
Nampak Arena bertarung sudah dipadati oleh penonton, mulai dari kelas satu sampai tiga. para guru dari segala mapel, kepala sekolah dan secara mengejutkan Alin juga hadir pada acara itu. perhatian semua orang tertuju padanya, termasuk Alice, Indyra, Greey dan Gill.
'Bahkan Nona Alin pun rela hadir untuk pertarungan seperti ini' ucap Greey terpukau melihatnya dari kejauhan. Alin yang melihatnya lalu tersenyum manis membuat Greey tersipu malu, 'Beliau sama sekali tidak berubah' sambung Greey.
'Barusan dia tersenyum ke arah kita, Kalian juga melihatnya kan?' ucap Alice heboh. Indyra tidak percaya dan menyangkalnya dengan alasan kalau senyuman itu dia tunjukan untuk Greey, 'Apakah kau sebelumnya pernah bertemu dengan Nona Alin, Greey?' tanya Alice.
Greey menjawab 'iya' dan menjelaskan kalau itu sudah lama sekali, tepatnya saat ia dulu masih dilatih oleh Gabriel. ia memberitahu kalau Alin adalah pribadi yang mulia, 'Nona itu orangnya baik dan murah senyum. beliau juga humoris dan tutur katanya baik, lembut sekali' pujinya.
Tak lama setelah itu Alin mengangkat telapak tangannya dan melambaikan jarinya pada Gill dengan senyum humoris. kini giliran Indyra yang heboh melihat itu, 'Benarkah itu, dia memberi salam padamu loh Vergile!' ucap Indyra.
'Benarkah! ?' ucap Alice heboh.
Gill lalu menepisnya dan menyebut kalau Indyra hanya salah sangka. Alin lalu tersenyum melihat mereka berempat berdebat dari kejauhan dan ujian pun dimulai dengan munculnya kata sambutan yang menggema di Arena. 'Sudah dimulai ya' ucap Gill pelan melihat ke bawah, Emilia dan Vega mulai memasuki Arena.
'Ini pasti akan mendebarkan!' ucap Greey antusias.
Moderator lalu memperkenalkan masing-masing peserta, dari kelas mana mereka berasal, pangkat atau jabatan (jika punya) dan Master dari mereka. Greey, Indyra dan Alice lalu bangkit dari tempat duduknya dan berteriak keras memberi semangat kepada Vega yang berada di Arena dari kejauhan. Vega tersenyum dan melambaikan tangan kearah mereka bertiga.
Namun suara mereka bertiga tak terdengar lagi ketika seluruh pendukung Emilia bersorak mendukungnya, mereka bahkan memiliki lagu khusus yang dinyanyikan untuk mendukungnya. Emilia tersenyum senang ketika Masternya datang untung menyaksikan pertarungannya, ia lalu membungkuk dan memberikan hormat kepadanya. Alin mengangkat telapak tangannya sebagai bentuk penerimaan salam.
Wasit lalu memasuki Arena dan berdiri di antara mereka berdua untuk menjelaskan rule pertarungan. mereka berdua mengangguk saat semua peraturan yang sampaikan sudah jelas. Alin lalu menghubungi Gill melalui telepati dan menyuruhnya menebak siapa yang akan memenangkan pertarungan kali ini.
Tentu saja Alin akan mendukung Emilia karena dia adalah murid kesayangannya, namun Gill berkata kalau kali ini murid kesayangannya itu akan kalah. Alin terkejut dengan pendapatnya itu dan bertanya bagaimana dia bisa tahu. Gill menjawab kalau sebenarnya dirinya tidak tahu, tapi ia yakin Vega akan memenangkan pertarungan ini. Alin tersenyum dan berkata kalau di dalam pertarungan semua hal bisa saja terjadi dan belum tentu ucapan Vergile itu benar.
'Ambil jarak masing-masing 10 meter!' ucap wasit yang berdiri di Arena melentangkan kedua tangannya kepada peserta yang saling berhadapan sengit.
