The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 55 ~ Seleksi Akademi Gill vs Miranda Emilia



Di dalam Gill melihat banyak sekali siswa pendaftar yang memakai baju yang sangat mewah dan bagus.


"Tolong terimalah putraku belajar disini. Aku akan memberikan uang sebanyak yang kau mau!" Kata salah satu lelaki tua memohon dan bersujud kepada salah guru yang ada di sana.


"Maaf, Tuan putramu ini tidak mempunyai kekuatan sama sekali dan tidak berbakat dalam bertarung. Lebih baik Anda membawanya pulang daripada dia harus kehilangan nyawa disini." Tolak guru tersebut memberikan alasan.


"Perhatian untuk para siswa baru, diharapkan untuk segera menuju ke Aula gedung. Kegiatan Seleksi akan segera kami mulai terima kasih." Kata suara panitia menggunakan pengeras suara.


"Sebaiknya aku segera bergegas.' batin Gill kemudian pergi mencari letak ruangan tersebut.


Di lain sisi Miranda Emilia salah satu anggota dari Dewan Inti (Organisasi sekolah untuk beberapa orang terpilih yang memiliki kekuatan luar biasa, terdiri dari beberapa anak kelas satu sampai kelas tiga) sedang berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat usai menjalankan tugas yang perintahkan oleh Ketua dari Organisasi tersebut.


"Nona Emilia!" Panggil asisten pribadinya sambil berjalan menghampirinya dengan membawa beberapa buah buku.


"Emh?" berhenti dan berbalik ke belakang "Vania?" ucapnya.


"Ini jadwal Anda hari ini Nona." Ucap Vania sambil menyerahkan sebuah lembaran khusus.


"Penguji?" ucapnya setelah membaca agenda tersebut.


"Oh ini akan jadi hari yang melelahkan." Katanya pelan dengan wajah lelah "Tunggu sebentar, aku akan ganti baju." Sambungnya kemudian masuk ke kamarnya.


Disudut lain Gill tengah kebingungan mencari ruangan tersebut dan sempat kesasar keruangan lain "Permisi. Apakah di sini ruangan untuk seleksi pemilihan?" Tanya Gill kepada salah satu siswa.


"Siapa kau, penampilanmu sungguh menjijikan. Kau pasti orang miskin yang rendah. Pergi sana, ini bukan tempatmu." Cela siswa itu padanya.


"Terima kasih, tapi aku datang untuk mendengar jawaban bukan celaan,-


Belum selesai Gill berbicara tiba-tiba pengujinya datang, "Woahh Nona Emilia." Kata salah satu murid terpesona.


"Dia cantik sekali." Sahut murid lainnya.


"Matipun aku rela demi sehari bisa berkencan dengannya." Timpa salah satu murid lain.


Karena penasaran akhirnya Gill menengok ke arah Emilia dan Asistennya. 'Siswi perempuan. Apakah dia yang akan menjadi pengujinya?' Tanya Gill dalam hati mengamati mereka berdua.


"Semuanya mohon perhatiannya sebentar, Nona Emilia akan menjelaskan mengenai apa yang harus kalian lakukan untu--."


"Hemh, tidak berguna." Sahut Emilia dengan nada sombong.


"Ehh" Vania kaget ucapannya disela olehnya.


"Aku akan membuat ini mudah saja, siapa yang ingin bertarung denganku dan bisa bertahan lima menit selama pertarungan maka dia akan aku terima masuk disini. Jika kalian ingin mengundurkan diri aku memberi waktu kalian satu menit dari sekarang. Aku sangat lelah hari ini, jadi jangan membuatku marah!" Ancamnya dengan mata melotot.


Mendengar itu semuanya ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin.


"Dia bercanda kan?" Kata salah satu murid.


"Satu menit dimulai dari sekarang." Sahut murid lain.


"Aaaaaaa!" Teriak para siswa ketakutan berlarian membubarkan diri.


'Kenapa semua orang pada pergi?' batinnya penasaran,


"Hoey apa yang terjadi, kenapa semua orang pergi?" Tanya Gill pada salah satu siswa yang hendak kabur sambil memegang bajunya.


"Apa kau tidak tahu siapa Nona Emilia itu?" Tanya pendaftar tersebut.


"Tidak. Siapa dia, beritahu aku." Dengan wajah polos.


