The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Chapter III ~ Child of Destruction and Regret



"Jadi Kak Mischelle itu. Dia adalah kakakku sendiri? Lalu kenapa ibu tidak pernah menceritakannya?" Tanya Motty terkejut penasaran.


"Karena ibu sangat membenci ras manusia, Mischelle terlahir dengan tubuh Manusia." Jawab Erfyona singkat.


"Lalu dimana Kak Mischelle sekarang?" Tanya Motty kepo.


"Entahlah aku tidak tahu, itu sudah 750 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kecil dia juga tidak pernah ada kabar sampai saat ini." Jawabnya dengan wajah yang murung.


"Kak Mischelle itu seperti apa, tolong ceritakan padaku. Aku ingin lebih mengenalnya lebih dalam." Tanya Motty.


"Dia memiliki rambut hitam sedikit panjang, kulitnya putih pucat, matanya hitam dengan kelopak mata yang besar dan memiliki tanda keluarga Lucifer di dahinya." Jawab Erfyona menjelaskan ciri fisiknya.


"Aku jatuh hati padanya dan tidak bisa membayangkan setampan apa dia sekarang. sungguh dia adalah lelaki yang sempurna." imbuhnya dengan senyum bangga diwajahnya.


"Aku berharap suatu saat dapat bertemu dengannya. Aku ingin sekali mendengar dia bercerita tentang kalian berdua pada masa itu." ucap Motty dengan ekspresi penuh harapan.


'Mischelle dimana kamu sekarang, aku sangat merindukanmu.' Kata Erfyona dalam hati sedih. mereka berdua berpelukan erat berbagi kesedihan satu sama lain.


Sementara itu Azazeal sedang terbang mengintai sesuatu dari atas langit Kingdom of Norman. Kerajaan terbesar bangsa iblis dari arah tenggara.


Azazeal terbang melesat kencang menembus awan, tujuanya turun langsung ke Underworld karena ada sesuatu yang penting yang ingin dia pastikan sendiri. sebelumnya dia di datangi oleh Azrael dan mereka membicarakan hal penting, dipembicaraan itu terlihat raut wajah Azazeal terkejut dengan sesuatu yang keluar dari mulut Azrael sang Malaikat Maut.


Dalam perjalananya di Underworld tersebut terlihat wajah Azazeal tegang penuh harapan semoga usahanya itu tidak sia-sia dan berharap apa yang disampaikan oleh Azrael itu benar adanya. karena bagi Azazeal, Azrael sudah seperti saudaranya sendiri. Tuhan menciptakan Tiga Malaikat yang mempunyai peran penting dan ketiga Malaikat itu sangat di hormati oleh seluruh makhluk yang ada baik, itu di langit, di bumi, dan di negeri para Satan Underworld. Mereka bertiga adalah Azazeal, Sang Malaikat Penghancur atau Pencipta Kiamat. Azrael, Sang Malaikat Maut dan Nazael, Malaikat Rahmat.


Dari cepatnya kepakan sayap Azazeal jatuhlah satu helai bulu berwarna biru cyan, di tengahnya terdapat simbol yang sangat cantik seperti bulu merak. bulu tersebut sangat indah dan bercahaya, ia jatuh ke bawah tertiup angin mengarah ke Kerajaan Norman.


pada malam itu keluarga Norman tengah mendapati hari bahagia, dimana mereka akan segera memiliki anak kelima.


Norman Khall Reed adalah Raja sekaligus ayah dari anak dalam kandungan tersebut. dia adalah keturunan Iblis bangsawan East Monna yaitu ras Iblis dengan tubuh gagah besar dari wilayah timur. Ia memiliki kulit kuning sawo matang, tubuhnya gagah besar berotot, matanya lebar dan memiliki warna mata kuning keemasan. Norman sangatlah kuat dan perkasa sangat disegani oleh rakyatnya.


Sedangkan istrinya bernama Anastasya Gulleen. Wanita dari bangsa Valuetans yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Kerinci, karena wajah cantiknya dan mata merah menyala. ia memiliki rambut putih yang indah seperti kapas, sangat panjang sampai pinggang. kulitnya putih seperti salju, matanya tidak lebar tidak pula sipit, memiliki tinggi badan 175cm dan lekuk tubuh ideal. saat ini dia sedang mengandung sembilan bulan anak kelimanya. Anastasya berharap anak tersebut memiliki keistimewaan yang menjadi ciri khasnya dan berharap bisa menyenangkan hatinya.


"Istriku, malam sudah larut. Kenapa kamu masih berada di luar?" Tanya Norman menghampirinya yang sedang termenung melihat taburan bintang yang menghiasi malam.


"Tidak, aku masih belum mengantuk," jawabnya singkat masih memandang gugusan bintang tersebut.