Mereka lalu mundur perlahan dengan mata yang saling tatap satu sama lain. sembari berjalan mundur hati Emilia berkata akan memenangkan pertarungan ini dan akan membuat Alin bangga karena rela jauh-jauh datang untuk mendukungnya, sedangkan Vega akan berjuang sampai batas maksimal untuk memenangkan pertarungan ini agar mendapat nilai yang tinggi dan tentu saja agar teman-temannya tidak kecewa padanya karena telah mendukungnya.
'Bersiap!' ucap sang wasit. mereka berdua lalu mengeluarkan pedangnya dan menggenggam pedangnya erat lalu memasang posisi untuk menyerang.
"MULAI!" teriak sang wasit memulai pertarungan.
Vega dan Emilia langsung melesat kompak saling melancarkan serangan. gaya bertarung mereka sangat gesit dan lincah sehingga membuat mata penonton terpukau. mereka saling serang satu sama lain dan bertahan jika merasa terdesak. suara pedang mereka riuh saat keduanya bertabrakan. Alin yang melihat itu sedikit terkejut dan mulai menyadari kenapa Gill bisa mempercayai gadis itu.
Dengan mata kepalanya sendiri Alin melihat kalau gaya bertarung muridnya itu terlalu monoton dan kurang variasi, sedangkan gadis yang saat ini dia lawan memiliki gerakan variasi bertahan dan menyerang yang sangat beragam. Singkatnya Alin tahu kalau gadis yang Emilia lawan memiliki skill berpedang yang baik ditambah variasi serangannya yang tidak terlalu berfokus pada pedang sebagai alat serang.
'Gadis itu boleh juga' batinya sambil menyaksikan Vega bertarung dari kejauhan.
'Bernarkah itu adalah Vega yang kita kenal, dia nampak berbeda saat menggunakan pedang. brutal sekali serangannya, dia bahkan tak memberi Emilia kesempatan untuk menyerang balik' ucap Indyra mengamati gaya bertarungnya.
'Aku bahkan sampai lupa kalau dia itu adalah wanita, dia sungguh nekat menggunakan pukulan dan tendangan sebagai variasi serangannya' timpal Greey impresif melihat gaya bertarungnya.
Pertarungan sengit yang telah berlangsung itu dimenangkan oleh Vega dengan terhempasnya tubuh Emilia ke tanah akibat tendangan kerasnya di bagian perut. Alin tidak bereaksi apa-apa melihat itu karena ia sudah tahu kelemahan muridnya. sambil memegang perut Emilia berusaha bangkit menahan rasa sakit, 'Beraninya kau menggunakan cara curang kepadaku!' ucap Emilia marah terbata-bata karena sakit.
'Curang? Ha ha ha mungkin kau harus berlajar lagi mengenai serangan variasi. di dalam pertarungan kita tidak bisa hanya terpaku pada senjata yang kita punya. tubuhmu kaku Emilia, kau hanya bisa menggerakan tangan mu. meskipun pedang yang kau gunakan itu kuat tapi serangannmu mudah diprediksi' ucap Vega memberitahu kelemahannya.
'Omong kosong, pertarungan masih berlanjut. Simpan saja ocehanmu sampai pertarungannya selesai!' jawab Emilia angkuh mengeluarkan aura merah pada pedangnya.
'Kini dia mulai serius' batin Gill melihat Aura merah yang keluar dari pedangnya. ia tahu kalau Emilia akan memakai jurus andalannya untuk menyerang balik Vega, seperti yang dia lakukan dulu saat menyerangnya.
'Saat bertarung kecepatan mata dan otak adalah kunci utama. mata sebagai indera penglihat akan menyalurkan data penglihatan ke otak, disana otak akan berfikir sehingga menghasilkan sebuah strategi. Otak tidak akan bisa berfikir saat kau marah, selain skill bertarung dan analisa yang bagus. mengontrol diri untuk tidak emosi adalah sebuah skill yang tak kalah penting' tutur Vega bijak.
'Baiklah aku bisa menangkap sedikit materi dari ocehan mu. kau bilang tadi mata, tangan dan kaki adalah penentu kemenangan. Jika aku ingin menang berarti aku cukup membuat seluruh indera dan organ tubuh melemah, bukan?' jawab Emilia.