"Dia adalah pemilik kursi ke enam Dewan Inti dan mendapatkan predikat sang jenius di Majesty. Ia sudah sering menggagalkan para pendaftar dan akibatnya para siswa yang terluka rawan terkena kelumpuhan. Jika kau sampai kalah dan terluka habislah kau tidak akan punya masa depan." Jelasnya dengan nada pesimis.


"Ehh jadi begitu." Jawabnya polos kemudian Gill melepaskannya dan dia berlari terbirit-birit sempat terjatuh dan bangkit lagi untuk terus berlari sebelum waktunya habis.


"Vania buatlah tubuhku ini merasa nikmat dengan sentuhan tangan cantikmu. Aku sudah tidak sabar, tubuhku sudah sangat lelah untuk menerima mereka para murid bodoh yang ingin masuk ke Istanaku." Sambil memegang dagu dan bibir Asistennya sambil memandang matanya dengan mesra.


"Iya Nona, saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda." Jawab Vania asistennya dengan mata berbinar-binar sedikit gugup.


"Anu, bolehkah aku mencobanya?" Tanya Gill sambil mengangkat salah satu tangannya.


"Emh!" Mereka berdua kaget.


Suasana romantis antara Vania dan Emilia dipecahkan oleh sahutan pertanyaan dari Gill. Mereka bertiga saling bertatap muka dengan serius.


'Lelaki ini berani menantang ku?' kata Emilia dalam hati kaget sambil terus mengamatinya, mereka berdua termenung sesaat saling menatap Gill.


"Yahh syukurlah kamu tidak langsung menolak ku." Sambil memegang pundak Emilia dengan sok akrab.


"Menjauh lah!" Teriak Vania dengan mata melotot sambil menampik tangan Gill dari pundak Emilia.


Gill yang terkejut segera melepaskan tangannya dari pundak Emilia dengan wajah kaget karena dibentak.


"Tangan kotor mu itu tidak pantas menyentuhnya!" Marahnya pada Gill.


"Memangnya kenapa?" Tanya Gill dengan wajah polos.


"Dia adalah anggota Dewan Inti pemilik kursi keenam, Miranda Emilia. Beliau merupakan didikan dari posisi tiga Bidadari surga, Alin Xaverias!" Kata Vania menjelaskan sekaligus memamerkan lencana pangkat Emilia yang menempel di bajunya.


"Yang pasti ia sangat berbeda dengan manusia rendah sepertimu, dari pakaian mu saja sudah kelihatan kalau kamu bukan orang yang bertalenta dan hanya besar mulut saja." Cela Vania.


'Jadi dia orangnya, tidak ku sangka gadis sombong ini adalah muridnya. Sifatnya sangat berbeda dan bertolak belakang dengannya.' kata Gill dalam hati sambil mengamati mereka berdua.


"Alin Xaverias, sepertinya aku pernah nama itu." Kata Gill lirih sambil berpura-pura memikirkan sesuatu.


"Ada apa dengan ucapan mu itu. Apakah kau meremehkan Masterku!" Bentak Emilia.


"Bukan begitu maksudku. Dia-,"


"Ternyata tidak ada cara lain selain bertarung untuk membungkam mulut kotor mu itu." Sahut Alin terlanjur marah.


'Sungguh, aku benci gadis ini.' kata Gill dalam hati menahan rasa kesalnya.


Suara penonton sangat riuh di Arena saat mereka melihat Emilia masuk dengan gaya sambil tebar pesona dengan kecantikannya.


"Dari kubu biru kita sambut, Nona Miranda Emilia. Ia adalah didikan dari Bidadari ternama, Alin Xaverias. Dia mendapat predikat sang jenius Majesty, pemilik kursi ke enam Dewan Inti sekaligus pemilik pedang kelas Pahlawan Ethernal Blood Fallen. Beri sambutan yang meriah untuk Nona Miranda Emilia!" Ucap sang mentor pertandingan langsung di sambut sorak meriah dari para pendukung Emilia.


"Uh!" Kata Gill terkejut saat mendengar nama Eternal Blood Fallen disebut.


'Itu adalah pedang yang dikatakan oleh Kak Fyona kemarin, jadi dia yang mengambilnya. Aku jadi penasaran, seperti apa pedang kelas Heroes tersebut.' kata Gill dalam hati teringat kata Erfyona kemarin.