"Kalau semisal anak kita nanti laki-laki, kamu akan memberinya nama apa?" Tanya Norman sambil memeluknya dari belakang dan mengelus perutnya yang besar.


"Gill Fire." jawabnya singkat.


"Gill?" ucap Noman bereaksi dengan nama tersebut, "Itu nama yang bagus, dari mana kamu mendapatkan nama itu?" Tanya Norman.


"Entahlah seketika nama itu terlintas di benakku," jawabnya sambil melihat bintang.


"Baiklah, kalau kamu menyukai nama itu aku tidak keberatan- ucap Norman yang langsung di potong oleh Anastasya, "Lihat! Apa itu?" Tanya Anastasya terkejut melihat bulu yang indah jatuh tertiup angin.


Ia begitu penasaran dan tertarik dengan bulu yang berkilau tersebut, pandanganya tetap tak berpaling darinya. "Sayang, ambilkan bulu itu untukku. warnanya sangat indah dan bercahaya, Aku suka!" Katanya terpukau.


"Yang mana?" Tanya Norman tolah-toleh sambil mencarinya.


"Itu," sambil menunjuknya, "Yang melayang jauh terbawa angin." jelasnya.


"Tunggulah di sini." Norman melentangkan kedua sayapnya dan terbang untuk mengambilnya.


'Hap!' akhirnya bulu tersebut berhasil di tangkap, "Bulu apa ini, ukurannya sangat besar. warnanya sangat indah dan berkilau, aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya." ucapnya kagum saat mengamati bulu tersebut dari dekat.


'Andai saja tadi aku melihat makhluk pemilik dari bulu ini, pasti aku akan menangkapnya untuk Istriku.' ucapnya dalam hati menatap ke atas mencari jejak pemilik bulu indah tersebut.


kemudian dia kembali dan memberikan bulu tersebut pada istri tercinta, Anastasya. "Bagaimana, kamu mendapatkannya?" Tanya Anastasya dengan wajah penuh harap.


"Tentu saja, ini ambilah!" jawab Norman sambil memberikan bulu itu padanya.


"Wah, bulu apa ini? cantik sekali." Dengan ekspresi penuh kagum mengamati helai bulu yang baru diberikan oleh Norman.


"Biar aku pasangkan sayang." kata Norman menyuruhnya berbalik dan dipasangkan lah bulu tersebut sebagai tusuk rambut Anastasya.


"Kamu sangat cocok memakainya." Puji Norman dengan senyum terpukau.


"Benarkah?" Tanya Anastasya tak percaya.


"Kamu terlihat sangat cantik memakai bulu ini. aura keindahan yang dipancarkan oleh bulu ini sangat elegan dan luar biasa bagus, cocok sekali untuk Istriku yang manis." ucap Norman sedikit menyisipkan kata rayuan, membuat hati istrinya senang.


"Terima kasih, Norman. aku senang kamu berhasil mendapatkannya," sambil memeluk tubuh suaminya dengan mesra.


"Sama-sama. Sekarang ayo kita tidur, malam sudah larut." Mereka berdua seketika masuk ke dalam untuk tidur dan mengakhiri malam dengan perasaan yang senang mendapat bulu indah tersebut.


Dua Minggu berlalu sejak peristiwa itu.


Anastasya sudah tidak mampu lagi menahan anak yang ada dalam kandungannya. Norman memerintahkan kepada Samidi, pelayan pribadinya. untuk mencari seseorang yang mampu membantu proses bersalin istrinya.


Samidi patuh lalu pergi, selang beberapa saat dia kembali lagi bersama seorang wanita paruh baya di disampingnya. Samidi lalu memerintahkan wanita tersebut untuk membantu Anastasya melahirkan anak kelimanya. Norman begitu cemas menunggu proses bersalin-nya dan berjalan mondar-mandir di depan pintu penuh kecemasan.


Lima belas menit kemudian tangis jabang bayi terdengar dari dalam kamar Anastasya membuat jantung Norman berdegup kencang, ia senang sekali mendengarnya. Norman lalu membuka pintu dan segera masuk ke dalam, tak sabar melihat anak bungsunya.


"Lihatlah anak kita Norman, dia sangat tampan. Kulitnya putih bersih, manis sekali." kata Anastasya meneteskan air mata bahagia sambil menimang Gill kecil penuh kasih sayang.


"Dia memiliki warna rambut putih yang sepertimu, Istriku. Tetapi kenapa dia tidak membuka matanya?" Kata Norman mendapat kecurigaan. "Apakah dia buta?" Duganya.


"Jangan bilang begitu, anakku tidak mungkin terlahir cacat!" Sahut Anastasya marah.


"Maaf, mungkin kamu benar." Ucap Norman pelan takut dibentak istrinya.


"Selamat Tuan atas momongan kelima Anda, ia sangat manis dan lucu." kata Samidi disampingnya melihat ke arah Gill.