'Itu kan! Tidak salah lagi dia mau menggunakan Leghius Marsha untuk menumbangkanku' ucap Vega pelan sambil mengamatinya. 'Ini mungkin akan sedikit sulit' sambungnya teringat saat Gill mencoba menghindarinya dulu.
Emilia langsung melesat melancarkan serangan Leghius Marsha. kali ini Vega hanya bisa menghindar dan tak membalas serangannya, dalam posisi bertahan dan terus menghindar ia berpikir bagaimana bisa membalikan keaadaan. Greey, Alice, dan Indyra berdebar melihat pertarungan sengit tersebut. mereka tahu kalau Vega saat ini terdesak dengan serangannya itu.
'Gadis itu pasti sangat kesulitan, jurus itu nyaris sempurna karena hampir tak ada celah untuk menyerang balik' batin Alin tersenyum melihat jagoan Gill terdesak. 'Baiklah Gill, Apakah kau masih yakin jagoan mu itu akan menang' sindirnya pelan.
Terlihat Vega sesekali mencoba untuk menyerang balik namun beberapa serangan yang ia lancarkan berhasil ditangkis olehnya. 'Bagaimana, apakah hanya seperti ini kemampuanmu?' ejek Emilia sambil terus menyerangnya.
Vega hanya diam dan tak menganggap serius perkataannya. ia fokus menghindari semua serangan yang Emilia lancarkan. lima menit telah berlalu dan Emilia masih saja menyerangnya, sama sekali tak memberinya celah untuk menyerang balik. kini tubuh Vega mulai kelelahan, Emilia yang menyadari itu langsung memperkuat serangannya dan dalam waktu singkat Vega bisa di jatuhkan.
Terlihat nafas Emilia ngos-ngosan setelah menyerangnya keras cukup lama, 'Menyerahlah jika hanya itu kemampuan mu. aku bahkan belum mengeluarkan lima puluh persen dari kekuatanku, Leghius Marsha akan merusak tubuh mu dan itu akan sangat menyakitkan!' ucap Emilia mencoba menakutinya.
'Berjuang lah Nona!' ucap Vania pelan menatapnya dari bangku penonton.
Vega tertawa dan menancapkan pedangnya ke lantai sebagai alat untuk membantunya berdiri, 'Lelucon apa yang kau katakan Emilia, itu sama sekali tidak lucu' jawabnya berusaha bangkit dengan tertatih-tatih. Ia lalu meludahkan air liur bercampur darah dengan lengusnya lalu mencabut pedangnya, mengacungkan telapak tangan ke depan menyuruhnya maju.
Emilia yang emosi lalu tersenyum bengis, 'Lelucon? Akan kutunjukan padamu apa itu lelucon!' ucapnya marah dan mengeluarkan dua segel sekaligus di lantai dan di udara. dari segel lantai keluar satu ekor singa emas besar yang Emilia beri nama Dandelion dan segel udara keluar lah Espher Wind Dragon dengan elemen angin kuatnya.
Alin terkejut melihat Emilia mengeluarkan semua hewan perangnya. Gill, Greey, Indyra, Alice dan seluruh penonton ikut terkejut melihat singa emas muncul di Arena karena setahu mereka Emilia hanya memiliki satu Naga saja sebagai hewan perangnya.
'Bisa apa kau dengan leluconku ini Vega, tak ada tempat untuk kau pijak sekarang. Lantai adalah wilayah Dandelion dan udara adalah Espher Dragon' ucap Emilia memamerkan hewan perangnya dengan senyum mengejek.
Vega tersenyum dan membalas perkataannya dengan mengeluarkan dua segel sekaligus. satu di lantai dan satunya lagi di udara tepatnya di belakang ia berdiri, dari belakang muncul lima ekor serigala salju berwarna putih dan dari belakang muncul satu gadis peri seumuran dengannya.