"Habisi dia Nona!" Sorak salah satu penonton.


"Berjuang lah!" Imbuh penonton lain.


"Hajar dia Nona, si miskin itu layak mendapatkannya!" Sahut yang lain.


"Nona Emilia, Nona Emilia!" Teriak semua penonton solid.


Emilia berjalan sambil menatap remeh Gill dengan senyum menghinanya.


"Dari sudut merah kita sambut pendaftar yang tidak menyebutkan asalnya, Vergile. Dia adalah salah satu puluhan pendaftar yang berani menantang Nona Miranda Emilia, beri tepuk tangan yang meriah untuk keberaniannya!" Ucap sang mentor memperkenalkan Gill yang langsung di sambut sorakan tidak suka.


"HUUU!" Sorak pendukung Emilia.


"Hoey anak miskin enyahlah dari sini!" Hina mereka.


'Sepertinya Claves Sancti sangat cocok aku gunakan di sini.' kata Gill dalam menatap tajam ke arah Emilia.


"Si miskin itu pasti akan berakhir disini." Kata salah satu penonton menduganya.


"Dia sangat bodoh telah berani menantang sang jenius Majesty." Timpa temannya di sampingnya.


"Baiklah kepada para petarung, sesuai peraturan yang berlaku. Kalian di larang membunuh satu sama lain dan dilarang menggunakan kecurangan dalam bentuk apapun. Petarung dinyatakan kalah apabila menyerah, senjata dilucuti dan mampu berdiri saat waktu habis. Kalian paham?" Ucap wasit membacakan Rule pertarungan.


Mereka berdua mengangguk setuju dan paham dengan Rule yang telah di sampaikan.


"Orang yang berani menghina Nona Alin akan ku buat babak belur dengan kekuatan ku." Kata Emilia dengan wajah marah.


"Susah juga ya menjelaskan masalah pada wanita." dengan wajah lelah.


"Mulai!" Teriak wasit di ikuti oleh suara terompet berdengung menandakan pertempuran mereka berdua di mulai.


Disini Gill hanya menggunakan Claves Sancti. Ia tahu akan sangat berlebihan jika menggunakan dua senjata dari Queen kemarin. Lagipula hal itu akan terlalu mencolok dan akan menimbulkan pertanyaan bagi para penonton. Sedangkan pedang yang digunakan oleh Emilia adalah Eternal Blood Fallen berwarna merah darah. Pedang itu masuk ke dalam jajaran pedang kelas Pahlawan milik mantan kesatria hebat di kerajaannya.


Tanpa pikir panjang Miranda langsung berlari cepat mengitari Gill untuk mencari celah, dia bermaksud menumbangkannya dalam satu kali serang.


Sementara Gill hanya berdiri diam matanya fokus melirik mengikuti arah pergerakannya. Namun secara mengejutkan Emilia tiba-tiba menghilang dari pandangannya gerakannya berubah menjadi sangat cepat dan langsung menyerang tangan kanannya.


"Arghh!" rintihnya.


Dengan cepat Gill langsung melompat mundur beberapa meter ke belakang untuk bertahan sambil terus mengamati gerakan Emilia. Dia kaget saat mengetahui tebasan cahaya merah mengarah tepat di depan matanya, spontan ia segera menahan serangan itu dengan pedangnya.


"CTINGH!"


"Hanya itu saja kemampuan mu?" Ejek Emilia dengan sombong.


"Pertarungan baru saja di mulai, sebaiknya kau tidak meremehkan lawan mu." Jawab Gill santai langsung melesat balik menyerangnya.


Gill ingin terus mendesaknya dan tidak memberinya kesempatan untuk menyerang sampai waktu yang di tentukan habis.


"Woahh di luar perkiraan ternyata Vergile mampu membalikan keadaan dengan balik menyerang Nona secara membabi buta. Nampak Nona kuwalahan di bawah sana, apakah yang akan terjadi selanjutnya. Bisakah Nona membalas serangan itu?" Ucap mentor menjelaskan situasi yang terjadi di dalam pertarungan.


"Nona semangat!" Sorak penonton mendukungnya.


"Berjuanglah!" Sambung penonton wanita mendukungnya penuh semangat.


'Anak ini lumayan juga, tapi ini masih belum cukup untuk dapat mengalahkan ku!' katanya dalam hati seketika dengan cepat menghilang dari hadapannya.