"Terima kasih Samidi. Umumkan kepada semua masyarakat Kerajaan, kita akan mengadakan pesta besar malam ini. Terbuka untuk semua orang!" Perintahnya.


"Baik Tuan." membungkuk patuh kemudian pergi.


"Bruak!" Mereka berdua terkejut mendengar pintu terbuka keras. ternyata itu adalah keempat anaknya yang lain datang dan ingin menjenguknya.


"Ayah dimana dia, maksudnya adik laki-laki ku itu?" Tanya Putri ketiganya Ananda Calista yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Gill.


"Pelan-pelan Lista, dia sedang tertidur." Jawab Ibunya menasihatinya.


"Apakah dia seperti kami. memiliki kelebihan yang mencolok saat lahir?" Tanya Hugo putra pertamanya.


"Ayah yakin ia memiliki sesuatu yang tersembunyi yang tidak kalian miliki." jawab Norman.


"Ayah kami tidak mau mempunyai saudara yang cacat. itu hanya akan menjadi beban kami di masa depan." Imbuh Gordon putra keduanya.


"Sudahlah ayo kita pergi!" Ajak Lyna putri keempat di ikuti oleh Hugo dan Gordon.


"Ibu boleh aku tahu siapa namanya?" Tanya Calista sambil mengelus rambut Gill dengan lembut.


"Namanya Gill Fire, dia sangat tampan bukan?" Kata Ibunya.


"Wah lucunya, dia memiliki rambut yang sama sepertimu ibu. Putih dan bersih, aku sangat menyukainya!" dengan wajah gemes mencubit pipi Gill dan membuatnya menangis.


"Aku tidak sabar menunggunya besar dan mengajaknya bermain bersamaku" sambungnya senang sekali.


"Iya, sabar ya Kak!" Jawab Ibunya lemah lembut.


"Hihi!" mringis senang.


Mereka bertiga sangat bahagia atas kelahiran Gill anak kelimanya. Pada malam harinya mereka menggelar jamuan makan yang sangat megah di kerajaan. Para tamu dari golongan Iblis timur dan selatan datang berkunjung untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Masyarakat juga turut antusias mengikuti acara jamuan makan malam tersebut. pada malam itu kebahagiaan menyelimuti keluarga Norman.


Dua hari berlalu sejak perayaan tersebut tetapi Gill belum membuka kedua matanya sama sekali, kedua orang tuanya sudah mulai curiga dan berfikiran negatif tentangnya."Sudah dua hari sejak anak ini lahir tetapi dia belum juga membuka kedua matanya. Aku curiga jangan-jangan dugaanku itu benar!" Kata Norman.


"Tenang lah Norman, tunggulah sebentar lagi." ucap Istrinya.


"Ini sudah dua hari aku menunggunya membuka mata tapi apa hasilnya!" Teriaknya kesal bercampur emosi, "Kesabaran ku sudah hampir abis, ini sangat aneh sekali." sambungnya dengan nafas ngap-ngapan berusaha meredam emosinya.


"Samidi!" Panggilnya kepada penasihatnya.


"Hormat saya Tuan!" Sambil berlutut di hadapannya.


"Panggil Hela kemari!" Perintahnya tegas pada Samidi.


"Baik Tuan." kemudian beranjak pergi.


"Kenapa kamu begitu nekat Norman, dia,-


"Diam! Aku tidak butuh nasihatmu." Sahutnya marah membuat Anastasya terdiam ketakutan.


Setelah menunggu cukup lama dengan mondar-mandir di depan Istrinya, akhirnya Hela datang menghadapnya."Akhirnya kau datang, Kemarilah! Aku butuh bantuan mu." sambut Norman senang dan sudah tidak sabar.


"Ada apa Raja memanggil saya?" Tanya Hela membungkuk sopan.


"Periksalah anak ini," perintah Norman sambil menunjuk ke arah Gill dengan jarinya, "Pastikan dia cacat atau tidak. Sudah dua hari ini matanya masih terpejam, aku curiga dia anak yang cacat!" sambungnya menjelaskan keluhannya.


Hela mengangguk dan menghampiri Anastasya, "Permisi Ratu, izinkan saya mengeceknya sebentar." Mohonya meminta izin.


"Silahkan Hela." Menyerahkan Gill padanya.


Hela mulai melakukan cek menggunakan kekuatan Sihir miliknya, dimulai dari warna kulit, rambut, lidah dan yang terakhir adalah matanya. Hela meletakan telapak tangan di atas wajah Gill dan mengeluarkan cahaya sihirnya.


Ketika Hella sedang mengecek bagian mata, dia terkejut setengah mati. Dalam sihir penerawangannya tersebut, Hella melihat kehancuran dan penyesalan dari keluarga Norman suatu hari nanti. Jika mereka terus merawat anak tersebut.