'Lama tidak bertemu Nona, apa yang bisa saya bantu untuk Anda?' ucap si peri memberi salam. Vega tersenyum, 'Senang bertemu kembali dengan mu Flufien. bisakah kau mengobatiku dari serangan kutukan?' tanya Vega.
'Maksud Anda?' tanya Flufien tidak paham dengan maksud ucapannya.
Vega lalu menunjuk ke arah Emilia dan memberitahunya sesuatu. Emilia yang merasa ditunjuk merasa bingung dengan maksud Vega, 'Dia ingin menggunakan peri itu untuk menyerangku?' duga Emilia dalam hati memperhatikannya dari kejauhan.
'Gadis itu punya Support yang bagus juga' ucap Alin sambil memperhatikan peri yang baru saja dipanggil oleh Vega.
'Percuma, jika serigala mu itu masih bertubuh daging mustahil bisa mengalahkan singa emasku. yang tubuhnya sendiri murni terbuat dari emas dua puluh empat karat!' jelas Emilia.
'Aku tahu, setidaknya mereka bisa mengganggu singa mu agar perhatiannya teralihkan' jawab Vega.
'Oh boleh juga idemu itu' ucapnya dengan senyum mengejek.
Vega lalu berbalik ke belakang dan membisikan sebuah strategi kepada Flufien, setelah semuanya jelas peri itu mengangguk. Emilia lalu naik ke punggung Espher Dragon dan mulai mengudara ke langit. Vega lantas berlari hendak menyerang Dandelion, disaat yang sama Emilia memerintahkan Dandelion untuk balik menyerang mereka dan Espher Dragon diperintahkan untuk meniupkan badai angin kencang.
Diluar perkiraan peri yang sebelumnya di duga adalah tipe support ternyata memiliki dua tipe skill yang kuat, yakni tipe penyerang dan support. Flufien lalu mengeluarkan kekuatan full power dan muncul lah tanaman merambat yang keluar dari dalam tanah menembus setiap lantai Arena. tanaman itu dengan cepat tumbuh besar dan melilit Dandelion yang berada di bawah sehingga singa emas yang Emilia panggil jadi tidak berguna.
Naga Emilia hampir terlilit oleh tanaman merambat karena perhatian Emilia terfokus pada singa emasnya yang terikat di bawah. namun ia berhasil menghindari juluran tanaman tersebut, meskipun jarak antara keduanya terbilang sangat dekat. dari bawah Vega berlari cepat dan menjadikan batang tanaman sebagai pijakan untuk bisa maraih Emilia yang terbang di udara.
Emilia menertawakannya dan mengejek kalau dia tidak akan bisa bergerak, dengan angkuhnya Emilia berkata, 'Tak ada yang bisa melawan Naga badaiku, aku tak terkalahkan di angaktanku!' diikuti oleh tawa setelahnya.
Mendengar itu raut wajah Alin seperti menunjukan rasa kekecewaan, kini dia melihatnya sendiri kalau muridnya telah berubah menjadi sombong dan angkuh. Emilia telah berubah 180° sejak Alin meninggalkannya.
Vega tak sedikit pun membalas perkataannya, ia masih bertahan dengan pedang menancap di lantai sebagai pegangannya agar tidak tersapu angin. dalam posisi terdesak itu Vega berpikir bagaimana caranya agar dia bisa lolos dari tiupan angin kencang tersebut.
Dari atas Emilia mengayunkan pedangnya ke arah Vega yang bertahan, karena terdesak ia tidak dapat menghindar dan akhirnya Leghius Marsha Emilia berhasil melukainya. seketika Vega langsung merasakan efek sampingnya, tubuhnya lemas, pandangannya kabur, dan pendengarannya kacau.
Dengan sigap Flufien langsung melilitkan tanamannya pada tubuh Vega hingga semuanya terbungkus rapat. selang beberapa menit tanaman itu mulai melepas lilitannya dan terlihat bekas luka memar dari pertarungan sebelumnya telah hilang tanpa meninggalkan bekas. mata, tubuh, dan pendengarannya pun juga sudah kembali normal seperti sedia kala.