'Kemana dia?' tanya Gill dalam hati terkejut melihatnya langsung hilang begitu saja. Ia kemudian melompat mundur beberapa langkah memasang posisi siaga sambil terus mencari keberadaannya.


"Disini amatiran." Ucapnya mengejutkan Gill dari atas bersiap menikamnya dengan mata pedang yang runcing.


"Ah!" Langsung menoleh ke atas dengan wajah terkejut.


"Sungguh serangan yang sangat berbahaya. Nona Emilia langsung memberinya serangan kejutan yang mematikan, sepertinya ini akan sangat sulit untuknya!" Kata Mentor menambah keseruan pertandingan.


"Luar biasa Nona!" Sorak pendukungnya terkesima dengan aksinya.


"Kalah kan dia Nona!" Dukung penonton padanya.


"JDUMBB!" Lantai dari Arenanya retak dan membuat debu bertebaran ke udara efek dari serangan dahsyat tersebut.


"Luar biasa, benar-benar serangan yang dahsyat!" Ucap Mentor kagum.


'Ah!" Kata Emilia terkejut serangannya berhasil di hindari.


'Hampir saja, kalau aku tidak menggunakan gerakan Dementor-ku. Mungkin aku sudah mati.' katanya dalam hati terkejut setelah merasakan serangan tersebut.


''Aku terlalu meremehkannya ... Gadis ini ternyata lumayan juga, ini akan sedikit menarik." Sambungnya pelan dengan senyum merasa tertarik mengamati Emilia yang berdiri di tengah debu yang beterbangan.


"Siapa kau ini sebenarnya, aku cukup terkesan melihatmu mampu menghindarinya." Tanya Emilia mencurigainya.


"Aku hanya siswa biasa tidak ada yang menarik dari diriku, kau saja yang menganggapku terlalu tinggi." Jawab Gill.


"Terlalu tinggi, apakah kau kira aku mengakui kekuatanmu hanya karena kau berhasil menghindari satu serangan ku. Tidak, aku bahkan belum mengeluarkan sedikit dari kemampuanku." Katanya congkak.


"Kalau begitu keluarkan semuanya, siapa yang menyuruhmu menahannya." Ucap Gill malah menantangnya.


"Kau dengar itu barusan?" Tanya salah satu penonton pendukung Emilia kepada temannya di sampingnya.


"Sepertinya anak itu akan hancur di sini, dia akan tahu semengerikan apa anggota Dewan Inti." Jawab temannya.


"Menyuruhnya mengeluarkan kekuatan penuh itu adalah tindakan yang sangat gegabah dan terlalu memandang rendah musuh. Anak itu sepertinya petarung amatir." Kata si orang pertama mengamati Gill.


"Kau akan menyesal karena telah berkata seperti itu!'' Ancam Emilia marah.


"Maaf, apa aku salah bicara?" Tanya Gill dengan wajah polos datar.


"Kau akan segera berakhir di sini!" Ucap Emilia marah mengangkat pedangnya tinggi di atas kepalanya.


"Leghius Marsha!" Ucapnya keras mengucapkan nama jurusnya, tak berapa aura merah darah mengelilinginya dan pedangnya berubah menjadi sedikit merah bercahaya.


"Terimalah kekalahan mu!" Menatap Gill tajam bersiap menyerangnya.


Gill yang melihatnya bersiap melancarkan serangan kedua, ia menjadi sedikit waspada dan mundur beberapa langkah ke belakang kembali memasang posisi siaga.


"Hyaatt!" Melesat ke arah Gill.


'Dia datang!' kata Gill dalam hati siaga memegang erat pedangnya.


"Slash!!" Mengayunkan pedangnya dari kejauhan.


'Ahh!!!" Dengan cepat Gill langsung lompat ke udara menghindari kekuatan pedang tersebut.


"JDUMBB!!" Meleset mengenai tembok pembatas dan membuatnya retak.


'Jadi begitu, ternyata pedang itu mempunyai dua kemampuan khusus. Kalau dia terus menyerangku dari jarak jauh itu akan sangat menyulitkan.' Katanya dalam hati sambil mengamati Eternal Blood Fallen dari udara.


"Apa yang sedang kau lihat pecundang!" Kata Emilia mengagetkannya yang tiba-tiba muncul dari atas langsung mengayunkan pedangnya dengan keras.


