan maafkan aku yang sudah salah paham kepadamu ... Katanya dalam hati.


"Lalu bagaimana untuk saat ini Tuhan? Apakah beliau tidak dapat lagi untuk diselamatkan?" Tanya Edward cemas.


Mendengar hal itu ekspresi wajah Acquila dari yang semula bahagia menjadi kembali sedih dan cemas.


"Ambilah ini!" Ucap-Nya sambil mengeluarkan sebutir pil merah sebesar mutiara yang bersinar terang dari telapak tangannya kemudian terbang turun menghampiri Edward.


Setelah sampai di depannya Edward langsung menyodorkan kedua tangannya hendak menerima pil tersebut dengan sopan.


"Apa ini?" Tanya Edward penasaran sambil terus memperhatikan pil kecil tersebut.


"Pil ini sangat bercahaya dan indah!" Sambung Acquila terkesima melihatnya.


"Itu adalah pil penawar untuk menghilangkan efek batasan tersebut, pil itu hanya bersifat sebagai penawar bukan penyembuh. Kalau Azazeal kembali lagi menjadi dirinya yang dulu, secara otomatis batasan tersebut akan kembali aktif dan membuatnya lemah seperti ini lagi." Jelas-Nya.


"Namun kalian jangan khawatir aku tahu sifat Azazeal itu seperti apa, kalian berdua sebagai pelayan setia Azazeal beritahu kepada yang lain agar jangan membuatnya marah lagi, Azazeal itu walaupun dia seorang lelaki namun hatinya sangat lembut melebihi hati seorang wanita. Saat ini dia sedang melaksanakan tugas berat dariku, jangan memberinya beban tambahan dan membuatnya merasa kesusahan. Bantu dan layani dia seperti halnya kalian melayaniku." Imbuh-Nya berusaha menenangkan hati mereka berdua yang gundah.


Sekejap hati mereka merasa sangat bangga mendengar mereka tengah di puji dan di percaya oleh Tuhan semesta alam untuk menjaga Azazeal yang tengah lemah saat ini.


"Pasti! ... Pastilah kami akan melayani Tuan Azazeal sepenuh hati kami. Saya sangat senang pada saat mendengar kalau Tuan memanglah pribadi yang baik. Sudah dari dulu saya percaya, kalau Tuan bukanlah makhluk yang kejam seperti apa yang mereka lihat!" Ucap Edward dengan bangga dan wajah senang.


"Kalau begitu kami segera kembali Tuhan, saya khawatir keadaan-Nya akan lebih semakin buruk jika kami berdua masih berada di sini, kalau begitu kami permisi." Sambung Acquila.


"Silahkan." Ucap-Nya.


Kemudian mereka bangkit berdiri dan membunggkuk untuk permisi setelah itu langsung berbalik dan berjalan pergi.