Emilia terkejut bukan main saat melihat tubuh Vega bisa kembali sehat tanpa adanya bekas luka sedikit pun. dia masih tidak percaya dengan apa yang matanya itu lihat, Emilia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Emilia yakin kalau hanya dia saja orang yang mampu menyembuhkan korban yang terkena Leghius Marsha.
Espher Dragon menambah tiupan anginnya membuat tubuh Vega perlahan terdorong ke belakang. Emilia mengayunkan pedangnya kembali mengeluarkan Leghius Marsha miliknya, mengarahkannya ke Vega. di bawah Vega memasang kuda-kuda sembari menggenggam erat pedangnya, kepalanya mendongak ke atas menatap Emilia tajam.
Lensa matanya sedikit bercahaya sebelum akhirnya Vega berlari melesat kencang meninggalkan retakan jejak kaki di lantai. Emilia terkejut melihat Vega bisa berlari sekencang itu, dengan gesit Vega bisa dengan mudah menghindari serangannya dengan pola zig-zag yang sangat memukau. dengan raut wajah yang kesal, Emilia menambah kecepatan ayunan pedangnya namun sayang semua serangannya tak ada satupun yang kena.
Dia panik dan terkejut melihat Vega sudah berada di belakangnya dengan pedang mengayun di atas kepala. dengan jarak yang sangat dekat beruntung Emilia masih dapat menghindar, sangat disayangkan pill pahit harus Emilia telan lantaran rambut panjang yang ia rawat selama ini harus terpotong oleh pedang Vega.
Emilia yang melihat potongan rambutnya berhamburan di udara menjadi sangat marah, dalam hati ia bersumpah akan mengalahkan Vega karena telah berani merusak mahkotanya. karena Emilia berhasil menghindari serangannya Vega lalu mengangkat pedangnya dan menghunuskannya ke punggung Espher Dragon.
'CTASSHH!' pedang kebanggan Vega hancur seperti kaca yang pecah, tak disangka ternyata kulit Espher tak serenta kelihatannya.
Vega terkejut tidak menyangka kalau kulit Espher Dragon itu ternyata sangat keras. selama ini dia beranggapan kalau Naga Emilia itu bisa dengan mudah ia kalahkan seperti yang pernah Gill lakukan dulu. barulah Vega menyadari kalau kemampuan Gill itu di atas rata-rata siswa pada umumnya.
Tak ada waktu untuk mengagumi itu sekarang. Emilia yang tidak terima rambut merahnya terpotong dengan amarah yang meluap-luap kembali menyerang Vega di atas punggung Naga dengan sangat brutal. kali ini serangan pedangnya tidak terstruktur membuat Vega kesulitan memprediksi serangannya.
Vega kesulitan menahan amukan Emilia karena pedangnya patah, selain itu ayunan pedang Emilia juga sangat kuat membuatnya tak dapat menahannya lebih lama. 'Aku akan membuatmu membayar Vega!' ancam Emilia geram dengan nada marah. ia lalu mengayunkan pedangnya keras dan membuat Vega terjatuh sampai lantai Arena-nya ambles.
Tak berhenti sampai disitu Espher Dragon lalu menukik turun tajam, mereka sempat mendapat halangan dari Flufien namun Emilia bisa dengan mudah memotong juluran akar yang hendak melilit tubuh mereka. dibalik debu tebal Vega berusaha bangkit dan mengganti pedangnya ke pedang yang Gill berikan sebelumnya.
Vega menghela nafas panjang dan mengangkat kepalanya ke atas. ia lalu mengambil ancang-ancang dan melompat keras beradu pedang dengan Emilia di udara. saat pedang mereka saling bersentuhan, Emilia seketika terpental dan pedangnya terlempar terpisah dari genggamannya.
Vega sendiri pun bingung karena dia merasa tidak menggunakan kekuatan penuh saat mengayunkan pedangnya. saat ia sedang memperhatikan pedang itu suara Espher mengaung keras dari arah samping dengan mulut terbuka lebar hendak menerkamnya.