'Cepatnya!' langsung menoleh ke arah Emilia di atas.


'Aku tidak punya banyak waktu untuk mengamati pedang itu lebih jauh. Wanita ini sangat merepotkan!' Imbuhnya dalam hati.


"JDARRR!" Dengan cepat Gill langsung menahan kekuatan tersebut dengan pedangnya yang membuatnya terdorong sangat keras.


"Arrghhh!" Teriaknya keras menahan kekuatan tersebut.


"JDUMBB!" Terhempas ke lantai arena sampai membuatnya retak dan hancur.


'Kena kau.' batin Emilia dalam hati dengan senyum senang menghiasi wajahnya.


"Woahh Nona Emilia tidak lagi segan untuk mengeluarkan kekuatan sejatinya, ini sungguh sangat mengerikan. Kita lihat bagaimana Vergile bisa bertahan dari serangannya itu." Ucap Mentor memberitahu penonton dengan semangat.


"Seperti yang sudah aku duga, anak itu tidak cukup kuat untuk melawannya. Dia hanya anak yang besar mulut dan angkuh dengan perkataannya." Kata salah satu siswa laki-laki senior yang sedang menyaksikan peristiwa tersebut.


"Tidak, dari tadi dia hanya menahan semua serangannya dan masih melakukan sedikit perlawanan. Kita masih belum tahu pasti sekuat apa anak itu." Imbuh seorang lelaki misterius di sampingnya dengan rambut merah dan memiliki lencana Dewan Inti di saku dadanya.


"Bagaimana, pecundang. Itulah akibatnya jika kau meremehkan lawan mu. Masih ada 01.25 detik waktu yang tersisa, sepertinya kau akan gagal pada seleksi kali ini. Maaf tapi kau hanyalah petarung amatir, tidak layak untuk bertahan di sini." Cela Emilia dengan senyum menghina.


"01.25 detik itu sudah sangat cukup untuk mengalahkan mu disini." Jawab Gill sambil berusaha bangkit dari dalam kepulan debu.


"Hemh, dasar tidak tahu diri. Perbedaan kekuatan kita sangat mencolok di sini, kau masih belum menyadarinya juga ya?" Kata Emilia berusaha melemahkan semangatnya.


"Sejak kapan aku menyadarinya, aku bahkan belum mengeluarkan kemampuanku sama sekali. Dari tadi aku hanya menahan semua serangan mu." Kata Gill santai dengan wajah yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah segar.


"Kalau begitu kemarilah, tunjukan kekuatanmu padaku." Menyuruhnya maju dengan telapak tangannya sambil tersenyum mengejek.


Gill langsung memasang posisi siap serangnya, membungkuk sedikit condong ke depan dengan ujung pedang mengarah ke belakang. Ia menghembuskan nafas panjang sejenak sebelum akhirnya melesat menyerang Emilia.


'Cepat sekali, dimana dia?' katanya dalam hati terkejut dengan raut wajah panik seketika menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Gill.


"Ah!!" Langsung menoleh ke belakang setelah mengetahui posisinya. Pada saat Emilia menoleh ke belakang, ia dikejutkan oleh ujung pedang Claves Sancti yang sudah berada 10 cm tepat di depan wajahnya bersiap membabatnya.


Emilia terkejut sampai membuat kedua matanya melotot, namun dengan cepat dia langsung menahan serangan itu dengan pedangnya.


"CTINGG!" Tangkisnya.


"Kyaahhh!" Teriaknya terhempas ke dinding pembatas dengan keras.


'Ayunannya kuat sekali, jika terus seperti ini,-


"Slash!" Gill langsung muncul di depannya hendak menebasnya untuk yang kedua kalinya. Ia benar-benar tidak memberi Emilia nafas untuk melakukan serangan balik karena waktu yang sedikit dan terus berjalan.


Saking paniknya Emilia langsung memanggil salah satu hewan peliharaannya untuk membantunya selamat dari situasi mendesak saat ini, "Keluarlah Espher Wind Dragon!" Ucapnya memanggilnya dan membuat segel di dinding pembatas.


Seketika segel tersebut bercahaya dan,- "JDUMBB!" Keluarlah sang naga putih dari segel tersebut.