"Ada apa Hela, apa yang kau lihat?" Tanya Norman penasaran melihat reaksi Hella yang berubah.


"Sebelumnya saya minta maaf. Dari apa yang saya lihat dengan sihir saya, anak ini nantinya akan membawa kehancuran dan penyesalan di masa yang akan datang. Kekuatan saya memang tidak dapat melihat kedua bola matanya dengan jelas. Namun saya berani menyatakan kalau dia, memanglah anak yang cacat." jelasnya.


Sontak Anastasya sangat terkejut mendengarnya dan langsung menutup mulutnya, tak kuasa menahan tangis. Mengetahui putranya terlahir cacat fisik. Tak terasa air mata Anastasya pecah membasahi pipi manisnya.


"Kau jangan coba untuk membohongi aku. Kamu pasti tidak teliti saat mengeceknya!" Teriak Anastasya tidak percaya berbalik menuduhnya.


"Tidak Ratu, saya tidak akan berani berbohong kepada Anda." kata Hela meyakinkannya.


"Bohong, kamu pasti berbohong!" Tuduhnya marah sekali sampai menyala kedua matanya, bangkit berdiri hendak membunuh Hela.


"Cukup! Hentikan Anastasya!" Teriak Norman mencegahnya.


Seketika Anastasya terdiam tidak berani membantahnya, suasana menjadi hening sesaat. "Kalian boleh pergi." kata Norman kepada Samidi dan Hela.


"Kami permisi Tuan," ucap Samidi.


Kemudian mereka berdua pergi keluar.


"Jadi dugaanku benar selama ini. Anak ini memang lah cacat!" Kata Norman lirih sedih tidak percaya.


"Apa yang akan kita lakukan kepada anak ini Norman?" Tanya Istrinya.


"Buang dia! Bawa dia pergi jauh dari hadapanku" Perintahnya lantang dan tegas.


"Tetapi dia masih kecil." bela Istrinya yang tidak tega.


"Bawa dia pergi atau aku bunuh anak ini!" Ancamnya dengan mata melotot tajam.


"Baiklah," Dengan gugup. "Aku akan membawanya pergi." Mengangkat Gill kecil dan meninggalkan Norman di ruangan tersebut.


Anastasya membawanya pergi jauh keluar dari Istana, bersama dengan beberapa pengawal kepercayaannya. Dia juga membawa Putri ketiganya, Ananda Calista untuk ikut menemaninya.


Karena rasa cinta dan kasih sayang Anastasya sangat besar kepada Gill. Dia memutuskan untuk membawanya ke tengah hutan dan membangun sebuah rumah kecil di sana. setelah rumah tersebut jadi dia mengutus pengawalnya untuk mencari seorang pengasuh dari desa manusia yang akan dia beri upah besar.


Setelah Anastasya mendapatkan seorang pengasuhnya, Ia berpesan kepada-Nya untuk senantiasa menyayangi Gill seperti anaknya sendiri. dia juga bilang seminggu sekali dirinya akan mengecek keadaan putranya tersebut.


"Ini ada rahasia kita. Kalian berdua jangan mencoba untuk beritahukan hal ini kepada suamiku. Jika salah satu dari kalian ada yang berani melapor, Aku tidak akan segan membunuh kalian dengan tanganku sendiri!" Ancam Anastasya memperingatkan kepada seluruh pengawalnya, dengan mata melotot tajam.


"Baik Ratu, kami bersumpah setia kepada Anda." ucap pemimpin pasukan dengan berlutut.


"Bagus." jawab Anastasya dengan senyum senang.


"Calista Ingat jangan kau beritahu hal ini kepada saudaramu yang lain atau mereka akan membunuh adik mu. Rahasiakan ini dari ayahmu kalau kita tengah menyelamatkan Gill." sambungnya.


"Emh." Angguk Calista setuju.


"Baiklah sekarang ayo kita kembali." Ajaknya menaiki kereta kuda.


Kemudian Rombongan mereka mulai berjalan pergi meninggalkan hutan tersebut untuk kembali ke Kerajaan. Norman sangat membenci kecacatan karena identik dengan kelemahan, tentu saja memiliki anak yang lemah sangat merugikan bagi Kerajaan.


Namun Anastasya sangat menyayangi Gill lebih dari apapun, meskipun dia terlahir tidak sempurna. Anastasya senang karena putranya tersebut memiliki kemiripan fisik yang sama denganya.


"Maafkan ibu ya, Nak. Ibu tidak punya pilihan lain dan terpaksa melakukan ini demi keselamatan kamu. Semoga kamu tidak membenci Ibu suatu saat nanti." ucap Anastasya dalam hati sedih, merasa bersalah.


"Ibu yakin, suatu saat kamu akan menjadi anak yang kuat. Melebihi saudaramu yang lain.'' meneteskan air mata dalam renungan dalam tersebut.