Tubuh Vega yang masih mengawang di udara tak bisa mengindari serangan tersebut. beruntung Flufien masih sempat menghentikan Naga itu dengan tanaman miliknya. Vega lalu menaiki akar yang melilit tubuh Espher dan menusukan pedangnya tepat di punggung Naga tersebut.
Espher Dragon lalu meraung kesakitan. tak cukup sampai disitu Vega juga memotong kedua sayapnya dan Naga itu pun hilang dalam bentuk cahaya. Emilia yang marah tak tinggal diam, ia lalu mengambil pedangnya dan menghancurkan Flufien yang bersembunyi di dalam batang pohon besar.
Dalam sekali tebas Emilia berhasil mengancurkan tanaman besar itu dan Flufien yang berada di dalamnya. kelima serigala yang Vega panggil juga turut menyerangnya namun bagi Emilia mereka hanyalah keroco kecil yang tidak ada apa-apanya, terbukti dalam sekali ayunan pedang kelima serigala itu musnah tak meninggalkan jejak.
Alin yang tak asing dengan pedang yang Vega gunakan lalu menoleh ke arah Gill di bawah, ia hanya tersenyum melihat lirikan Alin yang tajam.
Karena Flufien telah kalah menyebabkan singa emas yang tadinya terikat menjadi lepas. Vega yang baru turun dari tubuh Espher langsung disambut oleh keganasan singa emas Emilia yang melompat hendak menerkamnya. dengan lima kali tebasan singa emas itu pun mati dan hilang menjadi cahaya seperti naga sebelumnya.
Mereka berdua saling menatap tajam dengan nafas yang sama ngos-ngosan, 'Kini hanya ada kau dan aku, Emilia. tak ada lagi Naga yang dapat kau banggakan' ucap Vega menggenggam erat pedangnya.
Emilia lalu melangkahkan kakinya ke depan pelan tak mengalihkan pandangannya dari mata Vega, 'Ya' menggenggam erat pedangnya 'Akan kukalahkan kau dengan tanganku sendiri!' sambungnya lalu menambah kecepatan langkahnya, begitupun dengan Vega.
Mereka kembali bertarung saling mengadu pedang, gerakan mereka sangat cepat sampai membuat mata penonto bingung memebedakan mana Vega dan Emilia. patokan penonton untuk mengenali mereka adalah kilatan cahaya dari warna pedang yang digunakan, yakni hijau untuk Vega dan merah untuk Emilia.
Pertarungan mereka sangat sengit, sudah lebih dari sepuluh menit namun belum ada dari mereka yang terpojok. sampai pada akhirnya Vega mendapatkan celah untuk memojokkan Emilia, dia menarget bagian punggungnya karena itu adalah titik buta manusia. ia kembali mengeluarkan jurus gerak cepatnya yang membuat Emilia kesulitan, namun dia tidak panik.
Di tengah kelemahannya itu Emilia malah tersenyum seolah-olah jurusnya itu tak akan bisa melukainya. dengan keras Vega menebas bagian punggung belakangnya namun usahanya itu gagal. Emilia mengeluarkan Zirah kebanggan keluarga Miranda yakni, Astomon Guard. Zirah yang terbuat dari platinum terbaik yang ada di dunia.
Astomon Guard memiliki energi sihir yang terpancar dari crystal merah yang ada di dada zirah. crystal tersebut dapat menghasilkan kekuatan sihir yang mampu mengepakkan sepasang sayap logam yang tertempel di belakang zirah sehingga membuat penggunannya terbang.
Vega terkejut karena sebelum bertarung dengan Emilia dia sudah menelusuri semua jurus dan kekuatan Emilia, termasuk senjata dan perlatan lain yang dia gunakan. dalam penelusurannya itu Vega tidak menemukan informasi tentang zirah platinum itu, Vega berfikir dan sedikit melirik ke arah Alin. Ia menebak kalau Alin lah yang memberikan itu hari ini sebelum mereka bertarung.