"ROARGHH!" Teriak Sang naga keras sekali membuat seisi arena heboh.


"Woahh mengejutkan, ternyata selama ini Nona Emilia mempunyai peliharaan seekor Naga. Sungguh pertarungan yang sangat sengit, cara apalagi yang akan Vergile pakai untuk mengalahkan musuh barunya itu?" Ucap Mentor terkejut saat melihat naga tersebut.


"Aku tidak menyangka gadis kecil kita itu memiliki peliharaan seekor naga, ini sebuah kejutan yang tidak terduga." Kata pria misterius berambut merah sebelumnya sedikit terkejut menyaksikannya.


"Sekarang kita tahu alasan kenapa dia layak menduduki kursi ke enam." Sambung wanita senior misterius di sampingnya dengan lencana yang sama.


"Woahh!" Kata para penonton kagum mendengar Auman sang naga.


Meskipun Emilia telah mengeluarkan hewan peliharaannya namun sedikitpun tak membuat hati Gill gentar. Ia masih tetap fokus untuk mengalahkan Emilia dengan hanya berbekal Claves Sancti di tangannya. Dia terus berjuang untuk membabat leher sang naga dan mengalahkan Emilia si pemilik kursi keenam Dewan Inti.


Sang naga membantu Emilia dengan mengepakkan sayapnya yang lebar dan membuat angin badai untuk menerbangkan debu-debu di arena. Dengan begitu Gill akan sangat kesusahan untuk bergerak cepat dan akan mempermudah Emilia untuk menggunakan Leghius Marsha. Bisa dibilang ini adalah adalah serangan kombo.


Tapi semua itu tidak dapat menghentikan semangat bertarung Gill. Ia langsung mengaktifkan mata Dementor tahap pertama dengan begitu kabut, debu dan hal mengganggu lainnya dapat dengan mudah ia atasi.


Dengan cepat Gill langsung melesat ke arah Emilia yang sedang berdiri di punggung naga. Tapi sang naga tidak akan membiarkan cara Gill itu berhasil menyakiti Ratu-nya. Naga tersebut dengan cepat melirik ke arah Gill dan melancarkan serangannya dengan membuka mulutnya lebar bersiap melahapnya.


Gill yang sadar dirinya menjadi pusat perhatian dari sang naga ia dengan cepat langsung menghindar dan menaiki kepalanya. Saat ia sudah berada di atas kepala sang naga ia berlari menuruni lehernya yang panjang untuk menghajar Emilia yang tengah berdiri di atas tubuh naga.


'Siapa dia ini sebenarnya, kenapa dia tidak merasa gentar sedikitpun setelah aku memanggil seekor naga. Kalau sampai aku kalah dengan murid pendaftar sepertinya, mau aku taruh mana mukaku ini. Tidak itu tidak boleh terjadi!' kata Emilia dalam hati kembali bangkit dari keterpurukan dan dari tubuhnya yang lemah, setelah terhempas keras sebelumnya.


Ia kemudian mengangkat pedangnya dan bertarung kembali untuk mempertahankan reputasinya. Semua penonton bersorak riuh melihat pertarungan apik dan sengit di atas punggung naga tersebut.


"Anak itu sungguh luar biasa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisinya. Melawan Nona Emilia dan seekor naga sekaligus itu adalah hal paling sulit untuk murid baru seperti kita." Kata salah penonton yang semula membenci Gill kini berbalik dan mulai kagum dengan aksinya.


"Meskipun dia sangat bersemangat tapi sepertinya hasilnya akan sama. Ini bukan soal kekuatan, tapi sisa waktu. Akan sulit baginya untuk mengalahkan mereka berdua dalam waktu kurang dari 50 detik. " Imbuh temannya di sampingnya.


"Kau benar kita lihat saja, apa yang bisa anak itu lakukan." Kata si orang pertama kembali menyimak pertarungan tersebut.


"CTINGG! CTINGG!" Suara adu pedang terdengar sangat sengit, mereka berdua bertarung dengan penuh semangat demi memenangkan keinginan mereka.


Namun saat ini keadaan sedang tidak memihak Emilia karena tubuhnya sedang terluka terkena serangan kuat sebelumnya. Membuatnya sedikit kesusahan menahan serangan bertubi-tubi dari Gill, selain itu serangannya juga perlahan melambat karena tubuhnya sudah mulai kelelahan.