Seketika Alin tahu arti dari lirikan matanya itu, ia bergumam lirih dengan berkata, 'Sudah kuduga keluarganya akan memberikan zirah itu padanya, Emilia adalah anak emas yang menjadi kebanggaan besar keluarga Miranda'
Emilia lalu berbalik dan mengejek Vega, 'Sudah selesai dengan serangan mu Vega?' ucapnya lalu melesat membalas serangannya.
Vega terkejut namun ia masih bisa menahan serangannya, dari wajahnya nampak Vega sangat kesusahan menghadapi serangannya. ia lalu mencoba menebas zirah itu dan hasilnya di luar perkiraan. pedang Vega ternyata mampu memberi bekas sayatan yang cukup dalam pada zirah tersebut.
Emilia sedikit terkejut dan berkata, 'Kau mungkin bisa saja merusak zirahku, tapi lihat lah dirimu. Kau bahkan tak memiliki perlindungan apapun!' dengan senyum mengejek.
Vega hanya diam sambil terus menatapnya, dalam hati ia berfikir, 'Yang dia katakan itu benar. aku mungkin bisa menghancurkan zirahnya itu tapi seranganya barusan sangat kuat, ini mungkin akan sangat sulit' batinnya.
'Terima lah kekalahan mu Vega!' teriak Emilia marah terbang melesat menyerangnya dengan pedang berkobar merah.
Saat kobaran merah Leghius itu menyentuh seragam Vega, terjadi lah sesuatu yang mengejutkan. cahaya terang langsung keluar dari badan Vega dan berubah lah pakaian seragam itu menjadi Zirah putih glossy yang memantulkan cahaya putih, sangat menyilaukan.
Zirah Vega juga sama seperti Emilia, ia dapat mengepakkan sayap karena memiliki Crystal magis di tengah dada Zirah perbedaannya terletak pada warna Crystal. Zirah Vega memiliki Crystal berwarna hijau zamrut.
'Kau!' ucap Emilia dengan wajah terkejut.
'Sepertinya Zirah itu tidak asing bagiku...' batin Alin dalam hati memperhatikan zirah milik Vega.
Vega tersenyum dan membalasnya, 'Ya ampun padahal aku tidak ingin menggunakannya, tapi ternyata kau menarik juga. Pertarungan sesungguhnya baru akan di mulai Emilia' dengan tatapan tajam.
'Oh wow, aku kira dia tidak punya!' ucap Gill terkejut.
Mereka berdua kembali bertarung dengan zirah yang melekat di tubuhnya masing-masing, dengan semangat membara mereka saling melancarkan serangan mengadu pedang. Bentrokan antar dua kekuatan besar menimbulkan angin besar menyapu debu menerbangkannya ke udara.
Perlahan gores dan bercak pedang melekat pada zirah mereka, sangat disayangkan tubuh Emilia harus merasakan lemas saat dirinya sedang semangat menghadapi Vega. dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya, ditambah Leghius Marsha jurus andalannya yang banyak menyerap kekuatannya.
Vega yang menyadari tubuh Emilia kian melemah, ia pun menambah kekuatan serangannya. terbukti caranya itu efektif membuat Emilia kesusahan, hanya dalam 3x tebasan pedang tubuh Emilia langsung jatuh terhempas, melesat bagai meteor menembus atsmosfer.
Wajah penonton seketika membeku sesaat, sulit dipercaya Miranda Emilia murid kebanggan Alin Xaverias dapat dikalahlan oleh siswa biasa. terlihat raut wajah puas dari Vega, ia tersenyum dengan nafas yang tidak teratur masih tidak percaya dirinya adalah orang yang telah mengalahkannya.
Greey, Indyra dan Alice langsung bangkit dari tempat duduknya dan memberi sorak sorai penuh kebanggaan. Vega tersenyum sambil mengangkat pedangnya tinggi. Wasit pun lalu memberitahukan pemenang dari pertandingan ini, yakni Vega Dimitry.
Vega lalu merunduk dan memberi salam kepada Alin. tak ada sediktpun rasa kesal atau tidak suka yang terpancar dari wajahnya, dengan tegar Alin mengangkat tangannya dan tersenyum kepada Vega, meskipun dia telah mengalahkan muridnya.